Pesona Mas Jaka

Pesona Mas Jaka
Semut Rang-rang


__ADS_3

"Neng, udah dulu, ya. Cepetan bobok dan mimpi indah bersama Mas."


"Iya, Mas. Mas Jaka nanti juga langsung tidur ya, semoga nanti kita bisa bertemu dalam mimpi," balas Dara.


"Ehm ...." Suara dehaman mengagetkan Jaka, yang langsung menutup teleponnya.


"Jangankan cuma mimpi bareng, tidur bareng juga besok sudah boleh kok, Nang," ucap sang ibu seraya terkekeh pelan.


Jaka menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, pemuda itu tersenyum malu karena obrolannya didengar oleh Mak Karti.


"Mak mau bikin kopi, kalau sudah selesai teleponan sama calon istrimu, sana temani dosen dan calon mertuamu," titah Mak Karti kemudian.


Jaka mengangguk patuh, pemuda itu kemudian kembali ke ruang tamu dan ikut duduk di sana bersama para orang tua yang nampak sudah mulai akrab.


"Pak Karyo ini hebat ya, pemikirannya. Meskipun tinggal di desa dan pekerjaan sehari-hari bertani dan mengurus ternak domba, tapi pemikirannya sudah jauh lebih maju dari orang-orang kota yang kerja di kantoran," puji Professor Hartadi, ketika beliau menanyakan perihal pendidikan Pak Karyo dan keinginan ayah Jaka itu untuk masa depan anaknya.


"Pak Dosen ini berlebihan, kami 'kan hanya melakukan apa yang saat ini bisa kami lakukan untuk anak kami tho, Pak Dosen. Karena kami tidak memiliki harta benda, ya makanya kami bekali anak kami dengan ilmu," balas Pak Karyo merendah.


"Lha Ilmu itu, Pak Karyo, jauh lebih berharga dari harta benda. Apalagi Pak Karyo juga mengutamakan adab untuk membekali Jaka, InsyaAllah kelak Jaka tidak akan pernah hidup kekurangan." Professor Hartadi menatap Pak Karyo, Pak Kades dan Pak Carik yang baru saja masuk setelah mengantar Bambang pulang ke rumah, secara bergantian.


"Berbeda, jika kita membekali anak dengan harta tanpa dibarengi ilmu apalagi adab, niscaya harta tersebut akan segera habis meski sebanyak apapun harta yang kita berikan pada anak," sindir Professor Hartadi kepada kedua teman satu kostnya tersebut.


Pak Kades yang sudah mulai melunak hatinya dan terbuka pemikirannya, mengangguk membenarkan, sementara Pak Carik nampak memasang wajah masam.


"Ya kalau yang diberikan cukup untuk tujuh turunan, gak bakalan habislah, Har!" sanggah Pak Carik Margono yang merasa memiliki banyak harta untuk diwariskan pada anaknya.


"Tetep saja, Kang. Sudah banyak contohnya," ujar Professor Hartadi dengan penuh penekan.

__ADS_1


Mak Karti yang datang membawa baki berisi empat gelas kopi dan sepiring sukun goreng yang masih panas, menghentikan sejenak obrolan mereka.


"Monggo, silahkan," tutur Mak Karti dengan ramah.


"Ya, Bu. Terimakasih," balas Professor Hartadi dengan sopan. "Wah, aroma kopinya sangat harum, beda sama kopi-kopi yang biasa dijual di warung," lanjut dosennya Jaka tersebut yang tergoda dengan aroma wangi kopi tubruk buatan Mak Karti.


"Itu kopinya disangrai sendiri sama Mak, prof," ucap Jaka dengan senyum penuh kebanggaan pada wanita luar biasa yang telah melahirkannya tersebut.


"Oh, pantesan. Harum sekali aromanya," tutur Professor Hartadi. "Sangat menggoda," lanjutnya seraya terkekeh pelan.


