Pesona Nona Zahra

Pesona Nona Zahra
Episode dua puluh dua


__ADS_3

Zahra menolak dan menahan dada Fatih ketika bibir pria itu hampir menyentuh leher.


"Sudah cukup, ini terlalu jauh," kata Zahra yang berusaha mengontrol keinginan yang tak sejalan dengan akal.


Fatih berdehem. Lagi-lagi penolakan.


"Saya kembali kerja ya," kata Zahra setelah memeriksa penampilannya. Tidak baik terus bersama Fatih, bisa jadi ada adegan kedua seperti malam itu.


Saat keluar dari ruangan Fatih, Zahra berpapasan dengan Sarah. Perempuan utu tidak jadi menemui dokter kandungan untuk melepas IUD. Dia belum benar-benar siap untuk mengandung anaknya Fatih.


Jika kemarin dia mengatakan iya, itu semata untuk membuat dirinya kembali dekat bersama Fatih. Sebuah upaya untuk merekatkan kembali cinta yang hampir lepas.


Tatapan mereka bertemu dan Zahra hanya mengangkat kepala sebagai tanda hormat. Dia masih mempertahankan soal pesan yang diterima waktu itu.


"Jadi itu yang sering kamu lakukan saat di kantor?" Sarah melipat tangan di dada saat membuka pintu dan menatap suaminya yang tengah memegang bolpoin dan juga berkas dari Zahra tadi.


"Apa? ini?" Fatih mengangkat berkas itu. Ada beberapa baris yang dikasih garis bawah sebagai tanda harus direvisi. Tidak benar-benar untuk direvisi, itu hanya akal-akalan Fatih untuk mengelabui Sarah. Sam sempat megirim pesan dan memberi tahu kedatangan Sarah sebelum Zahra benar-benar ke luar dari ruangannya tadi.


"Ck, tidak perlu pura-pura. Aku tahu kok apa yang kalian lakukan. Tidak biasanya saat kerja kamu duduk di situ." Sarah mneunjuk sofa menggunakan dagu.


"Oke kalau kamu tidak percaya kita panggil Sam," kata Fatih mengajak istrinya duduk dan memanggil Sam.


Sangat menyedihkan menjadi seorang Sam, apa lagi dia mengetahui rahasia Fatih di dalam rumah tangga dan harus menutupinya.


"Ada yang bisa saya bantu, Tuan." Sam menganggukkan kepala.


"Jawab pertanyaan dari istri saya!" Fatih memberikan isyarat pada sang istri untuk bertanya pada Sam.


"Sejak kapan perempuan tadi ada di ruangan suami saya?"


"Sekitar sepuluh menit yang lalu, Nyonya," jawab Sam.


"Apa mereka sering bertemu di ruangan ini?" tanya Sarah lagi.


"Tidak, selain untuk urusan pekerjaan."


"Artinya sering?" Sarah memicingkan mata untuk mengintimidasi Sam. Namun dia lupa kalau Sam sudah terbiasa dengan tatapan seperti itu.


"Kemana saja suami saya pergi saat saya tidak ada?" Sarah masih mencerca Sam.

__ADS_1


"Kantor, rumah dan pertemuan meeting."


Tetap saja Sarah merasa tidak puas dengan jawaban Sam, sedangkan Fatih bertepuk tangan karena mamiliki orang yang loyal seperti Sam.


Sedangkan Sam dalam hatinya menyebut rumah yang dia maksud adalah rumah Zahra.


"Apa jawaban Sam belum membuat kamu puas, Sarah? Kalau kamu masih mau di sini silahkan nikmati waktumu. Aku akan melanjutkan kembali pekerjaan," kata Fatih mengambil berkas tadi dan menunjukannya pada Sarah.


Merasa ada yang mengganjal di dalam hati, Sarah memutuskan untuk tetap di sana. Sesekali dia membuka ponsel Fatih untuk dia geledah.


Fatih sendiri tidak merasa khawatir karena dia sudah memperhitungkan hal ini. Tentunya semua terjadi karena persiapan yang matang. Dia tahu karakter Sarah dan harus seperti apa menghadapinya.


Di ruangan lain Zahra mengusap wajah, sekarang dia selalu sendiri karena Alin terus menjaga jarak. Percuma menyapa, percuma mengajak karena Alin selalu mengabaikan dirinya. Senyum pun menjadi mahal untuk perempuan itu.


