
"Asal kamu tahu, Ra. Mas Bambang sama sekali tidak mencintaimu, dia terpaksa menerima perjodohan itu, Ra! Karena Mas Bambang hanya mencintaiku!" tegas Arini dengan angkuh.
Dara tersenyum. "Pesan minum dulu ya, Rin," tawar Dara, yang masih tetap bersikap baik pada teman sekolahnya itu.
"Enggak perlu, aku buru-buru. Cepat katakan, ada apa kamu memintaku ke sini!" tolak Arini, wajah gadis itu terlihat masam.
Dara menghela napas panjang. Rupanya, putri Pak Kades itu harus menambah stok sabarnya menghadapi sikap ketus Arini.
Sejenak keheningan tercipta di meja tersebut. Dara dan Jaka hanya saling pandang, sementara Arini sibuk memainkan ponsel mahalnya.
"Rin, asal kamu tahu, aku juga tidak pernah mencintai Mas Bambang," ucap Dara mengurai keheningan.
Arini mengalihkan pandangannya, menatap Dara tak percaya. "Hah, mana ada gadis seperti kita yang menolak Mas Bambang!" ketus Arini.
"Ada, Rin. Aku!" tegas Dara. "Karena aku hanya mencintai Mas Jaka," lanjut Dara, yang membuat Arini membelalakkan mata.
"Kalian, beneran pacaran?" tanya Arini tak percaya. "Aku pikir, kamu hanya PHP-in dia saja seperti yang dikatakan teman-teman," lanjut Arini seraya menatap Dara.
"Dari awal, kami serius menjalani hubungan ini," balas Dara seraya melirik mesra sang kekasih.
Sementara Jaka tersenyum masam mendengar perkataan Arini. Pemuda itu sangat mengerti, jika teman-temannya memiliki pemikiran seperti itu.
Siapalah dirinya, yang tak mungkin bisa mendapatkan cinta Dara, sang Bunga Desa putri tunggal dari Pak Kades.
Nyatanya, cinta tulus itu tak memandang status sosial. Cinta datang dari hati dan hati keduanya telah terpaut sejak lama, semenjak keduanya masih sama-sama duduk di bangku Sekolah Menengah Atas.
"Lantas, apa maksud kamu?" tanya Arini.
"Aku mau kita bekerja sama, Rin," balas Dara. "Aku tahu kamu mencintai Mas Bambang, sementara Mas Bambang malah dijodohkan dengan aku yang tidak mencintainya. Aku ingin kita bertukar posisi, Rin." Dara menatap Arini.
Arini mengerutkan kening, gadis itu belum paham kemana arah pembicaraan Dara. "Kerja sama, bertukar posisi, gimana maksudnya?" Arini terlihat semakin bingung.
"Rin, aku pernah melihat kamu bersama Mas Bambang keluar dari Motel, tetapi tak berapa lama, kalian kembali masuk ke dalam Motel di pinggiran kota dan tak keluar-keluar sampai lama," terang Dara.
Arini sangat terkejut mendengar perkataan Dara. "Jangan sembarangan kalau bicara, itu fitnah namanya!" seru Arini.
__ADS_1
"Aku punya buktinya, Rin," balas Dara seraya menunjukkan hasil rekamannya beberapa waktu yang lalu.
Arini menutup mulutnya sendiri, dia tak menyangka, jika ada orang yang dikenalnya melihat kejadian tersebut. Padahal selama ini, Bambang dan Arini sudah sangat hati-hati jika pergi berkencan.
"Aku harus bagaimana?" tanya Arini yang mulai memelankan suara, gadis itu terlihat malu karena ternyata Dara mengetahui ulahnya.
"Kamu benar-benar mencintai Mas Bambang, kan?" tanya Dara menegaskan.
Arini mengangguk pasti. "Iyalah, Ra. Enggak mungkin aku rela menyerahkan kehormatanku pada laki-laki yang tidak aku cintai," balas Arini dengan berbisik, putri Pak Sekcam itu khawatirkan kalau Jaka ikut mendengar pembicaraannya.
