
"Jangan dulu, Mas," tolak Dara. "Nunggu malam sedikit larut, ya," pintanya sambil membelai pipi sang suami.
Jaka terpaksa menghentikan aksinya, pemuda itu menyugar kasar rambut karena frustasi. Jaka kemudian duduk di tepi pembaringan, tanpa menutupi tubuhnya yang sudah polos tanpa sehelai benangpun.
Dara kemudian ikut duduk, sambil menyandarkan kepala di π©π¦π’π₯ π£π°π’π³π₯ ranjang. Dia tarik selimut hingga sebatas dada untuk menutupi tubuh polosnya.
"Mas, sini. Masuk dalam selimut, biar enggak masuk angin," pinta Dara.
Jaka menoleh dan kemudian segera bergabung, duduk di samping Dara dan masuk ke dalam selimut yang sama.
Dara beralih menyandarkan kepalanya di bahu bidang sang suami, sementara tangan kecil Dara masuk ke dalam genggaman tangan kekar Jaka.
Keduanya sama-sama terdiam, untuk beberapa saat lamanya. Menikmati kebersamaan, hanya dalam diam.
Jaka tiba-tiba mencium puncak kepala sang istri. "Kalau dah ngantuk, bobok aja, Neng," saran Jaka, ketika netranya melirik sang istri dan mendapati netra Dara terpejam.
Dara kemudian membuka matanya dan sedikit beringsut. "Sambil rebahan aja, yuk," pinta Dara yang langsung merebahkan diri.
"Mas, ayo! Sini, Dara peluk," rayu Dara seraya memberikan isyarat agar sang suami mendekat.
Jaka menurut, pemuda itu kemudian membaringkan tubuh di samping sang istri.
Sesuai dengan ucapannya, Dara kemudian benar-benar memeluk sang suami dengan erat.
Rasa hangat, terasa menjalari seluruh tubuh Dara ketika tubunya menempel dan bersentuhan dengan tubuh sang suami. Dada Dara berdebar kencang.
"Enggak apa-apa, ya, ditunda sebentar," bisik Dara kemudian.
Jaka melepaskan pelukan istrinya dan kemudian memiringkan tubuh, menghadap sang istri. "Enggak apa-apa, Sayang, tapi ijinkan aku menatapmu seperti ini," pinta Jaka seraya menatap wajah imut sang istri dengan tatapan dalam. Tangan kekarnya melingkari pinggang Dara.
Dara tersenyum lebar, menunjukkan gigi gingsulnya yang membuat wajah imut Dara semakin terlihat menggemaskan.
Cukup lama netra Jaka memindai wajah istrinya, hingga tangannya tak kuasa untuk tidak menyentuh pipi chabi yang bersemu merah karena Dara merasa malu diperhatikan oleh sang suami dengan jarak yang hampir terkikis habis.
Dara memejamkan mata, kala jemari sang suami yang awalnya membelai pipi kemudian mulai turun ke dada dan mere*mas buah kenyal di dada Dara.
Jaka semakin mengikis jarak, ketika terdengar rintik hujan mulai turun untuk mencumbui bumi dan menjadikannya basah.
Pemuda itupun ingin melakukan hal yang sama seperti halnya air hujan, Jaka ingin mencumbui sang istri dan membuat istrinya itu basah dan mende*sah.
__ADS_1
Hujan di luar sana yang mulai deras dan suaranya dapat menyamarkan suara derit ranjang, membuat Jaka kembali bersemangat mencumbui istrinya.
"Mumpung hujan, Neng. Kita mulai dari nol, yah," pinta Jaka dengan kocak, hingga membuat Dara terkekeh pelan seraya mengangguk.
Pemuda berbadan atletis itu kembali menciumi sang istri, mulai dari puncak kepala dan terus turun ke bawah, tanpa melewatkan sedikitpun bagian tubuh istrinya.
Kembali suara seksi yang keluar dari bibir Dara, memenuhi ruangan tersebut ketika suaminya itu mulai mencumbui area sensitifnya dan membuat Jaka semakin bergairah mendengar desa*han manja Dara.
Hujan yang kemudian diiringi petir, terdengar menggelegar memecah kesunyian malam. Angin yang berhembus kencang, ikut meramaikan suasana malam yang tadinya sunyi dan sepi.
Rupanya, awan hitam yang gergelayut manja di atas cakrawala sedari sore tadi, menyimpan banyak air dan baru menjatuhkannya ke bumi malam ini, untuk menemani sepasang pengantin baru yang kini tengah asyik bercumbu.
Punggung Jaka terlihat mengkilap diterpa cahaya dari lampu tidur di kamarnya karena bulir-bulir keringat, yang dihasilkan dari olahraga malam yang nikmat meskipun belum sampai *******.
"Sayang, apa kamu sudah siap?" tanya Jaka lirih, yang kembali memastikan pada sang istri sebelum dirinya benar-benar mengambil apa yang telah menjadi miliknya yang telah halal.
