
Sarah tiba lebih dulu. Dia berdiri di depan jendela yang hampir kaca semua. Dia menatap ketinggian dari gedung itu. Suara pintu yang dibuka tak membuat dia menoleh. Dia mengabaikan kedatangan Demir yang menghampiri dan mendekapnya. Kemudian menempelkan bibir pada pundak yang tidak tertutup oleh pakaian Sarah.
"Aku bukan mau itu." Sarah menjauhkan kepala Demir dari tubuhnya.
"Lalu untuk apa aku harus datang kemari kalau bukan untuk senang-senang?"
Sarah berbalik dan menatap tajam pria di hadapannya. "Kau punya utang. Ingat percakapan kita sebelum kemarin kita berkahir di sini?"
Demir tertawa dan mengangguk. Kemudian mengeluarkan ponselnya dan menunjukan beberapa foto Fatih persis seperti yang diterima Sarah dari Alin.
"Terlambat, jika hanya itu aku sudah mengetahuinya," kata Sarah dengan ekspresi datar.
"Ok, sorry. Jadi apa yang harus aku lakukan agar kamu tidak marah?" Tangan Demir tidak pernah diam, ia menyentuh beberapa titik ditubuh Sarah yang dianggap sebagai titik sensitif.
"Aku ingin kamu mencelakai dia."
Demir mengerutkan kening. Jelas saja itu tidak mungkin dia lakukan mengingat Zahra adalah perempuan yang dia inginkan.
"Itu sangat berat, Sarah."
"Karena kau menginginkan dia?"
Dijawab iya maka dia tidak akan mendapatkan Sarah lagi, dijawab tidak, dia tidak ingin mencelakai Zahra. Ah pilihan yang teramat sulit.
"Kalau begitu aku pergi." Sarah meraih tasnya namun dicekal oleh Demir.
"Ok, aku setuju tapi aku menginginkan kamu sekarang," kata Demir.
Sarah bimbang. Kalau dia kembali melakukannya dengan Demir bisa saja suatu hari pria itu akan buka suara pada Fatih dan membuat sang suami meninggalkan dirinya.
"Ralat, aku menginginkan kamu tidak hanya sekarang," kata Demir lagi penuh bujuk rayu dan manipulasi.
"Tapi aku tidak akan meninggalkan Fatih. Aku ingin perempuan itu celaka agar aku tahu siapa yang akan dipilih Fatih nanti."
"Tidak masalah. Kamu bisa bersama dia tapi ketika aku membutuhkan tubuhmu kamu harus ada. Mungkin aku tidak akan mendapatkan dia setelah mencelakainya. Sebagai gantinya aku menginginkan kamu. Aku tidak akan membuka scandal ini jadi baik itu kamu dan aku sama-sama aman. Bagaimana?"
Sarah mengangguk setuju dan terjadi lagi. Tentu saja semua yang dikatakan Demir tidak bisa dipercaya sepenuhnya karena dia sendiri memiliki kepentingan.
***
__ADS_1
"Mau kemana?" tanya Sarah saat melihat Sam membawa jas milik suaminya.
"Malam ini tuan ada undangan dari salah satu kolega bisnis dari kota Bandung," jawab Sam dengan tetap mengangguk sopan.
"Benar itu?" Sarah bertanya pada Fatih yang baru saja keluar dari kamar. "Bukankah kita sudah janjian makan malam bersama?"
Tadi setelah aktifitasnya dengan Demir, Sarah mengirim pesan pada Fatih dan mengajak makan malam bersama. Semua dilakukan untuk menebus rasa bersalah pada Fatih karena telah menodai pernikahan mereka.
"Aku lupa memberitahu kamu. Atau kamu ikut saja denganku. Setelah menghadiri undangan kita lanjut makan malam bersama. Bagaimana?"
Sarah terlihat berpikir lalu menjawab, "makan malam bersamanya lain kali saja. Aku tidak ingin kamu membagi fokus malam ini."
"Baiklah, aku berangkat. Hati-hati di rumah, kenyngkinan besar aku menginap tapi akan aku usahkan untuk pulang ya."
Sarah mengangguk dan membiarkan suaminya berangkat. Saat mobil yang membawa suaminya tidak terlihat lagi, dia kembali ke dalam rumah untuk mengambil tas. Dia akan mengajak Rasya mengikuti suaminya ke Bandung.
"Hah," pekik Sarah ketika membuka pintu dan melihat Olla-istri Demir berdiri di depan pintu. "Olla, kau membuatku terkejut. Ada apa datang kemari malam-malam? Fatih baru saja berangkat ke Bandung bersama Sam."
"Aku datang bukan untuk mencari Fatih, aku ingin menemui kamu, tapi rupanya kamu juga akan pergi. Kemana? Apa mau menemui Demir?"
Deg. Olla tahu?
