Pesona Mas Jaka

Pesona Mas Jaka
Tiket Umroh untuk Emak dan Bapak


__ADS_3

Bibir Dara bergetar dengan jantung yang mulai berdegup kencang. "Mas ...." Suara Dara tercekat di tenggorokan. Gadis itu tidak berhasil mengeluarkan suaranya untuk sekadar bertanya. 'Apa yang akan Mas Jaka lakukan?' batin Dara.


Sementara Jaka masih terus menatap manik hitam Dara dengan intens dan semakin mendekatkan wajah, hingga jarak keduanya hanya tinggal beberapa inci saja.


Hembusan hangat napas Dara terasa hangat menyapu pipi Jaka, membuat jakun pemuda itu naik turun.


"Neng Dara, maukah kamu jika kita langsung menikah saja, besok?" pinta Jaka lembut dan dengan segenap hatinya. Pemuda itu terus menatap netra hitam sang kekasih, dengan tatapan yang penuh kasih sayang.


"Aku mencintaimu, Neng, dengan segenap jiwa dan ragaku," imbuh Jaka yang perlahan menjauhkan wajahnya, hingga membuat Dara bernapas dengan lega.


Dara sudah salah sangka tadi, gadis itu berpikir bahwa Jaka akan menciumnya. Jika benar itu terjadi, Dara juga pasti tidak akan sanggup untuk menolak karena hati Dara telah terpatri pada pemuda yang saat ini berada di hadapannya.


Beruntung, Jaka masih kuat iman, meski rasa cintanya terhadap Dara begitu besar. Namun, rasa sayang dan keinginan Jaka untuk menjaga Dara jauh lebih besar dari sekadar menuruti hasratnya, yang tak Jaka pungkiri memang sempat melonjak berada sedekat ini sama Dara.


"Dara mau, Mas, tapi ...." Gadis itu nampak ragu untuk melanjutkan ucapannya.


"Apa, Sayang? Apa itu tentang ayahmu?" tanya Jaka. "Aku akan bicara langsung pada beliau," lanjut Jaka.


Dara menggeleng. "Bagaimana kalau Dara hamil, sedangkan kita berjauhan?" tanya Dara dengan begitu polos.


Jaka terkekeh pelan. Pemuda itu kemudian mengacak puncak kepala Dara yang tertutup hijab.


"Kok, Mas Jaka malah tertawa?" protes Dara.


"Mas tidak akan melakukan itu terlebih dahulu, sampai kita sama-sama siap, Dik. Mas hanya mau, hubungan kita ini halal agar kita tidak menambah dosa jika berduaan seperti ini," terang Jaka.


Dara tersenyum. "Baiklah, Mas. Dara setuju," ucap Dara dengan yakin.


"Apa kalian yakin, bisa menjalani hubungan pernikahan jarak jauh?" tanya Pak Kades yang tiba-tiba muncul kembali dari balik pintu, membuat kedua muda-mudi itu terkejut dan segera menoleh ke arah sumber suara.


Rupanya, Pak Kades tidak langsung masuk ke dalam, tetapi orang tua itu mengintip dan mencuri dengar pembicaraan Jaka dan Dara.

__ADS_1


Pak Kades juga sempat geram tadi, ketika melihat Jaka hendak mencium putrinya, tapi setelah melihat bahwa Jaka bisa menahan nafsunya, orang tua Dara itu semakin salut pada Jaka.


'Hebat dia, kuakui pemuda itu begitu teguh pendiriannya. Padahal, kesempatan untuk melakukan itu ada dan putriku sepertinya juga tidak menolak,' batin Pak Kades sewaktu mengintip tadi.


"Bagaimana, Dik? Apa kamu sanggup menjalani 𝘭𝘰𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘴𝘵𝘢𝘯𝘤𝘦 𝘮𝘢𝘳𝘳𝘪𝘢𝘨𝘦?" bisik Jaka.


Dara menatap ayahnya. "Memangnya, kalau Dara minta pindah kuliah sama Ayah, akan Ayah kabulkan?" tanya Dara seraya menatap sang ayah yang sudah duduk kembali di tempatnya yang tadi.


"Ayah akan lihat dulu keseriusan calon suami kamu, kalau dia bisa membahagiakan kamu dalam ikatan pernikahan, pasti ayah akan kabulkan," balas Pak Kades yang tiba-tiba saja berubah menjadi bijak.


Sepertinya, wejangan Professor Hartadi bisa diterima oleh hati ayah Dara yang mengeras karena pergaulannya yang salah selama ini.


Pak Gondo memang biasa nongkrong bareng Pak Carik dan juga sesama Kades dari desa tetangga yang terkenal jumawa, sehingga ayah Dara itu menjadi keras kepala dan hatinya membatu.


