
Dara dibuat pusing sendiri memikirkan cara untuk bisa lepas dari perjodohan dengan Bambang, padahal waktu yang tersisa tinggal seminggu lagi.
Dara yang baru pulang dari kota, setelah tiga minggu terakhir gadis imut itu tidak pulang karena fokus dengan ujian semesteran, menyempatkan diri membuat janji dengan Jaka yang juga baru pulang dari menuntut ilmu di pesantren.
Jaka baru saja turun dari bus, ketika Dara tiba di terminal angkot di kota kecamatan. "Assalamu'alaikum, Mas," ucap salam Dara, dengan netra berbinar.
Gadis itu segera mendekati Jaka yang tengah tersenyum ke arahnya. "Wa'alaikumsalam, Neng," balas Jaka. "Tunggu sebentar, ya," pintanya seraya memberikan kode pada Dara agar berdiri di sampingnya.
"Hati-hati ya, Bu," ucap Jaka pada seorang wanita tua yang turun dari bus bersama Jaka.
"Makasih atas bantuannya tadi ya, Nak," balas ibu tersebut seraya tersenyum hangat. Entah bantuan apa yang diberikan Jaka pada wanita tua itu.
"Ibu duluan, Nak. Cucu ibu sudah menjemput," lanjut wanita tua yang langsung berjalan perlahan mendekati sang cucu yang menjemputnya membawa motor.
Jaka mengangguk dan tersenyum ramah, pemuda itu melambaikan tangan pada wanita tua yang dia panggil ibu.
"Maaf, Neng. Sudah lama menunggu?," tanya Jaka kemudian sambil menoleh ke arah Dara.
"Belum kok, Mas. Dara juga baru saja sampai, tadi sengaja jalan santai," balas Dara.
"Mau ngobrol dimana, Sayang?" tanya Jaka.
"Mas Jaka pasti belum makan, kan? Kita sambil cari makan saja, ya," pinta Dara.
Jaka mengangguk, masih dengan senyuman manis yang menghiasi bibirnya.
"Mas yang depan, ini kuncinya." Dara menyodorkan kontak motor matic miliknya.
Jaka segera naik ke atas motor, yang diikuti oleh Dara yang membonceng di jok belakang. "Pegangan, Neng," pinta Jaka.
Dara tersenyum, gadis itu kemudian memegang tas punggung Jaka. Jaka segera melajukan sepeda motor milik Dara menuju warung makan tengah sawah, tempat Jaka dan Dara dulu sering bertemu kala masih sekolah.
Hanya butuh waktu sepuluh menit, mereka berdua telah sampai di warung yang terbuat dari bambu dengan pemandangan sawah yang membentang sejauh mata memandang di sekitarnya.
Jaka segera mengajak Dara untuk masuk ke dalam. Setelah memesan makanan yang mereka berdua inginkan, mereka memilih duduk lesehan di bagian belakang yang tempatnya terbuka.
Semilir angin sawah yang terasa lembut menyentuh kulit, menyambut kedatangan mereka berdua. Kicau burung bernyanyi ikut menyambut, seolah mereka mengerti bahwa kedua muda-mudi tersebut tengah bernostalgia.
"Masih sama ya, seperti terakhir kita bertemu," ucap Dara, sambil memindai tempat tersebut.
"Ya, tidak seperti cintaku padamu," balas Jaka sambil menatap dalam wajah Dara.
__ADS_1
Dara mengerutkan kening.
"Cintaku tak lagi sama seperti dulu, Neng," lanjut Jaka, yang membuat Dara semakin bingung.
Jaka tersenyum, melihat kebingungan gadis imut yang dicintainya itu. "Karena kini, cintaku jauh lebih besar kepadamu, Neng Dara Manisku."
Reflek, Dara memukul pelan punggung tangan Jaka yang berada di atas meja. "Mas Jaka, ih ... nyebelin!" Dara mengerucutkan bibir.
Jaka terkekeh pelan, ingin rasanya pemuda itu menangkap tangan Dara dan menggenggamnya erat seperti dulu. Tetapi ajaran agama yang di dapatnya di pesantren, tidak memperbolehkan Jaka bersentuhan dengan gadis yang belum menjadi mahromnya.
Kangen-kangenan ala Jaka dan Dara terhenti, kala pelayan warung menyajikan makanan dan minuman yang telah mereka pesan.
"Ayo,Neng! Kita makan dulu, baru lanjut ngobrol," ajak Jaka.
Mereka berdua kemudian makan dengan khidmat, tak ada obrolan yang tercipta. Hanya sesekali keduanya saling melirik dan kemudian melemparkan senyuman.
Hanya mata dan hati keduanya yang berbicara, mewakili rasa rindu setelah hampir setengah tahun tak saling bersua. Meski mereka berdua sudah sering mendengar suara, namun semua tak seindah ketika raga saling berjumpa dan bertatap mata.
