Pesona Mas Jaka

Pesona Mas Jaka
Apa yang Akan Kamu Lakukan, Mas?


__ADS_3

"Kalau lamaran ini tidak diterima, maka Jaka akan aku jodohkan dengan Ning Santri, putri Pak Kyai-nya yang juga mencintai Jaka.


Jaka terhenyak, pemuda itu tak percaya jika ternyata sang professor juga mengetahui kabar yang marak beredar di kampusnya tersebut.


Sementara Dara langsung menatap Jaka, dengan tatapan menuntut jawab.


Jaka tersenyum, menikmati kecemburuan Dara.


"Mas Jaka kok malah senyum!" protes Dara, lirih.


"Mas senang, Neng, kalau kamu cemburu. Itu artinya, Neng Dara memang benar-benar mencintai mas," balas Jaka berbisik.


Dara mengerucutkan bibir.


"Mas juga sangat mencintai Neng Dara," bisik Jaka dengan tatapan penuh cinta, yang membuat pipi Dara langsung merah merona.


"Jadi gimana, Dik Gondo? Diterima apa tidak?" ulang Professor Hartadi bertanya. Suara bas sang professor, mengurai tatapan mesra Jaka pada Dara.


"Ayo diterima, Pak!" bujuk Bu Rosma dengan penuh semangat.


"Kalau misalnya Jaka itu menerima cinta putriku tho, Dik, sudah pasti langsung aku nikahkan mereka," tegas Professor Hartadi yang gemas sendiri karena Pak Gondo tak juga memberikan jawaban.


Mendengar penuturan Professor Hartadi, Jaka langsung menatap dosennya itu. Sementara Dara, kembali menatap Jaka penuh selidik.


Ya, Dara sangat cemburu karena ternyata jauh di luar kota sana, sang kekasih memiliki banyak penggemar yang pastinya tidak dapat dipandang sebelah mata. Gadis ayu itu menjadi ketar-ketir sendiri, apalagi sang ayah tak kunjung memberikan restu.


"Saya tahu itu, Jaka. Tapi saya juga paham bahwa cinta itu tidak dapat dipaksakan, makanya saya tidak mau membantu ketika Dilla meminta saya untuk menjodohkan putri saya itu dengan kamu," terang Professor Hartadi ketika mendapati tatapan Jaka yang penuh tanya.


"Dan kamu Nduk, Dara. Tidak perlu kamu meragukan cinta dan kesetiaan Jaka karena pakdhe bisa melihat dengan jelas dari tatapan Jaka, cintanya begitu besar kepadamu, Dara," tutur Professor Hartadi seraya tersenyum pada Dara, kala mengetahui bahwa gadis berhijab yang imut-imut itu sangat cemburu mendengar ada gadis lain yang menyukai kekasihnya.


"Ehm," dehaman Pak Kades membuat semua mata kini tertuju kepada laki-laki yang berwajah galak tersebut.

__ADS_1


Dara terlihat sangat cemas, menanti jawaban dari sang ayah. Begitu pula dengan sang ibu, yang nampak gemas pada suaminya yang keras kepala.


Bu Rosma bisa menebak, bahwa suaminya itu sebenarnya sudah mulai bisa menerima jika putrinya memilih Jaka ketika tahu bahwa Bambang berselingkuh.


Apalagi sekarang, suaminya itu sudah mengetahui banyak hal mengenai Jaka yang sangat mengagumkan dari Professor Hartadi. Pak Kades pasti akan semakin terbuka tangannya untuk menerima pemuda sederhana tersebut.


Hanya saja, gengsi laki-laki tambun itu yang terlalu besar yang membuat Pak Kades seperti sengaja menunda untuk memberikan restunya.


"Pak, 𝘯𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘨𝘢𝘨𝘦 𝘥𝘪𝘫𝘢𝘸𝘢𝘣," suruh Bu Rosma, dengan tidak sabar.


Pak Kades hanya menghela napas panjang, seraya melirik Jaka.


Sementara Jaka menunduk, seraya memanjatkan doa dengan penuh pengharapan sekaligus kepasrahan. Segala upaya telah dia tempuh selama ini, demi mendapatkan restu dari Pak Kades.


Jaka sudah berusaha semampu yang dia bisa. Jika memang mereka berdua berjodoh maka malam inilah kejelasannya, tetapi jika ternyata mereka berdua belum berjodoh, Jaka ikhlas dan akan merelakan untuk melepaskan Dara.


"Piye, Dik?" Professor Hartadi kembali menagih jawab, laki-laki berwibawa itu menatap Pak Kades dengan dalam.


