Pesona Mas Jaka

Pesona Mas Jaka
Sebuah Kenikmatan


__ADS_3

Bakda ashar, setelah cukup puas ngobrol bersama sang ibu, Dara mengantarkan ibunya sampai ke terminal bus.


"Ibu hati-hati ya," pesan Dara sebelum gadis berhijab bunga-bunga kecil itu turun dari bus dan setelah memastikan bahwa sang ibu mendapatkan tempat duduk yang nyaman di bus tersebut.


"Iya, Nduk. Kamu jangan khawatir, toh cuma sejam 'kan perjalanannya," tutur Bu Rosma menenangkan sang putri.


Dara baru beranjak dari tempatnya berdiri, setelah bus yang ditumpangi sang ibu melaju meninggalkan terminal menuju ke kota kecil tempat kedua orang tua Dara tinggal.


Gadis imut itu kemudian melajukan motornya perlahan, untuk kembali ke tempat kost.


Dara yang melintasi sebuah Motel di pinggir kota dekat terminal, menghentikan laju motor kala netranya menangkap wajah-wajah yang tak asing sedang bergandengan tangan dengan mesra keluar dari Motel tersebut.


Buru-buru Dara menghentikan laju motornya di tempat yang agak tersembunyi, tetapi masih dapat melihat dengan jelas ke arah dua orang yang Dara lihat.


Dara kemudian mengambil ponsel dan buru-buru mengabadikan momen tersebut. "Mas Bambang sama Arini?" gumam Dara bertanya-tanya.


Tangannya masih memegang ponsel yang diarahkan pada kedua orang, yang baru saja memasuki mobil Bambang sambil bercanda ria.


"Kita langsung pulang atau mau kemana dulu, Sayang?" tanya Bambang seraya mencubit mesra pipi Arini.


"Jangan pulang dulu ya, Mas. Arini masih kangen sama Mas," rajuk Arini sambil bergelayut manja pada lengan Bambang, hingga bukit kembar Arini menempel sempurna pada lengan kekar putra Pak Carik tersebut.


"Masih kangen?" tanya Bambang. "Padahal dari semalam dan tadi seharian kita berduaan terus lho, Sayang," lanjut Bambang sambil tangannya kembali memainkan bukit kembar milik Arini, dimana ada buah cherry yang menjadi favoritnya.


Bambang menelusupkan tangan ke dalam baju Arini dan memainkan buah favorit tersebut, hingga membuat Arini kembali mende*sah manja.


"Mas, kalau masih mau itu, mending kita nginep lagi aja, yuk" ajak Arini yang mulai tak tahan menikmati sentuhan tangan nakal Bambang.


"Milikku kembali berdenyut, Mas dan sepertinya sudah mulai basah," lanjut Arini sambil menatap Bambang dengan tatapan sayu.


"Maunya sih begitu, Rin. Tapi aku 'kan besok harus kerja, masak bolos lagi," balas Bambang sambil mengarahkan tangan Arini agar memegang miliknya yang kembali menegang.


Bambang merem melek menikmati sentuhan tangan Arini, yang mulai lihai memainkan sosis jumbo milik Bambang.

__ADS_1


"Mas, Arin mau lagi," rengek Arini, rupanya gadis itu mulai ketagihan setelah semalam mendapatkan kenikmatan yang baru pertama kali dirasakan bersama Bambang.


Padahal selama seharian tadi, mereka telah mengulangnya hingga berkali-kali tetapi hasrat Arini seolah tak terbendung.


Hanya dengan sentuhan kecil dari Bambang, Arini sudah langsung basah dan menginginkan sentuhan lebih yang bisa membawanya kembali terbang melayang di atas awan.


Stamina Bambang juga luar biasa hebat, meski semalam setelah berhasil menjebol keperawanan Arini, Bambang kemudian bermain dengan salah satu pelayan Motel langganannya hingga shubuh menjelang dan pemuda berbadan atletis itu baru kembali ke kamarnya bersama Arini, tenaga Bambang masih tetap full dan sanggup membuat Arini terbang seharian tadi.


"Punyamu enak banget, Mas, enggak ada loyo-loyonya," imbuh Arini dengan suara manja, membuat Bambang tersenyum senang.


"Punya kamu juga enak, Sayang. Sempit dan hangat, aku jadi pengin terus," balas Bambang, yang kemudian melabuhkan ciuman di bibir Arini sekilas.


"Makanya kita nikah aja, Mas. Biar Mas Bambang bisa bebas melakukannya kapanpun," rajuk Arini yang kembali mengutarakan keinginannya untuk menikah dengan Bambang.


