Perselingkuhan, Suami Dan Sahabatku!

Perselingkuhan, Suami Dan Sahabatku!
Bab 45


__ADS_3

Bersamaan dengan kabar meninggalnya Randi, Delima pun melahirkan Putri yang sangat cantik dan menggemaskan.


Alfans dan Delima tidak tahu kabar tersebut, mereka baru saja berpindah ke ruang perawatan dan tak ada siapapun disana.


"Mas, kemana Ayah dan Raka?" tanya Delima yang sedang menggendong Putri nya


"Entahlah sayang, coba Mas telepon dulu" jawab Alfans


Kemudian Al menjauh dari Delima, dia menelpon Putra sambung nya.


Hingga panggilan ke 3 pun tidak di angkat oleh Raka, bahkan Al sudah mencoba menghubungi Ayah Deni dan hasil nya tetap sama.


"Gak ada jawaban, sayang" ucap Al sambil duduk di depan Delima.


"Loh, pada kemana mereka?" tanya Delima kembali khawatir.


Namun belum sempat Al berkata, pintu sudah di buka dan munculah Raka yang terlihat sembab dan masih ada air mata di mata nya


"Abang, ada apa?" tanya Al menghampiri Raka lalu memeluk nya


Raka kembali menangis di pelukan sang Papa, dia terisak dengan pelukan yang cukup erat.


"Abang, kenapa menangis Nak?" tanya Delima yang sudah selesai memberi Asi untuk Putri nya


Delima lalu menyimpan Putri nya di samping, dia kemudian menyuruh Al membawa Raka mendekat.


"Abang, lihat Mama. Kamu kenapa, Nak?" tanya Delima kembali dengan lembut.


"Hiks Papa Ma, Papa" ucap Raka dengan isakan yang masih ada.

__ADS_1


"Papa? Papa Randi? Kenapa dia, Nak?" tanya Alfans.


"Papa kecelakaan dan dan dia meninggal, Pa, Ma" jawab Raka dengan kembali menangis.


"Ya Allah" gumam Delima kaget.


Raka lalu menceritakan semua nya dengan terisak, kemudian Alfans meminta perawat menjaga bayi nya sebentar.


Al mendorong kursi roda Delima, mereka akan menemui Vini dan Ayah Deni yang masih berada di Rumah sakit.


Raka sudah lebih baik dan menguasai dirinya, dia tidak ikut karena ingin menjaga sang Adik.


"Mas itu Ayah dan Vini" ucap Delima saat melihat Ayah Deni sedang duduk di depan ruangan.


Alfans mengangguk, kemudian dia membawa langkah nya mendekati Ayah Deni dan Vini.


Tanpa menunggu lama, Vini langsung menghampiri Delima dan bersimpuh di hadapannya dengan tangisan penuh sesal.


"Maafkan Mas Randi Delima, aku mohon maafkan dia. Kami memang egois sehingga minta maaf dengan memaksa, tapi aku mohon maafkan Mas Randi karena dia sudah pergi untuk selama nya bahkan belum sempat dia meminta maaf padamu" ucap Vini terus terisak.


"Aku sudah memaafkan kalian sejak lama, aku juga manusia biasa yang tak luput dari dosa. Hanya saja aku terlalu kecewa pada kalian" balas Delima lembut.


"Aku juga memaafkan Randi, semoga dia tenang dan bahagia disana. Kamu harus ikhlas" ucap Delima kembali.


Vini mendongkak, dia menatap Delima dengan penuh penyesalan.


"Terimakasih, semoga dengan maaf darimu Mas Randi akan lebih tenang. Aku ikhlas, aku ikhlas melepasnya dan aku juga sudah memaafkan kesalahannya. Sekali lagi terimakasih, Delima" balas Vini memeluk Delima.


Delima mengusap lembut punggung Vini, dia ikut merasakan kesedihan Vini atas kehilangan Randi.

__ADS_1


**


Setelah semuanya selesai, jenazah Randi langsung di bawa ke Rumah. Disana Ferdi dan Ibu Vini sudah menunggu dengan segala persiapan yang sudah beres.


Vini terus saja terisak di samping jenazah sang Suami, begitupun dengan Ayah Deni.


Meski tak ada air mata di wajah Ayah Deni, namun jelas terlihat kesedihan di mata nya.


Raka dan Alfans tidak ikut, mereka akan kesana nanti saat pemakaman di lakukan.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2