
Sore harinya, usai sholat ashar, Jaka berpamitan pada sang ibu karena sudah ditunggu oleh ketiga temannya tadi.
"Mak, Jaka mau ikut tanding bola di desa sebelah," pamitnya pada Mak Karti yang sedang melipat pakaian.
"Yo, Nang. Ngati-ati, yo," balas Mak Karti teriring do'a kebaikan untuk sang putra.
"Nggih, Mak. Assalamu'alaikum," ucap salam Jaka yang kemudian segera berlalu.
"Wa'alaikumsalam," balas Mak Karti. "Nang, jangan lupa bawa sarung dan baju ganti! Kalau maghriban di rumah ndak akan keburu!" seru Mak Karti agar sang putra mendengar suaranya.
"Sampun, Mak," balas Jaka dari arah teras.
Ya, begitulah kebiasaan Jaka, pemuda itu selalu mempersiapkan pakaian bersih di dalam tas punggung yang selalu dia bawa kemana-mana. Pemuda itu tak mau menunda-nunda dan akan segera menunaikan kewajibannya, jika waktu sholat telah tiba.
"Ada apa, Ka?" tanya Rifa'i yang tadi turun untuk memanggil Jaka dan menunggu di teras, sementara Teddy dan Joni masih berada di dalam mobil.
"Biasa, Jo. Emak ngingetin aku untuk bawa koko sama sarung," jawab Jaka sambil berjalan mengiringi langkah Rifa'i atau Paijo menuju mobil milik Teddy.
Rifa'i memasuki mobil sambil terkekeh. "Masih kayak dulu saja kamu, Ka, yang selalu diingatkan sama Emak untuk sholat dan ngaji kalau pas kita lagi main kelereng," cibirnya pada Jaka.
"Ada apa, sih?" tanya Teddy penasaran. Putra Pak Bayan itu segera melajukan mobil Satana miliknya, melandas di jalanan desa yang sudah halus semenjak ada dana desa.
__ADS_1
"Itu si Jaka, masak masih diingetin sama Emak suruh bawa sarung sama koko," balas Rifa'i masih dengan tawanya.
Teddy yang sedang menyetir mobil ikut tertawa. "Dikira Emak mau khitan kali ya, Ka," ledek Teddy.
"Wah, bisa habis dong punya kamu, Ka." Rifa'i yang tawanya belum reda semakin terbahak.
"Kasihan banget ya, Neng Dara." Teddy kembali menimpali.
"Hey, malah pada ketawa!" protes Joni yang sedari tadi hanya diam.
Namun, kedua temannya itu masih saja tertawa.
"Ya baguslah, kalau ada yang mengingatkan begitu. Daripada aku? Emakku belum tentu setahun sekali bisa pulang, jadi enggak ada yang mengingatkan!" ujar Joni. "Aku sudah sholat, apa belum? Sudah makan, apa belum?" lanjut Joni yang langsung membuat Teddy dan Rifa'i terdiam.
"Jondil, ih! Mumpung kita lagi ngumpul bukannya seneng-seneng malah melo!" protes Rifa'i.
"Enggak melo, Paijo ... aku 'kan hanya menyuarakan isi hatiku," balas Joni dengan gayanya yang kocak hingga membuat ketiga temannya tertawa.
"Cih, menyuarakan isi hati katanya," cibir Rifa'i, masih dengan tertawa.
Keheningan sejenak menyapa mobil yang berkapasitas empat orang tersebut.
__ADS_1
"Ka, dombamu 'kan banyak tho? Apa kamu enggak pengin beli motor?" tanya Joni yang berusaha membujuk Jaka agar membeli motor ditempatnya.
"Hubungannya domba sama motor apa, Jon?" tanya Jaka yang pura-pura tidak mengerti kemana arah pembicaraan Joni atau Jondil itu.
"Ya, kamu jual beberapa dombamu, Ka, untuk beli motor seperti si Paijo," sahut Teddy.
Ya, sejak mengetahui bahwa Joni mendapat kiriman dari ibunya untuk membeli motor tinja yang harganya puluhan juta rupiah, Rifa'i atau Paijo itupun merengek pada orang tuanya yang juragan sapi agar dibelikan motor cespa matic.
Demi menuruti keinginan sang putra, juragan sapi yang terkenal di kecamatan tersebut rela menjual lima pedet miliknya untuk membeli cespa.
Sementara Teddy yang lebih suka dengan jenis mobil offroad, sampai harus menjual tanah tegalan yang biasanya ditanami jagung oleh Pak Bayan untuk membeli mobil satana yang di bodynya terdapat tulisan 4x4 sama dengan enam belas, sempat tidak sempat harus dibalas.
Jaka menggeleng. "Buat apa, Jon. Orang kalau pas pulang, aku juga enggak pernah pergi kemana-mana. Lagian di rumah 'kan masih ada sepeda," balas Jaka yang memang berbeda cara pandang dibanding teman-temannya yang lain.
Ya, Jaka memiliki mimpi yang akan diwujudkan dengan domba-domba miliknya. Pemuda itu ingin bisa kuliah hingga setinggi-tingginya, agar kelak Jaka bisa menjadi mahaguru atau dosen.
Orang tua Jaka juga memiliki sawah meski hanya sepetak kecil, yang diolah sendiri oleh ayah Jaka. Hasil panen dari sawah tersebut biasanya disimpan untuk kebutuhan makan sehari-hari hingga musim panen berikut tiba. Jadi, Mak Karti tak perlu pusing memikirkan uang belanja untuk ๐ฏ๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ถ๐ณ atau membeli beras.
Keluarga sederhana itu juga memiliki ๐ฅ๐ข๐ฅ๐ข๐ฉ meski tak terlalu luas, yang terletak di samping rumah. Di lahan tersebut, ditanami berbagai macam sayuran dan pohon pisang. Hampir setiap hari, ibunya Jaka bisa menjual sayuran tersebut ke warung dan uang hasil penjualan sayuran kemudian dibelikan bumbu dapur dan lauk.
"Kamu itu lho, Ka. Lha wong orang-orang sudah sampai ibukota Jakarta pemikirannya, kamu malah baru sampai kabupaten!" cibir Joni yang menilai sebuah kemajuan pemikiran dari kacamatanya.
__ADS_1
Jaka hanya tersenyum. 'Aku juga akan beli kendaraan seperti kalian suatu saat nanti, tapi tidak dengan menjual asset,' batin Jaka.
๐น๐น๐นbersambung,,,