
"Ya, sudah. Neng Dara istirahat dulu ya, tapi jangan tidur dulu karena mas mau beribadah sama kamu," pinta Jaka yang kembali mencubit gemas pipi sang istri.
Pemuda itu kemudian melabuhkan ciuman sekilas di bibir tipis istrinya. Ya, benar-benar sekilas karena nama Jaka kembali dipanggil oleh teman-temannya yang gesrek akut.
"Ck," decak kesal Jaka. "Enggak sabaran banget, sih, mereka!" gerutunya.
Sementara Dara hanya tersenyum. "Sudah sana," usir Dara dengan suara lembut, yang justru membuat langkah Jaka menjadi semakin berat untuk meninggalkannya seorang diri di dalam kamar.
Mengetahui sang suami masih mematung, Dara kemudian beranjak dan menuntun suaminya menuju pintu kamar. Tak lupa, Dara memberikan hadiah kecupan sekilas di pipi sang suami.
"Kok di pipi tho, Neng," protes Jaka.
"Yang lainnya nanti," balas Dara yang langsung menutup pintu kamar, setelah Jaka keluar dari kamarnya.
Dara segera membuka hijabnya, tetapi kemudian mengenakannya kembali. 'Sebaiknya, aku ambil wudhu dulu. Jadi nanti kalau mereka sudah pada pulang, kami bisa langsung sholat,' gumam Dara, yang kembali membuka pintu kamar untuk menuju ke belakang.
Dari arah ruang tamu, Jaka sempat melihat sekelebat bayangan Dara dan pemuda berhidung mancung itu langsung menyusul istrinya.
"Neng, mau apa?" tanya Jaka penuh perhatian.
"Dara mau wudhu, Mas. Dara tunggu, ya. Kita nanti sholat bareng," balas Dara.
Jaka mengangguk seraya tersenyum.
Jaka menunggu di luar kamar many, ketika sang istri masuk ke dalam untuk berwudhu. Setelahnya, Jaka mengiringi langkah Dara untuk kembali ke kamar.
"Tunggu mas, ya. Mas enggak akan lama," pinta Jaka, yang segera keluar kembali untuk menemui sohib-sohibnya.
Sementara di dalam kamar, Dara langsung melepaskan hijab dan kemudian mengganti pakaian dengan gaun tidur transparan yang sudah dia siapkan, untuk memberikan kenangan terindah bagi sang suami di malam pertama mereka berdua.
Istri imut Jaka itu kemudian memakai wewangian di tubuhnya, memoles tipis lipstik di bibir dan kemudian menyisir rambut sambil bercermin di depan cermin yang tak seberapa lebar, yang menempel di sisi jendela kamar.
"𝘗𝘦𝘳𝘧𝘦𝘤𝘵," gumam Dara memuji dirinya sendiri. "Mas Jaka pasti suka," imbuhnya seraya tersenyum.
__ADS_1
Dara kemudian duduk di atas pembaringan sambil menyandarkan kepala pada 𝘩𝘦𝘢𝘥 𝘣𝘰𝘢𝘳𝘥 ranjang dan mulai membuka ponselnya, untuk mencari artikel mengenai malam pertama.
Dara terus men-𝘴𝘤𝘳𝘰𝘭𝘭 layar ponsel ke bawah, untuk mencari informasi yang dia butuhkan. Senyum tipis tersungging di bibir Dara, kala netranya menangkap judul artikel yang menurutnya menarik.
Tengah fokus membaca sebuah artikel, tiba-tiba ponselnya diambil oleh seseorang. Dara mendongak, netranya terpaut pada netra sang suami yang saat ini menatapnya dengan tatapan penuh damba.
"Mas, kapan masuk? Kok Dara enggak dengar suara pintu dibuka?" tanya Dara yang salah tingkah karena sang suami terus menatapnya.
Jaka tak menjawab, tatapan pemuda itu kemudian turun ke arah dada, membuat jakun Jaka naik turun.
"Memangnya, mereka sudah pulang, Mas?" tanya Dara lagi, untuk mengurai tatapan Jaka pada dirinya.
"Iya, diusir sama emak," balas Jaka seraya tersenyum, mengingat bagaimana tadi Mak Karti mengusir teman-temannya dengan cara menakut-nakuti bahwa di ujung jalan menuju kampung Jaka, malam kemarin Mak Karti melihat penampakan pocong.
Sontak saja, teman-teman Jaka yang absurd tetapi penakut itu langsung pamit karena tidak mau ketemu sama pocong yang pastinya menyeramkan.