"Bekerja sama? Saling memuaskan juga?" Olla berdiri dengan anggun di hadapan perempuan yang telah memuaskan suaminya. "Dengar, Sarah! aku datang bukan untuk menghakimi, tapi aku akan memberi tahu satu hal tentang Demir. Dia sangat menginginkan kebahagiaan yang dimiliki Fatih. Bukan tidak mungkin suatu hari dia membuka rahasia yang kalian lakukan kemarin dan hari ini. Aku sih hanya merasa kasihan sama kamu tapi sayang sudah terlanjur. Syukur-syukur kalau nanti Fatih memaafkan kamu dan mau menerima kembali."
"Diam!" Sarah tidak suka ditekan. "Aku tahu kamu melakukan ini karena kamu cemburu kan?"
"Cemburu?" Olla tertawa, "kamu pikir selama ini aku bertahan karena aku mencintai dia? Tidak sama sekali. Dia yang selalu memohon agar aku memaafkan kelakuannya. Dia tidak ingin kita berpisah karena saat terjadi perceraian diantara kami, ayahku akan mengambil kembali apa yang dititipkan padanya. Dia berbahaya kalau terus disanjung oleh kaum kita. Sekali lagi aku ingatkan dia berbahaya."
Olla meninggalkan Sarah yang mematung mencerna ucapan darinya.
Sedangkan di dalam mobil Fatih membuka pesan yang dikirim oleh dr. Friska.
"Hari ini jadwal Zahra cek kandungan. Aku sengaja memberi tahu karena sudah pasti dia tidak akan memberitahumu, bukan?"
Fatih langsung menoleh pada Sam yang sedang memeriksa ulang list pekerjaan hari ini.
"Anda, membutuhkan sesuatu?" tanya Sam.
"Saya mau kamu menggantikan saya ke undangan itu," kata Fatih.
__ADS_1
"Tapi ...."
"Kamu adalah asisten saya, alias kepanjangan tangan saya. Mereka tidak akan merendahkanmu, Sam, karena mereka tahu untuk bisa berkomunikasi dengan saya harus melalui kamu. Ini perintah."
Mau tidak mau Sam mengikuti perintah tuannya, sedangkan Fatih tidak sabar untuk mengetahui perkembangan calon anaknya di rahim Zahra.
***
Zahra keluar dari kamar dengan penampilan yang sangat elegan. Mengenakan gamis berwana mokka senada dengan kerudung yang dia gunakan. Tampak cantik dan anggun.
"Hilal, ayo!" Zahra mengetuk pintu kamar adiknya.
"Mau diantar sama aku?" Hilal muncul dengan rambut yang berantakan karena tadi sempat tidur.
"Memangnya mau diantar siapa lagi. Bi Sumi kan sudah pulang," jawab Zahra sambil memilih alas kaki yang nyaman.
"Ya siapa tahu mau diantar sama calon bapaknya itu bayi," kata Hilal serayakeluar dari kamar dan mengenakan hoodie. Maklum cuaca hari ini begitu dingin setelah diguyur hujan hampir setengah hari.
"Dia tidak tahu hari ini jadwal cek kandungan. Aku juga tidak memberi tahu dia." Mereka keluar dari rumah setelah mengeluarkan motor Hilal. Rencananya mereka akan pergi emnggubakan motor karena takut Randi akan memberitahu Fatih. Namun saat berbalik ternyata Randi masih di sana di dalam mobil. "Pak Randi, belum pulang?"
"Belum, karena takut anda masih membutuhkan saya. Anda hendak pergi menggunakan motor? Apa itu tidak bahaya untuk kandungan anda yang terhitung masih muda?"
Ah benar juga ya.
"Pak Randi, saya mau ke rumah sakit tapi tolong jangan beri tahu Tuan Fatih."
"Mari saya antar." Randi mengangguk dan membukakan pintu untuk Zahra.
Setelah melalui pertimbangan mereka memutuskan untuk menggunakan mobil. Apa lagi jarak tempat tinggal dengan rumah sakit tempat dokter Friska praktek lumayan jauh. Mereka harus pergi ke pusat kota tempat dulu mereka tinggal.
Di dalam mobil, kakak beradik itu membahas tentang Hayla. Tanpa mereka sadari Randi menyambungkan telepon pada Fatih hingga pria itu dapat mendengar obrolan istri dengan adik iparnya.
Mobil berhenti karena rambu lalulintas keburu berubah warna merah. Dia yang lelah menyandarkan kepala dan menatap jalanan yang dilalui hingga dia melihat penjual jajanan yang membuat dia tergiur.
"Lal, aku mau itu-"
Mobil keburu jalan karena pengemudi di belakang mobil mereka sudah berisik memebunyikan klakson. Tidak bisa berhenti katena merka melintasi jalanan yang dipasang rambu dilarang berghenti sembarangan. Zahra meneguk salivanya. Sungguh jajanan tadi membuat dia tergiur.
Sampai di rumah sakit, Zahra masuk lebih dulu sedangkan Hilal inisiatif untuk mencari jajanan yang diinginkan kakkanya di sekitar rumah sakit.
__ADS_1
Karena sudah membuat janji, Zahra langsung menghampuri ruang praktek dokter Friska. Saat dia mengetuk pintu dan dipersilahkan masuk ternyata Fatih sudah di sana.