
Hilal mendatangi tempat yang diyakini akan mempertemukan dia dengan dalang dibalik kecelakaan sang kakak. Pertemuan itu terjadi setelah Hilal membuka ponsel dan menemukan pesan dari nomor yang diberi nama Bos.
Sebenarnya perasangka Hilal tertuju pada Hayla-bibinya. Jika tuduhannya terbukti maka tidak ada alasan lagi bagi dia memenjarakan adik ibunya itu. Terlalu banyak kejahatan yang telah diperbuatnya.
Tiga puluh menit sudah dia menunggu, namun orang yang ditunggu tak kunjung datang. Dia melanggar melihat Demir yang datang bersama seorang pria bertubih besar. Mungkin pengawalnya. Tempat duduknya tak jauh dari meja Hilal.
Hilal bertingkah seperti pengunjung lainnya. Tidak menunjukan bahwa dia tengah menunggu atau mengintai seseorang.
"Di mana kamu?" sebuah pesan masuk ke ponsel yang tengah dipegang oleh Hilal.
Dia edarkan pandangan namun Hayla tetap belum terlihat. Tanpa membuat orang lain curiga Hilal menekan nomor tersebut seketika dia menoleh ke arah ponsel berdering di meja Demir.
"Dia menghubungi lagi, Tuan," kata pria yang selalu berdiri di dekat Demir.
Sekarang Hilal tahu siapa orang itu, kemudian dia mrmamtikan ponsel dan memanggil pelayan. Membayar makanannya kemudian pergi. Dia akan mencari tahu lebih banyak tentang Demir dilain hari.
***
Di rumah sakit, Fatih tidak pernah beranjak jauh dari ruangan Zahra. Bahkan urusan pekerjaan dilimpahkan kepada Sam.
"Mentang-mentang atasan kamu seenaknya aja," kata Zahra saat Sam sudah keluar dari ruangan rawatnya. Zahra mencoba mencair dengan suaminya. Utamaya karena dia merasa bersalah.
"Bebas, karena aku menggaji mereka tidak sedikit." Fatih melirik makanan yang masih utuh di atas nakas kemudian mengambilnya. "Ayo aku suapi."
"Aku bisa makan sendiri." Zahra mendorong sendok berisi makanan yang disodorkan Fatih.
"Oh ya memang, tapi sepertinya kamu menunggu aku menyuapi. Iya kan? Biar terlihat romantis seperti di series-series yang kamu tonton."
Zahra mengerutkan kening, "kamu tahu series yang aku tonton?"
"Ya tahu lah, ternyata kamu pecinta serial romantic action." Ekspresi Fatih seperti mengejek. "Mau sekalian aku gendong kamu sampai ke rumah biar terlihat romantis," kekeh Fatih membuat Zahra ikut tertawa.
Hari ini mereka lebih banyak bicara dari biasanya. Yang lebih banyak bercerita di sini adalah Fatih. Tingkah konyolnya saat dia kecil, remaja hingga dewasa dia ceritakan membuat Zahra tertawa terpingkal-pingkal.
"Cukup-cukup! Aduh perutku sakit," kata Zahra dengan tawa yang hampir tak bersuara disertai air mata.
"Eh masih banyak lagi ceritaku."
__ADS_1
Sebelah tangan Zahra yang digenggam, Fatih bawa ke arah dada dan menempelkannya di sana. "Kamu bisa merasakan detak jantungku kan?" tanya Fatih diangguki oleh Zahra. "Detak jantungku kembali normal saat melihat kamu kembali tertawa. Zahra ...." Fatih memejamkan mata, "aku selalu mencintai nama itu."
"Pak-" ucapan Zahra berhenti karena Fatih menempelkan jari telunjuknya di bibir.
"Jangan katakan apa pun. Biarkan hening dan dengarkan detak jantung masing-masing. Pejamkan mata dan dengarkan isi hatimu, dengarkan keinginanmu. Dengarkan irama cinta dari detak jantungku."
Bukannya mengikuti perintah sang suami, Zahra malah tertawa dan merusak suasana. Otomatis Fatih mendengus dan mendelik. Zahra semakin terpingkal-pingkal karena Fatih menggelitik. Tatapan mereka bertemu, wajah mendekat dan bibir hampir saling menyentuh. Namun suara pintu ruang rawat dibuka membuat mereka menjauhkan wajah masing-masing.
Dokter dan perawat menghampiri untuk m3mantau perkembangan Zahra.
