Pesona Nona Zahra

Pesona Nona Zahra
episode sepuluh


__ADS_3

Entah bagaimana caranya Fatih bisa lolos dari hukum. Sekarang dia sudah berada di depan rumah Zahra dan menanti perempuan itu keluar.


Zahra sendiri baru bangun ketika mata hari sudah mulai condong ke ufuk barat. Sejak dia tiba di rumah dia belum keluar lagi dari rumah dan belum menyentuh makanan apa pun. Karena perut mulai merasa lapar, dia pun  memesan makanan dari aplikasi online. Setelah tiga puluh menit berlalu pintu rumahnya terdengar diketuk. Gegas Zahra membukanya karena berpikir kalau yang datang adalah kurir yang mengantar makanan tapi ternyata bukan. Melainkan Mr. Fatih, atasannya sekaligus pria bajingan yang sudah merenggut mahkotanya.


Zahra kembali menutup pintu namun tangan Fatih tidak kalah cepat menahan agar pintu itu tidak tertutup sebelum mereka berbicara. Sekali lagi tenaga Zahra kalah dan Fatih sudah duduk di ruang tamu rumahnya.


"Kita perlu bicara, Nona Zahra."


"Tidak ada yang perlu dibicarakan jika tujuan anda adalah lari dari hukum yang seharusnya  anda terima," kata Zahra.


"Anda ingin saya bertanggung jawab?" tanya Fatih serah memainkan kunci mobil.


"Iya."


"Baiklah ayo kita menikah," kata Fatih.


Zahra berdecak, "Bukan tanggung jawab seperti itu yang saya mau. Jelas jika anda menginginkan itu karena anda berpikir tujuan anda memiliki anak akan tercapai. Saya ingatkan sekali lagi, bahkan jika sampai saya hamil akibat perbuatan anda kemarin malam, anak ini tetap bukan anak anda. Dia milik saya, milik ibunya."

__ADS_1


"Nona Zahra, saya tahu bahwa anda sangat menjunjung yang namanya harga diri. Akan tetapi harga diri yang anda junjung selama ini tidak akan berguna jika sampai anda hamil di luar pernikahan. Orang lain tidak akan lagi sama dalam memandang anda. Apa ada tidak memikirkan sejauh itu? Turunkan ego dan kita akan menikah. Seperti yang anda katakan bahwa anak itu akan menjadi milik ibunya dan tidak ada ikatan dengan saya sebagai ayah biologisnya tapi melalui pernikahan maka saya bisa menjadi mahromnya karena statusnya sebagai ayah tiri. Bagai mana?"


"Oh iya saya juga masih ingat penolakan anda malam itu di rumah sakit dan saya masih ingat betul kalimat yang anda ucapkan. Kalau anda menginginkan anak dari seorang perempuan maka nikahilah perempuan itu, seperti itu kan kalimat anda?" Fatih masih berada di atas angin dan yakin kali ini dia akan memiliki anak sekaligus memiliki Zahra. Ibarat kata pepatah sekali dayung dua tiga pulau terlampaui.


"Ya, benar. Kurang lebih seperti itu kalimat saya, tapi sepertinya anda lupa kalimat selanjutnya. Saya tidak ingin menjadi istri kedua juga tidak ingin menyakiti hati sesama kaum wanita. Sudahlah Mr. Fatih, anda hanya membuang-bung waktu jika terus membujuk saya. Cara terbaik anda bertanggung jawab atas kelakuan anda kemarin adalah dengan mengakui kesalahan anda di depan hukum dan menerimanya dengan lapang dada. Saya lebih menyukai pria seperti itu. Silahkan pulang dan biarkan saya beristirahat."


Fatih benar-benar harus menggunakan otaknya dengan baik untuk mencapai keinginannya. Sikap Zahra benar-benar menguji kemampuan Fatih dalam memecahkan masalah dan menemukan solusi. Haruskah ia menceraikan Sarah?


***


Sampai rasa kantuk mulai menyerang dia tidak menemukan solusi apa pun.Dia tertidur di atas sofa masih mengenakan pakaian yang sama.


Di tempat lain Sarah tengah duduk tanpa menyentuh minuman yang selalu menjadi temannya kala ia merasa tertekan. Dia duduk sambil menerawang jauh. Meresap setiap perkataan mertuanya. Benar juga, suatu saat dia pasti akan merindukan kehadiran seorang anak.


Benar kata mertuanya kalau suaminya belum tentu memiliki stok sabar yang banyak. Bisa jadi suatu hari Fatih akan mencari perempuan lain. Sarah seperti sudah merasakan ada yang tidak beres dengan suaminya. Dia pun membayar minuman yang tidak dia sentuh sama sekali. Dia memutuskan untuk tidak minum dan akan segera pulang.


Saat tiba di rumah dan melihat mobil milik suaminya sudah parkir rapi di garasi, Sarah segera turun dari mobil dan memastikan penampilan dirinya agar Fatih bahagia dia pulang tidak dalam keadaan mabuk. Ruang televisi dan ruang kerja tampak kosong, berarti Fatih tengah berada di dalam kamar, begitu pikir Sarah. Ternyata benar suaminya tengah tertidur tanpa mengganti pakaian.

__ADS_1


Dengan maksud ingin memberi kejutan, Sarah melepaskan pakaiannya dan menghampiri Fatih. Dia dekatkan bibirnya dengan bibir sang suami hingga menyatu. Sarah sentuh titik sensitif yang akan membangkitkan hasrat suaminya. Fatih mengerang dan menyebutkan satu nama tapi bukan nama dirinya.


"Nona Zahra," erang Fatih dengan mata yang masih rapat sempurna.


Begitu dahsyatnya pesona seorang Zahra bagi Fatih apalagi dia sudah merasakan madunya.


Hasrat Sarah yang tadi sudah naik langsung surut begitu saja kala mendengar nama perempuan lain yang disebut suaminya. Zahra? Untuk menjawab rasa penasaran, Sarah membongkar isi koper suaminya di sana dia menemukan sprei yang masih terdapat noda darah.


Dia tatap  wajah damai suaminya yang tengah terlelap. Mungkinkah dalam wajah damai itu suaminya tengah membayangkan tubuh perempuan bernama Zahra itu. Kalau iya maka jangan harap besok dia akan bangun dengan melihat mentari pagi yang cerah. Akan dia kirim sekarang juga suaminya ke alam baqa.


Sarah pergi ke dapur dan mengambil pisau yang paling tajam. Dia genggam pisau tersebut tidak peduli telah melukai tangannya. Luka disebabkan pisau masih bisa sembuh dalam hitungan hari. Lalu siapa yang bisa memastikan luka hati akibat dikhianati akan sembuh lebih cepat.


Nama yang disebut Fatih damal keadaan tidak sadar telah menggelapkan hati seorang Sarah dia arahkan pisau tersebut   ke arah jantung Fatih.


"Heu," pekik Fatih seraya membuka mata. "Sar-ah." Hanya itu kata yaang dingar oleh Sarah. Dia bafus menyadari ketika tanganmu sudah berlumur darah dan Fatih tergeletak di atas sofa.


"Fatih! Fatih bangun, honey! Fatih! Fatiiiiiihhhh!"

__ADS_1


__ADS_2