"Kalau kamu mencintainya, kenapa kamu tidak menuntut agar Mas Bambang menikahimu setelah apa yang dia lakukan, Rin?" tanya Dara yang tak mengerti dengan jalan pikiran Arini.
"Karena dari awal kami berhubungan, Mas Bambang sudah menegaskan bahwa aku tak boleh menuntut apapun, Ra. Mas Bambang selalu bilang, bahwa kami melakukannya atas dasar suka sama suka jadi tak boleh menuntut," terang Arini dengan memelankan suaranya.
"Dan kamu pasrah begitu saja?" kejar Dara.
Arini mengangguk.
"Jangan menjadi wanita yang bodoh, Rin. Mas Bambang yang sudah mengambil kesucianmu, kamu harus kejar dia agar mau bertanggungjawab dan menikahimu," desak Dara.
"Astaghfirullahal'adzim ...." Dara mengucap istighfar dengan lirih, gadis imut itu merasa iba dengan Arini yang telah dibutakan oleh nafsu.
Jaka yang masih bisa mendengar meskipun tak begitu jelas, hanya bisa menghela napas panjang. Pemuda bertubuh tinggi itupun merasa miris dengan pergaulan Bambang dan Arini.
"Tidak, Rin. Yang kamu lakukan itu salah," tegur Dara.
"Aku harus bagaimana, Ra?" tanya Arini yang mulai melembut.
"Kamu bisa bilang sama ayahmu, agar meminta pada Mas Bambang untuk menikahimu, Rin," jawab Dara. "Kamu ceritakan semuanya pada ayahmu," lanjutnya.
Arini menggeleng. "Aku takut, Mas Bambang akan membenciku, Ra," balas Arini, yang begitu takut jika sang pujaan hati membenci dirinya.
"Jadi, kamu rela jika Mas Bambang menikahi gadis lain?" tanya Dara.
Arini mengedikkan bahu. "Entahlah, Ra."
__ADS_1
Dara menghela napas panjang. Arini satu-satunya orang yang mungkin saja bisa membantu membatalkan pernikahannya dengan Bambang, tetapi putri Pak Sekcam itu malah memberikan respon yang membuat Dara patah semangat.
Jaka berdeham. "Rin, maaf jika aku ikut bicara," ucap Jaka seraya menoleh ke arah Arini sekilas.
Jaka kemudian menatap Dara, yang juga tengah menatap dirinya.
"Jika kamu tidak berani bilang sama orang tuamu karena takut Mas Bambang akan membencimu, bagaimana kalau kita pakai cara lain?" tawar Jaka.
Dara mengerutkan dahi, begitu pula dengan Arini.
"Apa itu, Mas?" tanya Dara.
Jaka mengangguk dan tersenyum pada Dara.
"Tapi, sedikit beresiko, jika sampai ada orang lain yang tahu," imbuh Jaka yang kembali menatap Arini sekilas.
"Apa sih, Mas? desak Dara, yang semakin penasaran.
"Katakan saja, apa itu?" tanya Arini kemudian.
Jaka kemudian menjelaskan rencananya secara detail. Dara dan Arini mendengarkan dengan seksama setiap ucapan Jaka yang runtut dan jelas.
"Bagaimana, apa kalian berdua setuju?" tanya Jaka.
Kedua gadis itu mengangguk, setuju.
"Enaknya ... mau dimana, Rin?" tanya Dara. "Biar kami bantu untuk menyiapkan tempatnya," imbuh gadis imut-imut yang siang ini mengenakan pasmina itu.
"enggak perlu, Ra. Di rumahku aja, kami sudah terbiasa melakukannya di rumah," balas Arini blak-blakan, yang membuat Dara dan Jaka melongo.
"Di rumah?" tanya Dara dan Jaka bersamaan.
🌹🌹🌹 bersambung,,,
Mas Jaka, lagi ngajak main tebak-tebakan nih, Best ðŸ¤
__ADS_1
Rencana apa sih, Mas Jaka?