
Ketiga nya berkumpul kembali di ruangan sang CEO, Raka.
"Ini bukan unsur dari orang luar, ini adalah unsur dari orang yang tak menyukai Bu Alea sebagai Istri anda, Tuan" jelas Jerri setelah mereka menyelesaikan makan siang nya.
"Ya, dan apa kau siapa orang nya Mas?" tanya Alea dengan santai.
"Siapa?" bukan nya menjawab, Raka malah balik tanya pada sang Istri yang di duga sudah mengetahui orang nya.
"Dia Dinar, teman sekelasmu dulu saat bangku SMA" jawab Alea terkekeh.
Heh.
Raka langsung tersenyum sinis, dia tidak menyangka bahwa wanita itu bisa masuk ke dalam perusahaannya.
"Wah anda hebat Bu Alea" ucap Jerri mengacungkan jempol nya pada Alea.
Alea hanya terkekeh geli, dia lalu menceritakan saat dia tak sengaja mendengar perbincangan antara Dinar dan teman-teman nya.
"Namun, yang harus kita waspadai adalah Ayah nya" timpal Jerri dengan serius.
"Maksud nya?" tanya Alea dan Raka penasaran.
"Dia adalah keponakan Tuan Roby, dan aku yakin Ayah nya akan jadi kompor agar api di diri Dinar menyala dengan penuh bara" jawab Jerri.
Hufh.
Raka membuang nafas kasar, dia sudah bisa menebak bahwa ini ada unsur orang dalam.
"Kau tahu Jerr, Dinar ini adalah wanita yang bisa di bilang tidak pintar bekerja di bidang apapun. Karena apa? Karena dia selalu di manjakan oleh uang sama keluarga nya" jelas Raka.
"Dan pasti nya dia bisa masuk ke dalam perusahaan ada bantuan dari, Paman Roby" timpal Alea.
"Lalu, Dinar bekerja di bagian apa?" tanya Raka.
"Divisi pemasaran" jawab Jerri.
__ADS_1
Raka menganggukan kepala nya, dia kemudian menyuruh Jerri kembali bekerja karena jam istirahat sudah selesai.
Alea pun bangkit dari duduk nya, namun dengan secepat kilat Raka menarik kembali tangannya dan Alea terduduk di pangkuan Raka.
"Massss" pekik Alea dengan kaget.
Cup.
Cup.
"Beri semangat dulu" rengek Raka dengan memeluk Alea erat.
Ehh.
Alea menatap Suami nya dengan memincing, lalu sedetik kemudian dia di buat terbelak dengan kelakuan sang Suami.
*
Sedangkan di lantai bawah, tepat nya di divisi pemasaran. Dinar, dia sedang menunggu berkas yang sudah dia berikan pada Alea.
"Kenapa belum ada kembali ya, apa aku ketahuan" gumam Dinar.
Dinar lalu mengerjakan beberapa pekerjaan yang ringan saja, karena memang dia tidak ahli akan bidang itu.
"Dinar, lo di suruh ngerjain ini sama Tuan Jerri" ucap teman se divisi nya.
Hah.
Dinar langsung kaget, bagaimana bisa dia mengerjakan berkas pengeluaran produk kemarin. Sedangkan yang biasa mengerjakannya adalah Ayah nya sendiri, dan Dinar akan menerima hasil nya.
"Kenapa kau seperti kaget begitu, Nar?" tanya temannya lagi.
"Emm ti tidak kok" jawab Dinar mengambil berkas tersebut.
"Mampus, harus gimana nih? Mana Ayah lagi rapat lagi" batin Dinar cemas.
__ADS_1
"Oh yaudah, nanti 1 jam kemudian aku ambil lagi" ucap teman Dinar dengan santai.
Hah.
"1 jam?" tanya Dinar melotot.
"Iya, kata Pak Jerri begitu" jawab nya.
Dinar membulatkan mata nya, dia lalu mencoba menelpon sang Ayah.
"Angkat Yah" gumam Dinar dengan jantung berdetak kencang.
Hingga panggilan ke 3 pun Dinar masih belum mendapatkan say hello dari sang Ayaha.
"Gimana ini, mana waktu terus berjalan lagi" erang Dinar dengan frustasi.
Ceklek.
"Kenapa kau?" tanya Wulan, teman Dinar.
"Ini suruh ngerjain ini sama Pak Jerri, pusing gue" jawab Dinar.
Wulan mengambil berkas dan membaca nya, lalu setelah nya dia letakan kembali di atas meja kerja Dinar.
"Ck, biasa nya juga lo paling pinter ngerjain tu tugas. Atau, jangan-jangan lu nyuruh orang ya" tuduh Wulan dengan wajah serius.
Deg.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.