Pesona Mas Jaka

Pesona Mas Jaka
Suara Gedoran Pintu


__ADS_3

"Tiket itu sudah Jaka daftarkan atas nama Emak dan Bapak," lanjut Jaka, yang membuat sang ibu langsung bersimpuh dan kemudian sujud syukur.


Jaka pun langsung bersimpuh dan duduk di samping ibunya. Sementara netra abu-abu Pak Karyo nampak berkaca-kaca.


"Semua yang Jaka peroleh, berkat do'a tulus dari Emak dan Bapak."


Mak Karti bangkit dari sujudnya dan kemudian memeluk sang putra dengan erat, terisak beliau berkata. "Emak akan selalu berdoa untuk kebaikan kamu, Nang."


Pak Karyo pun kemudian mendekat, beliau peluk kedua orang yang beliau sayangi itu tanpa kata. Semua hanya beliau wakili melalui pelukan hangat dan usapan lembut di punggung Jaka dan juga istrinya.


Usai pelukan mengharu-biru itu, Mak Karti menyuruh Jaka untuk beristirahat. "Istirahatlah, Nang. Besok pagi kita harus ke pasar untuk belanja keperluan kamu."


Jaka mengangguk patuh, pemuda itu kemudian bergegas menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu terlebih dahulu. Ya, sudah menjadi kebiasaan Jaka, jika hendak pergi tidur pemuda itu selalu mengusahakan agar senantiasa dalam keadaan suci.


Jaka segera merebahkan diri di ranjang kayu berukuran sedang yang jika pemuda itu bergerak sedikit saja, maka akan menimbulkan bunyi derit yang cukup keras.


Cukup lama Jaka mencoba untuk memejamkan mata, tetapi matanya seolah tak mau diajak untuk bekerja sama. Jaka menatap langit-langit kamar yang langsung dapat melihat genteng karena rumah Jaka tak berplafon, seperti rumah-rumah orang kaya di desanya.


Jaka dapat melihat sinar bulan purnama yang menerobos masuk ke dalam kamar, melalui celah-celah genteng yang penataannya tidak rapat tersebut. Jaka kemudian bangkit dan membuka jendela kamarnya, untuk melihat indahnya bulan purnama.


Pemuda berlesung pipi itu tersenyum. "Cantik, seperti kamu, Neng," gumam Jaka, yang ternyata membayangkan wajah Dara.


Tengah asyik melamun di depan jendela kamar, suara dering ponselnya yang dia simpan di atas nakas, membuat Jaka terkejut.


"Siapa yang telepon semalam ini?" tanya Jaka pada diri sendiri seraya melangkah menuju nakas untuk mengambil ponselnya. "Panjang umur kamu, Neng," gumam Jaka dengan senyumnya yang lebar, begitu melihat nama sang pujaan hati yang memanggil.


Jaka segera menggeser tombol telepon berwarna hijau untuk menerima panggilan dari Dara. "Halo, Neng Dara Sayang. Assalamu'alaikum," ucap salam Jaka yang menyapa terlebih dahulu.


"Wa'alaikumsalam, Nak Jaka. Maaf, ini ibu," balas suara di seberang sana yang ternyata adalah ibunya Dara, hingga membuat Jaka tersenyum malu seraya mengusap-usap tengkuknya.


"Oh, Ibu. Maaf, Bu. Kulo kinten Neng Dara," ucap Jaka dengan sungkan.


Bu Rosma terdengar terkekeh pelan, suara tawanya itu terdengar begitu renyah di telinga Jaka, sama seperti tawa sang kekasih. "Ndak apa-apa, Nak Jaka. Ibu senang mendengar sapaanmu tadi terhadap putri ibu, semoga kamu memang benar-benar menyayangi Dara, Nak," balas Bu Rosma dengan penuh rasa syukur.

__ADS_1


"Nggih, Bu. InsyaAllah," ucap Jaka. '


"Oh ya, Nak. Ada yang mau ibu sampaikan," tutur Bu Rosma.


"Nggih," balas Jaka. Pemuda itu nampak mengerutkan dahi, menebak kira-kira apa yang akan disampaikan sang calon ibu mertua.


"Tolong sampaikan pada Mak Karti, untuk acara besok malam tidak perlu repot-repot bawa macam-macam. Ibu juga tidak mengundang banyak orang, kok, hanya tetangga dekat dan saudara," pinta Bu Rosma.