Bambang menggeleng cepat, pemuda itu buru-buru membetulkan duduknya dan menutup kembali retsluiting celana yang tadi diturunkan oleh Arini.


"Duduklah yang benar, Rin. Kita pulang sekarang!" ucap Bambang yang tiba-tiba saja menjadi ketus.


Ya, sejak semalam, Bambang telah mengatakan pada Arini bahwa dirinya tak mungkin menikahi putri Pak Sekcam tersebut karena Bambang telah dijodohkan.


Bambang mengurungkan niatnya untuk menghidupkan mesin mobil, pemuda itu kemudian menghela napas panjang. "Bukankah tadi malam kita sudah berkomitmen untuk tidak menuntut apapun, Rin? Kita melakukannya atas dasar saling membutuhkan dan bukan karena cinta!"


Arini Mengangguk lemah. "Iya, Mas. Arin ingat," balas Arini dengan lesu.


Hening sejenak menyapa kabin mobil mahal Bambang.


"Mas Bambang mau memaafkan Arin 'kan? Kita masih bisa melakukan seperti yang semalam lagi kan, Mas?" cecar Arini mengurai keheningan.


"Asal kamu tidak menuntut pernikahan, aku pasti akan menyempatkan waktu untukmu, Rin. Kapanpun kamu mau," balas Bambang yang menyandarkan kepala pada sandaran jok, seraya melirik Arini.


"Iya, Mas. Arin tidak akan menuntut," balas Arini yang akhirnya mengalah demi untuk mendapatkan kenikmatan yang diberikan Bambang.


"Mas, tapi kita turun lagi ya, Mas Please ..." pinta Arini dengan tatapan memohon, sambil mendekatkan dirinya kembali pada Bambang.

__ADS_1


Arini mengambil tangan Bambang dan memasukkan ke dalam roknya. "Arin pengin, Mas," mohon Arini dengan desa*han manja.


Tangan Bambang yang sudah masuk ke dalam celah daleman gadis yang duduk di sampingnya itu dapat merasakan, bahwa lembah milik Arini telah basah. Bambang tersenyum samar, pemuda itu menelan saliva.


"Ayo, kita pulang besok pagi-pagi sekali!" ajak Bambang yang sudah tidak sabar ingin kembali merasakan lembah basah milik Arini yang selalu memanjakan miliknya.


Keduanya segera turun dari mobil dan kembali masuk ke dalam Motel tersebut dengan tergesa-gesa.


Sementara Dara yang masih berhenti di pinggir jalan, menatap heran pasangan yang masuk kembali ke dalam Motel.


"Mereka berdua, masuk lagi?" tanya Dara pada dirinya sendiri.


"Bodo amat, bukan urusanku juga!" Dara mengedikkan bahunya dan memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas cangklong.


"Yang penting, aku sudah mendapatkan bukti kalau Mas Bambang punya kekasih. Jadi aku bisa gunakan bukti tersebut untuk meminta sama ayah agar membatalkan perjodohan konyol itu," gumam Dara seraya tersenyum lebar.


Dara segera melajukan kembali motor maticnya, membelah jalanan beraspal untuk menuju tempat kost dengan hati yang membuncah bahagia.


Satu masalah mungkin saja akan segera terselesaikan, tinggal meyakinkan pada sang ayah jika Jaka layak untuk Dara.


Sementara Bambang yang baru saja membawa Arini masuk kembali ke dalam kamar Motel, langsung mencumbui Arini sambil berdiri di balik pintu.


"Cepet masukkan, Mas," rintih Arini yang sudah tidak sabar ingin merasakan kembali senjata Bambang menusuk miliknya.


Bambang tersenyum seringai. Pemuda itu sengaja mengulur waktu dengan bermain-main di lembah Arini dengan jari tangannya.


Arini hanya bisa pasrah dan menikmati setia perlakuan Bambang terhadap dirinya, yang terkadang sedikit kasar tetapi melenakan.


Melihat wanitanya sudah memohon-mohon, Bambang segera menekan Arini ke pintu dan merapatkan tubuhnya pada tubuh Arini.


Kembali suara-suara yang melenakan terdengar .memenuhi kamar Motel tersebut, saling bersahutan seolah hendak memberitahukan pada pasangan bahwa yang dirasakan adalah benar-benar sebuah kenikmatan.


🌹🌹🌹 bersambung,,,

__ADS_1


🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️ mBang, panas mBang...


__ADS_2