
"Ini baru jam sembilan lho, Neng," lanjut Jaka seraya mengerutkan kening.
Dara mengedikkan bahu, gadis itupun tak tahu jawabnya. "Dara angkat aja ya, Mas? Biar kita sama-sama tahu." Dara langsung menggeser tombol telepon berwarna hijau untuk menerima panggilan telepon dari Arini.
"Halo, Ra. Aku cuma mau kasih info, kalau Mas Bambang setengah jam lagi akan ke rumah," ucap Arini dengan jelas dari seberang sana.
"Aku harap, kamu dan Jaka bisa diandalkan, Ra. Aku enggak mau, kalau sampai Mas Bambang tahu bahwa dia dijebak," lanjut Arini.
"Jangan khawatir, Rin. Ini aku sama Mas Jaka sudah 𝘰𝘯 𝘵𝘩𝘦 𝘸𝘢𝘺, kami akan langsung ke klinik Tante Risa," balas Dara.
"Oke, Ra. Terimakasih ya," ucap Arini yang membuat Dara mengernyit.
"Kenapa, Neng?" tanya Jaka setelah Dara menutup ponsel dan mengembalikan ke dalam tas.
"Tumben banget, Arini bilang makasih," balas Dara.
Ya, Arini terkenal sebagai sosok yang angkuh. Jarang tersenyum jika tidak dengan teman yang memang selevel dengan dirinya. Gadis itu tidak pernah bilang minta tolong dan asal suruh saja pada orang lain, juga tidak pernah mengucapkan kata terimakasih.
Didikan manja dan semua keinginan Arini yang dituruti tanpa dikasih pengertian, membuat Arini tumbuh menjadi gadis yang angkuh dan egois. Dia selalu menganggap rendah orang lain, apalagi jika kondisi ekonomi orang itu memang dibawah keluarganya.
"Sudah mulai belajar menjadi orang baik, mungkin Neng," ucap Jaka ber-𝘱𝘰𝘴𝘪𝘵𝘪𝘧 𝘵𝘩𝘪𝘯𝘬𝘪𝘯𝘨.
"Semoga saja ya, Mas," timpal Dara.
"Ayo, Neng! Kita jadi jalan, kan?"
"Eh, iya, Mas." Dara segera naik ke jok belakang. Kembali gadis itu memegang pundak Jaka, yang membuat jantung pemuda sederhana itu berdetak lebih cepat.
Jaka tidak segera melajukan kendaraannya, hingga membuat Dara bertanya. "Kenapa, Mas?" tanya Dara.
"Dik, tolong pegangan tas punggung Mas saja, ya," pinta Jaka hati-hati. Pemuda itu tak ingin membuat sang kekasih menjadi tersinggung.
"Oh ... iya, Mas. Maaf," balas Dara yang langsung melepaskan pegangan tangannya.
"Maaf, Neng. Bukan apa-apa, mas hanya ingin menikmati getaran aneh ini nanti ketika kita sudah halal," ucap Jaka seraya menatap dalam netra Dara melalui kaca spion motor.
Dara tersenyum tersipu malu. "Iya, Mas. Terimakasih ya, sudah selalu menjaga kehormatan Dara," balas Dara.
"Kamu enggak keberatan 'kan, Neng, jika saat pacaran seperti ini kita enggak romantis seperti layaknya pasangan lain? Yang sering mengumbar keromantisan dengan bergandengan tangan atau berpelukan di tempat umum?" tanya Jaka.
Dara menggeleng.
"Karena Mas ingin seperti Baginda Nabi yang bersikap dan bertindak romantis dengan istri beliau, seperti yang diceritakan Sayyidah Aisyah dalam sebuah hadits," imbuh Jaka yang membuat hati Dara semakin berbunga-bunga.
__ADS_1
'Belum jadi suami saja, sikap Mas Jaka sudah sangat romantis, meski hanya melalui lisan dan tatapan mata. Bagaimana nanti, jika Mas Jaka jadi suamiku? Ah, aku tak sabar untuk menjadi istri Mas Jaka, dia pasti akan memperlakukan aku bagai ratu di hatinya,' batin Dara.
Dara jadi teringat lagu yang sering diputar oleh tetangga kostnya setiap pagi. Sebuah lagu religi yang banyak di-cover oleh beberapa penyanyi, seperti Via Vallen, Sabyan, Andre Taulany hingga Syakir Daulay.
Lirik lagu 'Aisyah Istri Rasulullah' yang mengisahkan betapa romantisnya kisah cinta Baginda Nabi dengan sang istri, Sayyidah Aisyah. Hal yang jarang diketahui oleh khalayak umum, khususnya generasi muda muslim saat ini.
