
Rombongan calon mempelai laki-laki telah tiba dikediaman Pak Kades, mereka disambut dengan hangat oleh Pak Kades beserta sang istri, Pak Carik dan sang istri, meski wajah Pak Carik nampak masam karena beliau dipaksa oleh Professor Hartadi.
"Mari-mari, silahkan masuk." Dengan ramah Bu Rosma, mempersilahkan tamu-tamunya.
Keluarga besar Jaka dan teman-temannya dipersilahkan untuk menempati ruang tamu kediaman Pak Kades yang luas, yang sudah disulap menjadi tempat untuk acara pernikahan dadakan.
Di salah satu sisi ruangan tersebut, terdapat pelaminan yang sederhana tetapi tetap elegant.
"Mari, Nak Jaka. Pak Karyo dan Ibu, kita ke sana," ajak Professor Hartadi.
Jaka dan kedua orang tuanya, dituntun Professor Hartadi untuk menempati kursi yang telah ditata rapi melingkari meja panjang, tempat ijab qabul akan dilangsungkan.
Jaka yang malam ini mengenakan jas putih bersih, dengan peci hitam yang bertengger di kepalanya, terlihat sangat menawan. Senyumnya yang senantiasa terulas lebar, membuat lesung pipi Jaka nampak nyata dan semakin membuat wajah cerah pemuda itu, mempesona.
"Bu, panggil Dara. Pak Penghulu sudah datang," bisik Pak Gondo di telinga sang istri, ketika beliau melihat penghulu yang akan menikahkan putrinya baru saja memasuki ruang tamu tersebut.
Bu Rosma mengangguk patuh, wanita anggun itu segera masuk ke dalam untuk memanggil sang putri.
Melihat Bu Rosma masuk, Jaka terus melirik ke arah pintu lebar yang menjadi penghubung ruang tamu dan ruang dalam
Beberapa saat kemudian, Dara yang dituntun oleh sang ibu dan juga Dilla, keluar menuju ruang tamu untuk duduk bersama calon suaminya karena Pak Penghulu telah bersiap di tempat tersebut.
Netra Jaka berbinar, melihat gadis cantik berkebaya putih dengan hijab warna senada, berjalan ke arahnya. 'Cantik sekali kamu, Neng,' bisik Jaka dalam hati, mengagumi kecantikan sang bidadari.
Jaka terus mengikuti pergerakan Dara, bahkan ketika calon istrinya itu telah duduk di sampingnya.
Sementara Dara terus menundukkan pandangan, dia tak berani menoleh ke samping kanan, dimana sang calon suami tengah melirik ke arahnya.
"Ehm," deham Pak Kades yang mengurai lirikan Jaka. "Monggo, Pak Naib. Silahkan dimulai," pinta Pak Kades.
Penghulu yang malam ini bertugas mengangguk, beliau kemudian segera mengambil mic dan mengucapkan salam untuk mengawali acara sakral yang dikemas sederhana malam ini.
Satu persatu acara berjalan dengan lancar, mulai dari pembukaan, pembacaan ayat suci Al-Quran, hingga khutbah nikah yang disampaikan oleh Professor Hartadi.
"Nak Jaka Lelana, apakah sudah siap?" tanya Pak Penghulu, seraya membaca dokumen nama calon pengantin di hadapannya.
Jaka mengangguk pasti. "InsyaAllah, siap, Pak!" balasnya tegas.
"Baik, bisa kita mulai, ya." Penghulu tersebut menjabat erat tangan Jaka dan kemudian mengucapkan ijab, untuk mewakili orang tua calon mempelai wanita karena Pak Kades menolak menikahkan putrinya sendiri, dengan alasan takut salah ucap.
Jaka langsung mengucapkan qabul dengan suara tegas, begitu ijab usai terucap. "Saya terima, nikah dan kawinnya Dara Jelita binti Bapak Sugondo Prawiro, dengan mas kawin tersebut di atas, tunai."
__ADS_1
"Sah," kata yang dinanti-nantikan Jaka itu terucap dari kedua saksi, Professor Hartadi dan Pak Carik Margono, membuat Jaka dan Dara saling pandang dan kemudian saling melempar senyum lega.
Serangkaian acara pernikahan Jaka dan Dara pun usai, termasuk penyematan cincin kawin sebagai pengikat diantara mereka berdua.
Acara kemudian dilanjutkan dengan makan-makan dan sesi foto.
"Aku duluan yang foto," pinta Joni yang ingin berfoto di tengah-tengah antara Jaka dan Dara. Tentu saja Jaka dengan posesif langsung menolak.
"Dia istriku, Jon. Kalau kamu mau foto, sini di sampingku," tolak Jaka, membuat bibir Joni mencebik.
"Pelit!" gerutu Joni, tetapi tetap mau berdiri di samping Jaka.
Rifa'i dan Teddy terkekeh, melihat ekspresi Joni. "Makanya, Jon, jangan asal serobot!" ledek Teddy.
