Pesona Mas Jaka

Pesona Mas Jaka
Banyak yang Naksir


__ADS_3

Pagi harinya di kost-kostan Dara. Sulkan, anak buah Pak Kades baru saja keluar dari halaman kostan Dara, setelah mengantarkan motor milik putri Pak Kades tersebut.


Gadis berhijab itu bermaksud mengantarkan sang ibu ke rumah eyangnya. "Bu, motornya 'kan sudah dihantarkan Kang Sulkan, Dara antar ibu, ya," tawar Dara ketika bu Rosma tengah bersiap untuk ke rumah orang tuanya.


"Tidak perlu, Nduk. Nanti kamu terlambat ke kampus," tolak Bu Rosma. "Ibu akan naik angkot, toh rumah eyang tidak jauh," imbuhnya yang tak ingin membuat sang putri terlambat karena mengantarkan dirinya terlebih dahulu.


"Benar, Ibu mau naik angkot saja?" tanya Dara memastikan.


"Iya, Dara. Ibu tidak apa-apa, kok, naik angkot," balas sang ibu meyakinkan.


"Naik taksi saja ya, Bu. Dara pesankan melalui aplikasi," bujuk Dara, tetapi sang ibu menggeleng cepat.


"Tidak, Nduk. Sudah, cepat bersiaplah! Ibu ikut sampai depan," titah Bu Rosma agar sang putri segera bersiap untuk pergi ke kampus.


Dara menurut, gadis itu segera menyiapkan tas dan buku-buku yang hendak dia bawa ke kampus. Tak lupa Dara memasukkan laptop ke dalam tas.


"Ayo, Bu," ajak Dara.


Dara segera mengunci pintu kamar kostnya, gadis mungil itu kemudian menghidupkan mesin motor matic kesayangan.


Setelah memastikan sang ibu memboncengnya dengan benar, Dara melajukan motor dengan pelan keluar dari halaman kost yang cukup luas tersebut menuju jalan utama.


Dara menghentikan motornya tepat di sebuah halte, yang tak jauh dari gang yang menuju ke kostan Dara.


"Ibu yakin turun di sini?" tanya Dara, memastikan sekali lagi.


"Iya, Nduk. Kamu ini lho, Ra, kok khawatir banget sama Ibu," ujar Bu Rosma seraya tersenyum lebar, ketika ibunya Dara itu telah turun dari motor.


"Bukan begitu, Bu. Selama ini 'kan, Ibu selalu diantar sama sopir kalau ke rumah eyang," ucap Dara.


"Iya, iya. Ibu tidak apa-apa, kok. Ya sudah, itu ada angkot," tutur Bu Rosma seraya menunjuk angkot berwarna oranye yang melaju ke arahnya.


"Ya sudah, Nduk. Assalamu'alaikum," pamit Bu Rosma, setelah Dara mencium punggung tangannya dengan takdzim.

__ADS_1


"Kamu belajar yang benar, jangan pikirkan tentang perkataan ayah kamu," lanjut Bu Rosma sebelum naik ke dalam angkot.


Dara hanya mengangguk, gadis imut itu kemudian melambaikan tangan ketika angkot yang membawa sang ibu mulai bergerak menjauh.


"Semoga eyang mau membantu Ibu," do'a Dara dengan penuh harap.


Gadis berhijab ungu muda itu kemudian melajukan kembali motor maticnya, membelah jalanan beraspal untuk menuju kampus.


Hanya butuh waktu sepuluh menit, Dara telah tiba di kampus negeri tempat dia menuntut ilmu. Putri Pak Kades tersebut segera memarkirkan motornya.


"Dara, assalamu'alaikum," sapa seorang pemuda dengan ramah, sesaat setelah Dara memarkirkan motor.


"Wa'alaikumsalam, Mas Yudha," balas Dara. "Mas Yudha, juga baru datang?" tanya Dara seraya mengedarkan pandangan.


"Iya," balas Yudha yang merupakan kakak tingkat Dara. "Kamu, nyari siapa, Dara?" tanya Yudha.


"Mas Yudha, sendirian saja?" tanya Dara dengan dengan perasaan was-was.


"Iya, biasanya juga sendiri, kok. Kenapa memangnya?" tanya Yudha yang keheranan melihat sikap Dara yang tiba-tiba menjadi aneh.


Yudha mengerutkan kening dengan dalam. 'Dara kenapa? Kok jadi aneh gitu?' batin Yudha, seraya menatap kepergian Dara yang berjalan dengan cepat memasuki fakultas kedokteran.


