Pesona Mas Jaka

Pesona Mas Jaka
Playboy Syar'i


__ADS_3

Keesokan harinya, ketiga teman Jaka, pagi-pagi sekali sudah mendatangi kediaman Pak Karyo.


"Assalamu'alaikum," ucap salam ketiganya dengan sangat kompak.


Mak Karti yang telah bersiap untuk pergi ke pasar bersama Jaka, tergopoh-gopoh keluar untuk menemui teman-teman Jaka yang sudah beliau hafal suaranya karena Jaka baru saja selesai mandi dan baru bersiap.


"Wa'alaikumsalam," balas Mak Karti seraya tersenyum hangat seperti biasa, kala menyambut kedatangan teman-teman baik putranya tersebut.


Satu persatu pemuda berusia dua puluh tahunan itu menyalami Mak Karti dengan takdzim.


"Mak cantik sekali, mau kemana, Mak?" tanya Joni yang memang sudah sangat biasa pada ibunya Jaka tersebut, jika dibandingkan kedua temannya yang lain. Pemuda itu tersenyum lebar pada Mak Karti.


Joni sejak dulu bahkan sudah menganggap Mak Karti seperti ibunya sendiri, hal itu mungkin karena Joni secara fisik tidak pernah dekat dengan sang ibu yang tengah merantau jauh ke negeri orang.


"Emak mau ke pasar, Jon. Menemani Jaka untuk membeli seserahan buat calon mantu," balas Mak Karti dengan bangga, ketika menyebut calon mantu pada Dara.


Ya, ibu mana yang tidak bangga ketika putranya mendapatkan calon istri yang baik dan cantik seperti Dara, gadis kembang desa putri dari Pak Kades yang terkenal ramah dan luhur budinya.


"Kalian, pagi-pagi sekali sudah kemari, memangnya mau pada kemana?" tanya Mak Karti balik, yang melihat tampilan ketiga pemuda tersebut lain dari biasanya.


Mereka mengenakan 𝘵-𝘴𝘩𝘪𝘳𝘵 terbaik yang mereka miliki yang dipadukan dengan celana jeans yang juga masih bagus, tidak seperti biasanya yang hanya mengenakan kaos oblong agak lusuh dan celana belel atau bahkan mereka hanya mengenakan celana kolor sebatas lutut.


"Kami mau nganter Jaka dan emak ke pasar, Mak," balas Rifa'i.


"Apa? Kalian mau ikut ke pasar?" tanya Jaka yang baru saja keluar. Wajah pemuda itu terlihat begitu segar dan pakaiannya sangat rapi.


Jaka mengenakan hem kotak-kotak yang dipadukan dengan celana jeans berwarna biru dongker, seperti ketika Jaka hendak pergi ke kampus.


"Wow ... kamu keren sekali, Ka!" seru Joni. "Apa setiap kali kamu mau kuliah, penampilanmu seperti ini, Ka?" tanya bos 𝘴𝘩𝘰𝘸𝘳𝘰𝘰𝘮 motor bekas itu dengan tatapan kagum terhadap Jaka.


Jaka hanya mengangguk dan tidak menanggapi kekaguman Joni.


"Pantesan, cewek-cewek pada ngejar kamu, Ka. Termasuk neng cantik yang kemarin itu, kan?" lanjut Joni bertanya.


"Neng cantik, siapa?" tanya Mak Karti seraya menatap sang putra dan juga Joni bergantian.

__ADS_1


"Putri dosennya Jaka, Mak," balas Teddy yang sepertinya mulai mendekati Dilla, melalui sang ayah.


Ya, semalam Teddy, putra Pak Bayan itu sengaja menemani ayahnya yang tengah ada keperluan dengan Pak Carik, agar dia bisa melihat dan mengenal lebih dekat gadis cantik yang menemui Jaka di tanah lapang kemarin.


"Kamu kok, kayak sudah kenal baik gitu, Ted?" tanya Rifa'i dengan penuh selidik.


Teddy hanya tersenyum.


"Kayak enggak kenal Teddy saja kamu, Jo," sahut Jaka. "Bukankah kalau ada yang bening, dia bakal langsung gerak cepat untuk mendapatkannya?" Jaka tersenyum ke arah Teddy.


"Iya, dan kalau sudah bosan langsung bakalan di lelang!" kesal Rifa'i karena ternyata sudah keduluan sama Teddy.


"Lelang, memangnya barang!" gerutu Teddy.


"Kamu kalah cepat, Jo. Lambat kayak siput!" ledek Joni seraya menyenggol lengan Rifa'i.


"Halah, kamu juga, kan?" balas Rifa'i yang memang mengetahui bahwa Joni punya misi untuk mendekati Neng cantik yang kemarin mereka lihat.


"Jadi, kalian berdua juga mengincar Dilla?" tanya Jaka seraya menatap kedua temannya, Joni dan Rifa'i.


"Fix, kalau gitu, mulai saat ini kita rival!" kesal Teddy karena kedua temannya ikut-ikutan mengincar putri dosennya Jaka.


