Pesona Mas Jaka

Pesona Mas Jaka
Pesta Jomblo


__ADS_3

Bambang mengerutkan dahi melihat Arini tersenyum. 'Nih anak, diancam kok malah tersenyum?' batin Bambang bertanya.


'Sudah stres kali ya, Arin. Gara-gara terobsesi dengan pesonaku.' Bambang tersenyum penuh percaya diri.


Sementara Arini yang masih tersenyum bermonolog dalam diam. 'Mas Bambang mengatakan demikian, itu artinya dia mau menikahiku. Yes, setelah menikah aku akan mengikatnya hingga dia tak bisa seenaknya menceraikan aku.'


Bambang kemudian mengajak Arini untuk keluar, menemui kedua orang tua mereka kembali.


Wajah Bambang nampak sangat kusut, sebaliknya, wajah Arini terlihat sangat sumringah karena akhirnya impian Arini untuk bisa menikah dengan Bambang akan segera terwujud.


'Tidak sia-sia aku menyerahkan kehormatanku pada Mas Bambang, karena akhirnya aku bisa menikah dengannya,' bisik Arini dalam hati, setelah dirinya kembali duduk di samping sang ayah.


Sementara Bambang, duduk kembali disamping ayahnya.


'Tapi aku harus berterimakasih pada Jaka dan Dara, berkat mereka berdua akhirnya keinginanku dapat terwujud,' lanjut Arini yang masih mengulum senyum.


"Jadi, bagaimana, Mbang?" tanya Pak Sekcam seraya menatap putra Pak Carik Margono.


"Baik, Pak. Saya bersedia menikahi Dik Arini," jawab Bambang.


"Kapan kamu akan melamar putriku?" tanya Pak Sekcam tanpa basa-basi. "Kalau bisa secepatnya dan langsung menikah saja karena aku tidak mau sesuatu hal yang tak diinginkan terjadi pada Arini," lanjut Pak Sekcam dengan tegas.


Bambang menatap ayahnya.


Pak Carik kemudian mengangguk. "Baik, Pak Sek. Minggu depan kami akan melamar Arini dan mereka berdua bisa langsung menikah secara sah," tutur Pak Carik, yang membuat Bambang sangat terkejut.


"Seminggu lagi, Yah?" tanya Bambang. "Itu 'kan, tanggal pernikahan yang telah ditetapkan untuk Bambang dan Dik Dara, Yah!" protes Bambang berbisik.


"Undangan pernikahanmu kadung tersebar, Mbang. Semua saudara jauh juga sudah tahu dan mereka akan pulang pada hari itu, ya sudah sekalian saja 'kan," balas Pak Carik yang juga ikut berbisik.


"Jadi bagaimana, Pak Carik? Apakah positif minggu depan?" cecar Pak Sekcam ketika melihat ayah dan anak itu malah saling berbisik.


"Iya, Pak. Minggu depan, positif," balas Pak Carik tegas.

__ADS_1


Bambang melirik Arini sekilas dan segera membuang tatapannya ke arah lain. Sementara Arini, putri Pak Sekcam tersebut tersenyum bahagia.


"Baik, kalau begitu kalian berdua urus surat-suratnya segera," titah Pak Sekcam pada Bambang dan juga Arini.


Hanya Arini yang mengangguk penuh semangat.


🌸🌸🌸


Di rumah sederhana, milik orang tua Jaka. Pemuda bertubuh jangkung yang baru saja pulang dari rumah Dara itu, langsung menuju dapur untuk membantu sang ibu yang sedang memasak.


"Masak apa, Mak?" tanya Jaka seraya mendekati wanita yang berusia sekitar empat puluh tahun tersebut.


"Emak mau masak sayur lompong sama gereh, Nang. Tadi bapakmu pesen, pengin dimasakin itu sebelum berangkat ke rumah Kang Darjo," balas ibunya Jaka, seraya mengulek bumbu.


"Biar Jaka saja yang ngulek, Mak," pinta Jaka yang langsung mengambil muthu dari tangan sang ibu.


Mak Karti, ibunya Jaka itu kemudian menyiangi sayuran lompong yang baru dipetik dari pekarangan samping.


"Bapak ke rumah Lek Darjo mau apa tho, Mak?" tanya Jaka. Pemuda itu kemudian membantu sang ibu menyiangi sayuran, setelah bumbu yang diulek halus.


"Ndak usah dijual lah, Mak. Untuk bayar syahriyah sama uang saku besok, InsyaAllah Jaka sudah ada uangnya," ujar Jaka.