"Jaka akan berusaha semampu Jaka, Pak," ucap Jaka sungguh-sungguh.


Pak Kades mengangguk-angguk. "Kalau begitu, kamu siapkan saja surat-suratnya biar besok diambil sama Sulkan di rumah kamu. Ayah yang akan urus semuanya," titah Pak Kades seraya menatap Jaka, hingga membuat pemuda itu melongo karena tak percaya dengan apa yang barusan dia dengar.


"Ayah serius, merestui kami untuk menikah besok?" tanya Dara yang juga tak percaya pada ucapan ayahnya sendiri.


"Ayah serius, Dara," tegas Pak Kades. "Maafkan ayah, jika selama ini ayah menutup mata terhadap kebaikan yang ada di hadapan ayah," lanjutnya yang terdengar penuh penyesalan.


Perilaku Bambang yang ternyata tidak baik, serta penjelasan Professor Hartadi mengenai Jaka, telah mampu membuka mata hati Pak Kades yang biasanya menilai segala sesuatu hanya dari 𝘤𝘰𝘷𝘦𝘳-nya saja.


🌸🌸🌸


Setibanya di rumah, Jaka kemudian membicarakan pertemuannya dengan Professor Hartadi di kediaman Pak Kades barusan, kepada kedua orang tuanya.


"Lha kok dadakan gini tho, Nang?" tanya sang ibu yang bernada protes. Tentu saja Mak Karti protes karena untuk melamar seorang gadis, tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit, apalagi sang putra langsung ingin menikahi Dara.


Jaka hanya tersenyum nyengir.

__ADS_1


"Ndak apa-apa, Mak. Besok, bapak akan jual lagi dombanya Jaka beberapa ekor untuk membeli mas kawin. Dan uang penjualan domba yang kemarin, yang rencana untuk sangunya Jaka, bisa mak gunakan untuk belanja keperluan seserahan," tutur Pak Karyo, yang membesarkan hati istrinya.


"Jangan jual domba dulu, Pak. Kalau untuk membeli mas kawin, InsyaAllah Jaka ada," cegah Jaka.


"Mas kawinnya 'kan harus pantes tho, Nang, untuk menghargai calon istrimu. Kalau uang penjualan domba yang kemarin emak pakai untuk belanja seserahan dan untuk sangumu nanti pakai uang tabungan kamu, uang apalagi yang kamu punya?" cecar Mak Karti, yang menatap sang putra dengan penuh selidik.


"Ya, pakai uang tabungan Jaka, Mak?" balas Jaka meyakinkan.


"Memangnya, uang tabungan kamu berapa banyak, Nang?" tanya Pak Karyo, yang juga penasaran.


"Alhamdulillah lumayan banyak, Pak. Sebenarnya uang itu, akan Jaka kasihkan sama Bapak dan Emak untuk sangu ke ...." Jaka menghentikan ucapannya sejenak.


"Apa, Nang? Kamu menyuruh Bapak sam Mak kemana? Ke pondok, untuk sowan Pak Kyai?" tanya Mak Karti dengan tidak sabar.


Jaka menggeleng. "Mboten, Mak. Tapi sangu ke Mekah Madinah," balas Jaka seraya menatap kedua orang tuanya bergantian.


Pak Karyo dan Mak Karti saling pandang dan keduanya kemudian terkekeh bersama.


"Nang, bukannya 𝘯𝘥𝘪𝘴𝘪𝘬𝘬𝘪 𝘬𝘦𝘳𝘴𝘰, terus bapak bilang bahwa saat ini tidak mungkin karena segalanya itu mungkin bagi Sing Kuoso. Bapak karo Makmu juga sudah punya angen-angen pengin bisa ziarah ke sana, tapi untuk saat ini kami fokus sama pendidikan kamu dulu," tutur Pak Karyo.


Mak Karti mengangguk-anggukkan kepala, membenarkan penuturan sang suami.


"Nggih, Pak. Bapak leres bahwa segalanya mungkin bagi Allah dan Alhamdulillah, Allah mengabulkan do'a Emak dan Bapak lebih cepat," ucap Jaka.


"Jaka bulan kemarin 'kan ikut Olimpiade sains mewakili kampus di tingkat Asia, Alhamdulillah mendapat juara satu dan dari pihak kampus memberikan tiket umroh untuk dua orang. Tiket itu sudah Jaka daftarkan atas nama Emak dan Bapak," lanjut Jaka, yang membuat sang ibu langsung bersimpuh dan kemudian sujud syukur.


Jaka pun langsung bersimpuh dan duduk di samping ibunya. Sementara netra abu-abu Pak Karyo nampak berkaca-kaca.


"Semua yang Jaka peroleh, berkat do'a tulus dari Emak dan Bapak."


🌹🌹🌹 bersambung,,,

__ADS_1


__ADS_2