Rasa rindu yang menggebu langsung terobati, ketika mereka berdua telah bertemu dan berbicara dari hati ke hati. Meski tanpa saling bersentuhan, tulusnya rasa cinta membuat mereka berdua merasa nyaman.
"Mau nyobain es degan Dara enggak, Mas?" tawar Dara yang tadi memesan es degan, sesaat setelah mereka menghabiskan semangkuk nasi soto.
"Boleh," balas Jaka yang langsung mengambil es degan utuh tersebut dari hadapan Dara.
"Mau membicarakan tentang apa, Neng?" tanya Jaka kemudian. Pemuda itu menyimpan kembali es degan di hadapan Dara.
"Tentang perjodohan Dara dan Mas Bambang," balas Dara, yang wajahnya langsung berubah menjadi sendu.
Hening, sejenak tercipta di tempat tersebut.
Jaka menghela napas panjang. Beberapa minggu ini, pemuda itu juga terus kepikiran dengan perjodohan Dara dan putra Pak Carik tersebut.
Meski Jaka telah mempersiapkan semuanya untuk melamar Dara dan pemuda itu juga tetap optimis, tetapi tak dipungkiri ada perasaan was-was di hati Jaka, mengingat undangan pernikahan antara Dara dan Bambang sudah tersebar.
"Neng, kamu pernah cerita kalau melihat Mas Bambang dan Arini di losmen di pinggiran kota," ucap Jaka mengurai keheningan.
Dara mengangguk, membenarkan. "Kenapa, memang?" tanya Dara.
"Arini 'kan teman dekat kamu waktu sekolah, apa Neng Dara sudah pernah berbicara sama dia mengenai hal itu?" tanya Jaka balik.
"Belum," balas Dara singkat. "Untuk apa, Mas?" tanya Dara kemudian.
__ADS_1
"Lagian, Arini sekarang udah beda, Mas. Dia kayak enggak mau kenal gitu, sama Dara," imbuh Dara.
"Mungkin, kita bisa minta tolong pada Arini, untuk membatalkan pernikahan kamu dan Mas Bambang," jawab Jaka.
"Dara enggak yakin dia mau bantu, Mas," balas Dara tak bersemangat.
"Belum dicoba 'kan, Neng. Jangan pesimis dulu!" ujar Jaka meyakinkan.
"Kalau Arini memang ada rasa sama Mas Bambang, dia pasti mau," lanjut Jaka.
"Iya juga, ya," ucap Darq, gadis itu tersenyum lebar. "Kok, Dara enggak kepikiran sampai kesitu dari kemarin-kemarin."
Dara tiba-tiba mengambil ponselnya.
"Mau apa, Neng?" tanya Jaka.
"Dara mau telepon Arini, Mas. Siapa tahu dia mau kesini untuk ketemu sama kita," balas Dara.
"Telepon untuk membuat janji ketemu dulu, Neng. Tapi kalau bisa, jangan sekarang ketemuannya," saran Jaka.
"Kenapa, Mas?" Dara mengurungkan niatnya untuk menelepon putri Pak Sekcam tersebut.
"Kalau sekarang, nanti kita enggak bisa ngobrol berduaan seperti ini lagi, dong," balas Jaka seraya tersenyum menggoda.
"Ih ... Mas Jaka, kirain apaan!" protes Dara.
Dara segera menelepon Arini, sementara Jaka sibuk memperhatikan sang kekasih yang sedang ngobrol dengan Arini di telepon.
"Gimana, Neng?" tanya Jaka setelah Dara menutup teleponnya.
"Kebetulan, dia lagi ada di sekitar sini, Mas. Dia mau merapat," balas Dara yang terlihat bahagia.
Tak berapa lama, Arini yang memakai celana pendek hingga menampakkan pahanya yang mulus, menghampiri Dara dan Jaka. Pemuda berhidung mancung, kekasih Dara itu langsung membuang pandangannya ke arah lain.
"Ada apa, Ra?" tanya Arini tanpa basa-basi. Dia sama sekali tak menyapa Jaka, karena Arini menganggap pemuda itu tak selevel dengannya.
Jaka santai saja menghadapi sikap Arini, yang sudah sangat dihafalnya. Dia asyik memainkan sedotan, sambil sesekali netranya melirik sang kekasih.
"Rin, kamu pasti sudah dengar 'kan, kabar pernikahanku dengan Mas Bambang?" tanya Dara.
Arini mengedikkan bahu. "Lantas? Apa kamu ingin mengejekku karena kalah dari kamu?" tanya Arini yang terdengar sangat ketus.
__ADS_1
"Asal kamu tahu, Ra. Mas Bambang sama sekali tidak mencintaimu, dia terpaksa menerima perjodohan itu, Ra! Karena Mas Bambang hanya mencintaiku!" tegas Arini dengan angkuh.
🌹🌹🌹 bersambung,,,