
"Hanya ciuman, aku janji," ucap Bambang meyakinkan.
Arini yang sudah terlena dengan perlakuan Bambang barusan dan semakin penasaran dengan bagaimanakah rasanya, hanya bisa mengangguk patuh. Gadis itu sama sekali tak menolak, ketika Bambang menuntunnya memasuki Motel.
Setelah mendapatkan kunci kamar nomor satu dengan fasilitas terbaik di Motel tersebut, Bambang menuntun gadis centil yang malam ini memakai pakaian seksi itu menuju kamar yang baru saja dia 𝘣𝘰𝘰𝘬𝘪𝘯𝘨.
Bambang segera membuka pintu kamar dan segera menguncinya kembali. "Mau minum dulu enggak, Dik?" tawar Bambang.
Arini mengangguk.
Bambang segera menghubungi layanan antar di Motel tersebut dan memesan dua botol minuman penghangat. Hanya menunggu beberapa saat, terdengar suara pintu di ketuk dari luar.
Bambang buru-buru membuka pintu. "Taruh di dalam," titah Bambang pada pelayan Motel.
"Baik, Mas," balas pelayan wanita yang bertubuh seksi tersebut.
Bambang kemudian menyelipkan uang tips ke dalam saku pelayan tersebut, seraya meremas salah satu gunung kembar pelayan tesebut karena kebetulan Arini sedang berada di dalam kamar mandi untuk bersih-bersih.
Pelayan seksi itu tersenyum nakal seraya mengerling. "Mas bisa panggil saya seperti biasa, jika belum puas dengan pacar Mas," bisiknya di telinga Bambang.
Bambang tersenyum lebar dan mengangguk senang. "Tentu saja, Sayang," ucap Bambang dan kemudian melabuhkan ciuman sekilas di bibir pelayan seksi tersebut.
Hanya sekilas karena Bambang khawatir, Arini keburu keluar dari kamar mandi dan melihat ulahnya.
Bambang segera mengunci kembali pintu kamarnya, ketika pelayan wanita yang masih muda tersebut telah meninggalkan kamar.
Putra Pak Carik Margono tersebut segera kembali ke sofa untuk menunggu Arini. Baru saja Bambang duduk, Arini telah keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih segar karena habis mencuci muka.
"Seger sekali wajah kamu, Dik," puji Bambang.
Arini tersenyum dan kemudian duduk tepat di samping Bambang. "Iya, Mas. Airnya seger banget, jadi pengin cuci muka," balas Arini jujur.
"Yuk, minum dulu!" ajak Bambang sambil menuangkan minuman dari botol tersebut, ke dalam dua gelas kecil yang berbeda.
Bambang kemudian memberikan salah satu gelas kepada Arini.
"Ini minuman apa, Mas?" tanya Arini.
"Minuman penghangat, karena kita begadang biar enggak masuk angin," balas Bambang.
Arini mengerutkan dahi tetapi tetap meminum juga. "Kok rasanya aneh gini, Mas?" tanya Arini.
__ADS_1
"Iya, Dik. Agak aneh memang, tapi manfaatnya bagus untuk tubuh. Seperti jamu gitu, Dik," terang Bambang dengan serius.
Arini mengangguk-angguk, gadis itu kemudian meminumnya kembali sedikit demi sedikit hingga isi gelas tersebut tandas tak bersisa.
"Tambah ya, biar tubuhmu hangat. Pipimu dingin sekali, soalnya," saran Bambang setelah mengelus pipi Arini yang terasa dingin karena habis terkena air kran.
Arini mengangguk patuh dan dengan senang hati, Bambang mengisi kembali dua gelas yang telah kosong tersebut dengan minuman beralkohol yang kadarnya lumayan tinggi itu.
Gadis centil tapi masih polos dalam hal gemerlap dunia malam itu kembali menurut, ketika Bambang memintanya untuk menghabiskan isi gelasnya.
Bambang yang sudah menahan hasrat semenjak tadi, segera melancarkan aksi. Ia melingkarkan tangannya di pinggang ramping Arini dan menyandarkan dagunya di bahu putri Pak Sekcam tersebut.
"Sayang," panggil Bambang dengan lembut.
"Iya," Arini menoleh, jarak keduanya begitu dekat dan Bambang tak menyia-nyiakan kesempatan itu.
Bambang langsung melu*mat bibir Arini dan salah satu tangannya menekan tengkuk gadis itu untuk memperdalam ciuman, sedangkan tangan yang lain mulai meraba bagian perut Arini yang terbuka.
Pemuda itu terus menye*sap, menghi*sap dan membelit lidah Arini dengan begitu lihai hingga membuat gadis yang sudah mulai ikut larut dalam permainan Bambang tersebut mende*sah manja.
Mengetahui mangsanya semakin menuntut, Bambang melepaskan ciumannya.