"Halah, bahasamu ... koyok weruh anake ibu kost wae, sangat menggoda!" cibir Pak Carik, yang mengingatkan masa lalu mereka ketika masih satu kost-kostan.


"Menggoda jiwa dan raga," timpal Pak Kades.


Professor Hartadi semakin terkekeh yang diikuti oleh Pak Kades, Pak Carik pun kemudian ikut terkekeh. Sementara Jaka yang paham dengan candaan ketiga orang tua tersebut, tersenyum simpul.


Pak Karyo yang tidak tahu apa-apa, ikut tersenyum melihat dua orang penting di desanya yang selama ini tidak pernah menyapa apalagi bercanda dengannya yang hanya orang kecil, tetapi malam ini kedua orang tersebut bercanda di rumah Pak Karyo yang sangat sederhana.


Malam semakin larut, suasana pun semakin dingin, tetapi obrolan keempat orang tua yang usianya tak terpaut jauh tersebut, semakin hangat. Pak Karyo pun dapat mengimbangi obrolan mereka, sementara Pak Kades terlihat semakin mencair.


Hanya Pak Carik Margono yang nampak masih menjaga jarak dengan Pak Karyo, yang beliau anggap sebagai rival.


Sementara Jaka yang sudah pamit untuk beristirahat terlebih dahulu, nyatanya tidak langsung tidur, tetapi malah asyik ngobrol dengan teman-temannya melalui panggilan group.


"Kurang ajar tenan kamu itu, Ka. Masak menikahi anak gadis orang nomor satu di desa kita, dadakan seperti ini!" seru Rifa'i atau Paijo tersebut.


"Ka, lha opo Dara sudah kamu cicipi tho, kok ujuk-ujuk kalian mau nikah?" tanya Joni si Jondil tanpa dosa.

__ADS_1


"Hush, kamu itu lho, Jon! Ngomong kok gak pakai saringan!" sergah Teddy. "Kamu pikir Si Jaka sama seperti Mas Bambang!"


Joni terkekeh. "Ya, kali aja, Ted. Mereka berdua tadi 'kan kita tinggalkan di tanah lapang, siapa tahu 'kan mereka berdua pacaran ala-ala film India gitu, yang lari-larian terus guling-guling ke semak-semak?"


"Dasar, Jondil! Otaknya mesum!" sahut Rifa'i, yang ikut terkekeh mendengar celoteh Joni.


"Bentar-bentar, aku kok enggak bisa membayangkan ya, kalau misal benar guling-guling di semak-semak. Terus kalau tiba-tiba anunya si Jaka di gigit semut rangrang, pasti 'kan jadi bengkak dua kali lipat. Lha apa si Dara enggak histeris melihat anunya Jaka?" Teddy pun terkekeh senang, membayang kekonyolannya sendiri.


Rifa'i dan Joni mengangguk, membenarkan dan mereka berdua kembali terkekeh. Menyisakan Jaka yang hanya menjadi pendengar setia, seraya tersenyum simpul.


"Sudah puas, meledek aku?" tanya Jaka ketika tawa teman-temannya itu sudah reda.


"Belum," balas Joni yang nampak masih mikir-mikir, apa kiranya cara untuk mengerjai Jaka besok di malam pertama temannya itu.


"Jo, Paijo, nanti chat dariku buka ya, langsung balas," pinta Joni pada Rifa'i.


"Chat opo, tho?" tanya Rifa'i dengan dahi berkerut dalam.


"Wes, pokoke," balas Joni. "Kamu juga, Ted," lanjut Joni yang meminta pada Teddy.


Teddy yang paham isyarat mata dari Joni, mengangguk. "Siap," balasnya singkat.


"Kalian merencanakan, apa?" tanya Jaka penuh selidik.


"Ada, deh," balas Joni.


"Ngumpulin semut rang-rang agar menggigitmu, biar anumu besar, Ka! Hahaha ...." Tawa Teddy menggema di udara.

__ADS_1


🌹🌹🌹 bersambung,,,


__ADS_2