Pesona Mas Jaka

Pesona Mas Jaka
Menggiring Bola di Tempat Tidur


__ADS_3

"Bukankah Mak pernah mengatakan, bahwa segala sesuatu yang kasat mata pasti bisa dipelajari?" balas dan tanya Jaka.


Mak Karti mengangguk. "Asal ada kemauan dan mau belajar."


"Assalamu'alaikum, Jaka! Ayo, pesta jomblo!" Tengah asyik mengobrol bersama kedua orang tuanya, terdengar ada beberapa pemuda yang menyerukan nama Jaka dari luar rumahnya.


"Mak, Pak. Jaka temui mereka dulu, ya," pamit Jaka yang hafal dengan suara mereka, pemuda itupun bergegas meninggalkan dapur.


"Lha, ini dia yang ditunggu-tunggu. Akhirnya ... sama juga kamu kayak kami bertiga, Ka. Jomblo!" seru salah seorang pemuda yang masih berada di atas tongkrongan motor sport miliknya, ketika Jaka muncul dari dalam rumah.


"Enggak nangis darah 'kan kamu, Ka?" ledek yang lain sekilas menatap Jaka dan kemudian kembali memutar-mutar roda ban motor matic miliknya, yang sepertinya sudah mulai menipis.


"Bukan nangis darah, dia. Tapi nangis karena ditinggal kawin Neng Dara." Tawa pemuda yang memainkan kontak mobil itu pun pecah, yang diikuti oleh kedua temannya tadi.


Sementara Jaka yang baru saja keluar menemui mereka bertiga, hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Pada ngomongin apa sih, kalian?" tanya Jaka. "Duduk dulu, yuk!" ajak Jaka kemudian.


Ketiga pemuda teman Jaka itupun kemudian mengikuti langkah Jaka, mereka duduk di bale bambu yang ada di teras rumah sederhana tersebut.


"Ka, udah dapat undangan dari Dara, belum?" tanya Joni, salah satu teman Jaka, yang biasa dipanggil Jondil.


"Undangan apa?" tanya Jaka, pemuda berlesung pipi itu pura-pura tidak tahu.


"Minggu besok 'kan, Dara mau nikah sama Mas Bambang, Ka," sahut Rifa'i atau yang biasa disapa Paijo.


"Masak, sih?" Jaka masih berpura-pura tidak tahu menahu tentang berita tersebut.


"Sabar ya, Ka. Nanti pasti kamu cepat dapat gantinya, kamu 'kan pintar," ucap Teddy si paling bijak diantara kedua temannya tadi. Pemuda yang kuliah di kota, yang satu kampus dengan Dara itu adalah putra Pak Bayan.


"Atau jangan-jangan, di pesantren sana kamu sudah dapat kecengan santriwati, Ka?" lanjut Teddy bertanya.


Jaka menggeleng.


"Mana berani dia, Ted. Jaka 'kan tipe cowok setia, seperti aku," sahut Rifa'i.

__ADS_1


"Setia, di setiap tikungan ada ya, Jo!" ledek Joni pada Rifa'i atau Paijo itu, seraya terkekeh. "Dasar Paijo, kuliahnya di Jogja dan sepanjang perjalanan Jogja sampai sini, punya persinggahan." Joni tertawa lepas.


"Itu 'kan kamu, Ndil. Setia, di setiap desa ada," balas Rifa'i. "Buktinya, kalau pas tanding bola ke desa-desa tetangga, pasti disitu ada cewek kamu," imbuhnya.


"Udah, udah. Kalian berdua ini, kok malah ribut sendiri," lerai Teddy. "Sesama playboy, dilarang menyalip!" lanjut Teddy seraya tersenyum seringai.


"Lah, ini dia ahlinya sedang berpetuah," cibir Rifa'i, karena Teddy ternyata juga sering gonta-ganti pacar.


Sementara Jaka hanya diam menyimak, seraya senyum-senyum sendiri. Jaka merasa senang karena ketiga temannya tersebut meskipun saling ledek, tetapi sesungguhnya mereka saling menyayangi.


"Gimana, Ka. Mau bakar-bakar apa kita nanti malam?" tanya Joni, mengurai lamunan Jaka.


"Bakar-bakar apa? Memangnya ada acara apa? Tahun baru 'kan masih lama? Diantara kita juga enggak ada yang lagi ulang tahun, kan?" cecar Jaka dengan banyak pertanyaan.


