
"Apa maksudmu, Kang? Serius apa?" tanya Pak Kades yang tiba-tiba saja sudah berada di belakang Dara.
"Kamu harus ingat, Jaka! Kelas sosial kita, jauh berbeda! Dara tidak akan pernah aku ijinkan untuk menikah, dengan penggembala sepertimu!"
"Kamu itu lho, katanya Kades tapi kok bicaramu seperti orang yang tidak berpendidikan, sama saja seperti Kang Carik! Orang kita hidup di jaman modern seperti ini kok, pikiran kamu masih saja feodal, pakai istilah kelas sosial segala! Ndak sekalian saja, kamu pakai istilah kasta seperti pada jaman kerajaan!" tegur Professor Hartadi dengan sedikit meninggikan suara, pada adik tingkatnya semasa kuliah dulu.
Mendapat teguran semacam itu di hadapan sang putri dan pemuda yang dibencinya, membuat wajah Pak Kades merah padam menahan malu.
"Duduk dulu sini," titah Professor Hartadi layaknya sang tuan rumah, seraya menunjuk bangku kosong di sebelahnya.
Pak Kades menurut patuh, beliau pun kemudian mendudukkan diri di samping Professor Hartadi.
"Dara. Duduklah, Nduk," titah laki-laki yang berwibawa tersebut kepada Dara.
Putri Pak Kades itu kemudian duduk di samping Jaka karena hanya itu satu-satunya bangku yang masih tersedia, hingga membuat Pak Kades langsung berdiri.
"Dara! Kamu ambil kursi di dalam! titahnya ketus pada sang putri.
"Tidak perlu, Dara. Tetaplah duduk di situ," larang Professor Hartadi, membuat Pak Kades langsung menoleh ke arah tamunya tersebut.
"Duduklah, Dik Gondo. Ada hal lebih penting yang akan aku bicarakan, dari sekadar membahas masalah tempat duduk," pinta Professor Hartadi, dengan memelankan suaranya.
Pak Kades kembali patuh, layaknya seekor kerbau yang dicocok hidungnya. Beliau kemudian duduk kembali di samping Professor Hartadi.
Ya, sedari dulu, Pak Kades dan Pak Carik selalu segan pada Professor Hartadi karena kecerdasan dan kebijaksanaan beliau.
"Dik, tadi kamu mengatakan bahwa kamu tidak akan pernah mengijinkan putrimu menikah dengan seorang penggembala?" tanya Professor Hartadi memastikan apa yang beliau dengar tadi.
Pak Kades mengangguk pasti. "Benar, Kang."
"Ya, Dik. Aku sependapat denganmu," tutur Professor Hartadi, yang membuat Dara langsung protes.
__ADS_1
"Pakdhe, tapi Mas Ja ...."
Professor Hartadi memberikan isyarat melalui tangan, memotong ucapan Dara.
"Aku benar 'kan, Kang?" Pak Kades tersenyum dengan bangga. "Mana ada coba, orang tua yang rela menyerahkan putri satu-satunya untuk diajak hidup menderita, sama pemuda miskin seperti Jaka!" lanjutnya dengan ketus, seraya melirik tajam ke arah Jaka yang tertunduk.
Jaka terdiam. Pemuda itu pun masih belum dapat menyelami isi pikiran sang professor. Sementara Dara, melirik Jaka dengan perasaan yang tak enak hati karena sang ayah terus saja menghina kekasihnya itu.
'Maafkan ayahku, Mas,' batin Dara dengan hati yang pedih.
Hening, sejenak menyapa. Professor Hartadi mengambil gelas kopinya dan menyeruput kopi yang sudah menghangat itu, dengan pelan.
"Aku pun tidak setuju, jika Dara menikah dengan penggembala domba seperti yang kamu katakan tadi, Dik." Professor Hartadi mengurai keheningan.
Jaka semakin tertunduk dalam. Pemuda itu memejamkan mata, mencoba untuk menguasai emosinya.
"Karena aku akan menjodohkan Dara dengan anak angkatku. Aku yakin, Dik Gondo pasti akan setuju," lanjut laki-laki berkacamata itu.
"Anak angkat? Kang Har punya anak angkat? Sejak kapan?" cecar Pak Kades.
