
Fatih merebahkan tubuh di sofa yang sebenarnya tidak memuat tubuhnya sama sekali. Terpaksa di menekuk lutut agar muat.
Suara televisi yang jauh berbeda dari yang ada di rumahnya menjadi teman sepi malam ini. Bayangan dua wajah perempuan yang telah ia lukai hatinya hadir secara bersamaan.
"Maafkan aku," desisnya.
Deru motor Hilal terdengar berhenti di depan rumah, Fatih yang hendak memejamkan mata harus bangun kembali untuk membukakan pintu.
"Loh, Pak Fatih di sini?" tanya Hilal masih kaku pada kakak iparnya.
"Iya, kasihan kalau kakakmu sendirian di rumah."
"Dari mana anda tahu saya akak pulang terlambat?" Hilal mengerutkan kening.
"Mudah bagi saya untuk mendapatkan informasi."
"Ah iya, saya lupa. Jangankan informasi hukum saja bisa anda beli." Pedas dan menusuk membuat Fatih bungkam.
Di dalam kamar Zahra dapat mendengar percakapan kedua pria itu namun tidak melakukan apa pun.
***
Hari minggu Zahra berkunjung ke rumah gurunya.
"Ya Allah, anakku. Lama sekali kamu tidak berkunjung, Nak. Sehat? Ibu dan adikmu apa kabar?" tanya Bu Marisa seraya mengurai pelukan dan mempersilahkan Zahra untuk duduk.
"Alhamdulillah aku sehat, Bu, Hilal juga tapi ibu sudah berpulang."
"Innalillahi, maafkan ibu yang tidak tahu, Nak. Sakit, apa bagaimana?"
"Jatuh di kamar mandi, sempat dirawat tapi akhirnya beliau harus berpulang."
Bu Mar mengusap tangan Zahra untuk memberikan kekuatan.
"Ibu, seseorang membutuhkan pendapat ibu," kata Zahra mulai masuk pada inti tujuannya.
"Pendapat apa, Nak? Ceritakan duduk perkaranya."
Zahra menceritakan kisahnya dengan memposisikan orang lain sebagai orang yang mengalaminya. Bu Mar mengangguk paham, tidak memotong perkataan Zahra dan tetap mendengarkan.
__ADS_1
"Begitu, Bu. Sekarang dia bingung karena posisinya menjadi istri kedua sedangkan dia tidak pernah menginginkan posisi itu. Dia harus apa, Bu? Apa harus berpisah?"
Bu Mar membenarkan posisi duduk.
"Begini. Takdir setiap orang itu berkaitan. Bisa jadi penyebab atau juga disebabkan. Tapi ibu sangat menyayangkan niat dia yang ingin membalas dendam. Sebenarnya itu hanya sebuah kesia-sian. Tanpa dibalas pun Allah tetap akan membalasnya. Tidak ada perhitungan yang luput dari-Nya. Katakan pada dia, kalau memang tidak kuat lepaskan saja dari pada menyakiti diri sendiri dengan balas dendam. Seandainya kamu yang ada di posisi dia, apa kamu akan merasa bahagia ketika dendam itu terbalaskan?" Bu Mar menatap Zahra.
"Belum tentu, Bukan?" kata Bu Mar lagi. "Katakan padanya untuk berbaik sangka pada takdir Allah. Dia memberikan ujian pada temanmu berarti dia mampu melewatinya."
"Tapi jadi istri kedua itu ...." Zahra menggantungkan kalimatnya.
"Jadi istri kedua memang masih dipandang buruk oleh sebagian masyarakat yang tidak tahu apa penyebabnya. Kembali lagi itu ujian bagi dia, kalau tidak kuat ya lepaskan saja, kalau kuat ya lanjutkan. Apa istri pertamanya tahu?"
"Dia pernah cerita kalau istri pertamanya menemui dia."
"Lalu?"
"Aku tidak tahu. Bu apa dia berdosa ketika mengabaikan suaminya?"
"Ketika dia memutuskan menerima si pria maka kewajiban ya pun harus dia tunaikan. Itu konsekuesni dari keputusan dia. Dimana ada hak dan kewajiban, setiap tindakan, setiap langkah yang kita pilih, setiap apa pun yang kita lakukan tetap ada perhitungannya. Maka tadi seperti kata ibu, sangat disanyangkan ketika niatnya balas dendam."
