Pesona Mas Jaka

Pesona Mas Jaka
Hati Dara untuk Mas Jaka


__ADS_3

Bambang yang memacu kuda besinya dengan cepat, sampai di rumah menjelang isya'. Setelah mandi dan berganti pakaian, putra Pak Carik Margono itu bergegas menuju kediaman Pak Kades.


Pemuda bertubuh tinggi tegap itu memarkir mobil mahalnya di halaman kediaman Pak Kades yang luas, Bambang kemudian segera turun dan bergegas masuk ke dalam rumah tanpa mengucap salam seperti biasanya.


"Selamat malam, Bu," sapa Bambang, kala melihat Bu Rosma berjalan dari arah dalam hendak keluar begitu mendengar deru mesin mobil berhenti di halaman rumahnya.


"Selamat malam, Nak Bambang. Mari, silahkan duduk," sambut Bu Rosma yang tetap hangat meski beliau tidak menyukai Bambang dekat dengan putrinya.


Bambang kemudian duduk di ruang tamu dengan menyilangkan kaki, tangannya bersidekap di dada yang menunjukkan keangkuhannya.


"Eh, Nak Bambang. Kapan datang?" tanya Pak Kades yang kemudian menyalami Bambang.


"Baru saja, Pak," balas Bambang seraya tersenyum. "Maaf, saya tadi tidak mendengar telepon dari Bapak," imbuh Bambang dengan ekspresi menyesal.


"Iya, tak mengapa, Nak Bambang. Yang penting sekarang, Nak Bambang sudah berada di sini," balas Pak Kades penuh pengertian.


"Mau minum teh apa kopi, Nak Bambang?" tawar Bu Rosma.


"Maaf, Bu. Tidak usah, Bambang baru saja selesai minum di rumah," tolak Bambang dengan halus karena pemuda itu sudah tidak sabar ingin segera jalan sama Dara, meski mungkin hanya sekadar muter-muter di kota kecamatan.


"Ibu panggilkan Dara saja, biar mereka berdua segera jalan. Nanti keburu kemalaman," titah Pak Kades pada istrinya.


Bu Rosma tersenyum masam dan segera berlalu masuk ke dalam rumah tanpa kata. 'Bapak ki jalan pikirane piye, tho?' gerutu Bu Rosma sambil berjalan menuju kamar sang putri.


Wanita anggun itu mengetuk pintu kamar Dara dengan pelan. "Nduk, buka pintunya. Ada Bambang di luar."


Dara membuka pintu kamar dan melongokkan kepala. "Beneran, Bu. Dara mau diajak jalan sama dia?" tanya Dara yang terlihat enggan untuk pergi berduaan dengan Bambang, bahkan menyebut nama pemuda itu saja Dara juga enggan.


Bu Rosma mengangguk lemah. "Mau gimana lagi, Nduk. Orang bapak kamu yang mau," balas Bu Rosma.


"Sudah, Nduk. Cepetan pakai jilbabmu," titah Bu Rosma kala melihat sang putri masih berdiri terpaku di ambang pintu kamar.


"Iya, Bu," balas Dara malas-malasan.


Tak berapa lama, Dara keluar bersama sang ibu. Bambang terpana melihat wajah imut Dara yang malam ini mengenakan hijab warna hitam gelap, segelap harapan Dara untuk bisa lepas dari Bambang.

__ADS_1


"Sudah, sana kalian berangkat," titah Pak Kades, kala melihat Bambang malah diam terpana menatap Dara, sementara Dara berdiri terpaku dengan bibir cemberut.


"Eh iya, Pak," ucap Bambang tergagap dan buru-buru berdiri.


"Ayo, Dik!" ajak Bambang yang hendak menggandeng tangan Dara, tetapi gadis berhijab itu dengan cepat menepis tangan Bambang.


"Mas Bambang silahkan duluan, Dara bisa jalan sendiri," tolak Dara dengan halus.


Bambang tersenyum kecut mendengar penolakan Dara. 'Sialan! Baru kali ini, aku ditolak sama gadis!' gerutu Bambang dalam hati.


'Sabar, Bambang. Dia itu memang spesial, beda sama gadis-gadis lain yang dengan mudah bisa kamu ajak tidur,' lanjut Bambang bermonolog dalam hati.


Bambang segera berpamitan pada Pak Kades dan istrinya. "Bambang ajak Dik Dara jalan dulu, Pak, Bu," pamit Bambang dengan sopan, dia terpaksa bersikap demikian untuk mengambil hati Dara.


Dara kemudian menyalami kedua orang tuanya, sebelum mengikuti langkah Bambang keluar dari rumah.


"Hati-hati, Nak. Waspada selalu," pesan sang ibu dengan sangat lirih di telinga Dara.


Dara mengangguk dan tersenyum. "Ibu jangan khawatir, Dara bisa menjaga diri," balas Dara mencoba menenangkan sang ibu, yang terlihat sangat khawatir melepaskan kepergiannya bersama Bambang.


