
"Kenapa berdiri di sini? Padahal cuaca sedang sangat dingin?" tanya Hayla mendongakkan kepala menatap Demir yang lebih tinggi darinya.
"Aku tidak bisa tidur," jawab Demir.
"Apa kami tengah memikirkan sesuatu, atau perlu seperti tadi lagi?"
"Aku ingin merebut kembali harta yang telah direbut Fatih juga ibunya."
"Apa yang bisa aku lakukan untuk membantumu, Sayang?" Tangan Hayla menyentuh pipi Demir. Memberikan kecupan pada pipi lalu berakhir di bibir.
"Hanya ada satu cara agar Fatih mengembalikan apa yang menjadi milikku ... Kamu mau membantuku?" Demir membalas kecupan yang diberikan Hayla.
Hayla memgangguk.
"Sudah sejak lama aku mengagumimu. Sayangnya aku bukan Zahra yang dengan mudah menjadi pemilik tahta di dalam hatimu. Sekarang aku sangat bahagia jika kamu membutuhkan aku. Katakan apa yang harus aku lakukan!"
"Kelemahan Fatih adalah Zahra. Kamu paham kan maksudku?"
Hayla mengangguk yakin.
***
Di sisi lain Zahra terpaksa keluar rumah lepas adzan maghrib karena ada sesuatu yang harus ia beli. Biasanya dia akan diam di rumah dan menunggu Hilal pulang tapi kali ini dia benar-benar butuh.
Satu kantong kresek berisi bahan-bahan kue dia tenteng. Sesekali dia menoleh ke belakang karena merasa ada yang mengikuti. Berkali-kali dia menoleh namun tidak mendapati siapa pun.
Zahra mempercepat langkah, langsung mengunci pintu setelah dia masuk ke dalam rumah. Masih penasaran apa benar ada yang mengikuti dia pun mengintip dari jendela. Siluet seseorang terlihat di area yang tersorot lampu jauh.
Gegas dia menghubungi Hilal namun adiknya mengatakan dia lembur malam ini. Selain menghubungi Hilal, dia juga menghubungi Meiska. Lampu rumah tetangga memang menyala tapi tidak tahu apa penghuninya ada di dalam rumah atau tidak.
Terdengar nada sambung sebelum terdengar suara dari seberang sana.
"Iya, Mbak Zahra ada apa?"
__ADS_1
"Mbak Mei di rumah?"
Mei yang tengah makan malam di luar bersama keluarganya menoleh pada Steiner.
"Saya sedang di luar. Memangnya ada apa?"
"Oh ya sudah tadinya saya mau mengirim cake resep baru, tapi gapapa besok pagi saja," dusta Zahra. Tidak mungkin mengganggu kebersamaan orang lain hanya karena merasa dirinya tengah diawasi seseorang. Apalagi kata Mei mereka tidak di bayar untuk menjaganya oleh Fatih.
Panggilan pun berakhir. Sekarang Zahra hanya berharap Hilal segera pulang untuk mengurangi rasa cemas yang melanda sejak tadi. Dia bahkan tidak bisa duduk dengan sekaligus takut untuk sekedar menyalakan televisi. Takut orang yang ada di luar mengintip dan mendapati dirinya seorang diri.
Ketukan terdengar dari jendela kamarnya sontak membuat Zahra menoleh. Dia tidak berani untuk sekedar memeriksa. Selain terdengar ketukan dari jendela kamar, terdengar pula ketukan dari pintu. Ketukan itu semakin kencang bahkan terdengar seperti ingin mendobrak pintu.
Zahra merapatkan tubuh pada sudut kamar berusaha mengabaikan ketukan tersebut Cukup lama ketukan itu terdengar. Dapat Zahra pastikan jika pintu terus digedor seperti itu tidak lama lagi pintu akan terbuka. Kemana Zahra harus melarikan diri. Kalau pun dia lari jelas larinya tidak sekencang saat dia belum berbadan dua.
Dia kembali menghubungi Hilal namun panggilan darinya tidak mendapat jawaban dari sang adik karena Hilal tengah terjebak macet.
