Pesona Nona Zahra

Pesona Nona Zahra
episode tiga puluh dua


__ADS_3

"Zahra!" Fatih menggedor pintu yang sudah tertutup rapat. Pemiliknya memilih menengalamkan diri di tempat tidur dan menhtup telinganya.


"Sudahlah, sangat sulit membujuk kakakku ketika dia sudah mengambil keputusan. Lebih baik anda pulang dari pada harus mengeluarkan tenaga untuk hal yang tidak berguna."


Fatih tertegun mendengar isi dari rekaman yang baru saja dikirimkan oleh Hilal. sungguh dia tidak percaya kalau ini murni rekaman Zahra bersama Hilal. Dengan langkah yang berat dia keluar dari rumah Zahra. Sekali lagi dia menoleh berharap Zahra akan keluar dari kamar dan meminta dirinya untuk tetap di sana. Namun harapan hanya tinggal sisa, Zahra tidak menahan dirinya.


Fatih pulang ke rumah ibunya, sengaja tidak pulang ke rumah Sarah. Dia perlu pikiran jernih untuk berbicara dengan perempuan itu. Biarlah malam ini sama-sama intospeksi diri.


Misha diberi tahi kedatangan Fatih oleh pelayan. Perempuan yang tengah membaca buku itu melepas kaca mata, meletakan buku kemudian bangkit menghampiri putranya yang sudah memasuki rumah.


"Aku langsung istirahat ya, Ma." Setelah mencium punggung tangan sang ibu Fatih langsung memasuki kamar.


Misha cukup mengangguk dan membiarkan putranya berlalu. dia tahu betapa rumit masalah yang saat ini dihadapi oleh putranya. Sebagai seorang ibu dia merasa sedih harus mendapati kisah buruk dari sang anak. Kadang dia ingin sekali memaki suaminya andai pria itu masih ada.


Fatih merebahkan diri di kasur dan menatap langit-langit kamar. Memejamkan mata mencoba menenangkan pikirannya yang berisik. Satu sisi meminta dia melepaskan Zahra, namun sisi lain menolak. Sisi lainnya menyarankan agar dia mempertahankan keduanya atau melepaskan salah satunya namun satu sisi lagi malah memaki dan mengatakan kalau dia adalah pria payah yang mempertahankan dua istri saja tidak bisa.


Di rumah Sarah menatap dirinya dari panggilan cermin. Kata-kata Zahra terngiang di benaknya.


"Lihat tidak ada yang menahan dia untuk pergi tapi dia masih di sini. Berarti bukan saya yang menggoda namun suami anda sendiri yang menginginkan saya."


Sampai jam sepuluh malam dia menunggu kedatangan Fatih namun pria itu tak kunjung datang. Jelas saka pikiran Sarah mengatakan kalai suaminya masih di rumah Zahra.


Zahra sendiri belum keluar kamar sejak kepergian Fatih. Dia mengurung diri di sana dan mengakui perasaanmu pada Fatih ketika membaca ulang pesan-pesan yang ditulis untuknya. Untaian kalimat manis yang selalu membuatmu tersenyum kala dia tengah membacanya. Air matanya berurai membasahi bantal.


"Kak, Kak Zahra." Hilal menggedor pintu kamar "Kak, buka!"


"Gimana, Mas?" Bi Sumi tampak khawatir dia belum pulang padahal adzan isya sudah lewat.


"Kak, hidupmu terlalu merepotkan banyak orang. Lihatlah bi Sumi, gara-gara mencemaskan kamu dia harus pulang terlambat."


Terdengar suara kunci yang diputar. Hillal langsung memutar handle pintu dan mendorongnya. Dia geleng-geleng kepala melihat kondisi kakaknya.

__ADS_1


"Kak Zahra sudah aman, Bi. Kalau bibi mau pulang, pulang aja," kata Hilal pada Bi sumi. Kasihan perempuan itu harus pulang terlambat.


"Kalau begitu bibi pamit ya, Mas. Kalau ada apa-apa jangan sungkan mengubungi bibi."


Hilal mengangguk dan mengantuk Bi Sumi sampai ke pintu kemudian dia kembali lagi ke kamar kakaknya. Duduk di tepi ranjang.


"Sebenarnya apa yang membaut kakak sampai mengurung diri di kamar. Tidak mandi, tidak makan, jangankan solat. Apa yang membuat kakak bertindak seperti ini, karena kehilangan manusia seperti Mr. Fatih?"


Zahra tidak menjawab dia sibuk menatap dinding dengan tatapan kosong.


"Manusia seperti Mr. Fatih bukan hanya satu, Kak. Kalau sekarang kakak kehilangan dia masih ada Fatih Fatih lain yang akan menrima kakak."


Yang tadinya mata itu menatap kosong pada dinding kini menatap tajam pada Hilal.