Namun, ketika fotografer hendak mengambil gambar mereka bertiga, Teddy dan Rifa'i langsung nyerobot dan bergabung bersama Joni dan kedua mempelai. Hingga sesi foto itupun menjadi gaduh karena keusilan teman-teman Jaka.
Jaka dan Dara hanya bisa tersenyum seraya geleng-geleng kepala, menyaksikan polah ketiga sohibnya tersebut.
πΈπΈπΈ
Setelah semua tamu pulang, termasuk orang tua Jaka dan ketiga temannya, Jaka dan Dara segera berkemas.
"Neng Dara ngajak pulang ke rumah emak, Bu," balas Jaka dengan sopan.
"Kenapa enggak disini saja, ini sudah malam, Jaka?" tanya Pak Kades yang sedang menikmati kopi panas di ruang keluarga.
"Tapi Dara pengin nginap di rumah Mas Jaka, Ayah," rajuk Dara.
"Ya sudah, tapi besok pagi pulang ke sini. Ada yang mau ayah bicarakan pada Jaka," balas Pak Kades seraya melirik Jaka. Orang tua itu sekarang lebih lunak pada Jaka, pembawaannya juga ramah dan berwibawa.
Jaka dan Dara kemudian menyalami kedua orang tua Dara, sebelum meninggalkan kediaman orang tua Dara yang besar tersebut.
"Peluk mas, Neng," pinta Jaka seraya tersenyum, ketika Dara membonceng motor matic untuk menuju ke rumah Jaka.
Dara yang baru saja duduk manis menyamping, dengan malu-malu melingkarkan tangannya di perut sang suami. Tangannya gemetaran, seiring dadanya yang berdegup kencang.
"Sudah siap, Neng?" tanya Jaka.
"Iya, Mas," balas Dara persis di telinga Jaka, membuat bulu roma pemuda ganteng itu, berdiri.
Jaka kemudian segera melajukan motor matic milik sang istri, menyusuri jalanan kampung yang sudah halus untuk menuju ke rumahnya.
__ADS_1
"Mas, kok belok kiri?" tanya Dara ketika menyadari bahwa arah yang diambil Jaka berlawanan dengan arah pulang ke rumahnya.
"Iya sama aja 'kan, Neng. Habis ngiri, nanti di depan terus nganan, sampai juga, kan?" balas Jaka, bertanya.
"Tapi 'kan kejauhan, Mas," protes Dara.
"Biar lama, Neng," balas Jaka seraya terkekeh pelan, sambil tangan kirinya mulai berani mengelus pipi sang istri yang terasa dingin terkena angin malam.
"Mas Jaka modus," gerutu Dara, tetapi dengan tersenyum tipis. Dara membiarkan saja tangan sang suami mengelus pipinya, istri Jaka itu bahkan mulai menyandarkan dagunya di bahu kokoh sang suami.
"Neng, pipimu dingin sekali. Kamu kedinginan, Neng?" tanya Jaka, seraya mengeratkan tangan Dara agar lebih erat memeluk dirinya.
"Lumayan, Mas," balas Dara.
Tiba-tiba Jaka menghentikan motornya, membuat Dara merinding karena tempat tersebut sangat sepi. Jalur yang diambil Jaka adalah jalan yang jarang dilalui orang-orang, jika malam hari seperti ini. Berbeda kalau pagi, jalur ini yang paling ramai karena jalan ini adalah akses utama menuju persawahan.
"Mas Jaka mau ngapain?" tanya Dara dengan perasaan tak menentu.
"Mau menghangatkan kamu, Neng," balas Jaka yang langsung menghadap ke belakang, ke arah istrinya.
Dara yang belum mengerti maksud sang suami, masih terdiam di tempat duduknya.
Jaka mulai mendekatkan wajahnya, dekat, dekat dan semakin dekat, hingga jarak keduanya hanya tinggal satu inci.
Dara dapat merasakan hembusan napas sang suami yang menerpa kulitnya, terasa hangat dan membuat jantungnya semakin meloncat-loncat tak karuan.
Dara memejamkan mata, ketika sang suami menyatukan bibirnya.
'Gini ya ternyata, rasanya sudah menjadi pasangan halal. Bisa berdua-duaan ditempat gelap,' batin Dara seraya tersenyum dalam hati.
Sepasang pengantin baru itu masih saling mencumbu dan menikmati kehangatan yang penuh kasih. Suara-suara aneh yang ditimbulkan oleh angin yang menerpa dedaunan kering, sama sekali tidak mengganggu kemesraan mereka berdua.
Kemesraan mereka berdua terhenti, ketika terdengar tawa cekikikan dari arah tanah kosong persis di sisi kiri mereka.
πΉπΉπΉ bersambung,,,
ih,,, seyem. Lagian Mas Jaka, ada2 saja π€¦ββοΈ
Best,,, aku mau bikin GC, ada yang mau gabung gak, ya?
Nanti pengumuman give away Mas Jaka aku share di GC. Dan untuk setiap ada give away, akan aku umumin di sana pula.
__ADS_1