Pesona Nona Zahra

Pesona Nona Zahra
Episode dua belas


__ADS_3

Fatih yang sedang menatap bursa saham langsung melirik ponsel yang berbunyi. Gegas dia membuka pesan tersebut begitu tahu siapa yang mengirim pesan.


Positif


Dia tahu siapa yang dimaksud karena dia sudah bergerak satu langkah di depan  Zahra. Kalau ditanya bagaimana perasaan dia saat ini jelas dia sangat senang karena harapannya akan membuahkan hasil tinggal membujuk Zahra. Dia lupa kalau yang harus dia persiapkan adalah Sarah sebagai istri pertama.


Malam ini dia tidur dengan nyenyak sambil memeluk ponsel dan membayangkan bahwa yang tengah ia peluk adalah putranya. Entahlah dia begitu yakin kalau anak yang akan lahir adalah laki-laki. Seperti biasa dia akan tidur lebih awal karena Sarah entah sedang di mana.


Sarah sendiri sedang berada di rumah temannya. Dia tidak punya siapa-siapa lagi selain teman. Ayah dan ibunya sudah bercerai dan dia menjadi korban yang menyebabkan dia malas memiliki anak. Dia menganggap bahwa anak adalah beban seperti yang sering dikatakan ibu tiri juga ayahnya. Jadi hanya teman yang sekarang dia jadikan tempat untuk berbagi cerita.


"Jadi sekarang kamu maunya seperti apa?" tanya Raisa temannya.


"Jujur aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang. Perempuan itu memang menolak ajakan Fatih, tapi aku tidak tahu besok atau lusa mungkin perempuan itu akan berubah pikiran. Apalagi kalau sampai hamil, aku tidak sanggup kalau harus berbagi suami. Menurut kamu aku harus seperti apa?"


"Cobalah menangkan kembali hati Fatih dengan kamu mengatakan kamu siap punya anak. Memiliki anak tidak itu tidak menyeramkan seperti yang kamu bayangkan. Aku rasa hanya itu cara yang tepat untuk saat ini, Fatih sanagat ingin punya anak kan?"


Sarah menggelengkan kepala menolak saran dari Raisa. "Aku ... aku benar-benar tidak siap. Jangan katakan kalimat itu aku tidak sanggup."


***


Zahra menatap hasil tes kehamilan yang menunjukan hasil positif.  Sekarang dia harus menyiapkan mental, menebalkan daun telinga karena pasti akan banyak kalimat menyakitkan yang akan dilontarkan padanya terutama dari Hayla-bibi nya. Mereka tidak akan mau mendengar kebenaran kalau dalam kasus seperti ini perempuan lebih banyak yang disalahkan.


Mereka akan menganggap kalau itu terjadi atas dasar suka sama suka. Terjadi kehamilan di luar pernikahan bukan lagi fenomena baru di masyarakat.  Ada yang terjadi karena disengaja ada juga yang menjadi korban ruda paksa.


"Lagi melamunkan apa?" tanya Hilal yang baru datang.


"Kapan ya ibu sembuh?" tanya Zahra mengalihkan inti pembicaraan.


"Sepertinya bukan itu yang sedang kakak pikirkan. Ada hal berat apa yang tengah kakak hadapi? Cerita padaku agar kakak bisa menemukan solusi. Aku akan menemani kakak menghadapi malah itu."


Zahra mengangguk dan tersenyum tapi tetap memilih tutup mulut.

__ADS_1


"Kamu kok ke sini ini kan jadwal kakak  yang jaga?"


"Malas aja di rumah sendirian, oh iya kakak belum makan kan? aku beli makanan dulu deh biar kita bisa makan bersama," kata Hilal disetujui Zahra melalui anggukan.


Zahra masuk kembali ke ruangan di mana ibunya tengah berbaring degan banyak alat yang menempel di tubuh. "Aku hamil, Bu. Aku butuh ibu sekarang, tolong bangunlah dan beri tahu aku apa yang harus dilakukan." Zahra menyentuh tangan ibunya.


Bukannya bangun ibunya malah menunjukan reaksi yang membuat Zahra panik. Gegas dia memanggil dokter agar menyelamatkan ibunya. Dia menunggu di luar selama dokter melakukan usaha penyelamatan. Namun sayang, dokter keluar dan memberikan kabar pilu.


"Kita hanya berusaha, urusan hidup dan mati adalah kehendak-Nya. Ibu anda telah berpulang."


Zahra langsung menutup mulut tak percaya, namun air mata menjai wakil bahwa itu benar terjadi. Hilal datang, dia bertanya kenapa kakaknya menangis, namun melihat belankar yang didorong oleh suster dari raungan ibunya membuat dia tahu apa yang terjadi. Dia peluk satu-satunya keluarga yang tersisa.


