
"Enggak perlu, Ra. Di rumahku aja, kami sudah terbiasa melakukannya di rumah," balas Arini blak-blakan, yang membuat Dara dan Jaka melongo.
"Di rumah?" tanya Dara dan Jaka bersamaan.
Arini mengangguk tanpa rasa malu.
Dara dan Jaka saling pandang, mereka berdua menggelengkan kepala samar. Benar-benar merasa miris dengan pergaulan Arini dan Bambang.
"Apa masih ada yang mau dibahas lagi?" tanya Arini kemudian.
Dara menggeleng. "Cukup, Rin. Terimakasih karena kamu sudah bersedia bekerja sama dengan kami," ucap Dara dengan tulus.
Arini tersenyum tipis, untuk yang pertama kalinya semenjak gadis seksi itu datang ke tempat tersebut. Arini juga tersenyum pada Jaka.
"Aku pamit ya, Ra. Besok, aku kabari jika aku sudah komunikasi sama Mas Bambang," pamit Arini yang langsung beranjak.
Dara dan Jaka mengangguk, Arini kemudian segera berlalu meninggalkan Dara dan Jaka yang masih ingin melepas rindu yang selama beberapa bulan ini terpendam.
"Mas, apa Mas Jaka yakin, rencana kita besok akan sukses?" tanya Dara.
"InsyaAllah, Neng. Kita berdo'a saja, semoga cara ini bisa membebaskan kamu dari perjodohan dengan Mas Bambang," balas Jaka. "Dan semoga, hubungan kita bisa segera mendapatkan restu dari orang tua kamu, Neng Dara," lanjut Jaka penuh harap.
"Semoga saja ya, Mas," timpal Dara seraya tersenyum menatap sang kekasih hati.
"Neng, mau langsung pulang atau mau kemana lagi?" tanya Jaka, setelah mereka berdua menghabiskan minuman.
"Terserah Mas Jaka saja," balas Dara.
Jaka menatap gadis berhijab di hadapannya, yang senyumnya terlihat sangat menggemaskan itu dengan intens.
"Mas, kok malah lihatin Dara terus," protes Dara seraya tersenyum malu. "Mas Jaka mau kemana lagi, memangnya?" tanya Dara.
"Mas enggak mau kemana-mana lagi, Neng. Mas mau ke hatimu saja," balas Jaka, yang langsung mendapatkan hadiah cubitan di lengannya.
"Neng Dara, kok nyubit?" tanya Jaka protes.
__ADS_1
"Habisnya, Mas Jaka ngeselin. Dara 'kan tanya baik-baik, jawabnya malah bercanda," balas Dara seraya mengerucutkan bibir, membuat Jaka semakin gemas melihatnya.
"Mas enggak bercanda, Neng. Mas memang hanya pengin pergi ke hatimu dan menetap selamanya di sana, Mas enggak pengin ke tempat lain!" tegas Jaka, yang membuat wajah Dara merona merah.
"Udah, ah. Gombal terus dari tadi," pungkas Dara yang langsung beranjak.
Jaka tersenyum, pemuda itu pun ikut beranjak. Jaka kemudian mengusap puncak kepala Dara dengan penuh kasih. "Ayo, kita pulang saja! Mas juga sudah kangen sama Bapak dan Emak," ajak Jaka.
Mereka berdua kemudian berjalan bersisihan keluar dari warung makan tersebut, setelah Jaka membayar terlebih dahulu makanan serta minuman yang telah mereka habiskan.
"Neng, Mas sampai ke pangkalan ojek saja, ya," pinta Jaka. "Enggak enak kalau sampai di kampung dan kita berboncengan, apa kata para tetangga nanti? Apalagi, undangan pernikahan Neng Dara sama Mas Bambang 'kan sudah tersebar," imbuh Jaka, sebelum naik ke motor Dara.
Dara mengangguk mengerti. "Tapi nanti malam Dara boleh 'kan Mas, ke rumah Mas Jaka?" tanya Dara penuh harap.
"Jangan dulu ya, Neng," tolak Jaka dengan halus. "Jangan sampai Neng Dara memancing kemarahan Ayahnya Neng, justru kita harus mengambil hati beliau," imbuh Jaka menyarankan.
