
'Gini ya ternyata, rasanya sudah menjadi pasangan halal. Bisa berdua-duaan ditempat gelap,' batin Dara seraya tersenyum dalam hati.
Sepasang pengantin baru itu masih saling mencumbu dan menikmati kehangatan yang penuh kasih. Suara-suara aneh yang ditimbulkan oleh angin yang menerpa dedaunan kering, sama sekali tidak mengganggu kemesraan mereka berdua.
Kemesraan mereka berdua terhenti, ketika terdengar tawa cekikikan dari arah tanah kosong persis di sisi kiri mereka.
"Mas, i-itu suara apa?" tanya Dara yang ketakutan. Istri imut Jaka itu langsung memeluk erat sang suami.
"Jangan takut, Neng. Itu 'kan suara Parmince, Neng. Orang stress tetangga desa kita," balas Jaka seraya mengusap lembut punggung sang istri.
"Oalah, Dara pikir setan tadi," ucap Dara sambil melerai pelukannya.
"Hari gini, Neng. Setannya sudah pada menyingkir ke tengah hutan, malas mereka berkeliaran di sini karena sudah tidak ada lagi yang mempan untuk di goda." Jaka tersenyum seraya menatap wajah sang istri yang terlihat seksi di keremangan malam.
"Kok bisa?" Dara mengerutkan dahi.
"Iya, Neng. Godaan setan sekarang kalah sama godaan ponsel," balas Jaka terkekeh pelan, yang langsung mendapatkan cubitan mesra dari sang istri tercinta di perutnya yang rata.
"Aduh, Neng. Kok nyubit!" protes Jaka.
"Habisnya, Mas Jaka ngomongnya asal," balas Dara cemberut.
Melihat sang istri mengerucutkan bibir, Jaka tak kuasa untuk tidak melahapnya kembali. Namun, Dara buru-buru menghindar.
"Kita pulang sekarang, Mas," pinta Dara. "Dara takut, nanti beneran ada setan," lanjutnya bergidik.
"Enggak bakalan ada, Neng. Kalaupun ada setan dan dia melihat kita lagi bermesraan, setannya bakalan langsung kabur dan cari pasangan karena ingin melakukan hal yang sama seperti kita, Neng," balas Jaka yang semakin malam semakin absurd.
Dara kembali mencubit perut sang suami.
"Aw ... Neng, kenapa demen banget sih, Neng, nyubit perut mas," kembali Jaka protes.
"Mau, yang dicubit yang di bawah perut?" ancam Dara.
"Eh jangan, Neng. Kalau yang itu di gigit saja ya, nanti," pinta Jaka tersenyum, pemuda itu memainkan kedua alisnya turun naik.
"Ya makanya, ayo, cepetan pulang!" ajak Dara seraya tersenyum tersipu.
Beruntung, malam semakin gelap, bintang-bintang mulai tertutup mendung yang bergelayut manja di atas cakrawala. Sehingga Jaka tak bisa melihat pipi Dara yang bersemu merah.
__ADS_1
"Ayo, Sayang." Jaka segera membetulkan posisi dan duduk dengan benar di bagian depan. "Peluk mas ya, yang erat biar hangat," pintanya dengan senyum menggoda.
Dara mengangguk patuh.
Setelah memastikan sang istri memeluk perutnya, Jaka kemudian segera melajukan motor matic untuk pulang ke rumah orang tuanya.
Hanya sepuluh menit dengan kecepatan empat puluh kilometer per jam, Jaka dan Dara sudah sampai di kediaman sederhana milik orang tua Jaka.
Wajah Jaka langsung berubah menjadi masam, kala melihat mobil teman baiknya masih terparkir di halaman rumahnya.
"Kenapa, Mas?" tanya Dara setelah turun dari motor dan mendapati wajah kesal sang suami.
"Mereka masih di sini, Neng," balas Jaka tak bersemangat. "Ayo, Neng!" Jaka kemudian menggandeng mesra tangan sang istri untuk memasuki rumah.
"Assalamu'alaikum," ucap salam Jaka, menyapa semua orang yang berada di dalam.
"Wa'laikumsalam," jawab Pak Karyo, Mak Karti dan ketiga sohib Jaka dengan kompak.
"Panjang umur dia, baru saja dibicarakan," ucap Joni.
"Kalian ngrasani aku?" tanya Jaka. Pemuda itu kemudian mendudukkan sang istri di samping orang tuanya, semetara Jaka duduk di samping Rifa'i yang masih tersedia bangku kosong.
