
Meski Bambang telah melakukan pemanasan yang cukup lama dan pemuda itu pun melakukannya dengan perlahan, Arini tetap menjerit tertahan kala miliknya di jebol oleh benda keras milik Bambang.
"Sakit, Mas," rintih Arini.
Sejenak, Bambang berhenti. Pemuda itu kembali mencumbui Arini yang saat ini tengah berada di bawah kungkungannya.
Hingga rintihan Arini kemudian berubah menjadi desa*han nikmat kala Bambang kembali menggoyang tubuh Arini dengan pelan.
Bahkan kini, gadis itu mulai ketagihan dan tidak sabar untuk mencapai kenikmatan yang ditawarkan pemuda yang dicintainya.
"Lebih cepat, Mas," pinta Arini sambil meremas rambut Bambang.
Bambang berpacu dengan waktu, bunyi detak jam di dinding seolah ikut mengiringi pergerakan Bambang yang semakin cepat.
Deru napas keduanya pun semakin ikut berpacu cepat, seiring keringat yang mulai membanjiri tubuh keduanya yang sama-sama polos.
Bambang yang belum memakai pengaman hendak mencabut miliknya kala pemuda itu sudah merasakan cairan miliknya akan menyembur keluar, tetapi Arini mencegah.
"Jangan dicabut, Mas. Aku masih menikmatinya," mohon Arini dengan tatapan mendamba dan napas tersengal, gadis itu rupanya sedang berada di titik klimaksnya.
Bambang, tak mampu menahan lebih lama, hingga akhirnya cairan kental miliknya menyembur ke dalam goa milik Arini dan menghangatkan rahim gadis itu.
Arini memekik tertahan, merasai kenikmatan luar biasa yang baru saja diberikan oleh Bambang.
"Maaf, Sayang. Terpaksa aku mengeluarkannya di dalam," sesal Bambang.
Bayangan Ratna tiba-tiba melintas di benak Bambang, pemuda itu menjadi takut Arini akan hamil sama seperti yang pernah dialami Ratna.
Beruntungnya, Ratna mau dibujuk agar menggugurkan kandungannya sehingga perjodohan Bambang dengan Dara tidak ada penghalang.
Tetapi, bagaimana jika Arini sampai hamil. Apakah putri Pak Sekcam itu mau melakukan hal yang sama, seperti apa yang dilakukan oleh Ratna?
Buru-buru, Bambang melepaskan senjatanya dan kemudian membawa tubuh Arini untuk turun dari atas ranjang menuju kamar mandi.
"Mas, ada apa, sih?" tanya Arini kaget, karena Bambang sedikit kasar padanya. Apalagi, Arini masih berleha-leha dan menikmati sisa percintaan mereka berdua.
"Berjongkoklah, Dik, cepat!" titah Bambang.
__ADS_1
Arini yang tak mengerti apa-apa hanya menurut, gadis itu kemudian berjongkok. Arini merasakan ada banyak sekali cairan hangat yang keluar dari kewanitaannya.
Bambang bernapas dengan lega. "Aku harap, kamu tidak hamil, Dik," gumam Bambang dengan lirih, tetapi masih dapat di dengar oleh Arini yang masih berjongkok.
"Memangnya, kalau Arin hamil kenapa, Mas?" tanya Arini begitu polos. "Bukannya bagus ya, jadi kita pasti akan segera dinikahkan," harap Arini seraya tersenyum.
Bambang menghela napas kasar. "Aku sudah dijodohkan, Dik. Tak mungkin kita menikah," ucap Bambang jujur, hingga membuat Arini terkejut.
Gadis itu menangis. "Kamu tega, Mas. Arin pikir, Mas Bambang mengajak Arin ke sini karena Mas membalas cinta Arin!" geram Arini dengan isak tertahan.
Bambang menjadi serba salah, pemuda itu takut jika Arini akan mengadu pada ayahnya yang seorang sekcam. Jika sampai Arini mengadu, karir Bambang pasti akan terancam.
"Dik, berhentilah menangis, Sayang. Aku, aku memang mencintaimu, Dik, tapi aku tak bisa melawan kehendak orang tuaku," bujuk Bambang, yang akhirnya berbohong demi karirnya di kantor kecamatan.
Arini mendongak menatap Bambang. "Benarkah? Benarkah Mas Bambang membalas cintaku?" tanya Arini sambil menyeka air matanya.
"Jika benar Mas Bambang mencintaiku, Mas enggak perlu risau dengan perjodohan itu, biar papaku yang menemui Pak Carik agar Mas bisa terbebas dari perjodohan," ucap Arini panjang lebar.
