
Di kediaman eyangnya Dara, Bu Rosma yang baru saja tiba di rumah megah itu, disambut dingin oleh kedua orang tuanya.
"Assalamu'alaikum, Pa, Ma," sapa Bu Rosma pada kedua orang tuanya yang sedang duduk santai di teras sambil menikmati sinar mentari di pagi hari yang hangat.
"Wa'alaikumsalam," balas sang mama yang hanya menoleh sekilas dan kemudian kembali sibuk dengan benang rajutan di tangan.
Sementara sang papa, nampak masih asyik dengan surat kabar yang dibacanya.
"Papa dan Mama, sehat?" tanya Bu Rosma sambil duduk di kursi di samping sang mama.
"Hem," balas sang papa hanya dengan gumaman, membuat Bu Rosma ingin menangis karena merasa diabaikan.
Meski ini bukan kali pertama, tetap saja Bu Rosma selalu merasakan sakit, menyesal, bersalah, semua bercampur menjadi satu.
Walaupun kehadirannya seringkali diabaikan, Bu Rosma selalu menekan perasaan dan tetap menjalin silaturahim dengan orang tuanya. Karena bagaimana pun, mereka berdua adalah orang yang harus dihormati.
Hening, menyapa teras yang luas tersebut.
"Pa, Ma. Kedatangan Rosma kemari, mau minta bantuan sama Papa dan Mama," ucap Bu Rosma dengan sungkan, mengurai keheningan.
Sang Mama menoleh dan menatap putrinya sekilas. "Bantuan apa?" tanyanya dengan dingin. Wanita tua itu kemudian kembali sibuk merajut, membuat sweater kecil yang mungkin untuk salah satu cucu buyutnya.
Sebenarnya, jika tidak ada keperluan yang πΆπ³π¨π¦π― seperti sekarang ini, Bu Rosma enggan mengunjungi kediaman orang tuanya karena beliau berdua selalu terlihat menjaga jarak dengan Bu Rosma, apalagi pagi ini Bu Rosma datang seorang diri.
Berbeda cerita jika Bu Rosma datang bersama Dara, maka orang tua Bu Rosma akan bersikap cukup baik atau pura-pura baik pada putri kandung yang telah dianggap mencoreng nama baik keluarganya itu.
Berawal dari penolakan Bu Rosma kala itu, ketika dirinya dijodohkan dengan salah satu putra teman sang papa. Bu Rosma malah memperkenalkan Pak Gondo sebagai kekasihnya.
Hubungan Bu Rosma dan Pak Gondo yang berasal dari kampung, tentu di tentang oleh orang tua apalagi saat itu Pak Gondo muda datang dengan penampilan slengekan seperti layaknya orang yang tidak berpendidikan tinggi.
Ayah Bu Rosma yang merupakan pejabat tinggi di kotamadya tentu merasa malu, jika sang putri menikah dengan laki-laki yang tidak sederajat dengan keluarga mereka.
"Ini tentang, Dara," ujar Bu Rosma pelan.
__ADS_1
Sang papa langsung menyimpan surat kabar di atas meja, begitu pula dengan sang mama, beliau menyimpan alat rajutnya di atas pangkuan begitu mendengar nama Dara disebut.
"Ada apa dengan cucuku?" tanya sang papa.
"Mas Gondo ingin menjodohkan Dara dengan putra Pak Carik, Pa." Bu Rosma kemudian menceritakan perihal perjodohan yang telah digagas oleh sang suami yang tidak melibatkan dirinya itu.
Bu Rosma juga menceritakan tentang Bambang, yang perilakunya kurang baik menurut informasi yang beliau dengar.
"Berapa ratus juta, hutang suamimu itu?" tanya sang papa yang terdengar sangat sinis.
"Rosma belum tahu pastinya, Pa," balas Bu Rosma dengan jujur.
"Kamu tanyakan sendiri sama Carik, jangan libatkan suamimu yang tidak berguna itu!" tutur eyang kakungnya Dara yang nampak tidak terima jika sang cucu dijodohkan dengan pemuda yang tidak benar.
"Berapa yang kamu butuhkan untuk Dara, bilang saja, papa akan segera transfer," lanjutnya.
"Iya, Pa. Nanti Rosma tanyakan langsung sama Pak Carik," ucap Bu Rosma dengan tersenyum lega.
"Tetapi papa minta satu hal," tutur sang papa, yang langsung membuat senyum di wajah anggun Bu Rosma menghilang seketika.
"Dara harus mau meneruskan keinginan papa untuk menjalin persaudaraan dengan keluarga Pak Utomo," tutur sang papa.
