Pesona Nona Zahra

Pesona Nona Zahra
Episode dua puluh sembilan


__ADS_3

"Mereka tidak mati kan?" tanya salah satu yang turun dari ketiga mobil tadi.


"Semoga saja tidak. Kalau mati mungkin nyawaku akan ikut melayang bersamanya.


Orang-orang itu masuk kembali ke dalam mobilnya. Namun ponsel salah seorang jatuh dan terlihat oleh Randi. Gegas dia turun ketika mereka sudah menjauh. Ponsel ini bisa menjadi jalan untuk mengetahui siapa dalang di balik kecelakaan ini.


Randi gegas kembali ke mobil, melihat majikannya mengerang memegang perut. Mobilnya memang sudah memiliki keamanan tingkat tinggi, tapi tetap saja ketika terjadi kecelakaan pasti akan menyebabkan luka walau tidak parah.


"Bertahanlah, Nyonya."


Randi menghubungi Sam, kemudian Sam menghampiri Fatih yang baru masuk ke dalam rumah bersama Sarah.


"Ada apa, Sam?" tanya Fatih melihat wajah asistennya yang tegang.


Sam hanya menunjukan ponsel agar Fatih membaca pesan yang dia kirim. Tidak mungkin kan dia mengatakan secara gamblang di hadapan Sarah. Meskipun perempuan itu sudah pasti mengetahui.. Dia menunggu reaksi sang suami.


Fatih melebarkan mata ketika membaca pesan dari Sam. Dia menoleh pada Sarah yang memang wajah biasa.


"Sarah ... aku ... ada keperluan mendadak." Fatih mengecup kening istrinya kemudian pergi tanpa menunggu jawaban.


***


Mobil Randi sudah memasuki pekarangan rumah sakit. Di sana juga sudah ada Hilal yang langsung bergerak cepat ketika mengerahui mobil kakaknya kecelakaan.


Dibantu perawat pria dia mengangkat tubuh kakaknya yang meringis. Tangannya menyentuh cairan berwana merah dari pakaian yang kenakan Zahra.


Menunggui Zahra yang sedang berada di dalam ruang tindakan, Hilal yang ngurusi administrasi karena Randi pun harus mendapatkan perawatan di bagian kening. Dia kembali ke mobil Randi untuk mengambil identitas kakaknya yang ada di dalam tas. Makin saat dia akan menutup pintu dia melihat ponsel tergelatak di sana.


Bukan ponsel milik kakaknya maupun Randi. Dia mengambil ponsel tersebut dan memasukannya ke dalam saku celana. Tak lupa dia mematikan dayanya lebih dulu agar tidak meninggalkan jejak saat dilacak. Setelah mengurus keperluan administrasi dia menunggu di depan ruang tindakan.

__ADS_1


Ditemani Sam Fatih tiba di rumah sakit yang diberitahu oleh Randi. Dia tergesa menghampiri ruang tindakan. Saat dia tiba ternyata dokter sudah ke luar dan tengah berbicara dengan Hilal. Tidak ingin melewatkan kabar penting, Fatih memperlebar langkahnya.


"Dia tengah beristirahat efek obat." Hanya kalimat itu yang Fatih dengar ketika dia tiba dihadapan Hilal dan juga dokter yang menangani Zahra.


"Bagaimana dengan kandungannya, Dok?" tanya Fatih.


Dokter itu mengalihkan tatap ke pada Hilal kemudian menatap Fatih. Helaan nafas panjang membuat Fatih merinding, takut kabar menyakitkan yang akan dia dengar.


"Semoga anda kuat."


Hanya kalimat itu yang disampaikan dokter sambil menepuk pundak Fatih. Membuat pria itu mengerutkan kening lalu menatap Hilal.


"Dokter mengatakan apa, Hilal?"


Hilal menggelengkan kepala dengan ekspresi pilu. Apa ini artinya Zahra keguguran? Kandungan tidak bisa diselamatkan? Oh Tuhan, kalau iya berarti Fatih harus kehilangan impiannya kembali.


Hilal hanya memalingkan wajah, membaut Fatih berssumsi bahwa apa yang dia pikirkan terjadi.


Zahra dipindahkan ke kamar rawat nomor satu. Kamar rawat yang memerlukan uang tidak sedikit. Tidak masalah bagi Fatih karena yang paling penting adalah kenyamanan Zahra.


