Pesona Mas Jaka

Pesona Mas Jaka
Calon Ibu Mertua


__ADS_3

Setelah mendapatkan jawaban dari orang tuanya dan ternyata tidak sesuai dengan yang diharapkan, Bu Rosma memutuskan untuk kembali dulu ke kostan sang putri.


Bu Rosma ingin membicarakan dahulu hal ini dengan putrinya, sebelum wanita anggun itu pulang ke rumah dan bertemu dengan sang suami.


Bakda sholat dhuhur, Bu Rosma baru berpamitan pada orang tuanya karena Dara baru selesai jam perkuliahan.


Tepat ketika Bu Rosma memasuki pintu gerbang kost-kostan Dara, motor Dara pun masuk ke halaman kost yang luas tersebut dari arah yang berlawanan.


"Ibu, kok Ibu balik ke sini lagi?" tanya Dara setelah membuka helm.


Dara segera menghampiri sang Ibu dan kemudian menyalami wanita yang telah melahirkan dirinya itu dengan takdzim.


"Iya, Nduk. Ada yang harus kita bicarakan sebelum ibu pulang," balas Bu Rosma, sambil berjalan mengekor langkah sang putri memasuki kamar kost Dara, setelah gadis berhijab itu membuka kunci pintu kamarnya.


"Sepertinya serius sekali, sampai Ibu bela-belain untuk menemui Dara lagi?" tanya Dara mengerutkan kening, seraya menyimpan tas dan buku-bukunya di meja belajar.


Bu Rosma mendudukkan diri di kursi busa yang ada di sudut ruangan. "Ya, Nduk. Ini memang serius," balas Bu Rosma.


"Kamu sudah sholat dhuhur, belum? Kalau belum, sebaiknya kamu sholat dulu, Nduk," titah Bu Rosma, seraya menatap sang putri yang tengah melepaskan hijab.


"Sudah, Bu. Tadi sebelum jam kuliah terakhir, Dara sholat dulu di Masjid kampus," balas Dara yang kemudian mendudukkan diri di samping sang ibu sambil membawa dua air putih dalam gelas besar.


Dara langsung meminum air yang terlihat segar itu hingga separuh. "Alhamdulillah," ucap Dara penuh rasa syukur.


"Minum dulu, Bu. Ibu pasti haus karena tadi jalan kaki dari ujung gang."


Bu Rosma mengangguk membenarkan. Ibunya Dara itu kemudian meminum air yang telah disediakan Dara, bahkan Bu Rosma meminumnya hingga tandas.


"Ada apa, Bu?" tanya Dara sesaat kemudian.


"Maafkan Ibu, Nduk. Ibu tidak berhasil meminta bantuan sama eyang," balas Bu Rosma sendu.


Bu Rosma kemudian menceritakan obrolannya dengan sang papa, eyang kakungnya Dara.


Dara nampak serius mendengarkan perkataan sang Ibu. Gadis itu menghela napas panjang.

__ADS_1


"Ya sudahlah, Bu. Jangan terlalu dipikirkan, nanti Ibu bisa sakit," balas Dara yang terdengar pasrah. Gadis itu mengusap punggung tangan sang ibu dengan penuh perhatian dan rasa sayang.


"Lantas, bagaimana dengan nasib kamu, Nduk?" Bu Rosma terlihat sangat khawatir. "Ibu benar-benar tidak ridho kalau kamu menikah dengan Bambang itu, Dara," tutur Bu Rosma, seraya menatap putrinya.


"Ibu juga tidak mau menerima bantuan eyang, jika akhirnya kamu jatuh ke pelukan cucu Pak Utomo yang keluarganya tukang kawin itu," imbuh Bu Rosma yang nampak kalut memikirkan nasib sang putri.


"Ibu do'akan saja yang terbaik untuk Dara, semoga segera ada jalan keluar untuk semua masalah ini," pinta Dara seraya menggenggam tangan sang ibu.


Bu Rosma mengangguk pasti. "Tentu, Nduk. Ibu selalu mendo'akan kebahagiaan kamu, Dara," balas Bu Rosma dengan tatapan lembut.


Hening sejenak menyapa kamar kost Dara.


"Bu, jika liburan nanti Mas Jaka melamar Dara, apakah Ibu mau memberikan restu, Bu?" tanya Dara, mengurai keheningan.


Bu Rosma menatap sang putri dengan dalam. "Apa Jaka mau pulang pas liburan nanti?" tanya Bu Rosma yang kini netranya mulai berbinar, seperti ada sedikit cahaya dari masalah yang saat ini tengah dihadapi sang putri.


