Pesona Mas Jaka

Pesona Mas Jaka
Karet Pengaman


__ADS_3

Bambang yang sedang fokus menyetir menjadi salah tingkah karena memang benar adanya, bahwa dirinya sedang dekat dengan Ratna, putri Pak Kamituwo.


Bambang jadi merasa was-was. 'Apa yang diketahui Bu Rosma tentang hubunganku dengan Ratna, ya? Apa beliau juga tahu, kalau aku dan Ratna sudah pernah tidur bareng dan saat ini dia ....' Bambang menghela napas panjang.


'Tidak, tidak mungkin Bu Rosma tahu, tidak mungkin juga Ratna buka suara. aku sudah membiayai aborsinya di kota kemarin, yang menghabiskan uang jutaan rupiah. Aku juga sudah menutup mulutnya dengan perhiasan yang dia minta, Ratna bahkan sudah menandatangani surat perjanjian. Dia tidak akan berani membuka rahasia kami,' batin Bambang.


"Bukankah, kalian masih pacaran? Tapi kenapa Pak Modin bilang, kalau tahun ini anaknya mau menikah sama Ratna, putrinya Pak Wo itu?" cecar Bu Rosma.


Bambang menggeleng. "Saya tidak tahu hal itu, Bu. Lagi pula, kedekatan saya sama Ratna hanya sebatas teman kok," kilah Bambang, yang merasa sedikit lega pasalnya Bu Rosma tidak menyinggung tentang Ratna yang saat ini sedang sakit di kota.


"Ratna itu sakit apa ya, Nak Bambang? Kok orang tuanya tidak memperbolehkan para tetangga, yang akan menjenguknya di rumah sakit, di kota?" tanya Bu Rosma kembali.


Baru saja Bambang merasa lega, Bu Rosma malah menanyakan hal itu. Bambang menghela napas kasar. "Saya juga tidak tahu, Bu. Sejak memutuskan untuk menikah dengan Santoso minggu lalu, Ratna tidak pernah lagi menghubungi saya," balas Bambang seraya berharap, pembicaraan tentang Ratna berhenti sampai di sini karena dia tidak mau kelepasan bicara.


"Loh, kemarin Bu Carik bilang, Nak Bambang habis bantu bayar pengobatan Ratna di rumah sakit. Berarti, Nak Bambang tahu 'kan, Ratna sakit apa?" desak Bu Rosma.


Bambang menggeleng. "Tidak, Bu. Sumpah," yakin Bambang. "Saya hanya sekadar membantu karena bagaimanapun kami pernah dekat," imbuhnya.


Bu Rosma mengangguk-angguk. "Nak Bambang ini orangnya baik banget berarti, ya," tutur Bu Rosma, yang membuat Bambang tersenyum.


Bambang langsung besar kepala karena merasa, sang calon ibu mertua telah menyukainya.


"Baik, sama teman-temannya khususnya teman wanita. Sama Ratna, Ibu sering lihat kalian berdua kemarin-kemarin sering pergi bareng. Sama Lani anaknya Pak Guru Tejo, Nak Bambang juga sering mengantar jemput, kan?" tanya Bu Rosma, sengaja menyindir.


Bambang tersenyum kecut. 'Sialan! Habis di lambungkan, kini dijatuhkan begitu saja!' umpatnya dalam hati.


Di bangku belakang, Dara asyik mendengarkan musik di ponselnya, sambil berkirim pesan pada sang kekasih hati.


"Mas, aku 𝘰𝘯 𝘵𝘩𝘦 𝘸𝘢𝘺 berangkat ke kota," pesan Dara yang dia kirimkan pada Jaka.


Kebetulan waktu isya' belum tiba, jadi Jaka belum disibukkan dengan rutinitas pengajian di pesantren, sehingga pemuda bertubuh jangkung yang disukai Dara itu bisa langsung membalas pesan dari Dara.


"Malam-malam begini, Dik? Kenapa enggak besok pagi saja?" balas Jaka bertanya. Pemuda itu sepertinya mengkhawatirkan Dara, hingga membuat Dara tersenyum.


Bambang yang sesekali melirik Dara melalui 𝘳𝘦𝘢𝘳 𝘷𝘪𝘴𝘪𝘰𝘯 𝘮𝘪𝘳𝘳𝘰𝘳, mengerutkan kening, tetapi dia tidak berani mengusik Dara karena ada sang ibu.

__ADS_1


"Mas Jaka khawatir, ya?" balas Dara sengaja menggoda.


"Ya pastilah Mas khawatir, Dik. Ini 'kan sudah malam dan kamu perempuan, Dik. Bahaya kalau malam-malam keluar seorang diri," balas Jaka cepat.


"Tenang saja, Mas. Dara diantar pakai mobil, kok," balas Dara menenangkan.


