Pesona Nona Zahra

Pesona Nona Zahra
episode tiga belas


__ADS_3

Zahra memijit kening ketika sampai di rumah. Dia tidak berhasil mencapai kesempatan dengan Fatih. Pria itu tetap menahannya agar tetap bekeja di sana.


"Kak, aku kok merasa aneh ya sama tatapan atasanmu tadi." Hilal menyodorkan teh hangat karena merasa kakaknya membutuhkan itu.


"Maksud kamu?" Zahra kembali meletakkan gelas dan urung meminumnya.


"Sesama laki-laki aku menyadari ada tatapan yang tidak biasa dari dia. Mungkin aku salah pandang tapi dengan cara dia menahan agar kakak tetap kerja di sana aku yakin ada sesuatu di antara kalian."


Zahra menatap Hilal, haruskah dia menciptakan aibnya. Ya dia menganggap bahwa menjadi korban pemerkosaan adalah aib. Dia malu, tapi ingin membalas kelakuan Fatih padanya. Sayang sekali hukum tida bisa menyentuh dia.


"Kak!" sentak Hilal saat Zahra malah diam dengan tatapan kosong.


Zahra mengerjap lalu memberikan senyum terbaik.


"Kak Zahra boleh menyembunyikan apa pun dari aku tapi aku juga tidak akan tinggal diam. Aku pasti akan mencari tahunya."


Ponsel Zahra berbunyi menandakan ada pesan masuk. Namun mata perempuan itu memicing saat membaca isi pesan dari nomor yang tidak terdaftar di kontaknya.


Aku tahu kamu hamil anak suamiku. Sebagai seorang istri yang tidak bisa memenuhi keinginan suami, aku mengizinkan kamu untuk menjadi istri keduanya. Sarah.


Zahra mencapture pesan tersebut. Benarkah orang yang mengirim pesan ini adakah Sarah? Kalau iya, terbuat dari apa hati perempuan itu. Bagaimana bisa seorang istri merelakan suaminya untuk perempuan lain.


Perut yang terasa di aduk membuat Zahra meletakan benda tersebut di atas meja. Saat dia di kamar mandi untuk memuntahkan apa yang membuat dirinya mual, Hilal penasaran dengan pesan yang dibaca oleh kakaknya.


Mata dia langsung menatap tajam pada sang kakak yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan wajah yang basah terutama area sekitar bibir.


"Apa maksud pesan ini?" Hilal membentak kakaknya. "Kamu bilang kamu tidak menyukai pria beristri, tapi ini apa. Dia bilang kamu mengandung anak dari suaminya." Benda pipih itu menjadi sarapan amarah Hilal. Dia lempar alat komunikasi tersebut ke arah kakaknya dan jatuh membentur lantai.


"Kakak hamil?" tanya Hilal lagi. Dia mengusap wajah karena merasa dia terlalu menghakimi kakaknya. Padahal dia tahu kalau kakaknya tidak akan mungkin melakukan hal bodoh. Pikirannya mengarah pada pemerkosaan.

__ADS_1


"Hilal, aku ...." Zahra menarik nafas dalam.


"Pria itu? Pria yang menahan kakak agar tetap bekerja di kantornya?" Hilal kembali tenang. Paham kondisi psikis orang-orang yang mendapatkan pelecehan dan akan sulit untuk bercerita. Tadi dia marah karena merasa gagal melindungi kakaknya.


"Aku ... akan cerita," kata Zahra dengan air mata yang tiba-tiba jatuh. Dia malu harus kembali mengulang cerita kisah kelamnya.


Hilal mengepalkan tangan selama mendengar cerita dari kakaknya. Ingin sekali dia menghajar pria itu tapi sadar malah akan memperbesar masalah.


"Aku sudah malaporkan perbuatan dia, tapi entah bagaimana dia bisa lolos dari hukum." Zahra menutup cerita tanpa menambah atau mengurangi kata.


"Membeli hukum selalu menjadi pilihan orang-orang yang memiliki uang," gumam Hilal. Dia kembali menatap kakaknya dengan terus berpikir untuk membuat perhitungan kepada Fatih. "Apa yang akan kamu lakukan sekarang?"


"Dia menginginkan keturunan maka aku akan membesarkan anak ini sendiri. Dia akan merasa sakit ketika dia merasa memiliki anak tapi anaknya tidak bisa ia sentuh." Zahra menyentuh perutnya.


"Itu terlalu mudah. Ikuti caraku." Hilal kemudian menjabarkan cara untuk membalas Fatih dengan cara yang smooth. "Kamu harus menikah dengan dia."


"Gila. Itu ide paling gila, Hilal. Aku akan menyakiti sesama perempuan. Istrinya."