Wanita anggun itu rupanya tak ingin membuat calon besannya terbebani, dengan adanya pernikahan dadakan ini.


"Nggih, Bu. InsyaAllah mboten repot, kok. Jaka sudah menyiapkan sebelumnya," balas Jaka dengan sopan.


"Ya sudah, Nak, itu saja yang ingin ibu sampaikan. Ini si Dara dari tadi sudah nyenggol-nyenggol ibu disuruh cepet, sepertinya dia juga mau bicara sama kamu," pungkas Bu Rosma, yang membuat Jaka tersenyum.


"Assalamu'alaikum, Mas." Suara merdu di seberang sana, membuat senyum Jaka semakin lebar.


Jaka tiba-tiba memencet tombol panggilan video, yang kemudian ditanggapi oleh Dara.


"Wa'alaikumsalam, cah ayu," balas Jaka mulai menggoda seraya menatap mesra sang kekasih. Membuat Dara yang wajahnya memenuhi layar ponsel Jaka, memerah pipinya.


"Ih ... siapa bilang?" Dara mengerucutkan bibir.


Jaka terkekeh pelan. "Kalau bukan Neng Dara, berarti aku yang sudah enggak sabar," ucap Jaka dengan mimik serius.


Dara mengerutkan dahi.


"Benaran, Neng. Jarum jam di dinding itu kayaknya enggak bergerak dari tadi, padahal aku penginnya malam segera berganti pagi agar kita bisa segera bertemu di pelaminan, Neng," lanjut Jaka.


Mendengar kata pelaminan, Dara tersenyum tersipu malu. Gadis itu masih belum percaya, secepat ini dirinya dan Jaka akan menikah.


"Neng, kok malah senyum-senyum?" Dahi Jaka berkerut dalam.


"Enggak apa-apa, Mas," balas Dara. "Oh ya, Mas. Barusan ibu tanya, kita mau bulan madu kemana?" Dara dengan malu-malu menyampaikan pertanyaan sang ibu.

__ADS_1


"Kamu maunya kemana, Neng? Kalau dekat-dekat sini, InsyaAllah mas bisa nuruti keinginan kamu. Tapi kalau jauh, beri mas waktu ya," balas dan pinta Jaka dengan jujur.


Dara menggeleng. "Dara enggak pengin kemana-mana, Mas. Kalau memang ada uang, mending buat ditabung aja," balas Dara yang tak ingin memberatkan calon suaminya.


"Dara justru penginnya, malam pertama besok kita di rumah Emak saja," lanjut Dara.


"Kamu serius, Neng? Kamarku seperti ini lho?" tanya Jaka tak percaya. Jujur, Jaka merasa tak enak hati pada calon istrinya jika malam pertama nanti mereka habiskan di kamarnya yang sempit.


"Seperti ini, Neng," lanjut Jaka, seraya mengedarkan kamera ponsel ke seluruh penjuru kamar.


"Gimana, Neng? Beneran, kamu enggak apa-apa?" tanya Jaka memastikan.


"Enggak apa-apa, Mas. Dara mencintai Mas, apa adanya Mas Jaka," balas Dara sungguh-sungguh, yang membuat hati Jaka berbunga-bunga.


Jaka tak membalas ungkapan cinta Dara, hanya tatapan mata yang penuh arti serta senyuman manis Jaka yang mewakili perasaannya saat ini.


Keduanya kemudian hanya saling tatap dengan mesra, seolah sedang bercengkrama dalam diam. Hingga suara gedoran pintu yang sangat keras adi rumah Jaka, membuat kemesraan keduanya buyar seketika.


"Neng, sudah dulu, ya," pamit Jaka yang hendak beranjak untuk keluar.


"Jangan ditutup, Mas. Dara pengin tahu, siapa yang menggedor rumah Mas," pinta Dara yang nampak khawatir.


"Baiklah, aku alihkan ke panggilan biasa, ya," balas Jaka.


Dara mengangguk.


"Aku keluar dulu, Neng," ucap Jaka.


Pemuda itu kemudian segera keluar untuk melihat siapa yang telah menggedor pintu rumahnya tengah malam seperti ini.


🌹🌹🌹 bersambung,,,


Sore, Besti... 🤗

__ADS_1


Yang mau kasih vote untuk Fatiya, alihkan ke Mas Jaka dulu, boleh ya... 🥰 (mode Pede, padahal belum tentu ada yang mau kasih vote 😂🤭)


Yang udah vote, makasih 😘😘


__ADS_2