
"Assalamu'alaikum," suara lembut seorang gadis yang tiba-tiba muncul, menghentikan obrolan mereka berempat.
"Wow ... cantiknya," puji Joni dengan mulut terbuka lebar.
"Wa'alaikumsalam," balas Jaka seraya mengerutkan dahi.
"Kamu benar, Ndil. Dia enggak kalah cantik sama Dara," timpal Rifa'i dengan memelankan suaranya.
"Neng, cari siapa?" tanya Teddy yang sigap berdiri.
Jaka juga ikut berdiri, pemuda berlesung pipi itu menatap bingung kehadiran gadis yang dikenalinya tersebut.
"Saya mau ketemu sama Mas Asdos," balas gadis berhijab maroon itu seraya menatap Jaka.
Ketiga teman Jaka melongo dan kemudian menatap Jaka dengan tatapan penuh selidik.
"Dilla, kok bisa sampai sini?" tanya Jaka yang masih terlihat bingung.
"Iya, Mas. Dilla sama ayah dan ibu juga. Tuh, beliau berdua menunggu di mobil. Tadi enggak sengaja kayak lihat Mas dari kejauhan, makanya kami berhenti untuk memastikan," terang gadis yang bernama Dilla.
"Oh, ada professor juga. Baik, aku akan ke sana," ucap Jaka.
Mendengar gadis itu sepertinya akrab dengan Jaka, Rifa'i langsung mendekati Jaka yang hendak berlalu.
"Tunggu, Ka," cegah Rifa'i. "Jadi selama ini, kamu mendua?" tuduh Rifa'i ketika Dilla sudah berlalu dari hadapan mereka.
"Aku akan jelaskan nanti, Jo. Sekarang aku temui dosenku dulu," balas Jaka yang langsung memacu langkah cepat menapaki rerumputan di tanah lapang tersebut, untuk menuju mobil dosennya yang terparkir di pinggir jalan.
"Assalamu'alaikum, Prof," sapa Jaka ramah, seraya mengulurkan tangan untuk menyalami dosennya yang sudah berdiri di samping mobil.
"Wa'alaikumsalam, Jaka," balas laki-laki paruh baya yang dipanggil prof itu.
"Kamu asli dari sini, ya?" tanya dosennya Jaka, sebelum Jaka sempat melontarkan pertanyaan pada professor.
__ADS_1
"Nggih, Prof. Di desa ini saya lahir dan dibesarkan," balas Jaka seraya mengangguk.
Professor tersebut nampak manggut-manggut.
"Maaf, professor hendak kemana? Kenapa bisa sampai di daerah sini?" tanya Jaka penasaran.
"Saya mau ke rumah Kang Margono, kamu pasti kenal, kan?" balas dan tanya professor itu balik.
Jaka mengangguk.
"Dia 'kan mau punya gawe hari minggu lusa, sekalian Dilla mau liburan di kampung katanya," lanjut sang professor seraya menoleh ke arah sang putri yang terus menatap kagum pada Jaka.
"Istri Kang Margono itu kakak sepupunya istri saya dan Kang Margono sendiri, dulu teman satu kost sewaktu kuliah, bersama Sugondo juga," terang laki-laki botak yang merupakan dosen di kampus Jaka.
Jaka mengangguk mengerti.
"Ayo, kalau kamu tidak keberatan, antar kami ke rumah Kang Margono!"
"Nyuwun sewu, Prof. Jaka sedang menggembalakan domba," tolak Jaka dengan halus seraya menunjuk domba-dombanya yang sedang memakan rumput hijau.
"Nggih, Prof. Itu keseharian saya jika di rumah," balas Jaka dengan kebanggaan tersendiri.
Pemuda ganteng itu sama sekali tak merasa malu dengan pekerjaan yang dilakukan, meski sudah sering Jaka mendapatkan cibiran bahkan hinaan dari orang lain.
"Ya, ya. Bagus itu, melatih kesabaran, kerja keras dan keuletan. Tidak mudah untuk menggembala, apalagi domba kamu sebanyak itu. Saya salut sama kamu, Jaka." Professor tersebut menepuk-nepuk punggung Jaka.