Dia tatap perempuan yang masih dalam pengaruh obat itu. Dia sentuh perutnya dan bergumam, "Aku berharap bahwa ini hanya mimpi."


Sepanjang malam dia tidak tidur hanya karena ingin menjaga Zahra. Ingin menguatkan permpuan itu. Tidak ingin dia merasakan sendirian lagi. Sebagai suami, dia harus bisa menenangkan kala nanti Zahra bangun dan menanyakan kehamilannya.


Dia tarik kursi, kemudian duduk sambil menggenggam tangan sang istri. Dia kecup berkali-kali dengan air mata yang berurai. Merasa ada pergerakan dari Zahra, Fatih bangkit dan mengucap syukur.


Efek obat yang sudah habis membuat Zahra mengerang. Saat membuka mata, hal yang pertama kali oa lihat adalah wajah tampan yang kenatapnya dengan tatapan sendu. Reflek dia menyentuh perut lalu menggelengkan kepala dengan air mata yang merambat di pipi.


Tidak ada kalimat yang mampu Fatih ucapkan saat itu. Dia dekap sang istri yang mulai terisak. Ia kecup keningnya berkali-kali dan tidak ada penolakan.

__ADS_1


"Ini salahku, salahku ... yang terlalu egois. Aku ... aku."


Fatih menggelengkan kepala dan menepelkan jari telunjuknya di bibir sang istri. "Bukan salahmu, bukan. Jangan menyalahkan diri sendiri, Sayang."


Tangan Fatih terus mengelus rambut sang istri. Kembali mendekap dan kali ini mendapat balasan dari Zahra.


Hilal mengurungkan niatnya hang hendak masuk ke ruang rawat sang kakak. Dari kaca pintu dia dapat melihat dua orang yang saling mencintai dan sama-sama merasa kehilangan.


Kemarin dia dan Zahra sepakat akan mengakhiri drama pernikahan dengan Fatih. Mereka berniat menyakitkan pria itu dengan rekaman yang dimiliki Hilal. Namun hari ini mereka harus sama-sama merasakan luka kehilangan.


Rasanya terlalu tega kalau mereka dipisahkan sekarang. Zahra sedang butuh seseorang yang bisa menenangkan dirinya. Tentu orang itu adalah Fatih. Seseorang yang diam-diam menyusup ke dalam hati dan mulai bertahta di sana.


Fatih mengurai pelukan, dia seka air mata istrinya. Suasana seperti ini seharusnya menjadi momen paling bahagia bagi mereka. Namun seakan takdir tidak pernah menginginkan mereka sama-sama bahagia, selalu saja ada kesedihan di tengah momen yang seharusnya bahagia.


"Aku akan selalu berada di samping kamu. Kamu tidak akan sendirian, besok, lusa, pilihan tahun ke depan sampai kita dipisahlak kematian aku akan selalu mencari kamu. Aku tidak menyalahkan kamu. Aku bersyukur karena Tuhan tidak mengambil kamu."


Air mata Zahra semakin berurai, "maafkan aku," cicitnya.


Fatih mengangguk dan tersenyum tulus. Dia naik ke atas brankar. Merebahkan tubuhnya serta tubuh dengan istri. Dia tarik kepala Zahra dan melabuhkannya di dada.


"Tidurlah! Izinkan aku mendekapmu seperti ini sampai pagi ya."


Zahra tidak menolak. Kejadian ini membuat dirinya merasa bersalah pada Fatih yang selalu menunjukan cinta dan ketulusan. Dia teringat pada rencananya dengan Hilal kemudian mengucap istighfar. Bisa daja ini teguran karena selama ini dia mengabaikan Fatih yang statusnya jelas adalah suaminya.


***


Randi menolak dirawat saat Sam menemui dan menanyakan kronologi. Sambil berjalan menuju mobil dia menceritakan segalanya pada Sam.


"Aku yakin mereka orang suruhan, tapi entah suruhan siapa. Bisa jadi Nyonya Sarah bisa juga bibinya."

__ADS_1


"Kamu yakin?" tanya Sam.


"Aku mendengar perkataan mereka saat mereka menghampiri mobil kami. Ah iya, ponsel salah satu dari mereka jatuh. Aku rasa ponsel itu ada di mobil." Randi membuka kunci dan kendari ponsel yang dia maksud namun tidak menemukannya.


__ADS_2