Pesona Mas Jaka

Pesona Mas Jaka
Bapak Tidak Setuju


__ADS_3

"Suara lenguhan panjang keduanya, mengakhiri sesi panjang kuda-kudaan ala Bambang dan Arini. Napas keduanya tersengal dengan keringat yang bercucuran, membasahi tubuh polos mereka berdua.


Baru saja Bambang berguling ke samping, terdengar pintu kamar tersebut dibuka dari luar.


"Arin!" seru mamanya Arini yang berteriak, wanita anggun itu sangat terkejut melihat keadaan sang putri yang tanpa busana dan disamping Arini, ada seorang pemuda yang juga sama polosnya dengan sang putri.


Jaka dan Dara yang mendengar suara jeritan Tante Risa, langsung nyelonong masuk karena khawatir terjadi apa-apa. Pasangan kekasih itu tak kalah terkejut dengan mamanya Arini melihat pemandangan vulgar di dalam kamar Arini, meski ini semua adalah bagian dari rencana mereka berdua.


Jaka dan Dara tak pernah menyangka, jika Bambang dan Arini akan bermain sangat vulgar seperti yang mereka berdua lihat barusan.


Arini langsung menarik selimut dan menutupi tubuhnya dan tubuh Bambang. "Ma, A-Arin bisa jelaskan semua, Ma," ucap Arini tergagap.


Sementara Bambang menatap Dara yang tadi segera membuang pandangannya ke arah lain, dengan tatapan yang sulit diartikan. Takut, menyesal dan khawatir menjadi satu.


"Ada apa, ini?" tanya papa Arini yang tadi sempat ditelepon oleh sang istri sebelum meninggalkan klinik, agar suaminya itu pulang terlebih dahulu untuk melihat keadaan sang putri yang tadi pagi sewaktu ditinggal dalam keadaan kurang sehat.


Di belakang Pak Sekcam, menyusul Pak Kades yang tadi juga ditelepon Dara agar segera ke rumah Pak Sekcam, setelah Dara mendengar mamanya Arini menelepon suaminya.


Netra Pak Kades membulat sempurna melihat wajah Bambang, yang masih berbaring disamping Arini dengan wajah pucat pasi.


"Lihatlah putri kita, Pa," isak Tante Risa seraya menutup wajahnya.


Wajah Pak Sekcam merah padam melihat keadaan sang putri yang tertangkap basah, melakukan perbuatan asusila di siang hari seperti ini. "Cepat kalian kenakan pakaian dan temui saya di ruang depan!" geram Pak Sekcam yang kemudian segera menuntun sang istri keluar dari kamar putrinya.


Pak Kades, Dara dan Jaka telah keluar terlebih dahulu dan menunggu sang tuan rumah di ruang tamu.


"Maaf, Pak Ratno. Sebenarnya kedatangan saya yang menyusul Pak Ratno ke rumah karena ada perlu secara pribadi, tapi mengingat kondisinya lagi seperti ini, sebaiknya saya bicarakan lain kali saja," tutur Pak Kades.


"Saya minta maaf, Pak Ratno. Saya juga turut prihatin atas kejadian ini," lanjut ayah Dara. "Sebaiknya, kami pamit pulang dulu agar Pak Ratno dan Ibu bisa menyelesaikan masalah keluarga Bapak," pamit Pak Kades.


Pak Sekcam yang bernama Ratno tersebut mengangguk. "Maaf, Pak Gondo, jika Pak Gondo harus melihat kejadian memalukan seperti ini di rumah saya. Saya juga sangat syok dan sama sekali tidak menyangka, putri saya bisa melakukan perbuatan bejat seperti ini!" ujar Pak Sekcam yang menahan amarah, kecewa dan rasa malu sekaligus.


"Ayo, Nduk, kita pulang!" ajak Pak Kades pada putrinya.


Dara dan Jaka saling pandang, mereka berdua sama-sama mengangguk.


"Tante Risa, kami mohon pamit dulu," pamit Dara. Gadis imut berhijab dengan motif bunga-bunga kecil itu kemudian menyalami mamanya Arini.

__ADS_1


Jaka melakukan hal yang sama, pemuda itu menyalami ayahnya Arini.


"Terimakasih ya, Nak Dara. Jika tadi Nak Dara tidak mencari tante di klinik, mungkin tante tidak pernah tahu perilaku putri tante," ucap mamanya Arini dengan terisak.


Ya, mamanya Arini langsung menangis melihat kelakuan sang putri. Tangisnya semakin pecah ketika sang suami menuntunnya menuju ruang tamu.


"Sabar ya, Tante," ucap Dara. Tolong jangan marahi Arini, Tan. Tante bisa tanyakan dengan baik-baik, kenapa dia melakukan semua ini," pinta Dara kemudian.


Tante Risa hanya mengangguk.