"Ra, longgar?" Mathias menghampiri Zahra yang tidak terlalu sibuk.


"Kenapa?"


"Bisa bantu aku mengerjakan pekerjaan yang ini?" tanya Mathias lagi.


Zahra tidak keberatan ketika salah satu rekan kerjanya meminta bantuan. Biasnya Alin yang selalu meminta bantuan darinya, namun sekarang perempuan itu menjadi perempuan asing bagi Zahra.


Tidak ada lagi pertanyaan-pertanyaan konyol yang dilontrakan dan mengharapkan gelak tawa. Jangankan untuk membalas sapaan Zahra, sekedar tersenyum saja begitu susah.


***


Mengetahui letak ruangan Zahra dia sempat mampir ke sana untuk mengintip pujaan hatinya.


"Eh titip ini pada nona Zahra ya," kata Demir saat Alin lewat dihadapannya.


Alin mengintip sebentar isi dati tas yang diberikan oleh Demir. Perempuan itu meletkan tas pemberian Demir di atas meja kerja Zahra tanpa mengucapkan apa pun. Jelas Zahra kebingungan. Dia cekibgukan siap yabg memberikan ras tersebut dan baru mengetahui begitu tataonnya bertemu dengan tatapan Demir.


Pria itu melambaikan tangan pada Zahra dan menghadirkan pertanyaan dalam benak Alin.


Baru saja Fatih merasa lega ketika Sarah pamit pulang sekarang ada Demir.


"Mau apa lagi?" ketus Fatih.


"Banyak, salah satunya adalah Zahra," jawab Demir santai.

__ADS_1


Fatih mendelik mendengar nama Zahra disebut lagi oleh Demir. Benar-benar tidak tahu diri, rutyk Fatih di dalam hati.


"Masih berharap dia mau sama kamu?" Kali ini Fatih tersenyum tapi bukan senyum manis melainkan senyum ejekan. "Sampai kapan pun kamu tidak akan mendapatkan dia. Perempuan itu sudah menjadi istri orang lain."


Jelas Demir mengerutkan kening. Kenapa dia bisa kehilangan informasi ini. Bukankah kata Hayla, Zahra itu masih single.


"Kenapa? Tak percaya?" Fatih kembali bertanya karena Demir menampilkan ekspresi tidak percaya. "Temui dia dan lihat cincin di jari manisnya."


"Kenapa kau seperti hafal betul dengan apa yang terjadi pada Zahra?" Kali ini Demir yang mengirimkan mata. Curiga.


"Kita memiliki ayah yang sama, dan memiliki otak yang sama, tapi otakku tidak tumpul. Aku menggunakan akal dan kau menggunakan perasaan."


Demir kesal karena dianggap bodoh, dia menggebrak meja dan menatap tajam pada Fatih.


"Kita lihat siapa yang pantas menduduki posisi ini setelah rahasiamu terbongkar." Demir menyeringai seakan tengah mengatakan aku tahu satu rahasia yang akan menghancurkanmu.


***


Di tempat lain, Sarah menemui seseorang untuk menyelidiki Zahra dan suaminya.


"Berapa yang kamu?" ujar Sarah tidak main-main.


"Lebih besar dari ini," jawab pria itu menunjukan amplop yang diberikan Sarah sebagai uang muka.


"Tunjukan kerjamu, uang itu akan menyusul. Dalam dua hari?"


"Tidak masalah, besok pun kamu akan mendapatkan uangnya.


Benar keesokan harinya pria itu kembali menemui Sarah di tempat yang sama.


"Hanya ini?" tanya Sarah tajam. Rasanya percums membayar mahal kalau trnyata yang ia dapat banya beberapa Foto Zahra tengah tersenyum pada pria tapi bukan suaminya.


"Lalu anda maunya seperti yang ada di dalam pikiran anda, bagitu?" pria itu tertawa. "Itu bukti yang saya dapatkan. Cek saja langsung ke kantor urusan agama!"


Darah meninggalkan tempat tersebut dengan perasaan dongkol. Tak jauh dari merka Sam mengirim pesan pada Fatih.


"Beres."


Sekali lagi Fatih membuktikan bahwa di selalu berada satu langkah di depan lawan. Kemarin saat Sarah meninggalkan ruangannya, Fatih meminta Sam menghadap.

__ADS_1


"Lakukan tugasmu."


Meski hanya kalimat itu tapi otak Sam begitu cepat menangkap maksud dari kalimat tuannya.


__ADS_2