"Oh, syukurlah," balas Jaka yang merasa lega.


"Tumben, Dik. Ayah kamu mau mengantar pakai mobil, biasanya 'kan, kamu disuruh berangkat sendiri?" tanya Jaka merasa heran.


Ya, Pak Gondo juga memiliki mobil, meski tak semahal dan tak sebagus mobil milik Bambang. Tetapi Pak Gondo tidak pernah mau mengantarkan putrinya untuk berangkat ke kost, alasannya agar Dara mandiri.


"Bukan Ayah, Mas, tapi Mas Bambang. Habisnya, ayah maksa. Ya udah,akhirnya Dara mau," balas Dara.


"Tapi Mas Jaka jangan khawatir, ya. Dara ditemani sama ibu, kok," tulis Dara yang segera memberikan penjelasan agar sang kekasih hati tidak berpikir yang bukan-bukan.


"Oh, ya sudah. Alhamdulillah jika kamu sama ibu," balas Jaka.


"Dik, di sini sudah mau adzan isya'. Sambung lain waktu, ya," pamit Jaka kemudian.


"Iya, Mas. Mas Jaka yang sungguh-sungguh belajarnya di sana. Dara akan selalu menunggu Mas Jaka," balas Dara.


Dara hendak menyimpan ponselnya karena mengira, Jaka tidak akan membalasnya lagi. Namun, Jaka ternyata membalas kembali pesannya.


"Simpan dulu rindunya ya, Sayang. Nantikan aku pulang dan membawa banyak rindu serta cinta hanya untukmu."


Dara tersenyum membaca pesan tersebut, dia buru-buru membalas dengan emoticon peluk dan cium sebanyak mungkin.


"Dik Dara, kita antar Ibu dulu, ya?" Pertanyaan Bambang, mengurai senyuman Dara.


"Oh iya, gimana, Mas?" tanya Dara, hingga membuat Bambang merasa cemburu karena sedari tadi melihat Dara senyum-senyum sambil berkirim pesan.


"Kita langsung ke kostan Dara saja, Nak Bambang," sahut Bu Rosma.


Bambang nampak terkejut.

__ADS_1


"Maaf, Bu. Tadi, bukannya Bapak bilang kalau saya harus mengantarkan Ibu dulu ya, ke rumah eyang?" tanya Bambang yang mulai merasa kecewa.


"Ibu pikir-pikir, ini sudah malam, Nak Bambang. Kalau harus ngantar Ibu dulu, nanti Nak Bambang pulangnya kemalaman. Jadi, biar Ibu menginap dulu di kostan Dara dan besok pagi baru ke rumah eyang," terang Bu Rosma.


Bambang mengusap kasar wajahnya. 'Apa-apaan ini! Jauh-jauh aku ke kota mengantarkan Dara, agar bisa merayu dia dan meniduri Kembang Desa itu sepuasnya, tapi malah zonk!' rutuk Bambang.


'Tahu bakalan kayak gini, mending aku terima ajakan anak Pak Sekcam untuk menemaninya nonton konser!' Bambang masih saja merasa kesal.


'Meski Arini enggak secantik Dara, tapi lumayanlah. Bampernya juga gede, pasti mantap goyangannya,' sesal Bambang.


"Enggak apa-apa 'kan, Nak Bambang?" tanya Bu Rosma, yang menoleh ke arah Bambang seraya tersenyum dan mengurai lamunan Bambang.


"Eh iya, Bu. Tidak apa-apa, kok," balas Bambang sembari tersenyum kecut.


'Apes, apes. Padahal, aku udah 𝘱𝘳𝘦𝘱𝘢𝘳𝘦 segala macam,' gumam Bambang dalam hati.


'Apa aku telepon Arini saja, ya? Barangkali dia masih sendiri?' Bambang bermonolog dalam hati.


Bambang tiba-tiba merasa was-was, dia teringat kalau tadi melempar dengan asal karet pengaman yang dia beli di apotik dekat kecamatan di jok belakang.


Bambang celingak-celinguk, khawatir kalau-kalau Dara menemukannya.


"Mas Bambang cari apa? Cari ini?" Dara menunjukkan karet pengaman yang masih bersegel.


Wajah Bambang langsung pias.


"Memangnya, ini buat apa? Mas Bambang 'kan belum nikah, masak pakai alat beginian?" tanya Dara pura-pura polos.


🌹🌹🌹 bersambung,,,


Selamat sore, Bestie


Sambil nunggu Mas Jaka pulang membawa rindu dan cinta yang banyak untuk Dara, yuk mampir di karya keren berikut 👇


Judul : Hasrat Satu Malam with HOT DADDY

__ADS_1


Karya Author kece : Sendi Andriyani 😍



__ADS_2