Pak Kades, beserta sang putri dan juga Jaka segera meninggalkan kediaman Pak Sekcam.


🌸🌸🌸


Setibanya di rumah, Dara dan Jaka disambut Pak Kades dengan tatapan tajam.


"Kenapa kamu antar putriku sampai rumah? Kamu ingin mempermalukan keluarga saya, hah!" geram Pak Kades seraya menatap tajam pada pemuda sederhana di hadapannya.


Bu Rosma yang mendengar sang suami berbicara dengan keras, berjalan tergopoh-gopoh menuju halaman.


"Ada apa tho, Pak?" tanya Bu Rosma. "Ada tamu mbok ya disuruh masuk dulu, malah marah-marah di depan rumah. Jika dilihat orang itu tidak pantas, Pak," protes Bu Rosma.


Dara segera mengekor langkah sang ibu dan juga Jaka, masuk ke dalam rumah. Pak Kades mau tak mau pun ikut masuk ke dalam.


Pak Kades duduk tepat dihadapan Jaka, tatapannya masih setajam tadi. Emosi laki-laki paruh baya itu sedang berada di puncak kemarahan, yang sewaktu-waktu bisa meledak dan bisa menghanguskan lawan bicaranya.


Tadi pagi, beliau melihat sang putri tengah berboncengan dengan pemuda yang sangat tidak disukainya dan barusan, Pak Gondo harus menyaksikan calon menantu yang diidam-idamkan malah tidur dengan gadis lain.


"Nak Jaka mau ibu buatkan teh atau kopi?" tawar Bu Rosma dengan tatapan hangat. Wanita anggun itu sangat menyukai jika sang putri dekat-dekat dengan pemuda santun seperti Jaka, ketimbang sama Bambang yang angkuh.


"Tidak perlu, Bu. Dia tidak lama disini!" ketus Pak Kades.


Melihat gelagat kemarahan sang suami, Bu Rosma segera duduk di samping suaminya. "Ada apa tho, Pak?" tanya Bu Rosma yang melembutkan suaranya.


Pak Gondo terdiam, laki-laki paruh baya tersebut tidak memiliki nyali untuk menceritakan kejadian yang baru saja dilihatnya di kediaman Pak Sekcam. Pak Gondo merasa malu pada istrinya karena telah menjodohkan Dara dengan Bambang, yang ternyata tidak bermoral tersebut.


"Pak, ada apa?" tanya Bu Rosma kembali, setelah cukup lama menanti tetapi sang suami tak kunjung bersuara.

__ADS_1


Dara kemudian angkat bicara. "Bu, tadi kami melihat Mas Bambang di kediaman Arini, putrinya Pak Sekcam," terang Dara.


"Lantas, kenapa memangnya kalau Bambang ada di sana?" desak Bu Rosma.


Dara kemudian menceritakan apa yang mereka bertiga lihat di kediaman Pak Sekcam tersebut.


"Astaghfirullah ...." Bu Rosma mengucap istighfar seraya menutup mulut dengan kedua tangan.


Hening, sejenak menyapa ruang tamu tersebut.


"Meskipun pernikahan Dara dan Bambang batal, Bapak tetap tidak sudi jika penggembala itu dengan kamu, Dara!" tegas Pak Kades mengurai keheningan, seraya menatap Jaka dengan tatapan kebencian.


Jaka menelan saliva, pemuda itu tersenyum kecut mendengar hinaan Pak Kades yang menyebut dirinya penggembala. Meskipun memang benar adanya jika Jaka sering membantu bapaknya menggembalakan domba-domba, ketika Jaka sedang libur.


Sementara Dara langsung menitikkan air mata. "Ayah," protes Dara.


Pak Kades menggeleng cepat, laki-laki tambun itu segera beranjak dan meninggalkan ruang tamu dengan perasaan yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Kecewa, marah, benci, semua menjadi satu.


Bu Rosma menggeleng, wanita anggun itu menghela napas panjang melihat sikap keras kepala sang suami.


"Maafkan bapak ya, Nak Jaka," pinta Bu Rosma dengan tatapan lembut.


Jaka mengangguk seraya tersenyum. "Iya, Bu. Tidak mengapa," balas Jaka.


"Nak Jaka, boleh ibu bertanya?"


"Silahkan, Bu."


"Nak Jaka, serius mencintai putri ibu?" tanya Bu Rosma pelan.


Jaka mengangguk pasti seraya melirik Dara. "Nggih, Bu. Jaka mencintai Neng Dara."


Dara tersenyum bahagia mendengar perkataan jujur Jaka dihadapan sang ibu.


"Jika begitu, segeralah lamar putri ibu," pinta Bu Rosma yang sudah mengetahui dari sang putri, bahwa liburan ini Jaka akan melamar Dara.


"Tidak, bapak tidak setuju!"

__ADS_1


🌹🌹🌹bersambung,,,


__ADS_2