
Fatih diberi tahu keadaan Sarah oleh Rasya yang membuat dirinya dilema dan merasa bersalah.
"Tapi bisa kembali normal kan?"
"Dia tidak gila," bentak Rasya yang tidak terima dengan pertanyaan Fatih yang seolah mengatakan bahwa Sarah sakit jiwa. "Dia hanya sedang membutuhkan pendampingan."
"Oke, oke. Lakukan yang terbaik, tidak masalah soal biaya. Aku ingin dia kembali seperti sedia kala. Aku akan ke sana."
"Jangan! Berikan dia ruang untuk sementara. Aku dan Aluna akan mendampinginya."
Sambungan telepon berakhir.
Dia menatap kosong membayangkan keadaan Sarah saat ini. Harsukah dia katakan ini pada Zahra. Perempuan itu memang tampak kuat tapi entah seperti apa isi hatinya.
Zahra sendiri tengah menatap foto yang ada di layar. Foto Alin dengan Bram yang tengah bergandengan si sebuah koridor, entah hotel atau rumah sakit.
Alin pasti akan mengira kalau Zahra lah yang telah membocorkan rahasianya. Terbukti, keesokan harinya Alin menatap kedatangan Zahra yang baru tiba di kantor.
Wajahnya tampak memerah menahan marah sekaligus malu. Semua orang yang bekerja di perusahaan Fatih telah mengetahuinya dan mencibir dirinya.
"Lihat perempuan itu, aku pikir dia perempuan berkelas ternyata mau aja membuka ************ untuk Pak Bram."
"Pantes aja tubuhnya terlihat berisi, ternyata sudah hamil toh."
"Itu anaknya Pak Bram kan?"
"Iya, B'rame-rame." Orang-orang yang tengah mencibir Alin itu tertawa.
"Alin ...." Zahra menghampiri Alin.
"Aku pikir kamu orang yang bisa dipercaya, Zahra. Ternyata penilaianku selama ini salah terhadap kamu." Alin menghentakkan kursi hingga membentur kaki Zahra. Dia pergi tanpa menghiraukan panggilan dari Zahra.
"Alin!" Sekali lagi Zahra memanggil namun tetap tak dihiraukan oleh Alin. Zahra tidak mengejarnya karena ini bukan drama di sinetron ikan terbang. Dia harus bekerja lalu menyelesaikan masalahnya nanti saat jam kerja usai.
__ADS_1
Zahra menatap rekan kerjanya yang masih membicarakan Alin.
"Jangan-jangan kamu juga sama, Ra," kata perempuan itu.
"Aku rasa itu bukan urusan kita. Jadi kita tidak memiliki hak untuk menghakiminya," kata Zahra menutup obrolan mereka tentang Alin.
Alin sendiri pulang dengan segenap perasaan marah terhadap Zahra. Semakin marah ketika istrinya Bram menghampiri dia di rumah dan mempermalukannya di depan tetangga komplek yang tengah berkumpul di tukang sayur.
Istri Bram menjambak rambut Alin dan memakinya.
"Dasar perempuan murahan, perempuan tidak tahu malu. Berani-beraninya kamu mengganggu rumah tangga saya. Tidak adakah pria lajang yang mau dengan kamu sehingga pria yang memiliki istri pun kamu layani."
"Oh ...." Para ibu-ibu di tukang sayur itu berbisik.
Alin balas menjambak, "Tidak kah kamu kamu tanyakan pada suami mu kenapa dia selingkuh. Tidak kah kamu introspeksi diri kenapa suami mu sampai harus mencari perempuan lain. Jangan selalu menyalahkan si perempuan lalu mendatanginya. Datangi suami mu dan labrak dia."
Cekalan tangan dari istri Bram yang sudah lepas dari rambutnya digunakan alin untuk masuk ke dalam rumah. Tidak peduli tatapan ibu-ibu pada dirinya.
"Semua gara-gara Zahra," teriak Alin dai dalam rumah. Dia mengepalkan tangan dan membanting barang yang ada di sekitarnya.
***
"Maaf, aku sedang tidak fokus."
"Perkara foto itu?" Fatih menatap wajah Bram yang memang tampak suram.
"Iya aku tidak menyangka kalau akan terungkap secepat ini. Istriku juga sudah tahu dan sekarang dia meminta cerai. Aku bingung, Fatih."