"Dok, apa saya ...?" Zahra selalu bertanya tentang kandungannya.
"Perkembangan sangat baik ya kalau ditemani suami yang pengertian," ujar dokter.
Dokter itu seperti enggan membahas soal kandungan atau ini adalah cara agar pasiennya tidak terpuruk.
"Istirahat yang cukup, dua atau tiga hari lagi kalau perkembangannya semakin baik, anda sudah bisa pulang ya."
"Baik, Dok," jawab Fatih, tangannya tetap menggenggam tangan sang istri.
"Sudah, Dok."
"Mari, Pak, Bu," pamit dokter.
Zahra menatap kosong dengan wajah mata yang berkaca-kaca.
"Zahra ...." Fatih mendekap istrinya.
"Aku mau pulang," kata Zahra dengan suara lemah.
***
Mobil Demir berhenti di toko bunga. Satu buket bunga mawar merah dia bawa ke dalam mobil yang melaju menunggu rumah sakit teman Zara di rawat. Dia juga mampir di sebuah toko kue dan membeli makanan yang biada dibeli oleh Fatih secara diam-diam.
Sampai di rumah sakit, dia menghampiri bagian informasi dan menanyakan ruang rawat Zahra. Setelah mendapatkan informasi dia langsung menuju ruang rawat wanita pujaannya.
"Maaf, anda mau kemana?" tanya pengawal yang ditugaskan oleh Sam.
__ADS_1
"Saya ingin menjenguk teman saya. Dia bilang dirawat di ruangan ini," jawab Demir.
"Siapa? Di ruangan ini hanya ada satu pasien dan tidak bisa ditemui oleh siapa pun selain keluarga."
"Beri tahu tuanmu, jika aku datang. Katakan Demir sudah datang," kata Demir dengan senyum miring.
Pengawas tersebut langsung masuk untuk memberi tahu Fatih.
"Tamu? tamu siapa?" tanya Fatih mengerutkan kening.
"Aku," kata Demir muncul di belakang pengawal. Sudah dia tebak ekspresi Fatih juga Zahra.
"Maaf tuan!" Pengawas tersebut meminta Demir keluar karena majikannya belum mengizinkan tamu terse ut masuk.
"Tuanmu saja tidak mengusir saya," kata Demir menepis tangan si pengawal dan menghampiri Zahra juga Fatih. "Ck, baik sekali atasan anda, Nona Zahra. Apa setiap ada staf yang sakit kamu selalu menemaninya Fatih?" Demir mengalihkan tatap pada Fatih tang juga tengah menatapnya.
"Bukan urusanmu," jawab Fatih.
"Oh memang bukan, tapi perempuan ini puja hati saya. Dia belum dimiliki siapa pun kan? Jadi saya bebas dong untuk mendekati dia. Iya kan nona Zahra? Aku membeli ini untukmu."
Demir meletakan buket bunga di pangkuan Zahra.
"Maaf tuan. Saya tidak bisa menerima ini." Perempuan itu memindahkan buket bunga yang ada di pangkuannya.
"Kenapa? Karena saya seorang pria beristri? Lalu bagaimana dengan Fatih. Apa karena dia atasan mu atau ...." Demir membuat tanda kutip menggunakan jari-jari. "Sayang sekali kalau iya. Berarti anda tidak ada bedanya dengan ***** yang sering saya tiduri. Bisa dong saya meniduri tanpa harus menikahi. Padahal saya lebih dulu menawarkan pernikahan agar lebih terhormat meskipun menjadi istri kedua." Dia mencondongkan wajah ke arah Zahra hingga wajahnya hanya berjarak lima cm.
Fatih langsung menarik pakaian Demir dan menodrongnya.
"Jaga ucapanmu!" Sorot tajam mata Fatih jelas menunjukan kemarahan.
"Kenapa harus marah, benar 'kan? Bagiamana kalau publik aku ramaikan dengan berita ini. Ck! Pasti seru." Dia tersenyum dan mengedipkan mata.
Fatih mengepalkan tangan dan hampir melayangkan pukulan, namun pengawal tadi juga Sam yang baru datang segera menahan tangan majikannya.
"Silahkan, Tuan." Sam meminta Demir keluar dengan sopan.
"Katakan pada majikanmu. Dia tahu apa yang saya inginkan dan harus dia lakukan, kalau tidak tunggu saja publik ramai dengan berita." Demir mengatakan kalimat tersebut dengan sering puas. Namun seketika wajahnya berubah garang.
__ADS_1