"Apa, Neng Dara masih kangen sama Mas?" tanya Jaka seraya tersenyum menggoda.
Kembali Dara mengerucutkan bibirnya. "Memangnya, Mas Jaka enggak kangen ya, sama Dara?" tanya Dara. "Apa jangan-jangan, Mas Jaka sudah kecantol sama Ning-Ning di pesantren?" tuduh Dara yang mulai cemburu.
'Memang ada sih, Neng, yang ngejar-ngejar Mas. Tapi hati Mas, benar-benar enggak bisa berpaling dari kamu, Neng,' batin Jaka.
"Ayo, Neng, naik!" titah Jaka, setelah dirinya naik di depan. Dara segera naik di jok belakang, gadis itu kemudian memegang bahu Jaka yang membuat jantung pemuda berambut ikal sebahu tersebut berdebar-debar.
🌸🌸🌸
Keesokan harinya, Dara yang telah membuat janji dengan Jaka untuk bertemu, sudah bersiap di atas motornya. Gadis imut itu juga sudah mengenakan helm.
Ketika Dara hendak menghidupkan mesin motor maticnya, terdengar suara sang ayah memanggil.
"Dara!" seru Pak Kades memanggil putrinya dengan sedikit berteriak, takut sang putri yang telah memakai helm tidak mendengar.
"Dalem, Ayah," sahut Dara seraya menoleh ke arah sumber suara.
Kepala Desa tersebut berjalan tergopoh-gopoh menghampiri sang putri. "Nanti mampir ke kantor kecamatan dulu, ajak Bambang untuk ke penjahit mencoba pakaian kalian berdua," titahnya.
__ADS_1
Dara mengerutkan kening. "Tidak usah dicoba, Ayah. Waktu itu 'kan sudah diukur, pasti pas," tolak Dara yang enggan untuk bertemu dengan Bambang.
"Terserah kamu sajalah, susah banget dibilangin sama orang tua," gerutu Pak Kades seraya berlalu kembali masuk ke dalam rumah.
Dara menghela napas panjang. "Ayah kenapa, sih? Kayak yang suka banget sama Mas Bambang?" Dara bertanya pada dirinya sendiri dengan bergumam, gadis itu kemudian menggelengkan kepala.
Dara segera menghidupkan mesin motor dan melajukan motor matic miliknya dengan pelan, meninggalkan halaman rumahnya untuk menuju tempat yang telah disepakati dengan Jaka kemarin.
Setelah menempuh perjalanan selama lima menit, Dara tiba ditempat tersebut. Nampak Jaka telah menantinya sambil duduk dengan santai di sebuah pos ronda.
Jaka melemparkan senyuman manisnya. "Assalamu'alaikum, Neng," sambut Jaka mengucapkan salam. Pemuda itu segera beranjak dan mendekati Dara.
"Wa'alaikumsalam, Mas," jawab Dara, yang juga tersenyum pada Jaka.
"Kita tunggu kabar dari Arini di warung tenda deket kecamatan, yuk!" ajak Dara, yang langsung memberikan kunci motornya pada Jaka.
"Mas yang bonceng aja, ya," pinta Jaka. "Biar bisa peluk kamu, Neng," imbuhnya menggoda.
Dara langsung melotot, netra bulat itu nampak semakin bulat sempurna, membuat Jaka tertawa melihatnya.
"Dara marah, kok malah diketawain!" protes Dara.
"Kamu makin menggemaskan kalau marah, Neng," balas Jaka.
"Enggak lucu, ah!" kesal Dara tetapi hanya di mulut saja karena nyatanya, hati Dara berbunga-bunga.
Terdengar ponsel Dara berdering, gadis itu segera mengambil ponsel dari dalam tas punggungnya.
"Arini telepon," ucap Dara seraya menatap Jaka.
"Sepagi ini?" tanya Jaka. "Ini baru jam sembilan lho, Neng," lanjutnya seraya mengerutkan kening.
Dara mengedikkan bahu, gadis itupun tak tahu jawabnya. "Dara angkat aja ya, Mas?"
🌹🌹🌹bersambung,,,
__ADS_1
Aku juga mau dong, Mas Jaka... dipeluk sama kamu 🤭