Dara mengangguk pasti dengan tatapan sayu, menatap netra elang Jaka yang juga tengah menatapnya penuh damba.
Baru saja Jaka hendak mulai penyatuan, setelah pemanasan yang cukup panjang karena Jaka tak ingin membuat sang istri kesakitan, kembali keintiman mereka berdua harus terjeda.
"Mas, bocor, Mas," pekik Dara tertahan ketika dadanya terkena air hujan karena tiba-tiba saja ada genteng yang melorot akibat hembusan angin kencang dan menyebabkan air hujan menerobos masuk, mengucur tepat di atas tempat tidurr.
"Neng, kamu rebahan saja sini," pinta Jaka setelah selesai menata kasur. "Mas akan ambil baskom dulu," lanjut Jaka yang segera menyambar sarung dan memakainya dengan asal, bergegas pemuda itu menuju ke dapur untuk mengambil barang yang bisa menampung air hujan.
Sementara Dara merapikan sprei dan kemudian duduk di atas kasur tersebut, istri Jaka itu bmembungkus tubuhnya dengan selimut lembut. Dara tersenyum sendiri, mengingat kejadian barusan.
"Neng, kok senyum-senyum sendiri?" tanya Jaka yang baru saja masuk ke dalam kamar, sambil menenteng baskom besar. Jaka meletakkan baskom tersebut di atas ranjang, tepat di bawah genteng yang sedikit melorot.
Jaka kemudian ikut duduk di samping istrinya sambil mendekap tubuh Dara yang masih terbungkus selimut. "Maaf, ya. Mas belum bisa memberikan kenyamanan buat kamu," ucap Jaka yang terdengar penuh penyesalan.
Dara menatap netra elang Jaka, dia memberanikan diri mencium bibir sang suami. "Dara mencintai Mas Jaka apa adanya diri, Mas. Cinta Dara tidak akan pudar, hanya karena masalah sepele seperti ini, Mas," hibur Dara, membuat hati Jaka merasa lega.
Sejenak keduanya sama-sama terdiam, hanya hembusan napas keduanya yang terdengar berirama dan saling bersahutan.
Di luar sana, hujan masih mengucur meski tak sederas sebelumnya tetapi masih terdengar berisik dan dapat menyamarkan suara-suara aneh jika mereka berdua memadu kasih.
"Neng, kita lanjut babak tambahan, yuk!" ajak Jaka.
Dara mengerutkan dahi, mendengar kalimat nyeleneh yang diucapkan oleh sang suami. "Maksud, Mas?" tanya Dara.
__ADS_1
"Ibarat kita main sepak bola, Neng, di babak pertama tadi, hasilnya 'kan nol. Di babak kedua, juga sama. Nah, kalau hasilnya seri 'kan, harus ada babak tambahan untuk menentukan siapa juaranya," terang Jaka, sambil membuka selimut yang membungkus tubuh sang istri dan melemparnya jauh.
Dara tersenyum mendengar penjelasan sang suami. "Mentang-mentang striker, pakainya istilah dalam bermain sepak bola," olok Dara.
Jaka terkekeh pelan. "Ayo, Neng! Mas akan tunjukkan padamu, kelihaian mas dalam menggiring bola dan mencetak gol sebanyak-banyaknya malam ini," ajak Jaka seraya merebahkan tubuh sang istri di atas kasur yang sudah berada di lantai, sehingga aman dan tidak akan menimbulkan suara berisik lagi, meski jika hujan di luar sana berhenti mencumbui bumi, Jaka tidak akan berhenti mencumbui sang istri.
πΉπΉπΉ End .... π₯°π€
Lho, Thor ... kok end nya gini amat! Gantung Thor!
Aku bisikin yah, Mas Jaka tuh demen sama yang gantung, begitu pula dengan Neng Dara, kalau lihat yang gantung tuh bawaannya pengin di makan ππ€
Dah, ah ... makin ke sini jadi makin ke sana π
Yuk, yang belum masuk GC, gerbangnya masih aku buka lebar yah... seperti pintu hatiku yang aku buka hanya buat kamuh π
Untuk pengumuman pemenang Give Away, akan aku umumkan di GC InsyaAllah minggu depan.
πΉπΉπΉ
Noted ; Ketentuan GA-nya masih sama kayak yang novel Bang Mirza, ya...
Diberikan kepada pendukung yang mendapatkan predikat fans yang menduduki ranking 1, 2 dan 3 saja &
Dua orang pembaca, yang aktif memberikan komentar positif mulai bab.1 sampai End, tanpa bolong &
Masing-masing wajib memberikan ulasan bintangβββββ (5)
Keputusan othor tidak dapat diganggu gugat π
πΉπΉπΉ
Untuk GA novel Aqidah Cinta, kemarin yang dapat baru satu orang, yah.
InsyaAllah nanti akan aku tambahin, dan untuk ketentuannya juga akan aku umumkan di GC.
Untuk gabung GC, klik profilku dan temukan GC. *Mak Modus* π
πΉπΉπΉ
__ADS_1