
"Kalian berdua, mau kemana?" tanya seseorang yang tiba-tiba sepeda motornya sudah sejajar dengan sepeda motor Dara yang dikendarai oleh Jaka.
"Pak Kades," sapa Jaka seraya mengangguk sopan.
"Ayah?" Wajah Dara langsung pucat pasi.
"Berhenti dulu, Jaka!" seru Pak Kades.
Jaka menurut patuh dan segera mencari tempat untuk berhenti, yang diikuti oleh ayahnya Dara.
"Kalian mau kemana?" ulang Pak Kades bertanya setelah Dara turun dari boncengan Jaka, ayahnya Dara itu nampak tidak suka melihat mereka pergi berduaan.
"Dara mau mengantar undangan untuk putrinya Pak Sekcam, Yah," jawab Dara takut-takut, seraya mendekati sang ayah.
Jaka yang juga sudah turun dari motor dan berdiri di samping motor, mengangguk membenarkan.
"Arini?" tanya Pak Kades.
"Benar, Yah."
"Kenapa bersama dia?" cecar Pak Kades seraya melirik tajam Jaka.
"Arini 'kan teman Mas Jaka juga, Yah. Karena sudah lama kami bertiga tidak ketemu, ya sudah, sekalian kami mau reuni," balas Dara.
Jaka menahan napas, pemuda itu khawatir jika ayahnya Dara tersebut memarahi sang kekasih.
"Oh ya, Yah. Tadi, undangan untuk Pak Sekcam Dara bawa sekalian. Ayah saja ya yang memberikan pada Pak Sekcam, tapi kalau bisa jangan di kantor, Yah," pinta Dara yang memang telah mempersiapkan undangan buat Pak Sekcam untuk berjaga-jaga, seperti yang diminta Jaka kemarin.
Benar adanya, undangan tersebut kini sangat berguna. Setidaknya, Dara memiliki alasan sekarang ketika sang ayah bertanya.
Dara segera mengambil undangan tersebut dari dalam tas dan memberikan pada ayahnya. Pak Gondo menerima undangan dari putrinya itu, masih dengan wajah yang terlihat kesal.
"Untuk Pak Camat, kata ibu, ayah sendiri yang akan mengantarkan," lanjut Dara, yang dibenarkan sang ayah dengan mengangguk.
"Segera pulang, kalau urusan kalian sudah selesai!" titah Pak Kades kemudian.
Jaka bernapas dengan lega karena tidak perlu ada drama, seperti yang sempat dia khawatirkan barusan.
"Nggih, Pak. Terimakasih," ucap Jaka dengan sopan.
"Ayah, nanti kalau Pak Sekcam ada di rumah, Dara telepon Ayah," ucap Dara, sebelum sang ayah berlalu.
"Hem," balas laki-laki bertubuh tambun itu hanya dengan gumaman. Ayah Dara itu segera melajukan motornya meniggalkan Dara dan Jaka.
__ADS_1
"Neng, ini waktunya semakin mepet. Ayo, kita harus segera ke klinik!" ajak Jaka yang sudah siap di atas motor.
Dara bergegas naik kembali ke jok belakang, gadis itu berpegangan pada tas punggung Jaka.
"Sudah siap, Neng?" tanya Jaka.
"Sudah, Mas," balas Dara.
"Oke, kita ke KUA sekarang, ya," goda Jaka seraya tersenyum. Senyuman manis yang menampakkan lesung pipi pemuda sederhana tersebut, yang membuat Dara semakin terpikat pada Jaka.
Dara memukul pelan lengan Jaka.
"Kok mukul sih, Neng," protes Jaka.
"Mas Jaka sih, pakai bilang ke KUA segala," balas Dara.
"Lah, tadi 'kan, kamu bilang sudah siap, Neng," goda Jaka yang semakin menjadi.
"Siap berangkat, Mas," balas Dara. "Udah, ah ... ayo, buruan!" Dara mengerucutkan bibir, yang membuat Jaka terkekeh pelan.
"Enggak lucu, tahu!" Dara pura-pura marah, padahal dalam hati gadis itu berbunga-bunga. Dara sangat bahagia karena Jaka selalu menunjukkan perhatian dan senang menggodanya.
Ya, sesederhana itu cinta Dara pada Jaka. Cinta yang tak menuntut kemewahan, tapi cinta yang menerima kesederhanaan.
"Pegangan ya, Neng," ulang Jaka, sebelum memacu sepeda motor matic milik Dara.
Jaka segera memacu kendaraannya, menuju klinik milik ibunya Arini.
