Pesona Nona Zahra

Pesona Nona Zahra
episode empat belas


__ADS_3

Hamparan pagi yang masih hijau di sekitar Soreang memanjakan mata seorang Fatih Alan Akbar. Tempat tinggal Zahra dan Hilal berada di komplek perumahan sederhana yang masih dalam tahap pembangunan.


Setelah trun dari mobil dan mengedarkan tatapan mata pada hamparan padi yang gini kini tatapan itu beralih pada rumah sederhana di hadapannya.


Ya rumah Zahra dan Hilal, mereka memilih rumah paling sederhana. Tidak masalah rumahnya kecil hanya ada dua kamar datu ruang tamu satu kamar mandi dan juga dapur. Sebab yang paling penting adalah suasana yang membuat nyaman saat berlindung dari terik matahari dan dinginnya air hujan.


Sekarang tatapan Fatih tertuju pada perempuan yang tengah membuka pintu. Lalu turun ke arah perut yang masih terlihat datar. Pantas saja Zahra memilih tempat ini karena cukup aman untuk Zahra menyembunyikan kehamilan.


Semenderita itukah istriku.


Tidak ada yang mempersilahkan dirinya masuk. Wajar sih kalau merka masih marah pada dirinya. Sebab pernikahan ini hanyalah status saja.


Fatih melongokan wajah dari pintu, melihat Hilal-adik iparnya tengah membuka kardus.


"Mau saya bantu?" Fatih menawarkan diri agar bisa dekat dengan satu-satunya keluarga Zahra yang ia ketahui.


Hilal sempat melirik tapi tida berniat membalas. Dia masih sibuk mengelurakan barang untuk dibereskan.


"Hilal, kita perlu bicara." Fatih tidak menyerah meski dirinya diabaikan.


Hilal berdehem memberi tanda ia setuju untuk mereka bicara tapi tidak di dalam rumah. Dia duduk di depan kap mobil milik Fatih.


"Saya tahu menerima dan memaafkan perbuatan saya terhadap kakakmu adalah hal yang tidak mudah. Tapi kamu harus tahu bahwa saya menyukai dia sejak bergabung dengan perusahaan saya. Saya pikir hanya sebatas suka tapi ternyata ada perasaan yang lain di samping perasaan suka. Saya jatuh cinta pada kakakmu.


"Sepertinya akan sulit bagi saya untuk menyentuh hatinya ketika saya tidak tahu seluk beluk dia. Apa sebelumnya dia memilki pacar?" tanya Fatih.


"Kak Zahra adalah perempuan terjaga. Sepanjang hidupnya sampai ia sekarang berusia 27 tahun dia tidak pernah memikirkan lawan jenis. Yang menjadi fokus dia adalah aku dan ibu setelah ayah kami pergi. Dia bekerja keras bahkan tidak memperhitungkan bahwa dia sendiri lelah. Butuh istirahat dan butuh perhatian. Dia lupa untuk menyenangkan diri sendiri demi goal-nya yaitu kami." Hilal melirik Fatih, "namun apa yang kamu lakukan malam itu pada dia membuat jalan untuk mewujudkan goalnya terhambat. Jadi kalau kamu mengatakan kamu mencintai dia pun itu tidak akan berhasil menyentuh hatinya."


Fatih diam.

__ADS_1


"Apa yang harus saya lakukan untuk menyentuh hatinya?"


"Dia tidak menyukai pria beristri, dan aku yakin dia membenci posisinya saat ini. Kalau anda mencintai dia maka anda akan tahu apa yang harus dilakukan." Hilal menepuk pundak pria di sampingnya. "Pulanglah! percuma anda berada di sini karena dia tidak akan keluar lagi dari kamar selagi anda masih berada di sini."


Sadar dirinya diusir secara halus, Fatih mengangguk. "Sekarang posisiku adalah kakak iparmu. Mau tidak mau, suka tidak suka kami tetap adik iparku. Katakan apa yang kamu butuhkan padaku. Jangan sungkan," kata Fatih sebelum mobil meningkatkan area perumahan yang masih dibangun itu.


Jarak rumah satu ke rumah yang lainnya masih lumayan sebab hanya ada beberapa unit yang sudah selesai dan baru ditempati. Bukannya pulang, Fatih malah mendatangi kantor pemasaran komplek perumahan tersebut.