Jasad ibunya di baa pulang ke rumah yang sudah banyak tetangga yang akan melayat. Suara pengajian, suara tangis menjadi warna di hari itu di rumah Zahra. Zahra sendiri menangis di dalam kamar karena merasa kalau kepergian ibunya disebabkan oleh dia.


Hanya Hilal yang terlihat tegar, dia masih bisa berkoordinasi dengan para tetangga untuk acara pemakaman ibunya. Bahkan dia ikut serta turun ke liang lahat untuk menyemayamkan tubuh sang ibu untuk terakhir kalinya.


Tanah yang datar kini telah menjadi gundukan tanah merah yang menjadi tanda bahwa baru ada raga yang ditanam di sana.


"Maafkan aku ibu," kata Zahra di dalam hati sebelum meninggalkan gundukan tanah merah yang masih basah.


"Zahra, aku ingin memberitahu satu hal padamu. Rumah ini dibangun di atas tanah milikku. Selama ibu mu masih hidup aku membiarkannya, karena menghargai dia, tapi sekarang aku ingin mengambilnya karena dia sudah tidak ada."


Kedau adik kakak itu menatap tajam pada orang yang mereka anggap bibi.


"Apa bibi sudah kehilangan rasa empati, atau hati bibi sudah mati ikut bersama ibu. Tanah kuburan ibu saja masih basah, belum 24 jam dia meninggalkan kita. Sekarang bibi sudah membahas ini?' tanya Hilal.


"Hei! kalian lupa namanya utang ya utang dan harus di bayar. Kamu lupa kisah nabi yang tidak mau menyolatkan jenazah karena orang tersebut masih memiliki utang? Jadi aku hanya ingin meringankan beban kakakku di sana."


"Apa tidak ada hari esok, Bi?" tanya Zahra. "Anak-anaknya masih ada, utang ibu akan menjadi tanggung jawabku. aku akan selesaikan besok."


"Aku bisa saja melupakannya dan menganggap utang ibumu sudah lunas, tapi dengan syarat kamu menerima pinangan dari Tuan Demir.

__ADS_1


***


Fatih berniat untuk menemu Zahra, namun melihat keramaian di rumah itu membuat dia urung turun dari mobil.


"Di rumah itu sedang ada acara apa, Pak?" tanya fatih pada orang yang lewat di depan mobilnya.


"Bukan sedang ada acara, pak tapi sedang berduka. Pemilik rumah baru saja meninggal."


Fatih memilih kembali karena merasa bukan waktu yang tepat untuk menemui Zahra sekarang. Dia akan menemui zahra saat perempuan itu kembali bekerja. Dia juga memberi tahu staf HRD  agar zahra mendapatkan cuti walaupun memang belum ada kabar dari orang tang bersangkutan.


Hari ketiga setelah kepergian ibunya Zahra kembali ke kantor rapi bukan untuk melanjutkan bekerja. Dia akan mengundurkan diri, dan mengembalikan uang yang belum terpakai.


Urusan rumah sudah beres, tanah dan bangunanya diambil oleh Hayla dengan mengganti uang pembangunan. Setidaknya lumayan masih ada sisa untuk mencari tempat tinggal yang baru. Keadaan memaksa mereka pindah.


"Nona Zahra," sapa Fatih yang baru tiba sama seperti Zahra yang diantar oleh Hilal. "Anda sudah kembali bekerja?"


Hilal bisa melihat dari tatapan lain dari Fatih. Dia yakin pria itu menyimpan perasaan pada kakaknya.


"Saya masuk hanya untuk mengatakan surat pengumuman diri, Pak."


Fatih langsung diam. Dia tidak masuk meninggalkan Zahra tanpa berkata apa-apa lagi.


Sekarang Zahra sudah di ruangan HRD, "maaf sekali, Bu. Saya tidak bisa melanjutkan bekerja di sini karena satu dan lain hal," kata Zahra saat ditanya alasan kenapa dia keluar.


"Saya paham, tapi sepertinya kamu lupa bahwa perusahan sudah memperlakukan kontrak kerja termasuk pada kamu. Kamu ingat tentang pembahasan program kerja yang disampaikan di acara gathering?"


Ah iya Zahra tidak mengingat akan hal itu. Di mana setiap karyawan yang berhenti sebelum berakhir masa kontrak kerja maka harus mengganti penalty.


"Tapi bukankah belum ada penandatangannan kontrak kerja sama, Bu?" tanya Zahra.


Lebih tepatnya aturan itu ditetapkan setelah Fatih tahu Zahra hamil. Maka dia ambil satu langkah di depan Zahra agar perempuan itu tidak bisa lepas darinya. Sebab dia yakin Zahra pasti akan mengambil langkah ini dan apa yang dia pikirkan terbukti hari ini.

__ADS_1


"Saya pusing menjelaskan sama kamu. Mending kamu berhadapan langsung saja sama Mr. Fatih saja."


Bersamaan dengan itu telepon di atas meja berdering.


__ADS_2