Sepuluh menit kemudian, mereka berdua telah tiba di area parkir klinik kecantikan milik Tante Risa, mamanya Arini.
Dara segera turun dari boncengan motor dan langsung masuk ke dalam klinik, untuk bertemu dengan pemilik klinik kecantikan tersebut.
Jaka menunggu sang kekasih, di halaman klinik, pemuda itu kemudian duduk di bangku yang telah tersedia.
"Assalamu'alaikum, Tante," ucap salam Dara pada wanita cantik yang tengah ngobrol bersama salah seorang pelanggan.
"Wa'alaikumsalam," balas Tante Risa. "Dara, ya?" tanya wanita cantik itu kemudian.
"Iya, Tante. Nama saya, masih Dara dan belum dirubah sama ayah," balas Dara dengan bercanda.
"Ya ampun, Dara. Kamu ini lho, masih saja suka bercanda," ucap. mamanya Arini tersebut, seraya terkekeh. Istri Pak Sekcam itu kemudian memeluk Dara.
"Sudah sangat lama, ya, kita tidak bertemu?" tanya Tante Risa, setelah melerai pelukan.
__ADS_1
"Benar, Tante. Dua tahun lebih, semenjak kami lulus sekolah dulu, " balas Dara.
Ayo, duduk dulu, Nak Dara!" ajak Tante Risa.
Dara melirik jam di pergelangan tangan kanannya. "Maaf, Tante. Apa Arini ada di rumah, Tan?" tanya Dara.
"Ada, kok. Tadi sih bilangnya enggak mau kemana-mana karena lagi masuk angin katanya," balas mamanya Arini.
'Alhamdulillah, Arini menjalankan rencana dengan baik,' batin Dara.
"Tadi Dara sudah ke sana, Tan. Tapi kok sepi, ya? Saya panggil-panggil tidak ada yang menyahut," terang Dara yang terpaksa berbohong.
"Masak, sih?" Mamanya Arini yang sangat menyayangi putrinya itu nampak sangat khawatir, takut sang putri kenapa-napa karena tadi mengatakan kalau masuk angin.
"Ya sudah, Nak Dara. Ayo, kita lihat Arin!" ajak mamanya Dara yang bergegas menyambar tas cangklong dan kemudian segera keluar sambil menggandeng tangan Arini.
"Maaf, Tante. Saya bawa motor sama teman," terang Dara sebelum Tante Risa menyuruhnya untuk masuk ke dalam mobil sedan milik mama Arini tersebut.
"Oh, ya sudah. Kita ketemu di rumah, ya," tutur Tante Risa seraya melambaikan tangan. Wanita itu bergegas naik ke dalam mobil dan segera melajukan mobil kecilnya itu, untuk pulang ke rumah.
Dara dan Jaka juga segera naik ke atas motor, untuk menyusul mobil Tante Risa.
Sementara di kediaman Pak Sekcam, Bambang sudah melepaskan baju seragamnya dan menyimpan baju dinas tersebut pada capstock yang ada dibalik pintu.
Arini pun telah bersiap di atas ranjang, gadis itu juga sudah tidak mengenakan apapun.
Jika biasanya mereka main diiringi dengan suara musik yang lirih, kali ini, suara musiknya sengaja sedikit dikeraskan oleh Arini agar Bambang tidak bisa mendengar ketika ada suara motor atau mobil yang datang.
Bambang segera mendekati ranjang dan menatap Arini dengan tatapan lapar, seperti seekor serigala yang melihat buruannya di depan mata dan siap untuk menerkam mangsa tersebut.
Arini merentangkan kedua tangannya seraya mengerling, menggoda Bambang. "Ayo, Mas! Arin sudah kangen banget sama milik Mas Bambang." Suara Arini terdengar begitu menggoda.
Bambang langsung naik ke atas ranjang dan mulai merangkak ke atas tubuh Arini yang polos, tanpa sehelai benang pun.
Hanya dalam hitungan menit, Bambang sudah bergaya layaknya seorang joki profesional yang menunggang kuda dan memacu kuda betinanya dengan cepat untuk mencapai finish bersama-sama.
"Aku hampir sampai, Dik," ucap Bambang.
Arini mengangguk, gadis itu memejamkan mata menikmati apa yang dilakukan Bambang terhadap dirinya.
Suara lenguhan panjang keduanya, mengakhiri sesi panjang kuda-kudaan ala Bambang dan Arini. Napas keduanya tersengal dengan keringat yang bercucuran, membasahi tubuh polos mereka berdua.
Baru saja Bambang berguling ke samping, terdengar pintu kamar tersebut dibuka dari luar.
__ADS_1
🌹🌹🌹 bersambung,,,