
Mak Karti, Jaka dan ketiga temannya tiba kembali di rumah Jaka tepat jam dua siang. Belanja yang seharusnya hanya memakan waktu dua jam itu, baru selesai setelah berjam-jam lamanya mereka berkeliling mall di kota kabupaten.
Tentu saja belanja itu memakan waktu yang sangat lama, karena ketiga teman Jaka sengaja membuat Jaka bingung ketika hendak memilihkan seserahan yang akan dibawa nanti malam.
Mulai dari memilih π΄π¬πͺπ― π€π’π³π¦, mukena, hingga pakaian untuk Dara. Ketiga teman Jaka itu terus saja mengekor di belakang Jaka, seraya membisikkan sesuatu.
"Dara enggak cocok pakai warna itu, Ka. Ganti saja," saran Rifa'i ketika Jaka memilihkan gaun untuk calon istrinya.
"Mukenanya norak!" seru Teddy, ketika Jaka memberikan mukena pada salah satu pegawai mall untuk dibungkus.
"Ganti yang ini saja," tunjuk Teddy pada warna yang lebih norak seraya terkekeh.
"Masak membelikan π΄π¬πͺπ― π€π’π³π¦ untuk calon istri, merk abal-abal gitu sih, Ka! Mending kamu tanya Dara, biar enggak salah dan kepakai daripada terbuang sia-sia, kan?" saran Joni, yang tumben-tumbenan lagi waras otaknya.
Mereka bertiga terus menguntit Jaka, beruntung Jaka sudah meminta pada sang ibu untuk membelikan pakaian dalam buat Dara. Sehingga teman-temannya yang katrok tersebut tak perlu tahu, ukuran daleman milik Dara.
"Apalagi yang kurang, Ka?" tanya Teddy.
"Tas sama sendal 'kan belum, Ka." Rifa'i mengingatkan.
Ya, teman-teman Jaka memang belum pernah ada yang meminang gadis, tapi mereka pernah melihat seserahan untuk kakak-kakak mereka sehingga ketiga teman Jaka itu tahu, apa saja yang biasanya dibawa oleh calon pengantin laki-laki untuk calon istrinya.
Jaka sungguh beruntung memiliki teman-teman π¨π¦π΄π³π¦π¬, tetapi juga sangat π€π’π³π¦ seperti ketiga temannya tersebut.
"Ka, tasnya nyari di π€π°πΆπ―π΅π¦π³ sini aja!" ajak Teddy yang langsung menyeret lengan Jaka. "Teman-teman kampus Dara banyak yang pakai merk ini, kamu tinggal cari aja model yang disukai Dara," imbuhnya sambil menunjuk deretan tas mahal.
Jaka melirik bandrol tas tersebut, pemuda itu menghela napas panjang.
"Sudah, beli saja. Jangan lihat harganya!" Teddy menyimpan amplop putih ke dalam saku kemeja Jaka, pemuda itu dan kedua temannya kemudian keluar dari π€π°πΆπ―π΅π¦π³ seraya mengacungkan ibu jari.
"Kami tunggu di kasir!" seru Joni.
Jaka hanya bisa menatap kepergian mereka bertiga, dengan tatapan yang sulit diartikan.
Pemuda berlesung pipi itu kemudian menepi ke sudut ruangan dan mengintip isi amplop tebal tersebut. Jaka membulatkan mata, begitu melihat isinya yang cukup fantastis. Senilai dengan enam cempenya jika dijual di pasar hewan.
__ADS_1
Ya, Jaka tak heran jika ketiga temannya itu memiliki celengan banyak. Joni sudah memiliki usaha sendiri, sementara kedua temannya yang lain adalah anak orang kaya yang pasti uang sakunya banyak dan Teddy serta Rifa'i tidak terlalu suka berfoya-foya.
Jaka meraih secarik kertas putih dari dalam amplop dan kemudian membaca coretan tangan Joni yang sangat dia hafal, goresan tangan yang susah untuk dibaca karena lebih bagus dari cakaran ayam.
'Ka, terima ini ya, dari kami bertiga. Kami rela membanting ayam jago kesayangan demi melihatmu bahagia bersama Dara. Semoga bermanfaat, Ka. Tapi ingat, ini bukan cuma-cuma, tapi hutang yang harus kamu bayar sepuluh kali lipat. Wakakak ...." Jaka terharu sekaligus tertawa mengetahui kekompakan dan kekonyolan teman-temannya tersebut.
Jaka tahu persis, apa yang ditulis Joni pada kalimat terakhir, tidak sungguh-sungguh. Temannya yang satu itu memang suka bercanda, candaan yang kadang-kadang tak masuk diakal.
"Sudah dapat, Ka?" tanya Rifa'i, ketika Jaka sudah menyusul ke kasir.