"Oke!" timpal Rifa'i seraya melipat kedua tangan di dada serta mengangkat dagu dengan penuh percaya diri.


"Sudah, sudah. Malah pada rebutan anak gadis," lerai Mak Karti seraya mengibaskan tangan, meski beliau tahu pasti bahwa keributan kecil itu hanyalah candaan saja.


"Ayo, kalau mau pada ikut Mak ke pasar!" ajak Mak Karti yang bergegas menutup pintu rumahnya karena sang suami sedang ke desa sebelah, untuk mengabari saudara-saudara dekat.


"Mak, kita berdua sajalah," tolak Jaka dengan wajah ditekuk.


"Kenapa, Nang?" Dahi Mak Karti berkerut dalam.


"Kalau sama mereka, nanti pasti jadinya lama dan aneh-aneh saja idenya," balas Jaka seraya menatap ketiga temannya dengan tatapan penuh selidik.


"Enggak, Mak. Kami murni hanya ingin bantuin, Jaka saja yang su'udzon!" Joni mencibir.

__ADS_1


"Ya, sudah. Biar saja mereka ikut, Nang," bujuk sang ibu.


Jaka hanya bisa mengangguk pasrah.


"Ayo, Mak. Mak duduk di depan, ya." Teddy dengan sigap membukakan pintu untuk ibunya Jaka tersebut.


Jaka dan kedua temannya, kemudian naik ke bagian belakang dan duduk bertiga di sana. Teddy kemudian segera melajukan mobil 𝘰𝘧𝘧𝘳𝘰𝘢𝘥 miliknya meninggalkan halaman rumah Pak Karyo.


"AC-ne kok gak tekan mburi tho, Ted?" protes Joni setelah beberapa saat mobil melaju. Pemuda itu rupanya merasa kegerahan meskipun hari masih pagi, tetapi karena mereka bertiga duduk berdesakan di jok belakang alhasil suasana di bangku belakang tersebut menjadi panas.


"Kalau beli mobil tuh yang sudah 𝘥𝘰𝘶𝘣𝘭𝘦 𝘣𝘭𝘰𝘸𝘦𝘳, biar yang belakang enggak seperti cacing kepanasan!" lanjut Joni menggerutu.


"Rencana mau aku tuker sama pickup kok, Jon. Nanti kamu duduknya di belakang ya, 'kan pasti enggak bakal gerah, Jon. AC alami, 𝘴𝘦𝘮𝘳𝘪𝘸𝘪𝘯𝘨," balas Teddy dengan asal, seraya melihat Joni melalui pantulan kaca spion di depannya dengan tersenyum seringai.


"Emoh, aku mbok padakke sapine bapake Paijo!" Joni cemberut seraya melirik ke arah Rifa'i yang sedari tadi asyik dengan ponselnya.


"Opo, Jon. Aku ra melu-melu, lho," ucap Rifa'i yang sekilas melirik Joni dan kemudian kembali fokus dengan layar ponselnya.


"Kamu lagi 𝘤𝘩𝘢𝘵-an sama siapa tho, Jo? Asyik bener dari tadi!" Joni yang duduk di tengah itu mulai kepo dan hendak merebut ponsel Rifa'i, tetapi tangan Joni berhasil ditepis oleh anak juragan sapi tersebut.


"𝘊𝘩𝘢𝘵-an opo, Jon? Aku lagi moco novel online iki lho!" Rifa'i menunjukkan layar ponselnya kepada Joni.


"Apa asyiknya sih, baca novel kayak gitu! Gak mutu, blas!" cibir Joni.


"Eits, siapa bilang!" bantah Rifa'i. "Coba deh kamu baca karya author Merpati_Manis, terutama yang judulnya, Harta Tahta dan Wanita. Tokoh utamanya tuh playboy, Jon. Tapi dia tuh kayak yang playboy syar'i gitu," terang Rifa'i, yang membuat Jaka mengerutkan dahi.


"Mana ada playboy syar'i, ukoromu iku lho, Jo, aneh-aneh wae!" protes Jaka.


"Beneran, Ka. Ini si doi tuh, enggak mau nyentuh cewek yang dia pacari," ucap Rifa'i mencoba meyakinkan.


"Meskipun enggak mau nyentuh, tetap saja itu enggak benar, Jo, Paijo. Wong dalam ajaran agama kita itu ndak boleh yang namanya pacaran, kok, apalagi bersikap playboy, gitu?" sanggah Teddy.


"Hem, bener tuh apa kata Teddy. Jadi, enggak ada ya istilah playboy syar'i!" tegas Jaka.


Mak Karti mendengarkan obrolan para pemuda tersebut, dengan senyuman yang mengulas di bibir.

__ADS_1


"Kalau ada istilah playboy syar'i, aku juga mau melabeli diriku dengan sebutan playboy halal," canda Teddy sambil menginjak rem dengan dalam begitu mereka sampai di tujuan, hingga membuat ketiga penumpang yang berada di bangku belakang, kepalanya terantuk dan mencium jok di depannya karena terkejut.


🌹🌹🌹 bersambung,,,


__ADS_2