Sepanjang perjalanan, Dara hanya diam dan melempar pandangannya ke luar jendela kaca. Sementara Bambang terus-terusan mencuri pandang pada gadis imut yang duduk disebelahnya itu.


Bambang tersenyum seringai. 'Aku belum pernah main di dalam mobil, mungkin akan sangat nikmat jika Dara mau melayani aku di dalam sini,' bisik Bambang dalam hati, yang saat ini tatapannya tertuju ke dada Dara yang meskipun tertutup hijab tetapi masih terlihat sedikit menonjol jika dilihat dari arah samping.


Dara yang merasa dirinya diperhatikan, beringsut. Gadis itu membetulkan duduknya dan kemudian mendekap tas cangklong di dada.


Bambang berdeham. "Kita mau kemana, Sayang?" tanya Bambang yang tiba-tiba memanggil Dara dengan sebutan Sayang.


Dara melirik sekilas pada Bambang dengan dahi mengkerut dalam, dia nampak tidak suka dengan panggilan tersebut, panggilan yang biasa dia dengar keluar dari mulut Jaka.


Ya, hanya Jaka yang boleh memanggilnya sayang. Bagi Dara, panggilan sayang dari Jaka terdengar sangat manis dan mengingat hal itu senyum Dara tiba-tiba merekah tanpa dia sadari.


Bambang ikut tersenyum, pemuda itu salah sangka dan mengira bahwa Dara menyukai panggilannya.


"Kamu tidak keberatan kan, Dik. Aku panggil sayang?" tanya Bambang yang membuyarkan lamunan Dara.

__ADS_1


"Eh, jangan, Mas!" tolak Dara dengan tegas.


Bambang mengerutkan dahi. "Kenapa?"


"Tidak apa-apa, Mas," balas Dara, gadis itu segera membuang pandangannya kembali ke luar jendela.


"Tapi tadi, kamu kayak seneng gitu, Dik. Kamu senyum-senyum, lho," ucap Bambang setelah sejenak keduanya terdiam.


"E ... itu, Mas. Panggilan itu mengingat Dara pada seseorang," balas Dara akhirnya jujur.


"Siapa? Apa dia pacar kamu? Jangan bilang kalau dia di tukang gembala itu, ya? Kamu enggak serius 'kan Dik, sama dia? Kamu hanya PHP-in dia, kan?" cecar Bambang dengan banyak pertanyaan.


Dara menggeleng. "Namanya Jaka, Mas. Dia memang sering membantu orang tuanya menggembala domba, tapi dia memiliki nama. Jadi tolong, Mas Bambang bisa sebut namanya," terang dan pinta Dara, yang tidak rela sang kekasih dihina.


"Dara serius sama Mas Jaka. Dara mencintai dia, Mas," imbuh Dara dengan jujur.


Bambang terlihat marah, pemuda itu memukul setir mobilnya dan tiba-tiba menghentikan laju kuda besinya itu di pinggir jalan sepi, membuat Dara merinding.


"Mas, kenapa berhenti di sini?" tanya Dara yang mulai mode waspada.


Bambang menatap Dara dengan tatapan yang sulit diartikan. "Apa istimewanya pemuda kumal itu, Dik? Kenapa kamu terang-terangan mengatakan dihadapan ku kalau kamu menyukainya?" tanya Bambang penuh penekanan.


"Dara hanya ingin berkata dengan sejujurnya, Mas. Dara tidak mau, Mas Bambang kecewa nantinya ketika kita menikah dan Mas Bambang tahu bahwa aku mencintai laki-laki lain," jelas Dara tanpa rasa takut, meski tatapan Bambang seperti ingin menyergap gadis imut itu.


Dalam hati, Dara terus melafadzkan dzikir, mengagungkan asma Allah, memohon perlindungan dari Yang Maha Kuasa atas segala kemungkinan yang bisa saja menimpa dirinya.


Berada jauh dari perkampungan dan hanya berdua di dalam mobil di tempat yang sepi, membuat hati Dara merasa cemas, meski dia tidak ingin menunjukkan ketakutannya di hadapan Bambang.


Bambang mendekatkan dirinya pada Dara, membuat Dara mundur hingga kepentok pintu mobil.


"Kita akan segera menikah, Dik. Aku tak peduli apakah kamu mencintai aku atau tidak karena aku yakin, jika kamu sudah aku tiduri kamu pasti tidak akan bisa lepas dariku," ucap Bambang dengan senyum seringai.


Dara menggeleng. "Jangan terlalu percaya diri, Mas. Cinta itu masalah hati dan hati Dara telah terpaut pada sosok Mas Jaka."


Bambang mengeraskan rahangnya, pemuda itu terlihat sangat marah.

__ADS_1


🌹🌹🌹 bersambung,,,


__ADS_2