Yudha menghela napas panjang. 'Susah banget sih, Ra. Ngedeketin kamu,' bisik Yudha dalam hati, 'tapi aku tidak akan menyerah, meski kamu pernah bilang bahwa kamu telah memiliki kekasih, Ra,' tekad Yudha.


Pemuda itu pun memacu langkahnya memasuki fakultas kedokteran, fakultas yang sama dengan Dara.


Sementara Dara yang berjalan cepat menuju kelas, tangannya tiba-tiba ditarik oleh seseorang dan diajak menjauh ke ujung koridor yang cukup sepi di jam-jam seperti ini.


"Dasar munafik!" geram gadis yang menarik tangan Dara, sambil menghempas tangan Dara dengan kasar.


"Weni! Apa-apaan sih, kamu! Main tarik-tarik aja!" protes Dara, seraya mengusap pergelangan tangannya yang tadi dicengkeram oleh Weni dan meninggalkan bekas merah di kulit bersih Dara.


"Berhijab tapi munafik! Lain di mulut, lain pula di hati! Sok suci!" Weni masih saja memaki Dara, tanpa Dara tahu apa kesalahannya.

__ADS_1


"Maksud kamu apa sih, Wen? Sumpah ya, aku enggak tahu apa maksud kamu?" tanya Dara.


"Jangan pura-pura bodoh, kamu, Ra! Kamu barusan ngobrol 'kan, sama Mas Yudha? Kamu bilang, kamu sudah punya kekasih dan kamu juga bilang, kalau kamu tidak suka sama Mas Yudha! Tapi kamu malah sengaja menikungku, bukan?" tuduh Weni dengan mata berapi-api karena cemburu.


Dara menggeleng cepat. Kamu salah mengartikan, Wen. Kami tidak ngobrol, kami hanya enggak sengaja bertemu di tempat parkir," balas Dara dengan sejujurnya.


"Apa yang aku katakan padamu saat itu benar adanya, Wen. Aku sudah memiliki kekasih, yang saat ini sedang menuntut ilmu di Jawa Timur. Aku juga tidak memiliki perasaan apa-apa pada Mas Yudha-mu itu, Wen, tidak!" tegas Dara.


"Bohong! Mana ada maling yang mau ngaku!" Gadis itu tetap menuduh Dara yang bukan-bukan.


"Terserah kamu, Weni, mau percaya padaku atau tidak. Aku hanya mengatakan yang sejujurnya," ucap Dara sambil berlalu menuju kelas.


Dara tak mempedulikan lagi, meski Weni masih terus memaki-maki dirinya dan mengatai Dara dengan perkataan yang sangat tidak pantas diucapkan oleh seorang terpelajar.


"Dasar penggoda! Kamu itu seperti serigala yang berbulu domba, Dara! Kamu menggoda pacar-pacar kami! Berhijab tapi perilakumu tak lebih dari ciblek yang menjajakan diri di taman kota!" racau Weni.


Weni sudah lama naksir sama Yudha, kakak tingkatnya tersebut, tetapi Yudha sama sekali tak menanggapi. Karena Yudha ternyata diam-diam suka sama Dara, gadis lembut dan ramah.


"Ra, ngapain sih, jalan sambil melamun!" tegur salah seorang teman Dara, begitu Dara memasuki kelas. "Dipanggil dari tadi, diem aja!" protesnya.


"Eh, Jeng," sahut Dara, sedikit gelagapan. "Iya, nih. Gara-gara si Weni," balas Dara.


"Kenapa lagi, dia?" tanya Ajeng. "Kamu dilabrak lagi?"


Dara mengangguk. Gadis itu kemudian menceritakan tentang pertemuannya yang tidak disengaja dengan Yudha di tempat parkir, yang ternyata dilihat oleh Weni hingga gadis yang kecentilan pada Yudha itu menjadi salah paham.


"Udah, abaikan saja dia! Resiko jadi gadis cerdas dan cantik seperti kamu ya memang seperti itu, Ra. Banyak yang naksir!" ucap Ajeng yang sengaja mengeraskan suaranya agar Weni mendengar.


Weni mencebik, gadis itu kemudian menjatuhkan bobot tubuhnya dengan kasar di bangku miliknya.


"Makanya Ra, bagi-bagi sini kecantikan, kebaikan dan kecerdasannya. Jangan diambil semua yang baik-baik, aku jadi enggak kebagian, deh!" canda Ajeng, yang membuat mereka berdua kemudian tertawa bersama.


Sementara Weni semakin menatap benci pada Dara. 'Awas aja kamu, gadis kampung! Kalau sampai Yudha lebih memilih kamu, habis kamu!' ancam Weni.

__ADS_1


🌹🌹🌹 bersambung,,,


__ADS_2