
Waktu terus bergulir, hari berganti minggu pun berlalu. Satu bulan sudah terlewat dari kejadian yang dilihat Dara di depan sebuah Motel di pinggiran kota.
Kini, Dara semakin putus asa. Pasalnya, sang ayah tak mempercayai bukti di layar ponsel yang dia tunjukkan pada ayahnya itu.
"Video seperti itu 'kan mudah sekali di rekayasa, Dara. Jangan membodohi ayah!" hardik Pak Gondo pada putri semata wayangnya.
"Dara berani bersumpah Ayah, ini bukan hasil rekayasa. Dara sendiri yang mengambil video ini, Ayah, sewaktu Dara pulang dari mengantarkan Ibu ke terminal," terang Dara yang masih berharap sang ayah mau percaya padanya.
"Halah, sudahlah Dara. Ayah bosan berdebat denganmu!" seru Pak Kades yang langsung beranjak dari tempatnya duduk.
"Mulai sekarang, persiapkan dirimu untuk menikah dengan Bambang, waktu kalian tinggal satu bulan lagi!" peringat Pak Gondo seraya menatap tajam Dara.
Gadis berpipi chabi dan terlihat menggemaskan itu tertunduk lesu. Ini memang baru pertama kalinya Dara pulang, setelah sebulan yang lalu dia berangkat ke kota diantarkan oleh Bambang.
Jika biasanya Dara akan pulang dua minggu sekali, tetapi karena sedang ada banyak tugas kuliah menjelang semesteran, Dara baru sempat pulang dan menunjukkan video tersebut pada sang ayah.
"Pak, kenapa Bapak tidak mencari tahu kebenarannya, Pak? Bapak 'kan bisa menyuruh Sulkan atau Kandar untuk memata-matai Bambang," tutur Bu Rosma mencoba menengahi.
"Tidak perlu, Bu. Kalau banyak yang suka sama Bambang, bukankah itu hal yang wajar, Bu. Bambang itu wajahnya tampan dan uangnya juga banyak. Pasti banyaklah gadis yang mengejar Bambang, tapi Bapak percaya kalau cinta anak itu hanya untuk Dara," kekeuh Pak Kades yang menganggap Bambang adalah pemuda baik-baik.
"Bapak akan telepon Bambang, agar mengajak Dara jalan-jalan. Kalian harus mulai lebih dekat, biar nanti kalau sudah resmi menikah kamu tidak canggung lagi sama suami kamu, Dara," tutur Pak Kades panjang lebar dan tanpa jeda, bahkan laki-laki bertubuh tambun itu tidak memberikan kesempatan pada sang putri untuk menolak keinginannya.
Bu Rosma menghela napas panjang.
Terdengar nada sambung di ponsel Pak Kades, tetapi pemuda yang ditelepon tidak mengangkatnya.
"Kemana sih, Bambang! Mau dikasih kesempatan untuk kencan berdua sama Dara, mumpung anaknya sedang ada di rumah, malah gak bisa dihubungi!" gerutu Pak Kades.
Dara nampak tersenyum lega, mendengar gerutuan sang ayah bahwa pemuda yang tidak disukainya itu tidak menerima telepon dari ayahnya.
__ADS_1
'Syukur Alhamdulillah, jangan diangkat, Mas. Bersenang-senanglah kamu dengan wanita-wanitamu di luar sana,' harap Dara dalam hati.
"Bambang tidak angkat telepon Ayah, tapi kamu harus tetap bersiap Dara. Jika sewaktu-waktu Bambang datang dan mengajakmu untuk malam mingguan, kamu sudah siap dan cantik," peringat Pak Kades.
Dara cemberut.
"Mbok ya jangan dipaksa tho, Pak, kalau memang anaknya enggak mau," tutur Bu Rosma dengan pelan, mengingatkan sang suami.
"Sudahlah, Bu. Ibu jangan terlalu memanjakan dia, Dara bisa besar kepala nantinya!" kecam Pak Kades yang segera berlalu keluar rumah, meninggalkan anak dan istrinya yang sama-sama termenung di ruang keluarga.
Bu Rosma mengelus lembut puncak kepala Dara. "Yang sabar ya, Nduk. Ibu akan selalu mendoakan kebahagiaan untukmu. Ibu sangat yakin, jika Bambang itu bukan jodohmu, Dara," tutur Bu Rosma, mencoba menenangkan sang putri.
Dara mengangguk, gadis itu kemudian menatap sang ibu. "Terimakasih, Bu. Ibu selalu ada untuk Dara," ucap Dara dengan tersenyum tulus.
Sementara itu, hubungan Bambang dan Arini semakin menggila. Tidak ada πΈπ¦π¦π¬π¦π―π₯ yang terlewat tanpa kencan dan menginap di tempat-tempat penginapan murah di daerah wisata terdekat.