"Kok Mas, senyum-senyum?" tanya Dara.
Mendapatkan tatapan seperti itu, membuat Dara semakin salah tingkah. "Mas Jaka sudah wudhu, belum?" tanya Dara untuk menutupi kegugupannya.
"Sudah, Neng," balas Jaka, yang masih saja memindai lekuk tubuh sang istri.
"Mas, tolong minggir. Dara mau ambil mukena," pinta Dara karena sang suami berdiri tepat di samping ranjang.
Jaka yang memang sudah tidak sabar ingin segera menikmati tubuh seksi sang istri, langsung memberikan jalan pada istrinya. Pemuda itu kemudian menggelar dua sajadah di sisi ranjang untuk mereka berdua.
"Sudah siap, Neng," tanya Jaka yang sudah berdiri menghadap kiblat, seraya menoleh ke belakang.
"Sudah, Mas," balas Dara yang kini sudah mengenakan mukena putih bersih, mas kawin pernikahannya.
Khusyuk mereka berdua mengerjakan sholat sunnah, untuk mengawali malam pertama mereka sebagai sepasang suami-istri.
Usai salam, Jaka memimpin membaca wirid pendek dan kemudian berdoa. Memohon pada Sang Maha Kuasa, agar biduk rumah tangga yang dia bina senantiasa sakinah mawaddah warohmah.
__ADS_1
Dara kemudian mencium punggung tangan sang suami dengan takdzim, yang dibalas Jaka dengan mencium kening sang istri penuh perasaan.
Belum sempat Dara melepaskan mukena, Jaka sudah membuat tubuhnya melayang dengan membopong dan membawanya ke atas pembaringan.
"Mas ...," pekik Dara tertahan karena terkejut.
Jaka kemudian membantu sang istri melepaskan mukena dan menyimpan dengan asal mukena tersebut di atas sajadah, bersama baju koko dan sarungnya yang juga dia lepaskan, hingga hanya menyisakan boxer saja.
Dara menatap kagum tubuh berotot milik sang suami, otot yang dihasilkan bukan dari mengikuti fitness seperti kebanyakan pemuda kota, tetapi dari olahraga bersama teman-teman di kampungnya dan dari kerja keras Jaka yang sering membantu sang ayah di sawah.
Jaka kemudian mematikan lampu utama dan menggantinya dengan lampu tidur. "Apa kamu sudah siap untuk menjadi istriku yang seutuhnya, Neng?" tanya Jaka.
Dara mengangguk seraya tersenyum menatap netra elang sang suami.
"Kamu tidak takut hamil, Neng? Sedangkan kamu masih kuliah?" tanya Jaka lagi untuk memastikan, agar tidak ada penyesalan nantinya. Sebab, mereka berdua belum membahas hal sejauh itu.
Dara menggeleng. "Dara siap, Mas. Dara istri Mas dan Dara tidak takut untuk mengandung anak dari benih Mas Jaka," balas Dara dengan yakin.
Jaka kemudian mencium puncak kepala Dara, sambil melafadzkan do'a untuk mulai penyatuan mereka berdua.
Dara memejamkan mata, ketika sang suami mulai menciumi setiap inci wajahnya. Suara ******* manja Dara mulai memenuhi kamar mereka yang tak seberapa luas, kala Jaka menyatukan bibir dan mulai menyesap serta memberikan kehangatan di dalam sana.
Suara manja, yang semakin membuat Jaka lebih bersemangat menyusuri setiap lekuk tubuh sang istri. Tubuh mungil Dara yang dikuasai tubuh kekar Jaka yang terus bergerak, menggelinjang kenikmatan hingga membuat ranjang kayu itu berderit dan menimbulkan suara yang cukup keras.
Suara derit ranjang Jaka yang terdengar berisik, sontak membuat Dara mendorong pelan dada sang suami agar menjauh dari tubuhnya. "Mas, ranjangnya bunyi," bisik Dara dengan pipi yang merah merona karena malu, khawatir jika suara berisik yang mereka timbulkan didengar oleh bapak dan emak.
"Tidak apa-apa, Sayang. Mak dan bapak tidak akan mendengar, beliau berdua pasti sudah tidur," balas Jaka yang masih saja mencumbui istrinya.
Dara menggeleng. "Jangan dulu, Mas," tolak Dara. "Nunggu malam sedikit larut, ya," pintanya sambil membelai pipi sang suami.
Jaka terpaksa menghentikan aksinya, pemuda itu menyugar kasar rambut karena frustasi.
🌹🌹🌹 bersambung,,,
__ADS_1