"Terimakasih, Prof," ucap Jaka dengan tulus.
"Ya, sudah. Saya ke sana dulu, ya," pamit sang professor. "Nanti malam kalau kamu ada waktu, temui saya di sana," pintanya setelah masuk kembali ke dalam mobil.
"InsyaAllah, Prof," balas Jaka, seraya melambaikan tangan dan tersenyum pada dosennya. Jaka mengabaikan Dilla yang juga tersenyum padanya.
"Siapa gadis itu, Ka? Benar 'kan, kamu di sana punya selingkuhan?" cecar Rifa'i kembali, begitu Jaka telah kembali bergabung bersama mereka.
__ADS_1
Jaka tersenyum dan menggelengkan kepala. "Dilla, dia putri professor Rahadi, dosen yang memintaku untuk menjadi asistennya," balas Jaka.
"Tapi gadis itu terlihat menyukaimu, Ka," ucap Teddy yang bisa membaca gelagat Dilla terhadap Jaka tadi.
"Kata temen-temenku di sana sih, gitu," balas Jaka dengan santai.
"Dia cantik lho, Ka. Anak professor lagi. Apa kamu sama sekali enggak tertarik sama si Dilla itu?" desak Joni.
Jaka kembali menggeleng. "Bagaimana aku bisa tertarik dengan wanita lain, jika mataku sudah tertutup oleh bayangan Dara dan hatiku juga sudah penuh dengan cinta Dara Jelita," balas Jaka seraya memainkan sepotong ranting yang jatuh dan kemudian dia tancapkan ke tanah.
Jaka masih memainkan ranting tersebut, bahkan pemuda itu tak menyadari ketika ketiga teman baiknya mulai menjauh karena ada seorang gadis yang datang sambil membawa rantang di tangan kanannya.
Gadis itu mengangguk seraya tersenyum pada ketiga temannya tersebut dan kemudian melambaikan tangan ketika Teddy, Rifa'i dan Joni perlahan menjauh.
"Jika suatu saat nanti kalian menemukan pasangan seperti aku menemukan Dara, kalian juga pasti tidak akan bisa berpaling lagi. Cinta kalian akan mentok seperti cintaku yang mentok pada Daraku," imbuh Jaka yang masih asyik memutar-mutar ranting yang tertancap di tanah tersebut.
Gadis itu kembali tersenyum mendengar isi hati Jaka, setelah tadi Dara juga masih bisa mendengar meski jaraknya belum sedekat ini.
Dara sengaja masih diam mematung di belakang punggung Jaka. Rupanya, Dara ingin mendengar lebih banyak tentang isi hati kekasihnya itu.
"Sedalam dan sebesar itukah cinta Mas Jaka?" pancing Dara bertanya.
"Tentu saja. Kal ...." Jaka menghentikan ucapannya kala menyadari bahwa yang barusan bertanya adalah suara perempuan. Pemuda itu mendongak dan sudah tidak mendapati siapapun di sana.
"Assem, aku ditinggal sendirian. Datang enggak diundang, pergi juha enggak bilang-bilang, awas saja kalian!" gerutu Jaka.
"Tapi barusan, aku kayak mendengar suara perempuan bertanya. Apa jangan-jangan pohon ini ada penghuninya, ya?" tanya Jaka seraya mengusap tengkuknya yang mulai merinding.
"Memang ada penghuninya, namanya Nyi Kunti," balas Dara seraya menahan tawa.
Sangat hafal dengan suara merdu tersebut, Jaka langsung menoleh ke belakang. "Neng Dara!" Jaka langsung beranjak dan kemudian mengejar Dara yang berlari menjauh dari sang kekasih hati.
"Neng, awas ya kalau ketangkap. Mas akan peluk kamu!" seru Jaka, yang masih mengejar gadis manis yang berlari kecil sambil tertawa riang.
__ADS_1
🌹🌹🌹 bersambung,,,
Ah... aku jadi pengin ikutan lari, biar dikejar sama Mas Jaka 🥰