Pesona Mas Jaka

Pesona Mas Jaka
Bertemu dalam Mimpi


__ADS_3

"Jangan ditutup, Mas. Dara pengin tahu, siapa yang menggedor rumah Mas," pinta Dara yang nampak khawatir.


"Baiklah, aku alihkan ke panggilan biasa, ya," balas Jaka.


Dara mengangguk.


"Aku keluar dulu, Neng," pamit Jaka.


Pemuda itu kemudian segera keluar untuk melihat siapa yang telah menggedor pintu rumahnya tengah malam seperti ini.


Ketika Jaka membuka pintu kamarnya, nampak sang ayah telah membuka pintu luar yang disusul oleh Mak Karti yang berjalan tergopoh-gopoh sambil membetulkan hijab.


"Mak, siapa yang datang?" tanya Jaka yang langsung menyusul langkah ibunya.


"Mak juga belum tahu, Nang," balas Mak Karti.


"Mana Jaka?" Suara teriakan Bambang menggema di udara begitu Pak Karyo membuka pintu rumahnya.


"Nak Bambang?" Pak Karyo mengerutkan dahi. "Silahkan masuk dulu, Nak," pinta Pak Karyo yang dapat menangkap gelagat tidak baik dari putra Pak Carik tersebut.


"Tidak perlu!" tolak Bambang dengan ketus. "Saya hanya ingin bicara sama dia!" tunjuk Bambang pada Jaka yang berdiri di samping sang ibu.


"Ada apa, Mas?" tanya Jaka, "Kita bicara di dalam saja, yuk!" ajaknya dengan ramah.


"Malam ini juga, kamu harus pergi dari desa ini! Jangan berani-berani kamu menikahi Dara karena dia hanya milikku!" seru Bambang dengan begitu lantang.


Rupanya, Bambang yang baru saja mencuri dengar obrolan Professor Hartadi dengan ayahnya bahwa Dara akan menikah dengan Jaka, sehari lebih cepat darinya itu tidak terima dan kemudian mendatangi rumah Pak Karyo dengan penuh amarah.


"Mas, bukankah lusa Mas Bambang akan menikah dengan putrinya Pak Sekcam?" tanya Jaka yang diliputi rasa khawatir, Bambang akan membatalkan pernikahannya dengan Arini yang dapat berimbas pada rencana pernikahan Jaka dengan Dara.

__ADS_1


"Ya, aku memang akan menikah dengan Arini tapi itu karena terpaksa. Setelah menikah, akan aku buat Arini tidak betah menjadi istriku agar dia menuntut cerai agar aku bisa segera menikah dengan Dara!" tegas Bambang dengan tersenyum seringai.


"Karena itu, pergilah jauh-jauh malam ini juga!" titah Bambang seraya melemparkan tas punggung berwarna hitam yang penuh dengan lembaran uang merah ke arah Jaka.


Tas tersebut sengaja tidak Bambang tutup, sehingga isinya berhamburan keluar dan jatuh di lantai rumah Jaka.


"Ambil uang itu! Pergilah kalian semua!" Bambang menunjuk Pak Karyo dan juga Mak Karti, dua orang tua Jaka yang sedari tadi hanya bisa mengelus dada melihat sikap arogan Bambang.


"Anggap saja, itu uang pembayaran rumah ini dan seluruh isinya! Termasuk tanah pekarangan, domba dan juga sawahmu!" Sekali lagi, Bambang menunjuk wajah Pak Karyo dengan jari telunjuknya.


Jaka menggeleng tegas. "Kami tidak akan pergi dari rumah kami sendiri," tolak Jaka. "Dan Jaka akan tetap menikahi Neng Dara," lanjutnya dengan suara lantang.


"Silahkan bawa pulang kembali uang Mas Bambang!" imbuhnya seraya mengambil tas punggung hitam yang tadi jatuh tepat di bawah kakinya dan kemudian menyodorkan tas tersebut ke hadapan Bambang.


Sementara Mak Karti sibuk memunguti lembaran uang kertas berwarna merah yang jatuh dan setelah terkumpul semua, beliau serahkan uang tersebut kepada Bambang.


"Benar apa yang dikatakan anak kami, Jaka. Kami tidak akan menjual rumah dan lahan kami," tegas Mak Karti.