"Maksud, Papa?" tanya Bu Rosma yang sebenarnya sudah bisa menebak, kemana arah pembicaraan sang papa.
"Dara harus menikah dengan cucunya Pak Utomo, anaknya Herman, untuk menggantikan kegagalan perjodohanmu dulu dengan Herman," terang sang papa, yang membuat Bu Rosma langsung lemas seketika.
Bu Rosma tahu, keluarga Pak Utomo memang keluarga kaya yang sepadan dengan keluarga papanya. Bu Rosma juga tahu, keluarga Pak Utomo adalah keluarga priyayi.
Tetapi, Bu Rosma juga tahu jika keluarga Pak Utomo adalah keluarga tukang kawin. Hampir semua anaknya, memiliki istri lebih dari dua termasuk Herman.
Selain itu, Bu Rosma juga tidak mungkin membuat sang putri kecewa, dengan menyetujui perjodohan tersebut tanpa melibatkan Dara.
Bu Rosma tahu betul bahwa putrinya sangat mencintai Jaka, pemuda sederhana yang cerdas dan pekerja keras. Dan Bu Rosma tak keberatan jika sang putri menjalin hubungan dengan pemuda yang sering dikatai oleh suaminya sebagai penggembala domba.
__ADS_1
"Maaf, Pa. Jika itu yang papa minta, Rosma tidak berani menjanjikan apa-apa. Rosma akan bicarakan dulu hal ini dengan Dara," ucap Bu Rosma.
"Kenapa?" tanya sang papa setengah menghardik, dengan dahi mengkerut dalam.
"Dara sudah menjalin hubungan dengan seorang pemuda, Pa," balas Bu Rosma takut-takut.
Eyang kakungnya Dara itu menghela napas kasar. "Katakan pada Dara, jangan sampai dia salah mengambil keputusan seperti kamu dulu! Menikah dengan pemuda kampung yang tidak jelas!" kecam sang papa yang masih saja mengungkit masa lalu putrinya itu.
"Jaka tidak seperti itu, Pa. Dia anak yang baik, ulet, cerdas dan juga ramah," bela Bu Rosma yang memuji Jaka.
"Oh, jadi namanya Jaka?" tanya sang papa. "Kuliah di mana dia? Kedokteran juga, seperti cucuku?"
Bu Rosma menggeleng. "Jaka belajar di pesantren, Pa," balas Bu Rosma.
"Ck," eyangnya Dara itu berdecak. "Putrimu itu calon dokter, Ros. Papa juga sudah menyiapkan dana, jika nanti Dara mau ambil spesialis. Masak seorang dokter spesialis hanya menikah dengan kaum sarungan, mau dikasih makan apa nanti cucuku? Burung dalam sarungnya!" sarkas sang papa, yang membuat Bu Rosma menundukkan kepala.
Bu Rosma tak ingin lagi membantah perkataan orang tuanya, meski beliau tidak sepaham dengan sang papa.
Bagi Bu Rosma, rizqi itu sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa. Bukan berarti, jika seseorang itu tidak kuliah tinggi maka rizqinya kalah dengan orang yang berpendidikan, memiliki gelar serta jabatan.
Bu Rosma tidak pernah menilai orang lain seperti itu, sama halnya ketika dulu beliau memilih Pak Gondo yang awalnya baik, supel dan memiliki teman banyak karena Pak Gondo pandai bergaul dan aktif di kampus.
Begitu pula Bu Rosma menilai Jaka, dari sikap pemuda itu yang santun, rajin dan juga berotak encer di sekolah, bukan dari keluarga mana Jaka berasal.
"Dengarkan apa kata papamu! Jangan membuat keluarga kita semakin malu karena Dara menikah dengan laki-laki yang tidak berguna!" timpal sang mama, yang sedari tadi masih tetap asyik dengan rajutan di tangan.
"InsyaAllah, Jaka pemuda yang baik dan bisa membuat Dara bahagia, Ma," balas Bu Rosma dengan lirih.
"Jika benar begitu, kamu minta tolong saja sama orang tua si Jaka itu agar menutup hutang suamimu pada Carik!" ketus sang papa, yang membuat Bu Rosma kembali menunduk.
"Aku mau istirahat, jika kamu mau papa membantu Dara terbebas dari perjodohan dengan anaknya Carik, maka Dara harus bersedia menikah dengan anaknya Herman!" pungkas sang papa yang langsung beranjak, yang diikuti oleh sang mama.
Menyisakan Bu Rosma yang termenung seorang diri di teras rumah orang tuanya yang luas. "Bukankah ini dilema namanya, keluar dari mulut Buaya dan masuk ke mulut Singa?"
__ADS_1
πΉπΉπΉ bersambung,,,