
"Masak kata Mas Bambang, pacar Dara seorang penggembala," balas Dilla.
Professor Hartadi langsung menatap Jaka, mencari jawab dari apa yang barusan beliau dengar.
Jaka mengangguk ragu, sebab pemuda itu tahu bahwa putri sang professor juga mengejar cintanya.
Tanpa Jaka duga, professor yang penuh wibawa itu menepuk pundak Jaka dengan pelan. "Bakda isya' temui saya di kediaman Sugondo," pinta professor Hartadi pada mahasiswanya tersebut.
Jaka menatap Professor Hartadi dengan tatapan tak mengerti.
"Datang saja, saya tunggu," tutur ayahnya Dilla tersebut seraya tersenyum hangat.
Jaka mengangguk. "Nggih, Prof. InsyaAllah."
"Ya, sudah. Saya juga mau bersiap ke Masjid," usir Professor Hartadi dengan halus, agar Jaka segera pulang karena sepertinya sang keponakan sangat tidak menyukai kehadiran Jaka di sana.
Tentu saja Bambang tidak suka karena pemuda itu merasa kalah dari Jaka yang hanya dari keluarga sederhana tapi ternyata di kampusnya sana, Jaka memiliki segudang prestasi hingga sang penggembala tersebut saat ini sudah menjadi asisten dosen.
"Assalamu'alaikum, Prof," pamit Jaka dengan mengucapkan salam. Lagi-lagi, itu hanya ditujukan pada Professor Hartadi, Jaka kembali mengabaikan Dilla yang terus menatapnya sedari tadi.
Sepanjang perjalanan pulang ke rumah dengan mengayuh sepeda jengki milik sang ibu, Jaka terus saja menebak-nebak, apa kiranya yang telah direncanakan oleh sang professor sehingga dosennya itu meminta Jaka untuk bertemu di kediaman Pak Kades.
"Semoga hal baik, yang akan aku dengar nanti malam," harap Jaka.
Setibanya di halaman rumah, Jaka bergegas masuk ke dalam untuk bersiap pergi ke musholla yang berada di dekat rumahnya karena adzan maghrib terdengar telah berkumandang.
Kedua orang tuanya juga sudah tidak ada di rumah, yang artinya beliau berdua sudah berangkat ke musholla terlebih dahulu.
Ya, Pak Karyo memang menerapkan aturan disiplin dalam beribadah pada keluarga kecilnya. Wajib sholat berjamaah di setiap waktu dan tadarus Al-Qur'an minimal sekali sehari.
Usai mengambil wudhu di pancuran belakang, Jaka memacu langkah cepat untuk menuju ke musholla.
"Mas Jaka, tunggu!" teriak seseorang dari balik punggung Jaka.
Jaka menoleh ke belakang. Seorang gadis nampak berlari kecil menyusul Jaka.
"Sani, kapan pulang?" tanya Jaka pada gadis yang wajahnya nampak glowing tersebut.
"Baru tadi pagi, Mas," balas gadis bernama Sani, yang merupakan tetangga dekat Jaka. "Mas Jaka sendiri, pulang kapan?" Sani balik bertanya.
__ADS_1
"Oh, sudah beberapa hari yang lalu," balas Jaka seraya kembali melangkah menuju musholla, yang diikuti oleh Sani dengan terseok-seok karena langkah Jaka yang lebar.
"Mas Jaka, jangan cepat-cepat, dong," pinta Sani, tetapi Jaka tak memperdulikannya. Pemuda itu tetap melangkah dengan cepat karena khawatir keburu iqamah.
Sani cemberut, gadis itu kembali berlari kecil. "Mas Jaka sekarang berubah, deh. Kayak enggak mau kenal Sani lagi," rajuk gadis yang sudah mengenakan mukena tersebut, untuk menutupi gaun seksinya.
Ya, semenjak bekerja di ibukota, Sani berubah menjadi gadis metropolis yang modern dan berpakaian serba minim. Wajahnya pun tak pernah luput dari make-up dan bibirnya selalu merah menggoda.
"Berubah gimana maksud kamu, San? Aku biasa saja, kok." Jaka sekilas menoleh ke arah Sani dengan dahi berkerut dalam. Pemuda itu merinding sendiri melihat muka Sani yang terlihat memakai bedak dengan tebal.
Gadis itu terdiam, seperti bingung hendak mengatakan apa. Hanya terdengar deru napasnya yang sedikit memburu karena menyeimbangi langkah Jaka.
"Mas Jaka tahu 'kan, kalau Sani suka sama Mas Jaka dari dulu," ucap Sani yang kembali memberanikan diri mengutarakan isi hatinya, setelah sesaat keduanya sama-sama melangkah dalam diam.
