Pesona Mas Jaka

Pesona Mas Jaka
Hanya Ciuman


__ADS_3

Wajah Bambang langsung pias.


"Memangnya, ini buat apa? Mas Bambang 'kan belum nikah, masak pakai alat beginian?" tanya Dara pura-pura polos.


"Oh, itu anu, Dik. Itu pesenan ayah, iya, pesenan ayah tadi," kilah Bambang tergagap.


"Kenapa tadi enggak langsung dikasihkan sama ayahnya Mas Bambang? Nanti kalau dicariin gimana?" tanya Dara dengan senyumnya yang sengaja menggoda.


Dara bukanlah gadis kecil yang mudah dibohongi, ia tahu betul meski hanya dari cerita teman-temannya di kampung, pergaulan Bambang itu seperti apa.


Adapun mengenai karet pengaman, Dara juga bukan anak kemarin sore yang tak tahu apa-apa kegunaan alat tersebut. Dara bahkan calon dokter, yang pastinya tahu persis kegunaan dari karet pengaman itu.


Bambang semakin salah tingkah, tetapi dia bersyukur karena mobil yang dikendarainya telah berbelok menuju gang tempat kost-an Dara berada.


"Kita sudah hampir sampai, Dik," ucap Bambang mengalihkan pembicaraan.


Bambang mengarahkan laju mobilnya berbelok menuju rumah yang berhalaman cukup luas, dia kemudian memarkirkan mobil tepat di depan salah satu pintu sesuai arahan Bu Rosma.


Rupanya, kost-kostan Dara terletak paling ujung. Masing-masing kamar langsung menghadap halaman dan di teras terdapat sepasang meja kursi dari rotan.


Dara segera turun dari mobil, sambil membawa tas punggung kecil miliknya dan tas pakaian kecil milik sang ibu.


"Ayo Nak Bambang, turun dulu!" ajak Bu Rosma.


"Maaf, Bu. Saya langsung saja, takut kemalaman," tolak Bambang beralasan.


"Beneran, ndak mau ngopi-ngopi dulu," tawar Bu Rosma.


"Lain kali saja, Bu." Kembali Bambang menolak.


"Ya sudah, ibu turun dulu. Terimakasih sudah bersedia mengantarkan Dara ya, Nak Bambang," ucap Bu Rosma yang kemudian segera turun.


Bambang hanya mengangguk dan memasang wajah full senyum, meski dalam hati merutuk karena keinginannya tak kesampaian.


Dara hanya melambaikan tangan, ketika kaca jendela mobil Pejero Sport keluaran terbaru tersebut dibuka oleh sang empunya. Dan Bambang membalasnya dengan tersenyum masam.


Mobil Bambang segera meninggalkan halaman kost-kostan Dara, Bambang terus melajukan mobilnya hingga ke jalan besar.


Pemuda itu menepikan sebentar mobilnya untuk menelepon seseorang. 'Aku harus segera telepon Arini, semoga tawarannya masih berlaku,' gumam Bambang sambil mendial nomor putri Pak Sekcam.

__ADS_1


"Halo Arin, Sayang. Jadi nonton konser ke kota?" tanya Bambang begitu panggilannya diterima oleh Arini.


"Jadi dong, Mas. Ni Arin lagi ngantri untuk masuk, konsernya bentar lagi mulai," balas Arini di seberang sana.


"Kamu sama siapa?" tanya Bambang.


"Sama Atun, habisnya diajakin pada enggak mau. Mas Bambang juga bilang kalau malam ini enggak bisa," balas Arini yang terdengar merajuk.


"Kalau mas sekarang nyusul, boleh enggak? Kebetulan mas lagi di kota, tapi enggak jadi, deh. Kamu 'kan udah sama Atun, enggak enak kalau ganggu kalian," pancing Bambang.


"Eh, enggak ganggu, kok. Mas Bambang kesini aja, lagipula Mbak Atun juga enggak suka nonton ginian. Dia mau balik ke kostan aja katanya," balas Arini cepat.


"Mas buruan ke sini, yah. Arin tunggu," lanjut Arini yang terdengar penuh semangat.


"Oke, Sayang. Aku meluncur ke sana sekarang," pungkas Bambang yang segera menutup ponselnya dan kembali melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.


Setelah menempuh perjalanan sekitar lima belas menit, Bambang tiba di tempat konser tersebut.


Di pintu masuk, Atun teman SD Arini yang bekerja di kota nampak telah menunggu kedatangan Bambang bersama seorang pemuda.


"Mas Bambang, ini tiketnya. Arin udah nunggu di dalam," sambut Atun kala jarak Bambang sudah dekat.