"Kang, 𝘭𝘩𝘢 𝘚𝘢𝘮𝘱𝘦𝘢𝘯 𝘬𝘶𝘸𝘪 melamar anak orang kok seperti main-main, tho!" protes Pak Kades. Lha mbok yo bawa apa, gitu lho," lanjutnya, yang membuat semua orang yang berada di sana, bernapas dengan lega.


Jaka dan Dara saling pandang dan keduanya tersenyum bahagia. "Alhamdulillah," ucap mereka berdua bersamaan, tanpa mengeluarkan suara.


"Ini 'kan ibaratnya baru mengetuk pintu, memastikan apakah tuan rumah mau menerima tamunya atau tidak? Kalau jawaban Dik Gondo seperti itu, kapan Dik Gondo dan Dik Rosma mau, kami pasti akan datang untuk melamar putri kalian secara resmi," terang Professor Hartadi dengan serius.


Jaka langsung menatap dosennya yang sudah mendaulat diri sebagai ayah angkatnya. "Prof ...."


"Serahkan semua padaku, Jaka. Kamu putra angkatku," tutur Professor Hartadi yang memotong ucapan Jaka. Tersirat dari penuturannya, bahwa professor tersebut siap melamarkan Dara untuk Jaka.


"Kalau begitu, besok malam. Bagaimana, Kang? Apa putra angkatmu itu sanggup?" tantang Pak Kades, sementara Bu Rosma tersenyum bahagia.


Wanita anggun itu tak perduli, meski ucapan sang suami masih saja terdengar ketus tetapi Bu Rosma yakin, lambat laun hati suaminya akan benar-benar luluh dengan pesona yang dimiliki Jaka.

__ADS_1


Jaka mengangguk pasti, meski yang ditanya adalah Professor Hartadi. Pak Gondo tersenyum tipis, terlihat samar raut bahagia di wajahnya yang sengaja beliau tutupi dengan tatapan tajamnya yang terus tertuju pada Jaka.


"Baiklah, besok malam kami akan datang untuk melamar Dara," pungkas Professor Hartadi yang langsung beranjak.


"Lho, Kang. Kok buru-buru, mau kemana?" tanya Pak Kades.


"Carik tadi memintaku untuk ngrembugi Sekcam, tawar menawar mahar katanya. Wong Sekcammu itu ternyata wong serakah, kok. Mosok duwe anak wedok dinggo dagangan. Minta mahar yang tidak kira-kira, dia! Padahal, anaknya saja sudah tidak ori! geram Professor Hartadi yang mengetahui kasusnya Bambang dan Arini.


"Punya anak perempuan itu, dijaga dengan baik. Kalau sudah ada pemuda baik dan bertanggung jawab yang mau seperti Jaka ini, ya sudah, jangan dipersulit!" sindir Professor Hartadi pada Pak Kades, membuat ayahnya Dara itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Ya, sudah. Aku pamit," Professor Hartadi menyalami kedua orang tua Dara.


Jaka dan Dara yang juga ikut berdiri, kemudian menyalami laki-laki yang penuh wibawa tersebut.


"Biarkan mereka berdua ngobrol dulu sebentar, jangan di usir!" peringat Professor Hartadi seraya menatap tajam Pak Kades, membuat kepala desa itu tersenyum masam.


"Assalamu'alaikum," pamit Professor Hartadi yang langsung berjalan menuju ke mobilnya.


"Nak Jaka, Ayah dan Ibu masuk dulu, ya," pamit Bu Rosma yang langsung menarik tangan sang suami dan tidak memberi kesempatan pada suami keras kepalanya itu untuk berbicara, setelah mobil Professor Hartadi meninggalkan halaman rumah.


Jaka mengangguk senang, begitu pula dengan Dara yang tersenyum lebar. Kedua muda-mudi itu kembali saling pandang dan hanya diam, seolah berbicara melalui tatapan mata.


Tiba-tiba saja, Jaka mendekatkan wajah hingga jarak keduanya hanya tinggal sejengkal. Dara bahkan dapat merasakan embusan hangat napas Jaka.


Bibir Dara bergetar dengan jantung yang mulai berdegup kencang. "Mas ...." Suara Dara tercekat di tenggorokan. Gadis itu tidak berhasil mengeluarkan suaranya untuk sekadar bertanya. 'Apa yang akan Mas lakukan?' batin Dara.


Sementara Jaka masih terus menatap manik hitam Dara dengan intens dan semakin mendekatkan wajah, hingga jarak keduanya hanya tinggal beberapa inci saja.


🌹🌹🌹 bersambung,,,


Ah... Mas Jaka, apa yang akan kamu lakukan? Lakukanlah, Mas...😄🤭

__ADS_1


Tapi nikahi dulu, Neng Daranya!


Jangan asal sosor, seperti soang!


__ADS_2