Dara mengangguk. "Iya, Bu. Kemarin, Dara teleponan sama Mas Jaka dan mengatakan kalau Dara mau dijodohkan sama Mas Bambang. Mas Jaka bilang, akan segera pulang untuk melamar Dara sebelum pernikahan itu terjadi," terang Dara.


"Semoga ayahmu mau berubah pikiran ya, Nduk," tutur Bu Rosma yang terselip do'a di sana.


Senyum Dara langsung merekah, begitu melihat foto diri orang yang meneleponnya. "Panjang umur kamu, Mas," ucap Dara.


Bu Rosma menyipitkan netranya. "Siapa, Nduk? Kok kamu kelihatan bahagia sekali?" tanya Bu Rosma yang penasaran.


"Mas Jaka, Bu," balas Dara sambil kembali duduk di samping sang ibu.


Dara segera menggeser gambar telepon berwarna hijau untuk menerima panggilan dari Jaka.


"Assalamu'alaikum, Neng Dara Cantik," ucap salam Jaka, begitu teleponnya diterima Dara.


"Wa'alaikumsalam, Mas. Memangnya Mas Jaka lagi enggak sibuk, kok bisa telepon Dara?" cecar Dara, setelah menjawab salam dari Jaka.


"Baru pulang dari tempat belajar, Cah Ayu. Dan sebentar lagi, mas mau berangkat ke tempat kerja," balas Jaka. "Kalau untuk Neng Dara, enggak ada tuh istilah mas sibuk. Mas akan selalu ada waktu untuk bidadari mas," imbuh Jaka yang terdengar manis.


Dara tersenyum tersipu malu, seraya melirik sang ibu. Bu Rosma membuang tatapannya ke luar jendela, pura-pura tak mendengar.

__ADS_1


"Apa, Neng Dara yang lagi sibuk? Berarti telepon dari mas ini, ganggu kamu, dong?" tanya Jaka khawatir.


"Enggak kok, Mas. Dara juga baru pulang dari kampus," balas Dara cepat. "Ini Dara lagi ngobrol sama Ibu," lanjut Dara seraya menatap sang ibu, yang menyunggingkan senyum semenjak tahu bahwa yang menghubungi sang putri adalah Jaka.


"Oh, ada Ibu, tho. Ya sudah kalau begitu, Neng. Mas tutup dulu, ya. Maaf, mas sudah mengganggu obrolan kamu sama Ibu," ucap Jaka.


"Eh, enggak ganggu kok, Mas. Kebetulan, kami tadi lagi bahas tentang rencana Mas Jaka," terang Dara.


"Rencana, mas? Rencana yang mana, Neng?" tanya Jaka.


"Rencana liburan semester nanti, Mas. Katanya, Mas Jaka mau melamar Dara pas liburan nanti? Jadi enggak, sih?" Dara pura-pura merajuk.


"Oh, iya, Neng. InsyaAllah jadi kok, Neng. Mas juga sudah enggak sabar, menunggu liburan tiba, Neng," ucap Jaka yang terdengar serius.


"Neng Cantik, Apa Ibu tak masalah, Neng?" tanya Jaka kemudian, yang sedikit khawatir.


Dara menggeleng, seolah mereka berdua sedang berbicara berhadapan. "Ibu merestui hubungan kita kok, Mas," balas Dara dengan jelas, yang membuat hati Jaka sangat lega.


"Alhamdulillahirobbil'aalamiin," ucap syukur Jaka mendengar berita yang menggembirakan hatinya itu.


"Neng, sampaikan terimakasih mas sama calon Ibu mertua mas yang cantik, baik hati dan tidak sombong, ya," pinta Jaka seraya terkekeh pelan.


Dara tertawa tanpa bersuara seraya menatap sang ibu.


Bu Rosma yang sedari tadi ikut mendengarkan karena di mode 𝘭𝘰𝘢𝘥 𝘴𝘱𝘦𝘢𝘬𝘦𝘳 oleh Dara, tersenyum lebar.


"Ibu juga berterimakasih sama kamu, Nak Jaka. Karena kamu sungguh-sungguh mencintai Dara dan mau memperjuangkan putri ibu," tutur Bu Rosma yang membuat Jaka merasa malu karena ternyata pembicaraannya yang penuh rayuan tadi, di dengar oleh Bu Rosma.


"Eh, Ibu. Maaf," ucap Jaka dengan sungkan.


"Cantikan mana, Mas, Ibu sama Dara?" tanya Dara yang masih menahan tawa.


"Duh, Neng Dara. Kamu bikin mas malu saja."


🌹🌹🌹 bersambung,,,

__ADS_1


__ADS_2