Atun menggeleng. "Engga, Mas. Atun enggak suka konser musik, Atun mau nonton Bioskop sama Mas Rudi," balas Atun seraya menunjuk pemuda yang sedari tadi menempel padanya.


Bambang mengangguk seraya tersenyum. "Baiklah, aku masuk dulu," pamit Bambang, yang bergegas masuk ke dalam Hall.


Suasana di dalam sana begitu meriah, hingar bingar suara musik terdengar memenuhi gendang telinga. Bambang celingak-celinguk, mencari-cari keberadaan kursi sesuai dalam tiket.


Netra Bambang langsung tertuju ke arah seorang gadis yang berpakaian seksi, yang melambaikan tangan padanya.


Bambang segera mendekati Arini yang duduk di bangku bagian tengah dan kemudian duduk tepat di samping Arini.


"Maaf, ya. Sedikit terlambat," ucap Bambang yang sengaja berbisik di telinga Arini, seraya meniup pelan telinga gadis itu, hingga membuat darah Arini berdesir.


Pipi gadis berkulit putih itu menjadi merona dan Bambang bisa melihatnya dengan nyata, Bambang tersenyum.


Pemuda itu sengaja duduk mepet-mepet pada Arini, Bambang juga berani meletakkan tangannya di pangkuan Arini. Sesekali, tangan nakal itu meremas paha Arini yang tertutup rok tutu sebatas lutut, yang jika gadis itu duduk maka roknya otomatis terangkat naik dan memperlihatkan pahanya yang putih dan mulus.


Bambang menelan saliva, melihat kemulusan paha gadis di sebelahnya. Meski Bambang sudah sering mencicipi banyak wanita, tetapi Arini sangat berbeda.

__ADS_1


Jelas, karena Arini rajin perawatan di klinik kecantikan setiap bulannya. Ayahnya yang seorang Sekcam dan sang ibu pemilik dari klinik kecantikan, pastilah apapun yang diinginkan anak bungsu Pak Sekcam tersebut keturutan.


Bambang kembali meremas paha Arini, seraya menatap gadis berwajah oval disampingnya dengan tatapan penuh gairah. Bambang juga mulai berani mencium pipi Arini.


Arini yang sudah lama naksir sama Bambang, tentu saja tak menolak setiap sentuhan yang diberikan oleh pemuda itu. Apalagi, ini bukan pertama kalinya Arini pacaran dan gaya pacarannya termasuk bebas.


"Sayang, kita keluar, yuk!" ajak Bambang berbisik, deru napas pemuda itu terdengar berat. Bambang nampaknya mulai diliputi gairah.


Arini bagai kerbau yang dicocok hidungnya, gadis itu menurut dan mengikuti langkah panjang Bambang keluar dari Hall.


Bambang mengajak Arini menuju mobil dan dengan tidak sabar, Bambang segera melajukan kuda besinya menuju sebuah motel di pinggir kota langganan Bambang.


Arini memang bukan gadis polos, ciuman adalah hal biasa baginya, tetapi jika sampai ke tempat penginapan, ini yang pertama bagi putri Pak Sekcam tersebut.


"Mas, kenapa kita ke sini?" tanya Arini yang mulai takut.


"Jangan khawatir, Sayang. Aku enggak akan berbuat macam-macam," jawab Bambang.


"Jangan, Mas. Kita pulang saja," tolak Arini.


Bambang tak kehilangan akal. "Sayang," panggil Bambang seraya menatap dalam netra Arini.


Arini terbius oleh tatapan mata elang Bambang yang tajam, bak seekor elang yang sedang mengincar anak ayam.


Bambang mulai mendekatkan wajahnya, menempelkan hidung mancungnya pada hidung mungil Arini dan memangkas jarak keduanya.


Pemuda itu kemudian mulai ******* bibir seksi Arini, ******* yang awalnya lembut perlahan berubah menjadi liar dan menuntut. Tangan Bambang pun mulai beraksi di bukit kembar Arini, membuat gadis itu mendesah perlahan.


Tiba-tiba, Bambang mengakhiri ciumannya.


"Sayang, yang barusan itu belum seberapa. Aku bisa mengajari kamu ciuman yang lebih mengasyikkan di dalam sana, ayo!" ajak Bambang dengan tatapan lembut, seraya mengusap bibir Arini dengan ibu jarinya.


Arini nampak masih ragu tetapi rasa penasaran menguasainya.


"Hanya ciuman, aku janji," ucap Bambang meyakinkan.


Arini yang sudah terlena dengan perlakuan Bambang barusan dan semakin penasaran dengan bagaimanakah rasanya, hanya bisa mengangguk patuh. Gadis itu sama sekali tak menolak, ketika Bambang menuntunnya memasuki Motel.


🌹🌹🌹 bersambung,,,

__ADS_1


__ADS_2