***
Dia tidak menemui Zahra tapi tetap merantau dari orang-orangnya yang dia tugasnya di sana. Seperti Bi Sumi dan Randi.
"Tuan, ada Nyonya besar," seorang pelayan memberi tahu kedatangan Misha ke rumahnya.
Fatih bangkit dan menemuinya ibunya.
"Di mana Sarah?" tanya Misha mendapati rumah yang tampak sepi. "Liburan lagi dia?"
"Mama sudah tahu jawabannya kenapa harus bertanya?"
Misha mendengus. "Niat mama itu baik untuk kalian, tapi tetap saja dianggap salah. Mama ingin memiliki cucu yang bisa mam tunjungkan ke publik sebagai cucu dari keturunan Alan Akbar. Dami dan Oghan memang keturunan papa kamu tapi publik tidak pernah tahu adanya perempuan lain di hati papa kamu. Kalau mama mengakui mereka dan menunjukannya di depan publik sama saja dengan mama mempermalukan mendiang papa kamu. Didik Sarah dan bujuk dia. Jangan sampai kamu mengulang kesalahan yang sama dengan papa kamu."
Fatih terdiam mendengarkan ucapan ibunya. Sudah terjadi. Rasanya tidak adil kalau tiba-tiba dia menjatuhkan talak pada Zahra. Kehormatan sudah dia renggut, sudah memposisikan Zahra sebagai istri kedua lalu tiba-tiba menjatuhkan talak. Apa Zahra tidak akan semakin membenci dirinya.
"Aku akan menghubungi dia dan meminta maaf atas mama. Aku akan membujuk dia perlahan, aku harap mama mau bersabar. Perihal cucu itu bukan pencapaian yang harus ditunjukan pada orang lain. Aku juga menginginkan anak tapi mungkin belum waktunya. Sabar ya, Ma."
Fatih mendekap tubuh ibunya.
__ADS_1
***
Sarah melirik ponsel yang berdering. Penampilannya sungguh buruk. Dia merasa dengan mabuk-mabukan tekannya akan hilang. Iya sesaat tapi saat kesadaran itu kembali dia akan kembali merasakan tertekan.
"Sarah, kamu di mana?" tanya Rasya teman dekatnya.
"Bali," jawab Sarah dengan suara parau.
"Kamu mabuk lagi. Astaga, Sarah, apa kamu tidak sayang pada tubuhmu. Jangan kemana-mana aku akan menyusul ke sana."
Penerbangan selama dua jam membawa Rasya menuju tempat Sarah saat ini. Dia menatap iba pada penampilan Sarah yang sangat buruk. Dia peluk tubuh itu dan merasakan pundak Sarah berguncang di bahunya.
"Aku gak berguna, Rasya. Aku gak berguna sama sekali menjadi manusia. Aku ingin mati saja," racau Sarah.
Rasya melirik psikolog yang datang bersamanya atas permintaan Fatih. Tadi sebelum dia berangkat, Fatih memang menghubunginya dan menanyakan keberadaan Sarah.
Sarah menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur dan tidak sadarkan diri.
"Gimana?" tanya Rasya pada psikolog yang bernama Aluna
"Biarkan dia tenang dulu baru saya akan masuk sebagai teman. Boleh saya tahu awal mula dia seperti ini?"
"Dulu dia anak yang manis, tapi setelah ayah dan ibunya berpisah lalu memiliki keluarga dia mulai berubah. Dia sering mendengar kalimat anak tidak berguna dari ayah tirinya. Dia juga semakin kacau ketika menikah dan mertuanya sering membahas soal anak. Hanya itu sih yang saya tahu."
Psikolog itu mengangguk paham.
"Oh iya satu lagi, dia juga semakin buruk ketika suaminya bilang akan menikah lagi kalau Sarah tidak mau memiliki anak."
"Rumit ya," kekeh Aluna.
***
Tiba di rumah, Zahra merebahkan tubuh di atas sofa. Dia masih memikirkan saran dari gurunya tadi.
Ponsel di meja berbunyi menandakan banyaknya pesan yang masuk ke nomornya. Rupanya pesan dari group kantor. Tapi yang membuat dia penasaran kenapa dirinya ikut ditag.
Hal yang pertama dia lihat di dalam group tersebut adalah foto yang membuat dia terbelalak.
Scandal yang terungkap, begitulah tulisan yang ada di layar ponsel Zahra.
__ADS_1