'Mulia indah cantik berseri
Kulit putih bersih merah dipipimu
Dia Aisyah putri Abu Bakar
Istri Rasulullah'
'Sungguh sweet Nabi mencintamu
Hingga Nabi minum di bekas bibirmu
Bila marah, Nabi kan bermanja
Mencubit hidungnya'
'Aisyah …
Dengan baginda kau pernah main lari-lari
Selalu bersama hingga ujung nyawa
Kau disamping Rasulullah …'
'Aisyah…
Sungguh manis oh sirah kasih cintamu
Bukan persis novel mula benci jadi rindu
Kau istri tercinta Ya Aisyah Humairah…
Rasul sayang, kasih, Rasul cintamu'
"Neng, mau jalan sekarang?" tanya Jaka yang membuyarkan lamunan Dara.
"I-iya, Mas. Ayo!" jawab Dara tergagap.
__ADS_1
Jaka mengerutkan dahi, pemuda itu kemudian tersenyum. "Orangnya di depan mata, Neng. Jangan dilamunin!" goda Jaka.
Dara memukul pelan punggung Jaka. "Siapa yang melamunkan Mas Jaka, sih? GeEr," balas Dara berbohong karena malu jika sampai Jaka mengetahui bahwa dirinya sampai membayangkan, jika kelak menjadi istri pemuda di depannya.
"Wah, Mas jadi cemburu nih, Neng. Masak lagi jalan bareng sama mas, tapi kamu malah memikirkan cowok lain, sih?" protes Jaka yang sengaja memancing.
"Dara enggak mikirin cowok lain, Mas. Hanya Mas Jaka yang selalu ada di hati dan pikiran Dara," tegas Dara.
"Berarti tadi mas benar, dong, kalau Neng Dara lagi melamunkan tentang mas?" desak Jaka seraya tersenyum.
"Udah, ah ... ayo jalan!" ajak Dara seraya mengerucutkan bibir karena Jaka terus saja menggodanya.
"Oke, Neng. Mas jalan sekarang, tapi kita sambil ngobrol, ya?" pinta Jaka.
Dara mengangguk setuju.
Jaka segera melajukan motor matic milik Dara, untuk menuju klinik kecantikan ibunya Arini.
"Neng, beneran deh, mas kepo. Tadi, kamu mikirin apa, sih?" tanya Jaka.
Dara tersenyum, seraya mencuri pandang pada wajah Jaka melalui kaca spion. Wajah yang selalu terlihat ramah, begitu teduh dan enak dipandang mata.
"Ngomong-ngomong tentang sikap romantis Baginda Nabi dengan istri beliau, Dara jadi ingat dengan lagu religi yang menceritakan kisah cinta beliau, Mas," balas Dara.
"Kisah cinta yang tulus, bukan seperti dalam novel-novel online yang sering Dara baca. Kisah cinta yang bukan berawal dari benci jadi rindu, seperti novel yang ditulis oleh author Merpati_Manis yang berjudul 'Akhir Sebuah Penantian'." Sejenak, Dara menghentikan ucapannya.
"Tetapi kisah cinta beliau seperti kisah cinta Mommy Billa dan Daddy Rehan, dalam novel 'Ketulusan Cinta Nabila' yang ditulis oleh author yang sama," terang Dara panjang lebar.
"Kamu masih suka baca novel ternyata, Neng. Masih sempat tho, padahal 'kan jadwal kuliah kamu padat, Neng?" tanya Jaka.
"Di sela-sela tugas, Mas. Pengusir penat karena memikirkan tugas kuliah yang seabrek. Lagian, cerita novelnya ringan kok, Mas. Ada lucunya, ada gemes-gemesnya juga. Pemeran utama cowok tuh, kebanyakan suka ngegombal kayak Mas Jaka, gitu," sindir Dara seraya tersenyum.
"Tapi kamu suka 'kan, Neng, digombalin," balas Jaka, yang juga tersenyum seraya menatap sekilas sang kekasih dari kaca spion.
"Kalian, berdua? Mau kemana?" tanya seseorang yang tiba-tiba sepeda motornya sudah sejajar dengan sepeda motor Dara yang dikendarai oleh Jaka.
"Pak Kades," sapa Jaka seraya mengangguk sopan.
"Ayah?" Wajah Dara langsung pucat pasi.
🌹🌹🌹bersambung,,,
#Awas, episode mengandung iklan 🤭
__ADS_1
#Sambil menyelam, minum susu 🥰