Bambang terdiam. 'Duh, aku salah bicara lagi!' rutuk Bambang pada dirinya sendiri.
"Sudahlah, jangan bahas ini dulu! Ayo, bersihkan milikmu! Sudah sangat larut, kita harus istirahat!" titah Bambang.
Bambang segera naik ke pembaringan, sementara Arini masih bengong di sisi ranjang.
"Ada apa, Dik?" tanya Bambang seraya mengerutkan kening.
"Mas Bambang sudah mengantuk?" tanya Arini.
"Iya, Dik. Aku sudah mengantuk," balas Bambang. "Ayo, tidur!" ajak Bambang seraya menepuk rumah ruang kosong disebelahnya.
Arini kemudian naik ke atas ranjang, tetapi wajahnya terlihat sedikit kecewa.
"Kenapa, Sayang?" tanya Bambang.
"Arin pikir, Mas akan mengajak Arin untuk main lagi sampai lelah. Seperti dalam novel-novel online yang pernah Arin baca, Mas. Biasanya, sang cowok tak puas jika hanya main satu kali," terang Arini dengan polosnya.
Bambang tersenyum tipis. 'Sebenarnya, aku juga belum puas Rin. Tetapi mendengar keinginanmu yang ngotot pengin aku nikahi, sementara aku tidak pernah mencintaimu, membuat 𝘮𝘰𝘰𝘥-𝘬𝘶 untuk menggaulimu kembali, hilang seketika.'
__ADS_1
"Tidurlah, Dik. Malam sudah larut, nanti kamu bisa sakit kalau telat tidur," ucap Bambang sambil memejamkan mata, berharap Arini segera tidur.
"Peluk," pinta Arini dengan manja.
Mau tak mau, Bambang pun memenuhi permintaan Arini yang ingin tidur sambil dipeluk.
Bambang pura-pura memejamkan mata, Arini yang sedari tadi menatap pemuda berkulit kuning tersebut mengira bahwa Bambang benar-benar telah tertidur pun, akhirnya ikut memejamkan mata, hingga Arini benar-benar terlelap dalam dekapan Bambang.
Mendengar deras napas Arini yang teratur, Bambang membuka mata perlahan. "Rin," panggil Bambang pelan seraya mengibaskan tangan di depan wajah Arini, untuk memastikan bahwa gadis yang baru saja dia setubuhi telah benar-benar terlelap.
Setelah yakin, Bambang beringsut dan kemudian turun dari ranjang dengan sangat perlahan.
Bambang mengambil ponsel dan kemudian menelepon seseorang.
"Halo sayang, sudah bobok belum?" tanya Bambang berbisik.
"Belum lah, Mas. Senny 'kan piket malam," balas suara merdu di seberang telepon. "Kenapa, Mas? Mas butuh service Senny, ya?" tanya gadis bernama Senny itu menebak.
"Iya,Sayang," balas Bambang yang miliknya masih tegang sejak tadi. "Bisa enggak, malam ini menemani Mas?" tanya Bambang kemudian.
"Bisa, Mas. Bisa banget," balas Senny cepat. "Dimana, Mas? Apa di kamar yang biasa?" tanya Senny memastikan.
"Iya, Sayang. Sekarang, ya. Aku akan ke sana sekarang," balas Bambang sambil berjalan menuju pintu hendak keluar.
Bambang menoleh sekali lagi ke arah ranjang, untuk memastikan bahwa Arini benar-benar terlelap.
Setelah yakin, Bambang perlahan membuka pintu dan kemudian segera keluar dari kamarnya untuk menuju kamar tempat biasa dia bermain bersama salah seorang pelayan Motel tersebut.
Bambang memacu langkah dengan cepat agar bisa segera sampai di kamar khusus tersebut, pemuda itu segera membuka pintu begitu sampai di kamar yang dia maksud.
Bambang tersenyum lebar kala mendapati pelayan bertubuh seksi tersebut sudah berbaring di atas pembaringan, dengan posisi menantang.
Gadis seksi itu melambaikan tangan pada Bambang seraya mengerling nakal. "Kemarilah, Mas. Aku akan membuat Mas puas malam ini."
Bambang yang sudah tidak sabar ingin segera dipuaskan, merangsek dan menghujani gadis tersebut dengan ciuman di bibir.
Kembali malam ini, Bambang mengasah senjatanya untuk yang kedua kali dengan wanita yang berbeda.
__ADS_1
🌹🌹🌹 bersambung,,,