"Jangan bercanda, Kang! Sejak kapan Kang Har kenal sama dia! Lagipula, dia itu pemuda kampung yang hanya tamatan SMU, Kang!"
Professor Hartadi menggeleng. "Aku tidak bercanda dan aku tidak pernah main-main dengan ucapanku, Dik!" tegas Professor Hartadi.
"Jaka memang tamatan SMU, sama seperti kita semua karena aturan di negara kita, tidak akan pernah bisa kuliah jika tidak memiliki ijazah SMU atau yang setara dengan itu," lanjut laki-laki paruh baya tersebut.
"Dan asal kamu tahu, Dik Gondo. Jaka itu mahasiswa teladan di kampus kami. Saat ini, dia menjadi asisten dari beberapa dosen." Professor Hartadi masih terus menjelaskan prestasi Jaka yang sangat banyak di kampusnya.
Sementara Pak Gondo yang mendengar keterangan dari Professor Hartadi mengenai Jaka, dibuat tercengang. Laki-laki bertubuh tambun tersebut sampai melongo.
Begitu pula dengan Dara, gadis manis itu pun terkejut ketika mendengar bahwa Jaka ternyata menjadi asisten dosen. Sementara untuk prestasi yang lain, Dara tidak begitu terkejut karena kekasih Jaka itu tahu persis bahwa pemuda yang dicintainya memang cerdas dan berprestasi.
__ADS_1
"Mas Jaka kenapa enggak pernah cerita sama Dara?" bisik Dara, protes.
Jaka tersenyum. "Karena baru asisten, Dik. Rencana, mas akan bilang sama kamu kalau mas sudah menjadi dosen tetap," balas Jaka, yang juga berbisik.
Dara tersenyum bangga, menatap pemuda pujaan hatinya tersebut. Begitupun dengan Jaka, pemuda itu menatap mesra sang kekasih dan melupakan dua orang tua yang ada di hadapan mereka berdua.
"Ehem ...." Suara dehaman Professor Hartadi, mengurai tatapan mesra Jaka terhadap sang kekasih.
"Bagaimana, Dik Gondo. Apa lamaran untuk anak angkatku kepada putrimu, diterima?" tanya Professor Hartadi, mengurai lamunan Pak Kades.
"Tentu saja kami terima, Kang," sahut Bu Rosma dari balik pintu, dengan cepat. Rupanya, istri Pak Kades tersebut menguping pembicaraan di teras tersebut.
"Dari dulu, saya itu sudah setuju jika Dara dengan Jaka, tapi bapaknya Dara yang terus saja menentang!" imbuh Bu Rosma yang kemudian berdiri di samping sang suami.
Dara tersenyum lebar, menatap sang ibu. Ya, ibunya yang anggun itu memang selalu berada di pihaknya.
Sementara Pak Kades masih terdiam.
"Bagaimana, Dik Gondo?" ulang Professor Hartadi bertanya.
"Syukur-syukur, kamu bersedia untuk menikahkan mereka langsung. Biar Jaka bisa mengajak putrimu untuk umroh bulan depan," lanjut dosennya Jaka tersebut.
Pak Gondo semakin melongo, tatapannya kepada Professor Hartadi menunjukkan bahwa kepala desa itu tidak percaya dengan apa yang didengarnya barusan.
"Ya, Dik. Jaka berhasil mengharumkan nama kampus kami di tingkat Asia dan pihak kampus memberinya hadiah tiket umroh untuk dua orang," terang Professor Hartadi.
Bu Rosma mengangguk-angguk. Wanita anggun itu semakin bangga pada Jaka, tetapi berbeda dengan sang suami yang nampak masih enggan untuk menerima pemuda sederhana tersebut.
"Ya, sudah." Professor Hartadi kemudian beranjak. "Kalau lamaran ini tidak diterima, maka Jaka akan aku jodohkan dengan Ning Santri, putri Pak Kyai-nya yang juga mencintai Jaka.
Jaka terhenyak, pemuda itu tak percaya jika ternyata sang professor juga mengetahui kabar yang marak beredar di kampusnya tersebut.
__ADS_1
Sementara Dara langsung menatap Jaka, dengan tatapan menuntut jawab.
🌹🌹🌹 bersambung,,,