Arini nampak kecewa, ia masih membuka mulutnya dan masih mengharap ciuman seperti tadi.
Arini mengangguk pasti.
"Naik sini," pinta Bambang sambil menunjuk pangkuannya.
Arini yang juga sudah diliputi gai*rah, apalagi suhu tubuhnya mulai meningkat akibat minuman yang dia konsumsi barusan, langsung naik ke pangkuan Bambang.
Bambang yang sudah bersiap, segera melahap bibir Arini kembali, kali ini pemuda tersebut melakukannya dengan lebih liar hingga gadis yang berada di atas pangkuannya di buat kewalahan dan tersengal-sengal.
"Ambil napas dulu, Sayang," titah Bambang setelah melepaskan ciumannya. Bambang kemudian meremas gunung kembar milik Arini yang berukuran jumbo karena sepertinya sudah sering diremas oleh tangan-tangan kekar lelaki.
Kembali Arini mende*sah, tatapannya mulai sayu dan mengharap perlakuan lebih dari Bambang.
Bambang yang sudah sangat hafal dengan ekspresi wanita yang mendamba, kembali tersenyum.
Arini berinisiatif untuk mencium laki-laki yang sudah lama di taksirnya itu, tetapi Bambang mencegah. "Sabar dulu, Sayang."
"Kenapa, Mas?" tanya Arini yang nampak kecewa.
__ADS_1
"Bukan di sini tapi di sana," balas Bambang seraya menunjuk ranjang berukuran besar dengan kasur busa yang empuk.
"Kan hanya ciuman dan sedikit bercumbu, Mas. Kenapa harus di sana?" tanya Arini, protes. Gadis itu kini telah kembali duduk di sofa, dan meminum minuman yang baru saja dituang oleh Bambang dari botol kedua.
"Kalau ciuman di sini, gayanya monoton, Sayang. Aku akan ajari kamu gaya yang ekstrem," balas Bambang.
'"Ayo!" ajak Bambang yang langsung menuju pembaringan, setelah mengganti lampu utama dengan lampu tidur.
Pemuda yang sudah hafal dengan berbagai macam lekuk tubuh wanita itu, kemudian membaringkan tubuhnya, ia menanti Arini yang nampak masih ragu.
Bambang merentangkan kedua tangannya. "Naiklah, Sayang," pinta Bambang yang masih mengenakan pakaian lengkap. "Katanya, mau cium aku," tagih Bambang.
Perlahan Arini merangkak naik ke atas tubuh pemuda yang banyak digandrungi gadis di desanya tersebut, termasuk Ratna, putri Pak Kadus.
Bambang memejamkan mata, sengaja memberikan kesempatan pada Arini untuk memulai. Benar saja, Arini langsung melabuhkan ciuman di bibir Bambang. Gadis yang sudah pandai berciuman meski tak selihai Bambang itu mulai bermain-main di atas tubuh kekar Bambang.
Pemuda yang belum lama ini diangkat menjadi ASN itu mulai memainkan perannya, menuntun Arini agar memberikan akses padanya untuk berbuat lebih.
Gadis berhidung mungil itu hanya bisa pasrah dan menuruti semua keinginan Bambang, hingga tanpa Arini sadari, keduanya kini telah sama-sama polos.
Bahkan sebagian tubuh Arini, telah banyak terdapat tanda merah hasil kreasi dari Bambang.
Mulut gadis itu tak henti mende*sah nikmat dan ketika Bambang menghentikan aksinya sebentar, Arini pasti sudah meracau tak karuan dan memintanya lagi.
"Mas, hisap lagi, Mas," pinta Arini dengan wajah memohon.
"Sayang, mau mencoba yang lain, enggak?" tanya Bambang berbisik di telinga Arini.
"Apa, Mas?" tanya Arini penasaran.
Bambang kemudian menuntun tangan Arini agar memegang miliknya, yang telah berdiri dengan sempurna.
Arini memekik tertahan. "Mas, sebesar ini?"
Ini memang bukan pertama kali bagi Arini memegang senjata laki-laki, tetapi jika tanpa penutup ini yang pertama kalinya.
Sebab, selama ini Arini memegang milik pacarnya hanya dengan menelusupkan tangan di celana sang pacar, dan senjata tersebut masih terbungkus ****** *****.
Bambang tak menjawab, tetapi pemuda itu menuntun tangan Arini dan mengarahkan senjatanya untuk bersarang di goa milik Arini.
Meski Bambang telah melakukan pemanasan yang cukup lama dan pemuda itu pun melakukannya dengan perlahan, Arini tetap menjerit tertahan kala miliknya di jebol oleh benda keras milik Bambang.
__ADS_1
"Sakit, Mas," rintih Arini.
🌹🌹🌹 bersambung,,,