Pesona Mas Jaka

Pesona Mas Jaka
Ayo, Layani Aku


__ADS_3

"Jangan terlalu percaya diri, Mas. Cinta itu masalah hati dan hati Dara telah terpaut pada sosok Mas Jaka," balas Dara, yang memberanikan diri menatap tajam pemuda yang terus mendekatkan wajahnya.


Bambang mengeraskan rahangnya, pemuda itu terlihat sangat marah.


Pemuda itu semakin mendekatkan wajahnya, bahkan aroma napas Bambang yang bau rokok, tercium jelas oleh Dara dan hal itu membuat perut Dara menjadi mual. Gadis itu memang tidak tahan dengan aroma asap rokok.


Dara menutup mulutnya. "Mas, tolong cepat buka pintunya, Dara mau muntah!" pinta Dara, yang kesulitan membuka handle pintu karena terkunci secara otomatis.


Bambang tersenyum seringai. "Jangan mencari-cari alasan, Dik. Karena aku akan memberimu tanda jadi dengan sebuah ciuman. Ya, sebuah ciuman manis yang akan membuatmu ketagihan," ucap Bambang yang kini wajahnya hanya berjarak beberapa inci saja dari Dara.


Dara masih menutupi mulutnya, sensasi rasa mual semakin menyeruak dan ingin segera dimuntahkan. "Jangan salahkan Dara, jika Dara muntah di wajah Mas Bambang!" seru Dara, yang semakin rapat membekap mulutnya sendiri.


Dara masih berusaha membuka pintu mobil tersebut, keringat dingin mengucur deras di keningnya karena menahan mual di perut. Tangan Dara bahkan sampai bergetar.


"Jangan bercanda, Dara! Aku bahkan bisa melakukan hal yang lebih dari sekadar menciummu, jika kamu pura-pura seperti ini!" hardik Bambang.


Reflek, Dara memuntahkan isi dalam perutnya sambil menunduk hingga kaki Dara kotor terkena muntahannya sendiri.


Tangan Bambang yang tidak mau minggir pun, terkena muntahan Dara.


"Dara! Apa-apaan ini! Kamu muntah di dalam mobilku!" teriak Bambang sambil mengelap tangannya dengan tissue.


Dara memejamkan mata, dia sudah tak perduli lagi meski kakinya kotor. Dara juga tak peduli mendengar Bambang yang terus menggerutu.


Gadis imut itu masih memejamkan mata sambil menikmati sensasi rasa mual di perutnya yang belum mereda, air mata Dara bahkan sampai keluar.


Sementara Bambang masih menggerutu, sambil membersihkan tangannya. 'Sialan! Malam minggu apa ini! Bukannya dapet yang enak-enak, malah apes!'


"Maaf, Dara sudah bilang sama Mas Bambang sebelumnya, bahwa Dara ingin muntah. Tapi Mas Bambang tidak percaya dengan Dara," ucap Dara lemah, masih dengan mata terpejam.


Bambang menghela napas kasar. 'Untung saja kamu cantik, Dara. Kali ini aku maafkan, tapi tidak jika lain kali kamu membuatku kecewa lagi. Kamu akan langsung aku sikat,' batin Bambang, sambil melirik dada Dara yang menonjol.


"Sebaiknya, kita pulang saja, Dik. Aku tidak mau jika kamu sampai sakit dan disalahkan oleh kedua orang tuamu," ucap Bambang dengan wajah masam.

__ADS_1


Putra Pak Carik tersebut segera memutar balik mobilnya dan melajukan mobil mahal itu dengan kecepatan tinggi agar bisa segera sampai ke rumah Dara.


Setibanya di halaman rumah Pak Kades yang luas, Dara segera turun dan berlari menuju halaman samping dimana ada kran air yang biasa dipakai untuk menyiram tanaman.


Dara kembali memuntahkan isi di dalam perutnya, yang belum benar-benar habis.


Bu Rosma yang mendengar suara deru mesin mobil berhenti tepat di halaman rumahnya langsung keluar, beliau kemudian menuju ke arah suara Dara yang terdengar muntah-muntah.


"Ya Allah, Dara. Kamu kenapa, Nduk?" tanya Bu Rosma panik, sambil memijat tengkuk Dara.


Tentu saja Dara tak bisa menjawab, sementara Bambang yang tadi ikut turun hanya berdiri termangu di samping mobil.


Setelah isi di dalam perut Dara terkuras habis, gadis itu kemudian mencuci kakinya dari kotor terkena muntahannya tadi di dalam mobil.


"Dara sepertinya masuk angin, Bu," balas Dara beralasan, masih sambil membersihkan kakinya. Dara tak ingin menceritakan kejadian yang sebenarnya pada sang ibu, karena tak ingin membuat ibunya menjadi khawatir.


"Bu, tolong ibu suruh Yu Sarti untuk membersihkan mobil Mas Bambang. Tadi Dara muntah di dalam sana, Bu," pinta Dara seraya menunjuk mobil Bambang.