Pak Karyo menggeleng. "Bahkan jika Nak Bambang membayarnya sepuluh kali lipat, kami tetap tidak akan melepasnya!" tegas Pak Karyo, yang membuat Bambang semakin geram.


"Kalian ini benar-benar keluarga yang tidak tahu diri! Sudah miskin, sombong pula!" Tatapan Bambang begitu sinis, menatap Jaka dan kedua orang tuanya bergantian.


"Baiklah, jika dengan cara baik-baik aku tidak bisa mengusir kalian, jangan pernah menyesal jika sesuatu hal buruk terjadi, entah pada ternak domba milik kalian, tanaman padi dan sayur atau rumah kalian!" ancam Bambang dengan rahang yang mengeras dan kedua tangan terkepal sempurna, putra Pak Carik tersebut telihat sangat marah.


Ya, rupanya Bambang sudah membuat 𝘱𝘭𝘢𝘯𝘯𝘪𝘯𝘨 B untuk membuat Jaka dan keluarganya pergi dari desanya, dengan merusak dan membumihanguskan semua milik keluarga Pak Karyo.


"Kami tidak takut dengan ancaman kamu, Nak Bambang. Semua yang kami miliki hanyalah titipan dari Yang Maha Kuasa, jika memang Allah berkehendak untuk mengambilnya maka kami pun tak bisa mencegah." Pak Karyo menatap Bambang dengan tatapan teduh.


"Satu hal yang harus Nak Bambang pahami, jika memang harta itu masih diamanahkan kepada kami, niscaya cara apapun yang akan Nak Bambang tempuh, tidak akan pernah berhasil," tutur Pak Karyo dengan suara yang terdengar sangat bijak.

__ADS_1


Tepat disaat Pak Karyo menyelesaikan penuturannya, nampak sorot lampu mobil berbelok menuju halaman rumah Pak Karyo.


Semua mata tertuju ke arah lampu mobil yang masih menyorot, nampak Pak Carik, Professor Hartadi dan Pak Kades turun dari dalam mobil milik Pak Kades tersebut.


"Bambang, apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Pak Carik dengan meninggikan suaranya.


"Ayah?" Bambang nampak sangat terkejut. 'Kenapa mereka bisa tahu kalau aku ada di sini? Bukannya tadi, mereka sudah masuk ke dalam kamar masing-masing? Dan aku pergi juga dengan naik motor secara diam-diam?' Bambang mengerutkan dahi dengan dalam.


Pak Carik kemudian menyeret tangan sang putra dan membawa Bambang masuk ke dalam mobil Pak Kades, tanpa kata. Hingga membuat kedua orang tua Jaka, bingung dengan apa yang dilihatnya.


"Maaf, Nak Jaka, jika kami terlambat," tutur Professor Hartadi, mewakili Pak Kades yang hanya mematung ditempatnya.


Ayah Dara itu terlihat canggung di hadapan calon besannya. Antara malu, sungkan dan senang bercampur menjadi satu.


"Maaf, Professor dan Pak Kades tahu dari mana kalau Mas Bambang ada di sini?" tanya Jaka tak mengerti.


"Dara yang mengatakan pada ayah, kalau Bambang menggedor rumahmu sambil marah-marah. Kalian tadi teleponan, kan?" balas Pak Kades mengingatkan Jaka, ayah Dara itu kembali menyebut dirinya ayah di hadapan Jaka.


Pak Karyo dan Mak Karti yang mendengar penuturan Pak Kades yang terdengar lebih santun dari biasanya, tersenyum bahagia.


Jaka yang baru menyadari bahwa dirinya masih memegang ponsel langsung teringat akan Dara. Jaka mengecek ponselnya dan benar saja, panggilan dari Dara tadi masih berlangsung.


"Maaf, saya tutup telepon sebentar ya," pamit Jaka yang langsung menjauh.


"Neng, udah dulu, ya. Cepetan bobok dan mimpi indah bersama Mas."


"Iya, Mas. Mas Jaka nanti juga langsung tidur ya, semoga nanti kita bisa bertemu dalam mimpi," balas Dara.


"Ehm ...." Suara dehaman mengagetkan Jaka, yang langsung menutup teleponnya.

__ADS_1


🌹🌹🌹 bersambung,,,


__ADS_2