"Aku berani taruhan, paling cuma dua gol dan si Dara sudah nyerah!" bisik Joni yang kemudian terkekeh pelan.
"Kalau menurutku, cuma sekali karena Jaka tipe laki-laki yang tidak terlalu besar libidonya," sahut Teddy dengan kalem.
"Apanya?" sahut Rifa'i yang nampak tidak setuju dengan Teddy. "Aku jamin, Jaka kuat semalam suntuk dan Dara pasti bisa mengimbangi," lanjutnya dengan penuh semangat.
"Apa sih, kalian! Gak jelas semua!" gerutu Jaka.
Ketiga teman Jaka masih melanjutkan ngobrol dan meledek Jaka dengan berbisik, sementara Dara berbincang dengan kedua orang tua Jaka.
"Nak Dara, ayo istirahat dulu di kamar kalian! Biar saja nanti suamimu nyusul kalau teman-temannya sudah pada pulang," ajak Mak Karti dengan lembut.
"Iya, Nak Dara. Bapak juga mau istirahat, sudah capek," timpal Pak Karyo yang langsung beranjak.
"Nak Teddy, Nak Joni, Nak Rifa'i, kami istirahat dulu, ya," pamit Mak Karti, mengabsen satu persatu temannya Jaka.
"Jangan malam-malam tidurnya, besok biar bisa ikut jama'ah sholat shubuh," pesan sekaligus usir Pak Karyo dengan halus karena ayahnya Jaka itu sudah sangat paham dengan kebiasaan teman-temannya Jaka, jika mereka berempat sudah berkumpul pasti akan ngobrol sampai larut malam.
__ADS_1
"Iya, Mak. Siap, Pak," balas Mereka bertiga dengan kompak.
"Aku masuk dulu sebentar, ya," pamit Jaka yang langsung menyusul istrinya.
Jaka kemudian menuntun sang istri menuju kamar mereka, sementara Pak Karyo dan Mak Karti menuju kamarnya di bagian belakang.
"Sayang, ini kamar kita. Maaf ya, hanya seadanya seperti ini," ucap Jaka sambil mendudukkan sang istri di ranjang kayu miliknya yang berukuran sedang.
"Tidak mengapa, Mas. Dimana saja dan bagaimanapun kondisinya, asalkan sama Mas, Dara pasti bahagia," balas Dara seraya tersenyum tulus, membuat hati Jaka membuncah bahagia.
"Terimakasih istriku," ucap Jaka yang kemudian melabuhkan ciuman di kening sang istri.
Jaka hendak mencium bagian wajahnya yang lain, tetapi Dara mencegah. "Masih ada teman-teman di luar, Mas keluar dulu sana. Enggak enak 'kan sama mereka, ntar mereka mikirnya kita macam-macam lagi." Dara mendorong pelan dada sang suami.
"Ya biarin aja, Neng. Enggak masalah juga 'kan, kita macam-macam? 'Kan udah halal, Neng?" Jaka tersenyum seraya membelai lembut pipi Dara.
"Mas gemes sama kamu, Neng," bisik Jaka yang mendekatkan wajahnya pada wajah Dara. "Mas gak sabar pengin ...."
"Jaka!" panggilan dari teman Jaka, menjeda ucapan suami Dara tersebut.
"Ck," kesal Jaka berdecak, sementara Dara tersenyum seraya mengusap dada bidang sang suami.
"Yang sabar, Mas. Mereka lagi cari perhatiannya, Mas," bujuk Dara penuh perhatian.
Jaka yang awalnya merasa enggak enak jika sang istri terganggu dengan kehadiran teman-temannya itu, tersenyum lega.
"Jadi, enggak apa-apa, kalau mas keluar dan temani mereka dulu?" tanya Jaka memastikan.
Dara mengangguk. "Iya, Mas. Enggak apa-apa, kok," balas Dara.
"Ya, sudah. Neng Dara istirahat dulu ya, tapi jangan tidur dulu karena mas mau beribadah sama kamu," pinta Jaka yang kembali mencubit gemas pipi sang istri.
Pemuda itu kemudian melabuhkan ciuman sekilas di bibir tipis istrinya. Ya, benar-benar sekilas karena nama Jaka kembali dipanggil oleh teman-temannya yang gesrek akut.
🌹🌹🌹 bersambung,,,
Yuk, yang belum masuk GC, gerbangnya dah aku buka lebar ya... 🥰
"
__ADS_1