Mak Karti menghentikan aktifitasnya, wanita berwajah teduh itu menatap sang putra. "Kamu uang dari mana, Nang?" cecar Mak Karti yang khawatir, sang putra melakukan hal-hal yang tidak baik.


Jaka tersenyum. "Mulai semester kemarin, Jaka banyak dapat orderan membantu teman-teman bikin skripsi, Mak," balas Jaka.


"Tadinya, mau Jaka gunakan untuk melamar Neng Dara minggu ini, tapi sepertinya harus ditunda dulu, Mak," lanjut Jaka.


"Kamu masih berhubungan sama Mbak Dara, Nang?" tanya Mak Karti seraya mengerutkan dahi. "Dia itu sudah mau menikah, lho, sama Mas Bambang. Kamu jangan macam-macam, Nang!" peringat Mak Karti seraya menatap sang putra.


Jaka menggeleng. "Pernikahan mereka batal, Mak. Mas Bambang akan menikah dengan anaknya Pak Sekcam," balas Jaka.


"Do'akan Jaka ya, Mak. Semoga keinginan Jaka untuk memperistri Neng Dara terkabul," pinta Jaka.

__ADS_1


Mak Karti mengangguk. "Aamiin. InsyaAllah, Nang. Emak juga seneng kalau kamu bisa sama Neng Dara, dia itu gadis yang baik. Ibunya juga sangat baik pada Emak, Nang. Beliau sering menanyakan kabarmu kalau pas kami ketemu di warung." Netra Mak Karti berbinar terang kala membicarakan Dara dan Bu Rosma.


"Tapi, Nang. Pak Kades 'kan orangnya galak dan ndak suka sama keluarga kita, Nang." Wajah teduh itu langsung berubah menjadi sendu.


"Jaka akan terus berusaha agar bisa menjadi orang yang sukses, Mak. Jaka yakin, suatu saat nanti Pak Kades pasti bisa menerima Jaka," ucap Jaka dengan yakin.


Mak Karti mengangguk. "Aamiin, Nang. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, jika kita mau berusaha. Tak mengapa bapak dan emakmu ini tak berpendidikan tinggi, asal kalian bisa terus menuntut ilmu setinggi-tingginya." Mak Karti mengusap lengan kokoh sang putra dengan netra berkaca-kaca.


Jaka langsung mengambil tangan tersebut dan menciumnya dengan penuh takdzim.


"Uang kamu disimpan saja, Nang, untuk keperluan kamu sehari-hari. Buat bayar semesteran, biar kami yang memikirkannya," tutur Mak Karti, sambil melanjutkan kembali menyiangi sayuran.


"Yang disimpan sudah ada, Mak. Mak jangan khawatir, Jaka tetap nabung kok untuk masa depan Jaka seperti saran Mak." Jaka menatap sang ibu, pemuda itu kemudian tersenyum.


"Alhamdulillah, Mak, sejak dua bulan yang lalu Jaka juga dimintai tolong sama teman sesama asisten dosen untuk membuatkan tesis," lanjutnya.


"Tesis? Apa itu, Nang?" tanya Mak Karti yang memang hanya lulusan SMP di kampung.


"Tugas akhir kuliah untuk yang mengambil S2, Mak," balas Jaka simpel, pemuda itu tak ingin membuat sang ibu semakin bingung dengan istilah-istilah yang pasti sulit dimengerti oleh Mak Karti.


"S2? Lha kamu S1 saja belum selesai, mosok malah membantu mahasiswa S2 tho, Nang?" sahut sang ayah yang baru saja datang, bertanya.


Jaka tersenyum. "Lha nggih niku, Pak. Tadinya Jaka sudah menolak tapi mereka yang maksa, je," balas Jaka.


"Ya sudah, mau tak mau Jaka sanggupi," lanjutnya.


"Lha awakmu opo iso, Nang?" tanya Mak Karti setelah mendengar perkataan suaminya.


"InsyaAllah, Mak. Bukankah Mak pernah mengatakan, bahwa segala sesuatu yang kasat mata pasti bisa dipelajari?" balas dan tanya Jaka.


Mak Karti mengangguk. "Asal ada kemauan dan mau belajar."


"Assalamu'alaikum, Jaka! Ayo pesta jomblo!" Tengah asyik mengobrol bersama kedua orang tuanya, terdengar ada beberapa pemuda yang menyerukan nama Jaka dari luar rumahnya.

__ADS_1


🌹🌹🌹 bersambung,,,


__ADS_2