Pesona Mas Jaka

Pesona Mas Jaka
Terobsesi Pesona Bambang


__ADS_3

"Nggih, Bu. Jaka mencintai Neng Dara."


Dara tersenyum bahagia mendengar perkataan jujur Jaka dihadapan sang ibu.


"Jika begitu, segeralah lamar putri ibu," pinta Bu Rosma yang sudah mengetahui dari sang putri, bahwa liburan ini Jaka akan melamar Dara.


"Tidak, bapak tidak setuju!" seru Pak Gondo yang muncul kembali dari dalam.


"Pak," protes Bu Rosma seraya menatap sang suami.


"Bu, kamu ini kenapa, tho? Kok sekarang berani melawan bapak?" tanya Pak Gondo dengan ketus.


"Itu karena Bapak tidak bisa menjadi orang tua yang bijak, Pak!" balas Bu Rosma dengan tegas.


"Ibu berani mengatai bapak, hanya demi membela penggembala itu, Bu!" hardik Pak Kades, yang membuat Bu Rosma semakin geram mendengar perkataan kasar sang suami, yang sama sekali tak mencerminkan sebagai seorang pemimpin.


"Ibu tidak membela Nak Jaka, Pak. Ibu hanya mengatakan sesuai kenyataan!" balas Bu Rosma yang ikut meninggikan suaranya.


"Bu, sudah. Enggak enak sama Mas Jaka," bisik Dara seraya melirik sang kekasih.


"Pokoknya bapak tidak setuju, jika Dara sama penggembala itu. Titik!" seru Pak Kades yang kembali mengatai Jaka dengan sebutan penggembala. Laki-laki paruh baya itu segera berlalu, meninggalkan ruang tamu.


Bu Rosma menghela napas panjang. "Maafkan ayahnya Dara ya, Nak Jaka," pinta Bu Rosma dengan tidak enak hati.


"Tidak mengapa, Bu," balas Jaka seraya tersenyum. "Maaf, Bu. Jaka mohon pamit," ucap Jaka kemudian, dengan sopan.


"Nak, ibu harap, Nak Jaka tidak sakit hati dengan ucapan kasar Bapak barusan. Dan ibu harap, itu semua tidak mempengaruhi hubungan kalian berdua," pinta Bu Rosma kembali.


"InsyaAllah tidak, Bu. Jaka akan terus berjuang untuk bisa mendapatkan restu dari Pak Kades," balas Jaka sungguh-sungguh, yang membuat Bu Rosma bernapas lega.


"Alhamdulillah, terimakasih ya, Nak Jaka. Ibu yakin, kalian berdua insyaAllah berjodoh. Hanya saja, mungkin harus lebih bersabar," tutur Bu Rosma.


Jaka mengangguk.


"Neng, sebaiknya aku pulang dulu, ya. Kita bisa ambil hati ayah kamu dengan perlahan, jangan terlalu dipaksakan, Neng," pamit Jaka.

__ADS_1


Dara mengangguk seraya tersenyum. "Iya, Mas. Semoga Allah memudahkan jalan kita, ya," harap Dara.


Dara kemudian mengantarkan Jaka sampai halaman rumahnya, pemuda sederhana itu pulang ke rumah dengan berjalan kaki karena memang jarak rumah Jaka dengan kediaman Pak Kades tesebut tidak terlalu jauh, hanya beda dua gang saja.


🌸🌸🌸


Sementara di kediaman Pak Sekcam, Bambang disidang oleh ayahnya Arini. Pak Carik Margono, ayah Bambang, juga langsung dipanggil ke kediaman Pak Sekcam.


Bambang yang dimintai pertanggungjawaban seolah enggan menerima Arini sebagai istrinya, bahkan Pak Sekcam sampai harus mengancam Bambang agar pemuda yang gemar bertualang itu mau menikahi putrinya yang sudah diperawani oleh Bambang.


"Kalau kamu menolak menikahi Arini, saya tidak segan memindahkan kamu ke tempat lain yang sangat jauh!" ancam Pak Sekcam, yang merupakan kerabat dekat bupati.


Pak Carik hanya bisa diam menyimak, seraya menghela napas kasar. Berakhir sudah impiannya untuk bisa memiliki menantu sebaik Dara karena ulah putranya sendiri.


Sudah bisa dipastikan, bahwa Pak Kades pasti akan membatalkan perjanjian perjodohan Bambang dengan Dara, meskipun undangan pernikahan Bambang dan Dara telah tersebar.