Jaka tersenyum seraya mengangguk. "Sudah, makasih ya. InsyaAllah ayam jago kalian mati sebagai syuhada," canda Jaka, yang disambut tawa oleh ketiga temannya.
"Ayo, kalau sudah selesai semua kita makan dulu, terus pulang!" ajak Mak Karti yang sedari tadi duduk di sebuah kursi di dekat kasir.
Rifa'i yang tadi meminjam kursi untuk ibunya Jaka tersebut, ketika melihat Mak Karti sepertinya sudah sangat kelelahan karena berkeliling pusat perbelanjaan yang sangat luas untuk mencari berbagai keperluan buat acara nanti malam.
Ya, atas inisiatif Teddy sendiri, pemuda putra Pak Bayan itu membawa Mak Karti dan Jaka beserta kedua temannya, ke pusat perbelanjaan terbesar di kota kabupaten dengan alasan di sana semua yang dicari Jaka pasti ada.
"Hah, dengkulku keju, Jon," keluh Teddy sambil menyelonjorkan kakinya di atas meja begitu Mak Karti sudah masuk ke dalam.
"Tahu kalau kita bakal ke sana 'kan, aku bawa otopet tadi!" imbuh Joni, yang langsung dapat toyoran pelan di kepalanya oleh Rifa'i.
"Itu pusat perbelanjaan, Jon! Kamu mau, digelandang sama satpam dan dilemparkan ke jalanan!" Rifa'i menatap Joni yang tengah mengelus kepala akibat toyoran darinya, seraya tersenyum seringai.
"Tahu, tuh. Si Teddy," timpal Jaka yang baru saja keluar sambil membawa minuman dingin dan camilan yang tadi dibeli sang ibu di pusat perbelanjaan.
"Tapi kamu puas 'kan, Ka? Semua yang kamu butuhkan untuk calon istrimu, ada semua, tho?" tanya Teddy memastikan.
Jaka mengangguk setuju.
Mereka berempat masih melanjutkan ngobrol di ruang tamu, sambil menikmati camilan ringan.
Sementara Mak Karti segera membongkar barang belanjanya, wanita itu mencari sprei yang tadi dibelinya untuk mengganti sprei tempat tidur Jaka yang sudah usang.
Setelah mendapatkan barang yang dimaksud, Mak Karti bergegas menuju kamar putranya itu dan mengganti sprei tempat tidur Jaka. Mak Karti juga membersihkan kamar sang putra dan menyemprotkan pengharum ruangan.
__ADS_1
Wangi semerbak dari pengharum ruangan tersebut, mengundang Jaka untuk melihat ke dalam. Jaka kemudian menuju kamarnya yang terbuka.
"Mak, sedang apa?" tanya Jaka dengan dahi berkerut dalam. Pemuda itu memindai kamarnya dan kemudian tersenyum.
"Kamar calon pengantin harus wangi, malu 'kan sama calon istrimu kalau mau pulang ke sini dan melihat kamarmu dalam keadaan berantakan," tutur Mak Karti yang sudah selesai merapikan kamar Jaka.
'Mak tahu aja, kalau Dara pengin malam pertama di sini,' batin Jaka.
"Terimakasih ya, Mak," ucap Jaka seraya memeluk sang ibu dari belakang.
"Iya, kamu 'kan anak emak, emak sama bapak pasti akan melakukan apapun untuk kamu," balas Mak Karti seraya mengusap punggung tangan Jaka.
πΈπΈπΈ
Tepat bakda isya', keluarga Jaka dan rombongan berangkat ke kediaman Pak Kades. Jaka menaiki mobil Teddy dan duduk di depan, bersama teman-temannya yang lain.
"Wis apal tenan po durung, Ka?" tanya Joni, yang sedikit meremehkan karena dia melihat wajah Jaka yang tegang.
"Pasti hafal, Jon. Jaka 'kan paling jago hafalan," sahut Teddy.
"Siapa tahu aja, Ted. Kamu enggak lihat, muka dia tegang gitu? Biasanya kalau orang grogi 'kan, apa-apa jadi lupa," balas Joni.
"Hem, bener juga apa kata Joni," timpal Rifa'i.
"Sudah, Ka. Santai saja, jangan tegang gitu!' ledek Joni kemudian.
"Calon pengantin 'kan memang begitu, Jon, mukanya pasti semua tegang. Tapi nanti setelah malam sedikit larut, bukan lagi mukanya yang tegang, tapi ...." Teddy melirik Jaka seraya tersenyum tengil.
"Aku tahu, aku tahu," sahut Joni yang langsung nyambung kalau berbicara hal-hal yang menjurus kemesuman.
"Itunya 'kan, yang tegang!" imbuh Joni seraya terkekeh.
Jaka hanya bisa menghela napas panjang, sambil geleng-geleng kepala.
πΉπΉπΉ bersambung,,,
__ADS_1