Seperti malam minggu kali ini, Bambang yang tidak bisa dihubungi Pak Gondo ternyata sedang asyik bergoyang di atas tubuh pacar rahasianya itu, setelah mereka berhasil mendapatkan satu kamar terbaik di sebuah losmen di tempat wisata pegunungan yang berjarak sekitar delapan puluh kilometer dari kota kecamatan.
Arini meremas rambut Bambang, kala gadis itu berhasil mencapai puncak kenikmatan yang kedua, setelah hampir satu jam bergumul bersama pemuda yang sangat Arini cintai, hingga putri Pak Sekcam tersebut rela memberikan kehormatannya untuk Bambang.
Bambang yang juga berhasil menyemburkan benih keperkasaannya di rahim Arini melenguh panjang, mengakhiri sesi percintaan keduanya yang entah kali ini untuk yang ke berapa.
Bambang tak pernah memakai karet pengaman, semenjak kelupaan di malam pertama dirinya menjamah tubuh Arini karena Bambang tidak mau kehilangan kenikmatan jika harus memakai karet pengaman.
Sebagai gantinya agar hubungan keduanya tetap aman dan lancar, pemuda itu memaksa Arini agar mengkonsumsi pil kontrasepsi untuk mencegah kehamilan.
Arini yang telah dibutakan oleh cinta dan juga telah dilenakan dengan kenikmatan duniawi yang bersifat fatamorgana, hanya bisa menuruti kemauan Bambang.
Mereka melakukan hubungan, bukan hanya di saat πΈπ¦π¦π¬π¦π―π₯ seperti sekarang ini, dimana Arini diberikan kebebasan oleh orang tuanya untuk menginap di rumah teman-temannya di kota. Dan alasan itulah yang selalu Arini gunakan, jika mereka berdua hendak menginap di penginapan dan menghabiskan malam panjang bersama dengan berbagi peluh dan berbagi kenikmatan.
__ADS_1
Mereka sudah sering melakukan hubungan badan, bahkan di siang hari di sela-sela istirahat siang Bambang, kala Arini berada di rumah sendirian.
Ya, kebetulan kediaman orang tua Arini sangat dekat dengan kantor kecamatan. Sang ayah yang seorang Sekcam sangat sibuk dengan pekerjaannya, sementara Ibunya Arini lebih banyak menghabiskan waktu di klinik kecantikan miliknya bersama teman-teman arisan yang menjadi pelanggan setia di klinik.
Arini menatap laki-laki yang mendekap erat tubuhnya dengan tatapan penuh cinta. "Terimakasih, Mas. Kamu selalu bisa membuatku puas," bisik Arini sambil tangannya mulai sibuk membangkitkan kembali gai*rah Bambang yang sedang beristirahat sejenak di atas tubuh polos Arini.
"Oh, Rin. Dasar gadis nakal, aku mau istirahat sebentar, Sayang," tolak Bambang sambil menggenggam tangan Arini agar tidak kembali nakal dan menggerayangi bagian-bagian sensitif di tubuh kekarnya.
"Ayolah, Mas. Mumpung kita bebas melakukannya," rengek Arini. "Kalau di rumah 'kan, Mas Bambang selalu buru-buru dan hanya melakukannya sekali, Mas. Arin belum sampai ******* tapi sudah Mas akhiri dengan alasan takut ketahuan," protes Arini mulai merajuk.
Bambang tersenyum. "Iya, iya. Malam ini, aku akan puaskan kamu, Sayang," hibur Bambang. Pemuda itu kembali melu*mat bibir Arini dengan rakus.
Tepat di saat yang sama, ponsel Bambang terdengar berdering dengan nyaring. Bambang buru-buru menyudahi ciuman panasnya dan mengambil ponsel yang dia simpan di saku celana yang tercecer di lantai.
"Ayah." Bambang mengerutkan kening.
"Siapa, Mas?" tanya Arini penasaran kala melihat kening Bambang berkerut, tanda bahwa pemuda itu sedang berpikir keras.
"Halo, Yah," sapa Bambang tanpa menjawab pertanyaan Arini.
"Dimana kamu? Cepat pulang!" titah Pak Carik pada putranya. "Pak Kades mencarimu dari tadi. Jangan sampai Si Gondo itu curiga dengan perilakumu yang tidak bener itu, Bodoh!" hardik Pak Carik yang tahu pasti bahwa sang putra pastilah sedang bersenang-senang di luar sana.
"Tapi, Ayah. Bambang sedang ...."
"Pulang sekarang! Atau kamu akan kehilangan kesempatan untuk bisa memiliki Dara!" ancam Pak Carik.
Bambang menyugar rambutnya dengan kasar, dia pegang miliknya yang sudah berdiri kembali dengan sempurna dan meminta untuk dipuaskan.
"Huh," Bambang membuang kasar napasnya. 'Tak apalah, aku main sekali lagi dengan cepat. Yang penting aku bisa keluar dan terbebas dari rasa yang menyiksa ini. Peduli amat sama gadis murahan itu!' batin Bambang seraya tersenyum seringai.
__ADS_1
πΉπΉπΉ bersambung,,,