"Kamu bisa mengatakan seperti itu karena kamu tidak ada di posisi aku, Hilal. Kehilangan keperawanan, kehilangan anak itu sangat menyakitkan. Disebut *4*****, seorang pria mengatakan bisa meniduriku tanpa harus menikah itu sangat menyakitkan, Hilal. Kalau pun aku berpisah dengan Fatih, memangnya masih ada manusia normal yang bersedia mendampingi aku. Statusnya saja gadis bukan janda juga bukan."


"Aku paham, Kak, tapi setidaknya kakak jangan mengabaikan kesehatan sendiri. Bersedih boleh saja tapi bukan berarti meratap juga. Sekarang ayo makan."


***


Hari ini Zahra masuk ke kantor, tujuannya bukan lagi untuk bekerja melainkan untuk mengundurkan diri. Dia tidak akan sanggup bertemu dengan Fatih apalagi ketika hati sudah mengakui kalau dia sudah jatuh cinta.


"Sudah sehat, Ra" tanya Mathias yang sama-sama baru datang.


"Alhamdulillah sudah lebih baik. Oh iya, Mat, aku mau minta maaf jika selama aku bekerja di sini sering sekali merepotkan kamu." Zahra meletakan tas di meja kerjanya.


"Loh, loh, loh, kok bicara seperti itu. Seperti orang mau resign aja."


Zahra mengangguk dan tersenyum.


"Iya, aku mau resign. Capek lah pulang-pergi Jakarta-Bandung. Jadi aku memutuskan untuk bekerja di sekitaran Bandung saja."

__ADS_1


"Ck, sayang sekali. Padahal kemarin pak Adam bilang kamu akan promosi jabatan menggantikan beliau. Maklum dia kan sudah saatnya istirahat di rumah," kekeh Mathias.


"Masih banyak yang lebih kompeten dari aku, Mat." Setelah itu Zahra pamit ke ruangan HRD untuk meyerahkan surat pengunduran diri.


Alin mendengarkan percakapan Zahra dnegna Mathias. Saat melihat tas Zahra ada di sana dia mendekati meja tersebut dan menyenggolnya membuat isinya termasuk ponsel berhubungan di lantai.


"Ya ampun aku ceroboh sekali," ucapnya agar rekan kerja yang lain tak curiga bahwa ia hendak mengambil ponsel Zahra yang dia selipkan ke dalam saku blezer. Setelah itu dia membawa ke kamar mandi. Entah apa yang dilakukan perempuan itu karena sebelum Zahra kembali ke ruangan kerja dan mengambil tasnya ponsel itu sudah dia kembalikan ke tempat asalnya.


"Sayang sekali kamu harus mengundurkan diri, padahal sebenar lagi promosi jabatan. Kamu bisa pikirkan lebih dulu," ujar Kepala Staf HRD.


"Ini sudah menjadi keputusan final, Bu. Saya tidak akan mempertimbangkannya lagi."


Setelah itu dia pamit, namun saat dia keluar orang-orang terlihat berbisik dan menataonya dengan tatapan jijik. Bukan hanya satu atau dua orang, hamlir setiap yang berpapasan dengan dirinya seperti menunjukan ketidak sukaan.


***


"Tuan!" Sam memasuki ruangan atasannya dengan wajah panik. Dia melangkah cepat menghampiri atasannya kemudian menunjukan pesan dari Bu Hayan yang bergabung di group chat kantor.


Rentetan foto dirinya bersama Zahra ada di group tersebut. Yang lebih mengejutkan foto-foto tersebut dikirim dari nomor Zahra sendiri.


Fatih mengepalkan tangan dan langsung turun ke ruangan Zahra. Menarik kasar tangan perempuan itu tanpa peduli orang-orang memperhatikan tindakannya. Zahra sendiri meringis merasakan sakit dari cengkraman itu. Saat tiba di tempat parkir khusus mobil milik Fatih, perempuan itu menghetakan tangan karena terlalu sakit dicengkram sejak tadi.


"Puas?" Fatih membentak Zahra.


Dia yang belum mengetahui apa-apa hanya menatap kebingungan.


"Dua hari kemarin kamu menyakiti aku, sekarang kamu mempermalukan aku," teriak Fatih lagi. Habis sudah kesabaran yang hanya setiap tisu itu. Giginya terdengar gemelutuk, wajahnya menengang penampilan urat-urat wajah di wajah yang putih itu.


"Mempermalukan apa? Aku tidak melakukan apa pun selain mengundurkan diri," kata Zahra berusaha tenang agar tidak kembali menjadi pusat perhatian seperti tadi.


Di dalam mobil yang terparkir tak jauh dari mobil Fatih, Sarah tersenyum. Ini yang dia mau.

__ADS_1


__ADS_2