'Bambang benar-benar ceroboh! Bisa-bisanya dia main begituan di rumah!' gerutu Pak Carik yang memang mantan 𝘱𝘭𝘒𝘺𝘦𝘳 itu, dalam hati


'Keinginanku dan ibunya untuk memiliki menantu sebaik Dara yang pastinya akan bisa menuntun Bambang agar bisa menjadi manusia yang berguna, musnah sudah dan itu karena kebodohan anak itu!' Pak Carik menatap tajam sang putra, seraya geleng-geleng kepala.


"Kami bahkan sebentar lagi mau menikah," lanjut Bambang tanpa rasa takut.


Arini mulai menitikkan air mata mendengar jawaban Bambang, yang mengisyaratkan bahwa Bambang menolak Arini.


Sementara sang ibu, sudah dibawa masuk ke dalam kamar karena pingsan setelah kelelahan menangis.


"Baik, Mbang. Jika memang kamu tidak mau menikahi putriku, tidak masalah! Masih banyak pemuda lain yang lebih layak untuk menjadi suami Arini!" ketus Pak Sekcam yang menunjukkan kesombongannya.


"Tapi satu hal yang harus kalian ingat!" Pak Sekcam menatap dengan penuh amarah pada Pak Carik dan Bambang, secara bergantian.


"Aku tidak segan untuk menghancurkan karir orang yang telah menodai masa muda putriku, beserta seluruh keluarganya!" ancam Pak Sekcam tidak main-main.


Ya, Pak Sekcam merupakan keturunan keluarga pejabat. Dari tingkat kecamatan, kabupaten bahkan provinsi semua ada dan menjadi pejabat tinggi. Sehingga sangat mudah baginya untuk menggertak lawan bicara, meskipun konon kabarnya Pak Carik juga memiliki saudara pejabat tinggi di kabupaten.


Mendengar ancaman Pak Sekcam, nyali Bambang menjadi ciut. Pemuda itu tentu tidak ingin, jika dirinya dipindahkan atau bahkan di copot dari pekerjaannya sebagai pegawai negeri sipil di kecamatan.

__ADS_1


Ayahnya sudah mengeluarkan duit ratusan juta rupiah, demi agar Bambang bisa diangkat menjadi PNS.


"Seluruh keluarga?" tanya Pak Carik dengan lirih. Kekhawatiran menyelimuti hati laki-laki tua tersebut.


"Ya, Pak Carik. Termasuk mencopot jabatan Bapak dari Sekretaris Desa menjadi pegawai biasa," balas Pak Sekcam dengan tegas.


"Bambang, sudahlah ... terima saja," pinta Pak Carik dengan berbisik pada putranya.


"Tapi Ayah ...."


"Daripada kita kehilangan semuanya, Mbang!" sergah Pak Carik memotong perkataan sang putra, seraya menatap tajam putranya itu.


Bambang menghela napas kasar.


"Beri kami waktu untuk ngobrol sebentar, Pak," tawar Bambang pada orang tua Arini.


"Ya, silahkan kalian bicarakan dengan baik-baik." Pak Sekcam memberikan ijin pada Bambang untuk mengajak sang putri berbicara.


Arini kemudian menuntun Bambang menuju ruang keluarga, mereka berdua segera duduk dengan berhadapan.


"Katakan padaku, Arin! Apakah ini jebakan kamu!" Bambang menatap tajam gadis di depannya.


Arini menggeleng.


"Jangan bohong padaku, Rin!" bentak Bambang yang menahan suaranya agar tidak terdengar dari luar.


"Arin tidak bohong, Mas. Arin tidak merencanakan apapun," balas Arini dengan jujur karena memang benar adanya, bahwa ini bukanlah rencana Arini melainkan rencana Jaka dan Dara, meskipun Arini turut andil di dalamnya.


"Jika suatu saat nanti aku tahu bahwa semua ini adalah rencanamu, maka aku akan langsung menceraikan kamu, Rin!" ancam Bambang yang justru membuat Arini tersenyum.


Bambang mengerutkan dahi melihat Arini tersenyum. 'Nih anak, diancam kok malah tersenyum?' batin Bambang bertanya.


'Sudah stres kali ya, Arin. Gara-gara terobsesi dengan pesonaku.' Bambang tersenyum penuh percaya diri.


🌹🌹🌹 bersambung,,,

__ADS_1


__ADS_2