Jaka menghela napas panjang. "Maaf, San. Bukankah, dulu aku pun sudah memberikan jawaban?" Kembali Jaka menoleh sekilas pada tetangganya itu.
"Tapi 'kan, Mas Jaka enggak mungkin sama Mbak Dara karena yang Sani dengar, Pak Kades tidak merestui Mas Jaka. Sani pikir, Mas Jaka akan berubah pikiran dan mau mempertimbangkan perasaan Sani," ucap Sani seraya menatap Jaka tak mengerti.
"Siapa bilang enggak mungkin, San. Segalanya mungkin bagi Allah dan bagi kita jika mau berusaha dan berdo'a," pungkas Jaka yang langsung berbelok menuju pintu utama.
Sementara Sani melanjutkan langkah menuju pintu samping musholla, di mana jama'ah perempuan berkumpul di sana dengan hati yang dongkol karena cintanya kembali tak ditanggapi oleh Jaka.
Bakda sholat isya', Jaka berpamitan pada kedua orang tuanya. "Pak, Mak, Jaka mau ke rumah Pak Kades."
"Mau apa, Nang, kamu ke rumah Pak Kades?" tanya Mak Karti dengan dahi yang berkerut dalam.
"Dosen Jaka yang Jaka ceritakan tadi sore, yang saudaranya Pak Carik itu lho, Mak. Beliau meminta Jaka untuk bertemu di kediaman Pak Kades," terang Jaka.
"Madang sek, Nang," titah sang ayah.
"Nggih, nanti saja, Pak. Takutnya, Professor Hartadi sudah menunggu Jaka," tolak Jaka dengan halus.
"Yo wes, Nang. Ati-ati," pesan sang ibu.
"Nggih, Mak. Assalamu'alaikum," ucap salam Jaka, yang kemudian berjalan keluar menuju teras untuk mengambil sepeda.
Ya, Jaka menaiki sepeda onthel menuju kediaman Pak Kades agar bisa lebih cepat sampai.
Ketika Jaka tiba di halaman rumah Pak Kades yang luas, nampak mobil Professor Hartadi juga sudah berada di sana.
__ADS_1
Jaka menyimpan sepeda bututnya di halaman samping, di bawah pohon mangga. Pemuda itu kemudian berjalan menuju teras, di mana sang professor tengah duduk seorang diri.
"Assalamu'alaikum, Prof," sapa Jaka dengan ucapan salam.
"Wa'laikumsalam," balas laki-laki bersahaja tersebut dengan senyuman hangatnya yang khas.
"Duduk dulu, Ka. Sugondo sedang ke belakang," titah Professor Hartadi seraya menunjuk bangku kosong di hadapannya.
"Nggih, Prof," balas Jaka patuh. Pemuda itu baru saja akan duduk, ketika terdengar langkah kaki mendekat.
"Mas Jaka, kapan datang?" tanya Dara yang membawakan minuman untuk Professor Hartadi.
"Silahkan, Pakdhe," ucap Dara dengan sopan, setelah menyimpan dua gelas kopi panas dan sepiring kue cucur hangat di atas meja.
"Iya. Terimakasih, Dara," balas Professor Hartadi.
Dara kemudian menatap Jaka, menuntut jawab dari pertanyaannya barusan.
"Baru saja, Neng," balas Jaka.
"Silahkan duduk, Mas," pinta Dara seraya tersenyum manis, yang menampakkan gigi gingsulnya. Membuat Jaka semakin gemas dan ingin rasanya mencubit pipi Dara.
"Iya, Neng. Terimakasih," balas Jaka yang kemudian duduk tepat di hadapan sang professor.
"Mas Jaka mau teh, atau kopi?" tawar Dara kemudian.
"Apa saja, Neng. Asal Neng Dara yang buatin, pasti rasanya nikmat dan akan mas habiskan," balas Jaka yang mulai dengan gombalannya, seraya tersenyum manis pada Dara. Jaka sampai melupakan keberadaan sang dosen.
"Ehem ...," deham Professor Hartadi, membuat Jaka menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sementara Dara, tersenyum malu.
"Jaka, Dara," panggil Professor Hartadi. Kedua muda-mudi itu kompak menatap sang professor.
"Apa kalian berdua, sudah benar-benar serius?" tanya laki-laki paruh baya tersebut.
Jaka dan Dara saling pandang karena mereka berdua belum mengerti, kemana arah pembicaraan Professor Hartadi.
"Apa maksudmu, Kang? Serius apa?" tanya Pak Kades yang tiba-tiba saja sudah berada di belakang Dara.
"Kamu harus ingat, Jaka! Kelas sosial kita, jauh berbeda! Dara tidak akan pernah aku ijinkan untuk menikah, dengan penggembala sepertimu!"
__ADS_1
🌹🌹🌹 bersambung,,,