Lampu rumah tiba-tiba mati, jelas ini perbuatan orang yang tengah menggedor pintu. Decitan sebuah benda tajam yang digoreskan pada kaca kamar semakin meningkatkan tingkat panik yang dirasakan Zahra. Dia bahkan menabrak meja kaca dan menyebalkan lututnya tergotes. Cairan hangat mulai mengalir dari lutut.
"Hei" Terdengar teriakan seseorang yang sangat ia kenali.
"Zahra, apa kamu ada di dalam, ini aku Fatih. orang tadi sudah pergi."
Ragu-raga Zahra membuka pintu.
"Siapa orang tadi?" tanya Fatih ketika pintu terbuka.
"Saya pikir itu, Anda," balas Zahra menundukkan kepala.
"Aku baru saja datang." Fatih menggerakan ekor matanya ke arah mobil yang mesinnya belum di matikan. Dia memang baru datang dan melihat ada dia orang yang berada di depan pintu rumah Zahra. "Kalau ada hal mencurigakan lagi kamu teriak saja aku ada di rumah itu." Fatih menunjuk rumah Meiska dan Steiner. Pria itu berbalik badan dan hendak meninggalkan Zahra namun perempuan itu menahan tangannya.
"Bisakah anda tinggal di sini sebentar," pinta Zahra. Sorot matanya jelas menunjukan bahwa ia ketakutan.
Tidak tega meninggalkan perempuan itu dalam ketakutannya, Fatih pun setuju. Lagi pula hal ini yang dia inginkan. Hanya saja sekarang dia tidak akan menunjukan keinginan secara terang-terangan.
__ADS_1
Zahra membuka pintu lebih lebar dan mempersilahkan Fatih masuk.
Melihat Zahra yang meringis saat akan duduk, Fatih baru menyadari bahwa perempuan itu terluka.
"Di mana kotak obatnya?" Fatih mengedarkan tatapan pada sekitar hingga ia menemukan apa yang dibutuhkan saat ini. Dia mengambil kotak tersebut kemudian berjongkok di depan Zahra.
"Eh!" Zahra terhenyak saat kakinya di tarik.
"Diam!" Fatih mengoleskan kapas basah pada luka di lutut Zahra. Meniupnya untuk mengurangi rasa perih.
Perih langsung di tunjukan Zahra lewat ekspresi wajah yang meringis.
"Terima kasih," kata Zahra setelah Fatih membalut lukanya dengan kasa dan menyimpan kembali kotak obat tersebut ke tempat semula.
Fatih hanya mengangguk kemudian duduk pada sofa di seberang Zahra. Dia tatap perempuan yang sangat ia rindukan itu. Ingin rasanya duduk berseblahan dengan sebelah tangan saling bertatut dan satunya lagi menyentuh perut yang semakin membuncit itu.
Mereka sama-sama diam dan sibuk bergelut dengan pikiran masing-masing hingga Hilal datang dan tergopob masuk.
"Kak! Brengsek."
Melihat Fatih ada di sana, sinta saja Hilal melayangkan pukulan. Tadi saat dia mengisi bensin dia sempat memeriksa ponsel dan mendapat panggilan tak terjawab dari kakaknya. Sekarang dia melihat ada Fatih di sana. Jelas dia mengira kakaknya menghubungi karena Fatih telah mengganggunya.
"Hilal! Kebiasaan." Zahra mencegah adiknya yang hendak kembali mendapatkan kepalan tangan di wajah tampan mantan kakak iparnya.
"Sekarang saya bisa meninggalkan kamu kan?" Fatih bangkit dan membenarkan jas yang masih melekat di tubuhnya. Pria itu menjadi sosok yang tampak berbeda di mata Zahra.
Zahra mengangguk, mempersilahkan Fatih melanjutkan langkah ke rumah Switer yang juga baru tiba.
"Kak, apa-apa an ini?" tuntut Hilal meminta penjelasan.
Zahra pun menceritakan apa yang terjadi beberapa waktu sebelum kedatangan adiknya.
Di seberang rumah Zahra, tepatnya di ruang tamu Fatih menatap sepasang suami istri itu.
__ADS_1
"Pertolongan selalu datang setelah pemeran utama terluka," sindir Fatih membuat dua orang di hadapannya kembali mengucapkan maaf. "Temukan orang itu dan bawa kehadapanku."
Sampai saat ini Fatih belum mengetahui tentang Demir yang dibebaskan Hayla.