Keesokam harinya Zahra menemui Fatih di ruang kerjanya. "Kalau nona Zahra masih ingin mendebat saya untuk masalah kemarin, maaf saya sedang banyak pekerjaan," kata Fatih pura-pura sibuk. Padahal hatinya bersorak karena Zahra akhirnya menemui dia tanpa dia minta.


"Saya yakin anda sudah tahu bahwa saya hamil. Jadi anda berusaha menahan saya di sini dan menurut anda itu adalah bentuk tanggung jawab kan?"


Fatih mengangguk, "Nona Zahra menolak saya nikahi, jadi saya pikir cara ini adalah cara paling baik sebagai bentuk tanggung jawab dari saya. Selain itu saya juga bisa memantau kondisi ibu serta calon anak kita. Katakan kalau ada cara lain sebagai bentuk tanggung jawab, Nona Zahra!"


Lagi-lagi Zahra menghela nafas panjang. Kali ini dia harus mengikuti kata Hilal, membuat pria di hadapannya kehilangan segalanya. Kehilangan dirinya dan anak yang dia inginkan serta kehilangan istrinya.


"Sejujurnya saya sangat ingin anda mendapatkan hukuman yang adil salah satunya mendekam di balik jeruji besi. Namun saya lupa kalau orang beruang seperti anda akan bisa menggunakan celah mana saja untuk bisa lolos. Saya berusaha lari pun dari anda pasti tidak akan mudah jadi ya mungkin lebih baik saya menyerah. Saya terima tanggung jawab anda." Dia memejamkan mata tanda bahwa dia tidak sanggup melakukan apa kata Hilal.


"Menikah?" tanya Fatih dengan senyum girang.

__ADS_1


Zahra mengangguk, "Ayo kita buat perjanjian."


Sekarang Fatih, Zahra, Hilal berkumpul di sebuah ruangan VIP sebuah resto. Diantara mereka juga ada Pak Lukman sebagai pengacara untuk perjanjian antara Fatih dan Zahra. Di mana dalam surat perjanjian tersebut ada beberpaa poin yang diajukan oleh Zahra.


"Anggap saja ini pernikahan kontrak." Begitu kata Zahra sebelum kemarin berpisah untuk bertemu kembali hari ini.


Pak Lukman sebagai pengacara yang menjadi penengah mengerutkan kening ketika membaca salah satu poin di dalam perjanjian tersebut. Zahra menolak disentuh meskipun Fatih telah menjadi suaminya. Disentuh dalam arti adegan saling memuaskan. Hal umum bagi sepasang suami istri.


"Anda sudah membaca poinnya?" tanya Pak Lukman pada Fatih.


"Ya. Saya tidak keberatan," jawab Fatih. Dia sendiri tidak yakin kalau dia akan tahan untuk tidak menyentuh Zahra tapi untuk sekarang yang paling penting adalah wanita itu menjadi istrinya dulu. Baru akan dia pikirkan cara lain untuk bisa menyentuh Zahra.


Setelah menandatangani kontrak pernikahan tersebut mereka langsung menuju KUA terdekat untuk melangsungkan pernikahan. Dalam kurun waktu satu jam mereka telah resmi menjadi sepasang suami istri. Di mana Zahra menempati posisi yang tidak pernah dia inginkan sama sekali. Istri kedua.


Hilal menggenggam tangan kakaknya sambil mengangguk. Seperti berkata semua akan baik-baik saja. Satu langkah dari rencana telah berjalan dengan baik maka rencana berikutnya akan menjadi mudah.


Di depan penghulu mereka masih bersentuhan layaknya sepasang suami istri. Di mana istri akan mencium punggung tangan suaminya dan si suami akan mencium keningnya serta menyematkan cincin pernikahan.


Mereka pulang dan Fatih menawarkan diri untuk mengantar mereka. Zahra hendak menolak tapi Hilal lebih dulu menyetujui.


"Loh, kok bukan ke sana?" tanya Fatih merasa heran ketika Hilal menunjukan arah rumahnya.


"Kita tinggal di rumah baru. Kak Zahra yang meminta pindah," kata Hilal.


Fatih mengangguk dan mengikuti petunjuk pemuda yang duduk di sampingnya. Sesekali dia menolah ke arah belkanag di mana Zahra duduk sambil menatap jalanan yang dilalui.


Tatapan mereka bertemu melalui kaca spion tengah. Fatih tersenyum namun dibalas oleh Zahra dengan memalingkan wajah. Ah sepertinya akan sulit untuk membuat perempuan itu jatuh cinta pada dirinya.


Jadi siapa yang akan menang diantara mereka. Mampukah Zahra membuat Fatih hancur dan kehilangan segalanya atau dia yang akan kalah oleh pesona yang disiapkan oleh Fatih?

__ADS_1


__ADS_2