Pesona Mas Jaka

Pesona Mas Jaka
Wow, Cantiknya


__ADS_3

Keesokan harinya, Jaka yang tengah menggantikan sang ayah menggembalakan domba di tanah lapang, dikejutkan dengan kedatangan ketiga temannya.


"Jaka!" seru mereka bertiga kompak.


"Wah, hebat kamu, Ka. Do'amu kuwi lho, Ka, langsung diijabah sama gusti Allah," ucap Rifa'i. Ketika pemuda itu baru saja menjatuhkan bokongnya di atas rerumputan, di bawah pohon besar.


"Aku juga mau dong, Ka, kamu bantu aku dengan do'a. Sebab, mbahku bilang, do'nya santri itu mustajab," sahut Joni memohon.


Jaka yang tidak tahu apa-apa, menatap ketiga temannya bergantian seraya mengerutkan dahi.


"Do'a apa? Do'a yang mana?" tanya Jaka tak mengerti.


"Itu lho, Ka, kalau ternyata Neng Daramu itu memang benar tidak jadi menikah sama Mas Bambang," jawab Teddy yang mewakili kedua temannya. Putra Pak Bayan itu duduk tepat di hadapan Jaka.


Ya, rupanya berita batalnya pernikahan Dara dan Bambang telah menyebar dan santer terdengar ke seantero desa. Berita yang dibawa oleh bakul belanjan keliling itu memang sangat cepat menyebar, bahkan hanya dalam waktu sekejap mata.


Awalnya, bakul itu mendapatkan berita tersebut dari bakul lain yang merupakan tetangga Bu Sekcam, ketika berbelanja sayuran di pasar bakda shubuh tadi.


Bakul tersebut kemudian mulai mengabarkan pada beberapa pelanggannya di desa, dari satu orang kemudian dengan cepat menyebar bahkan lebih cepat penyebarannya dari virus COVID-19.


Benar adanya, jika mulut lebih panjang dari tali. Yang artinya, sepanjang-panjangnya tali masih dapat diukur jangkauannya, tetapi mulut orang tak 'kan terukur jangkauan luasnya.


"Kalian dengar darimana?" tanya Jaka khawatir. Pemuda itu mengkhawatirkan Dara dan juga Bu Rosma, yang mungkin saja akan kena imbas cibiran dari para tetangga julit setelah mengetahui bahwa Dara batal menikah dengan Bambang.


Para tetangga julit tersebut adalah orang-orang yang sok tahu, orang-orang yang sok terdepan, tanpa mencari kebenaran dari berita itu terlebih dahulu, mereka dengan mudah menyebarkannya bahkan dengan melebih-lebihkan.

__ADS_1


"Dari mana awal mulanya, kami enggak tahu, Ka. Kami tahunya berita itu sudah menyebar luas," balas Joni dengan jujur.


"Kok, kamu sepertinya enggak suka gitu, Ka?" tanya Teddy yang melihat kekhawatiran di wajah Jaka.


"Bukan begitu, Ted. Aku hanya khawatir dengan Dara dan Bu Rosma," balas Jaka.


"Meskipun Dara tidak menghendaki pernikahan ini, tapi karena undangan sudah kadung tersebar, Dara dan ibunya pasti tetap malu pada para tetangga," lanjut Jaka.


Ketiga pemuda teman baik Jaka itu mengangguk, membenarkan ucapan Jaka. Mereka paham betul dengan karakter orang-orang di desanya, yang mudah sekali dipengaruhi dan termakan oleh berita atau gosip yang bikin heboh seperti batalnya pernikahan Dara, putri tunggal Kepala Desa dengan Bambang, putranya Pak Carik Margono.


"Benar juga ya, Ka. Apalagi 'kan, pernikahannya tinggal tiga hari lagi," ucap Teddy.


"Kalau begitu, kamu saja, Ka, yang menggantikan Mas Bambang untuk menikahi Dara," ucap Rifa'i yang memberikan ide.


"Benar, Ka. Nanti malam, kami siap antar deh, kalau kamu mau melamar Dara," sahut Joni yang mendukung penuh Jaka dengan Dara.


Ya, mereka berempat sudah berteman dekat sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Mereka selalu satu sekolah dan senantiasa saling bantu jika ada temannya yang kesusahan.


Selepas SMU, barulah mereka terpisah. Jaka yang menuntut ilmu di Jawa Timur, Teddy kuliah di ibukota provinsi satu kampus dengan Dara, Rifa'i di kota pelajar Yogyakarta, sementara Joni yang tak sepandai teman-temannya, lebih memilih berwira usaha.


Jaka menggeleng, menolak ide dari temannya tersebut. "Aku sudah bertemu sama Pak Kades kemarin lusa, beliau tetap belum memberikan restunya pada kami," ucap Jaka yang terdengar getir.


Teddy menepuk punggung Jaka. "Kenapa kamu enggak jujur saja sama Pak Kades, Ka. Kalau kamu itu di Jawa Timur tidak hanya mondok tapi juga kuliah?" saran Teddy.


"Benar, Ka. Kalau Pak Kades tahu bahwa kamu kuliah, beliau mungkin akan mempertimbangkannya, Ka," timpal Rifa'i.

__ADS_1


"Ya kalau Pak Kades percaya, kalau tidak? Masalahnya tetangga kita banyak yang enggak percaya tho, kalau Jaka itu mondok sama kuliah?" sahut Joni yang kemudian dibenarkan oleh semua temannya dengan menganggukkan kepala.


"Mereka itu enggak tahu saja kalau Pak Karyo dan Mak Karti sebenarnya lebih mampu dibanding kebanyakan orang, tapi karena gaya hidup bapak dan mak kamu yang sederhana itu Ka, makanya orang-orang mengira kalau keluarga kamu itu miskin," kesal Teddy yang tidak suka dengan pemikiran orang-orang di desanya.


Ya, orang-orang di desa mereka berlomba-lomba untuk bisa menjadi yang terdepan. Jika ada tetangga yang membeli motor, mobil atau renovasi rumah, maka tetangga yang lain akan ikut-ikutan dan menyainginya. Mereka tak perduli meski harus ngutang Bank atau kredit pada Bank Plecit atau Bank Setan, yang penting mereka akan dikatakan wah ...


"Benar itu, Ka. Makanya kemarin aku saranin kamu menjual beberapa domba, untuk membeli motor," sahut Joni seraya terkekeh.


"Huu ... promosi, terus!" cibir Rifa'i.


"Namanya juga usaha, sah-sah aja, kan?" balas Joni yang membela diri. "Yang penting 'kan enggak sampai ngutang-ngutang, kayak yang lain," imbuhnya.


"Benar juga, sih, apa kata Jondil," ucap Teddy yang membenarkan ucapan Joni, bos showroom motor bekas yang sudah punya nama di kecamatan.


"Assalamu'alaikum," suara lembut seorang gadis yang tiba-tiba muncul, menghentikan obrolan mereka berempat.


"Wow ... cantiknya," puji Joni dengan mulut terbuka lebar.


🌹🌹🌹 bersambung,,,


Siang, Best ... 😍


Ketemu lagi dengan Mas Jaka, setelah akhir tahun dan awal tahun Mas Jaka libur 🥰


Kangen enggak, sama rayuannya Mas Jaka?

__ADS_1


Nantikan yah ☺


Tapi sawer kembang dulu ya, Mas Jaka-nya ... 🤭


__ADS_2