Di tempat lain, Sarah diminta datang ke rumah mertuanya. Di sana sudah ada Olla-istri dari Demir bersama ke dua buah hatinya.


"Bi, apa ini tidak berlebihan?" tanya Olla dengan raut cemas.


"Tidak ada yang berlebihan, Olla, aku melakukan ini juga demi kebaikan mereka. lihat kamu sama Demir ketika kalian sudah memiliki anak, semakin harmonis bukan?"


Kedatangan Sarah membuat mereka mengalihkan obrolan pada krim perawatan kulit yang mereka gunakan.


"Mam, kamu baik-baik saja? apa sesuatu yang buruk telah terjadi?' rentetan pertanyaan dilayangkan Sarah terhadap mertuanya. Perempuan itu duduk di sebelah misah yang kosong dari jangkauan anak-anak.


Sarah terkekeh, "Ma, kalau mau minta tolong bilang saja! Katakan mama mau minta tolong apa?"


"kamu memang menantu terbaik, Sarah. Begini, ini Olla lagi mau ada kegiatan, tapi di rumah suster sedang libur. Jadi dia menitipkan anak-anaknya di sini. Kamu temani mama mengasuh mereka ya. Bisa kan?"


Sarah menghela nafas dan bersandar. Dia menatap kedua anak yang tampak lincah itu.


"kalau tidak bisa tidak apa-apa, Bi. biar Dami sama Oghan aku bawa ke tempat acara saja." Olla menatap istri sepupunya dengan perasaan tidak enak.


"Bisa-bisa kok. Iya kan Sarah?" tanya Misha dengan tatapan menginterupsi.


"sungguh?" Olla berkata dengan wajah girang. "kamu tidak keberatan, Sarah?"

__ADS_1


Jelas aku keberatan bego. aku tahu ini hanya akal-akalan mama agar aku mau memiliki keturunan.


Pada akhirnya Sarah mengangguk meski dalam hati jelas menolak. Melihat Dami dan Oghn berlarian sambil berebut mainan saja sudah membuatnya pusing. Apalagi ketika dua bocah itu sulit diajak makan dan malah meminta disuapi.


***


Fatih tiba di rumah sebelum adzan maghrib berkumandang. Tanpa basa basi dengan kepala pelayan di rumahnya, dia langsung menuju ruangan kerja di rumahnya. sejak tadi dia memikirkan perkataan Hilal.


Kakakku tidak menyukai pria beristri dan aku yakin kalau sekarang dia juga membenci posisinya saat ini.


Kalimat itu terus berputar di benaknya. Dia paham maksud Hilal, tapi saat ini bukan waktu yang tepat untuk melepas Sarah. tidak adil kalau melepas perempuan itu begitu saja.


Suara pintu kamar dibanting terdengar samar-samar oleh Fatih namun tida membuat pria itu tidak beranjak dari tempatnya saat ini. Satr dia keluar kamar, dia melihat Sarah tengah menenteng satu koper berukuran besar.


"Mau kemana?" tanya Fatih melihat istrinya yang dia yakini akan pergi lagi.


"Liburan." Perempuan yang masih berstatus istrinya itu menunjukan wajah tidak suka.


"lagi?" Kali ini Fatih yang bicara. "kamu pulang dari liburan itu belum ada satu minggu dan sekarang kamu mau pergi lagi?"


Sarah mendorong kasar kopernya. Rupanya dia tidak tahan lagi dengan sikap mertuanya yang sangat memaksa.


Walau pun dilakukan dengan cara halus, tapi Sarah bukan perempuan bodoh yang akan menurut. Dia menginginkan kebebasan. Dia menikah untuk bersenang-senang bukan untuk mengurus anak.


"Aku cape, aku butuh hiburan. Ibu kamu lagi-lagi membahas bahkan memaksa aku agar aku melakukan apa yang dia mau. Aku disuruh menjaga dan mengasuh anak-anak Olla yang bandel dan kamu tahu itu membuat aku stres. Aku bisa mati aku terus menerus seperti ini. Please mengerti aku dan biarkan aku pergi sekarang."


Sarah kembali mengambil kopernya dan melangkah pergi.


"Sarah, mama hanya ingin yang terbaik untuk kita. Cobalah kamu lihat sisi positifnya, kalau kamu seperti ini jangan salahkan jika aku berpaling."

__ADS_1


Sarah tidak memedulikan perkataan suaminya dia tetap pergi mengikuti keinginan hatinya.


__ADS_2