"Ya dalam rangka merayakan kejombloan kamu, Ka. Mulai minggu nanti 'kan, kamu resmi menjomblo," balas Rifa'i seraya memainkan kedua alisnya turun naik.


Jaka menggeleng. "Enggak benar itu, aku tidak akan menjomblo," ucap Jaka dengan yakin. Terselip doa dari ucapan baiknya itu.


"Lah, yakin banget kamu, Ka. undangannya udah tersebar lho," ucap Joni.


"Ck, benar-benar nih, bocah." Joni berdecak. "Tapi aku salut sama kamu, Ka. Keyakinan dan keberanian kamu wajib ditiru," imbuh Joni.


"Hem, setuju dengan Jondil aku. Pak Kades 'kan galak dan mata duitan, pasti beliau nyari menantu yang kaya seperti Mas Bambang. Tapi kamu, Ka, dengan sangat berani dan percaya diri memacari Dara. Hebat!" Teddy mengacungkan kedua ibu jarinya untuk Jaka.


Jaka tersenyum lebar, hingga menampakkan lesung pipinya yang membuat wajah Jaka semakin enak di pandang.


"Enggak gitu juga, Ted. Aku berani karena Dara yang support aku," balas Jaka.


"Berarti Dara, masih mencintaimu, Ka?" tanya mereka bertiga bersamaan.


"Aku juga enggak yakin sih, waktu baca undangan bapak. Masak Dara yang baik itu, menikah sama Mas Bambang yang suka menggoyang anak gadis orang," ucap Joni kemudian.


"Maksud kamu?" tanya Jaka, yang belum mengerti arah pembicaraan Joni.


"Loh, kamu enggak tahu tho, Ka, berita viral di desa kita?" tanya Rifa'i.

__ADS_1


Jaka mengerutkan dahi.


"Mas Bambang 'kan terkenal suka bawa pergi cewek ke motel, Ka," terang Teddy.


"Wah, hati-hati kalian kalau bicara. Jangan sampai jatuhnya malah fitnah karena ternyata itu tidak benar," sahut Jaka.


"Lho, lho, lho. Fitnah piye tho, Ka. Wong beritane wes nyebar kemana-mana, kok. Ada buktinya juga lho, Ka," bantah Rifa'i.


"Kamu ingat Ratna enggak, Ka. Itu si Ratna anaknya Pak Kadus." Joni menatap Jaka.


Pemuda sederhana itu mengangguk. "Kenapa dia?"


"Belum lama ini, dia disuruh aborsi sama Mas Bambang," balas Joni.


"Ratna tek dung karena sering kencan sama Mas Bambang, tapi karena Mas Bambang enggak benar-benar cinta sama Ratna yang bodoh itu, Mas Bambang kemudian membayar anaknya Pak Modin agar mau menikahi Ratna yang sudah enggak ori itu," imbuh Rifa'i.


Jaka semakin mengerutkan dahinya. 'Ternyata, bukan hanya Arini yang ditiduri Mas Bambang?' batin Jaka bertanya-tanya, pemuda itu merasa sangat miris.


"Ka, nanti sore kita main, ya," ajak Joni. "Tanding lawan desa sebelah," lanjutnya.


"Enggak, ah. Aku 'kan udah lama enggak main bola," tolak Jaka.


"Ayolah, Ka. Hanya kamu 𝘴𝘵𝘳𝘪𝘬𝘦𝘳 handal tim desa kita," rajuk Teddy.


"Benar, Ka. Posisi kamu udah sering diganti, tapi enggak ada yang sebaik kamu, Ka," timpal Rifa'i. "Mumpung kamu di rumah lah, Ka," lanjutnya memohon.


"Lah 'kan, ada Mas Bambang juga?' Jaka menatap ketiga temannya bergantian.


"Apalagi dia! Gojegannya enggak banget! Gawangnya dimana, dia giring bolanya kemana? Payah dia!" Joni geleng-geleng kepala.


"Dia itu lihai kalau menggiring bolanya di tempat tidur, Jon," sahut Rifa'i seraya terkekeh, yang disambut tawa oleh kedua temannya.


"Udah, udah. Jangan ghibah terus!" Jaka menyudahi obrolan tak penting tersebut.


🌹🌹🌹 bersambung,,,

__ADS_1


__ADS_2