"Ambilah cuti dan selesaikan masalahmu. Kembali bekerja saat kamu merasa keadaan sudah baik-baik saja," kata Fatih. Dia sendiri tidak bisa memberikan solusi karena keadaan dia dan Bram sama. Hanya saja dia belum terungkap. Mungkin kalau terungkap akan lebih buruk dari Bram.
***
Pulang kerja, Zahra langsung menemui Alin. Pintu rumahnya dikunci membuat dia kesulitan untuk bicara dengan Alin.
__ADS_1
"Alin, buka pintunya, kita harus bicara," pesan Zahra melalui pesan suara.
Pemilik rumah mendengar suara Zahra memanggil namanya, namun rasa marah yang belum memudar membuat dia enggan membukakan pintu.
"Alin, bukan aku yang menyebarkan foto itu. Demi Allah aku tidak tahu menahu." Lagi Zahra mengirimkan pesan suara tapi tidak ada yang dibuka oleh Alin.
"Alin, aku pulang aku harap kamu baik-baik saja. Tolong percaya, bukan aku yang membuka rahasia mu." Karena tidak ada jawaban Zahra pun pergi dari sana membawa perasaan cemas pada sahabatnya.
Hari sudah berganti dan Alin sudah kembali bekerja. Dia tidak menyapa Zahra sama sekali. Bahkan memasang ekspresi dingin ketika Zahra menyapanya.
Efek kehamilan yang masih muda, Zahra sering sekali mengalami yang namanya morning sickness. Sejak pagi entah sudah berapa kali dia ke kamar mandi hanya untuk memuntahkan cairan bening yang sedikit. Sekarang dia merasakan lagi.
Alin menatap Zahra yang pergi ke kamar mandi. Diam-diam dia mendekati meja zahra mencari tahu apa yang bisa digunakan untuk mempermalukan Zahra. Perempuan itu harus merasakan malu seperti dirinya. Satu rahasia Zahra adalah siapa suaminya. Kenapa Zahra tidak pernah menunjukan foto suaminya. Jangan-jangan pria beristri seperti dirinya.
Belum sempat Alin mengotak-atik isi tas milih Zahra, pemiliknya sudah kembali. Gagal tapi masih ada cara lain.
Seperti biasa saat makan siang tiba selalu ada ob yang menghampiri Zahra untuk memberikan kiriman makan siang. Siapa lagi pengirimnya kalau bukan Fatih. Berhubung Alin masih mendiamkan dirinya, terpaksa Zahra memilih istirahat di ruangan dengan makan siang dari Fatih.
*Selamat makan siang istriku, kekasihku, cintaku. dengan kamu menerima makan ini aku merasa kita tengah makan siang bersama. Tersenyumlah saat kamu membaca pesan ini, agar makanan ini merasa malu karena ada bidadari yang tengah tersenyum, maafkan aku yang belum bisa menyenangkan dirimu. *
Selalu ada pesan manis yang menyertai makan siangnya Zahra. Setiap hari selalu mendapatkan pesan manis membuat pertahanan Zahra sedikit goyah.
***
Sudah lama tidak pulang menggunakan kereta, maka hari ini Zahra ingin kembali merasakan sensasi alat transfortasi itu. Dia naik bus dari halte depan kantor menuju stasiun. Saat dia menoleh ke belakang, baru disadari kalau Alin mengikutinya. Untung tadi meminta Randi untuk tidak menjemputnya.
Rupanya alin belum menyerah untuk mencari tahu rahasia Zahra, namun dia lupa kalau perempuan itu sangat apik dan teliti. Maka tidak mudah untuk membuat perempuan itu malu karena tidak ada celah yang dia ketahui soal Zahra.
Zahra tersenyum tipis ketika sudah berada di dalam kereta dan mulai meninggalkan kota Jakarta. Sedangkan Alin memukul kemudi karena merasa kesal.
Aku rasa Alin penasaran dengan siapa pria yang menjadi suamiku, jadi jangan datang ke rumah untuk sementara waktu. Kali ini aku memohon dengan sangat.
Pesan terkirim dan langsung dibaca oleh Fatih. Pria itu tersenyum karena baru kali ini Zahra mengirim pesan padanya.
__ADS_1
Seperti anak kecil yang bandel ketika dilarang bermain air hujan, Fatih tetap memaksa datang meski harus di malam hari. Dia khawatir pada keselamatan Zahra. Selain itu karena dia ingin memberitahu Zahra perihal sarah.
Hujan yang lebat disertai kabut yang menghalangi jarak pandang di malam hari, membuat mobil yang ditumpangi Fatih oleng dan membentur pembatas jalan