"Iya, iya. Ibu akan panggil Sarti," balas sang ibu.


Bambang menggeleng. "Tidak perlu, Bu. Biar nanti dibersihkan bi Irah saja di rumah," tolak Bambang masih dengan wajahnya yang masam.


"Bambang, pamit dulu, Bu. Sudah malam," pamit Bambang kemudian, yang sebenarnya hanya mencari alasan agar bisa segera pulang ke rumahnya.


'Aku butuh pelampiasan sekarang, aku harus segera pulang,' geram Bambang dalam hati.


"Sekali lagi, atas nama Dara ibu minta maaf ya, Nak Bambang," tutur Bu Rosma dengan lembut.


Kembali Bambang mengangguk. "Tidak mengapa, Bu. Namanya juga tidak disengaja, ya kan, Dik," ucap Bambang seraya menoleh ke arah Dara yang sudah selesai membersihkan kakinya.


Dara yang berdiri di samping sang ibu tersenyum samar. "Maaf ya, Mas," pinta Dara pelan.


Bambang pun terpaksa tersenyum, meski tetap terlihat masam.

__ADS_1


Pemuda itu kemudian segera naik ke dalam mobil, ia buka semua kaca jendelanya agar aroma muntahan Dara yang masih di dalam mobilnya tersamarkan.


Bambang segera memacu kuda besinya meninggalkan halaman kediaman Pak Kades untuk segera pulang.


Setibanya di rumah, Bambang turun dengan tergesa dan menutup pintu mobilnya dengan keras. Pemuda itu terlihat sangat emosi, emosi yang ditahannya semenjak tadi karena tak ingin Dara mengetahui sikapnya yang temperamen.


Bambang berteriak memanggil pembantu di rumahnya yang sangat besar. "Bi Irah!"


Seorang wanita paruh baya, berjalan tergopoh-gopoh menghampiri putra sang majikan.


"Nggih, Mas Bambang," balas Bi Irah setelah berada tepat di hadapan Bambang.


"Panggilkan anak-anak Bibi, Kamto suruh membersihkan mobil saya bagian dalam, tadi Dara muntah di sana. Dan Rully, suruh ke kamar saya segera, saya lelah dan pegal semua. Saya mau dipijat," titah Bambang yang terdengar sangat otoriter.


Bi Irah hanya bisa mengangguk dan segera berlalu dari hadapan Bambang untuk memanggil kedua anaknya yang tinggal di rumah Pak Carik bagian belakang.


Ya, keluarga Bi Irah numpang di rumah Pak Carik yang kaya raya itu karena Bi Irah tidak memiliki rumah tinggal. Beliau pernah memiliki rumah kecil yang terbuat dari bambu, tetapi ketika ada angin ****** beliung rumah yang ditempati bersama kedua anaknya itu luluh lantah dan tak bisa dibetulkan lagi.


Pihak desa bersama warga yang membantu, sedang mengupayakan untuk membangun kembali rumah Bi Irah tentunya dengan bangunan yang lebih layak. Dan untuk sementara waktu, Bi Irah numpang berteduh di kediaman Pak Carik selaku majikannya.


Bambang bergegas masuk ke dalam rumahnya sendiri, yang berada tepat di samping rumah besar milik orang tuanya. Pemuda itu memang telah memiliki rumah sendiri, agar dia lebih bebas untuk pergi dan pulang sesuka hatinya.


Baru saja Bambang masuk ke dalam rumah, di belakangnya Rully, putri sulung Bi Irah telah menyusul masuk. "Mas Bambang manggil Rully?" tanya Rully seraya tersenyum manis.


Rully sudah paham apa yang harus dia lakukan, jika putra majikan sang ibu itu memanggil dirinya. Dia yang hanya seorang gadis miskin dan terobsesi pada Bambang, cukup merasa bahagia kala Rully bisa menyenangkan pemuda pujaannya itu.


Meski Rully hanya dimanfaatkan Bambang untuk menyalurkan hasratnya, kala tiba-tiba keinginan itu datang tak terbendung dan Bambang tak bisa pergi kemana-mana untuk kencan dengan salah satu pacarnya, putri Bi Irah itu tetap merasa sangat berharga di mata Bambang karena dipilih oleh pemuda itu.


Cukup dengan memberikan alasan pada Bi Irah bahwa dirinya butuh bantuan Rully untuk dikerok atau dipijat, maka Bambang akan mendapatkan servis plus-plus dari gadis polos tersebut.


"Iya. Ayo, layani aku!" ajak Bambang yang langsung menarik tangan Rully untuk masuk ke dalam kamarnya.


Gadis yang hanya tamatan Sekolah Menengah Pertama itu menurut dan langsung memeluk pinggang Bambang, melangkah masuk ke dalam kamar pribadi putra Pak Carik dengan senyum merekah.

__ADS_1


🌹🌹🌹 bersambung,,,


__ADS_2